× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#OLAHRAGA

Nasib Persiter Ada di Tangan Suporter

Tak cukup sebagai penyemangat, suporter kiwari kadangkala bertindak sebagai penyelamat.

Penulis
Nasib Persiter Ada di Tangan Suporter
Sebuah spanduk bertulisakan

07/01/2020 · 15 Menit Baca

Dulu ada sebuah frasa: suporter bukan sekadar penonton, bukan pula pengamat sepak bola yang datang ke stadion untuk menganalisa pertandingan. Dari sanalah chants tercipta. Kini frasa itu bertambah: tak cukup sebagai penyemangat, suporter kiwari kadangkala bertindak sebagai penyelamat.

Bagaimana membuktikan itu? Kejadian yang menimpa klub asal Tunisia, Club Africain patut disodorkan sebagai contoh. Club Africain bukanlah tim ecek-ecek. Setidaknya sudah 13 gelar juara Liga Tunisia yang berhasil mereka menangkan. Klub ini juga pernah menjadi kampiun Piala Champions Afrika tahun 1991.

Tapi dalam dunia bisnis, wabil khusus industri sepak bola, jumlah gelar tak menjamin sebuah klub bebas dari kebobrokan manajemen. Butuh konsistensi dalam pengelolaan.

Tahun 2019 kemarin Club Africain dilanda badai. Mereka terjerat utang sebesar Rp 83,9 miliar. Sangkutan ini berawal dari tunggakan gaji pemain yang tak kunjung dibayarkan manajemen. Imbasnya, pada Oktober 2019, FIFA mengembargo transfer untuk klub yang berdiri sejak tahun 1920 ini.

Apa yang dilakukan pendukung Club Africain ketika klub kesayangan mereka dihadapkan dengan persoalan keuangan? Ya, mereka urunan. Saling patungan uang untuk meringankan beban klub. Hasilnya, terkumpul uang sebanyak Rp 13,9 miliar. Masih sedikit memang, bahkan tak sampai setengah, dari total hutang klub, tapi saya kira kita bisa bersepakat bahwa kejadian ini sudah cukup dikatakan luar biasa.

Fragmen dalam sepakbola semacam ini bukan baru terjadi sekali saja. Di Indonesia, masih di tahun yang baru kitorang lewati bersama, dua kelompok suporter Kalteng Putra FC yakni Suporter Kalteng Mania dan Pasus Distrik Kobar membuat gerakan 1000 koin untuk klub mereka.

Gerakan itu dilakukan setelah tersiar kabar para pemain Laskar Isen Mulang –julukan Kalteng Putra—melakukan mogok latihan. Sebabnya tentu saja adalah gaji mereka yang tak diberikan.

Alih-alih menyebut gerakan tersebut sebagai bentuk solidaritas, menurut saya, kita mesti memaknainya sebagai sebuah protes. Laiknya negara yang harus bertanggung jawab terhadap rakyatnya, klub juga berlaku demikian terhadap suporter. Dan protes adalah sebuah jalan yang harus ditempuh jika manajemen memang tak becus mengelola klub.

Lewat proteslah Parmagian mendesak manajemen AC Parma untuk terus berbenah. Kita tahu, klub penuh sejarah itu pernah tersungkur hingga kasta paling rendah Liga Italia. Februari 2015 silam, ketika nasib AC Parma masih diliputi awan tebal, puluhan Parmagian mendatangi Stadion Ennio Tardini. Unjuk rasa berlangsung di tengah hujan yang mengguyur kota di regione Emilia-Romagna ini.

Dalam aksi itu, mereka membentangkan pelbagai poster bertuliskan kecaman terhadap pengurus klub. Salah satu poster tertulis “Ghirardi dan Leonardi adalah Kerusakan Permanen". Tommaso Ghirardi adalah investor yang datang pada tahun 2007, namun kedatangannya bukan menyelesaikan masalah, tapi malah makin menenggelamkan Parma di jurang utang yang kian dalam.

Di Indonesia sendiri, kelompok suporter yang paling lekat dengan aksi unjuk rasa tentu saja adalah Bonek. Bukan hanya kepada klub, suporter Persebaya ini berulang kali meluapkan murka mereka terhadap federasi.

***

Kemarin saya membaca sebuah esai berjudul “Meninggalkan Cara Lama dalam Mengurus Sebuah Klub Sepakbola”. Mrz M. Akbar dalam tulisan itu menjlerentehkan ihwal pengelolaan Bali United yang dianggap dapat menjadi teladan bagi klub lain. Motifnya, jika saya bisa menyimpulkan, agar Persiter bisa belajar dari sana.

Branding, manajemen yang mumpuni, hingga sukses melantai di bursa saham, tentu saya bersepakat dengan penulis tentang itu semua. Tapi rupanya penulis lupa satu hal, dan bagi saya, ini teramat penting bagi kebangkitan –sebutlah begitu—sebuah klub seperti Persiter, yakni suporter.

Sebelum saya mengajak Anda semua ke sana, akan lebih baik jika saya bercerita tentang epos suporter bernama Persikmania. Musim 2020 ini Persatuan Sepak bola Kediri (Persik) akan kembali berlaga di Liga 1. Seperti Parma, klub berjuluk Macan Putih itu pernah terperosok ke liga terendah.

Bagaimana mereka akhirnya bisa kembali ke kasta tertinggi? Jawabannya adalah reformasi. Tapi kemudian muncul lagi pertanyaan: kenapa reformasi bisa terjadi? Kini jawabannya adalah peran Persikmania.

Tatkala Persik tengah berada di titik nadir; kucuran dana APBD pampat karena permendagri no 1 tahun 2011 yang berimbas pada kocar-kacirnya keuangan klub, Persikmania datang dengan protes. Lebih dari itu, mereka membuktikan bahwa boikot, seperti halnya Tirto Adhi Soerjo terpesona terhadapnya pada masa kolonial dulu, masih manjur dan perlu dilakukan.

Persikmania tahu betul tentang pentingnya legalitas badan hukum, dan itulah yang semula mereka desak. Boikot itu berlangsung selama 7 – 8 pertandingan. Selain itu, mereka juga menuntut untuk dilibatkan dalam setiap kebijakan klub. Sudah cukup suporter diperlakukan hanya sebatas komoditi.

Nampaknya, kekisruhan yang melanda Persik ini, serta protes demi protes yang dilayangkan, membikin solidaritas mereka kian erat. Dan memang penderitaan kolektif adalah bahan bakar paling mujarab bagi terciptanya kekukuhan sikap. Hal itu bisa dilihat dari 130 ribu Persikmania dari dalam maupun luar negeri menyatakan komitmen mereka.

Memperoleh desakan sekaligus dukungan dari suporter, membuat manajemen klub mau tak mau harus berbenah. Mereka bergerak cepat. Secercah keberhasilan tampak dari penjualan tiket. Kendati harga tiket masuk ke Stadion Brawijaya dinaikkan, tetapi harapan serta cinta terhadap Persik lebih genting ketimbang isi kantong.

Sekira 250 kilometer dari Kediri, kisah yang sama juga tengah terjalin. Adalah Brigata Curva Sud (BCS), penyokong paling loyal PS Sleman. Rasanya tak ada pendukung klub sepak bola di dunia ini yang menggelar pertandingan persahabatan dalam rangka memeringati sebuah aib.

26 Oktober 2014, sebuah borok persepakbolaan Indonesia terpampang secara menyedihkan. Sepak bola gajah tercipta di laga antara PS Sleman vs PSIS yang berakhir dengan skor 3 – 2 untuk kemenangan Elang Jawa –julukan PS Sleman. Masalahnya, kelima skor itu dilakukan dengan cara bunuh diri. Pasalnya adalah, kedua tim sama-sama menghindari bertemu dengan Borneo FC.

Setahun kemudian, BCS menggelar sebuah pertandingan persahabatan antara PS Sleman melawan Bali United. Uji tanding yang diberi tajuk “Cinta dan Dedikasi” ini dipersembahkan untuk pemain PS Sleman yang dianggap menjadi korban dalam sepakbola gajah tersebut. Komdis menjatuhkan hukuman ke beberapa pemain PS Sleman, sementara sang manajer, Supardjiono melenggang tanpa ganjaran.

Laga ini lantas menjadi momentum bangkitnya PS Sleman. PS Sleman yang sekarang adalah wajah yang sulit dipisahkan dari peran Brigata Curva Sud.

***

Saya pernah berbincang dengan salah satu pentolan Suporter Persiter Mania (Superman). Darinya saya mendapati romantisme yang serupa. Dulu, ketika Persiter masih berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia, karena tak mempunyai uang untuk membeli drum, mereka mesti menjadi kuli cor. Salah satu bangunan di RSUD Chasan Boesoeri pernah mereka kerjakan.

Maksud saya adalah, Persiter punya suporter yang loyal. Saya yakin ada banyak orang di luar sana yang memeram rindu pada Laskar Kie Raha. Mereka diam-diam menyimpan harap, menjaga asa suatu hari nanti, sebelum mati, bisa berdiri di tribun Gelora Kie Raha bersama ribuan orang lain untuk mendukung Persiter berlaga di Liga 1.

Masih lekat di ingatan saya adegan haru-biru yang terjadi di lapangan Marimoi, Tidore Kepulauan beberapa waktu lalu. Ketika sundulan Riswan Hi. Lauhin di menit akhir berhasil mengoyak jala Hatusela Mamala. Saya, dan ratusan Superman, bersorak. Air mata jatuh tanpa saya sadari. Iya, saya serindu itu pada Persiter.

Saya yakin, ketika Persiter terancam degradasi pada 2008 silam, ada langkah-langkah yang ditempuh Superman guna menyelamatkan Persiter. Tapi sudahlah, itu dulu. Bagaimana dengan hari ini?

Anda boleh mengoreksi, tapi sependek ingatan saya, semenjak Persiter akhirnya vakum, tak terlihat upaya suporter untuk membangkitnya kembali. Saya tak melihat ada gerakan yang terstruktur seperti yang terjadi di Kediri, atau protes seperti di Parma. Mungkin saja ada protes, tapi jujur saja, itu hanya dilakukan oleh orang per orang, itupun hanya berhenti di kolom komentar media sosial.

Apa yang ditulis oleh Mraz M. Akbar tentu baik. Saya dan dia punya niat yang sama. Tapi untuk kasus Persiter, bagi saya itu terlampau jauh. Itu adalah tujuan, sementara yang harus kita lakukan saat ini adalah mendesak pengurus. Saya kira, sudah waktunya para pecinta Persiter untuk menyatukan persepsi, bahwa berlaganya Persiter di Liga 1 dapat menjadi niscaya.

Dan ingat, bukan hanya pengurus tentu saja, tapi juga Pemerintah Kota Ternate. Adalah sia-sia perbaikan manajemen tanpa adanya perbaikan infrastruktur, dalam hal ini Gelora Kie Raha.

Geliat supporter yang berkelanjutan adalah isyarat yang baik bagi investor. Hanya orang tak waras yang mau menaruh investasi pada klub yang euforia suporternya sedang loyo bukan?

Oh Anda mungkin akan mengatakan bahwa euforia pendukung Persiter tak pernah surut, ya memang, saya juga percaya itu, masalahnya apakah itu sudah cukup tanpa ada gerakan tertentu?

Lalu Mraz M. Akbar berbicara tentang profesionalisme. Untuk hal ini, lagi-lagi saya mesti mengajukan PS Sleman dan Brigata Curva Sud-nya sebagai contoh. Saya sedang tidak bercanda ketika mengatakan PS Sleman saat ini adalah wajah yang sedikit banyak dibentuk oleh BCS.

Kampanye no ticket no game oleh BCS, misalnya, membuat pendapatan klub bertambah. Belum lagi soal pemasukan lewat merchandise. Agustus tahun lalu, BCS berhasil mengumpulkan uang senilai Rp 241.700.000. Uang yang dikumpulkan lewat donasi itu diberikan untuk pemain PS Sleman sebagai bonus.

Brigata Curva Sud bukan semata pemain keduabelas, mereka adalah karakter klub, menjadi sumber pemasukan, bahkan kini menjadi wajah Kota Sleman.

Dari suporter Club Africain, Parmagian, Persikmania, dan BCS kita belajar, bahwa ada masanya pengurus klub kehilangan arah laiknya para pejabat, dan saat itu terjadi, sudah barang tentu suporter yang harus datang menyadarkan.


Share Tulisan Rizal Syam


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca