× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#IPTEK

Era Big Data, Konvensional Adalah Kunci

Validitas menjadi kunci dalam mengumpulkan dan menggali data.

Metafisikawan
Era Big Data, Konvensional Adalah Kunci
Foto: Pixabay

27/01/2020 · 1 Menit Baca

Dunia digital atau Teknologi Informasi sejatinya menjadi alat yang memudahkan manusia dalam kehidupan. Sering kali kita menyaksikan interaksi sosial dalam dunia digital tak lagi perlu menghadirkan fisik antara satu individu dengan individu lainnya. Semua kemudahan disediakan tanpa harus interaksi langsung dalam suatu transaksi. Namu di sisi lain, kita juga disuguhkan hal-hal berlawanan. Misalnya, antrean pengemudi ojek online yang tengah mendaftar di sebuah perusahaan aplikasi. Pertanyaan seketika muncul, aplikasi harusnya memudahkan, namun mengapa mereka masih saja ada istilah mengantre fisik untuk mendaftarkan diri.

Kehidupan manusia saat ini nampaknya tak lepas dari peranan Teknologi Informasi yang berkembang pesat. Alat yang sejatinya membantu kehidupan manusia itu mungkin di masa depan bisa melampaui manusia itu sendiri. Buktinya, perangkat-perangkat buatan manusia itu lambat laun menggantikan peranan manusia, seperti telepon pintar, robot dan segala perangkat yang berhubungan dengan dunia teknologi informasi. Kecerdasan buatan misalnya yang dikembangkan oleh para ahli, akan mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan paling mendasar manusia sekalipun. Akibatnya, hal itu menyebabkan dunia saat ini berada dalam kondisi ketidakmenentuan (disrupsi).

Berkembangnya dunia Teknologi Informasi itu tak lepas dari data atau informasi yang saat ini menjadi komoditas utama dunia. Negara-negara yang telah mengklaim maju dalam bidang TI berlomba-lomba mengali dan mengumpulkan data-data kelompok masyarakat untuk tujuan tertentu, baik itu guna kepentingan ekonomi, sosial, hingga persoalan individu manusia. Istilah Big Data saat ini menjadi seksi di kalangan praktisi maupun akademisi TI.

Big Data saat ini berkembang seiring dengan kemajuan Teknologi Informasi. Namun, banyak kalangan yang luput bahwa era Big Data sejatinya manusia dibawa kembali ke dunia tradisional, konvensional dan manual dari sisi metode atau cara. Dalam hal ini, sebelum membahas Big Data hal prinsip yang harus diingat adalah infirmasi dan data.

Banyak yang luput bahwa sejatinya data dalam pandangan filosofis merupakan fakta-fakta dan statistik yang dikumpulkan sebagai referensi atau analisis, sementara information merupakan fakta-fakta yang menyajikan tentang sesuatu. Informasi dan data tersebut digunakan sebagai basis munculnya suatu alasan atau perhitungan. Sementara para pakar menyebut bahwa Big Data adalah informasi dan data yang berkaitan dengan volume, kecepatan, keragaman informasi dan lainnya yang digunakan sebagai peningkatan wawasan dan membuat keputusan.

Big Data sejatinya adalah informasi yang menjadi fondasi. Dalam kajian filsafat informasi secara sederhana mengkaji fondasi, metode dan implikasi atas data dan informasi. Salah satu yang menjadi problem dalam Big Data adalah metode ilmiah. Metode ilmiah konvensional mungkinkah relevan, valid, dapat digunakan, dan saling melengkapi dengan metode lain. Dalam informasi dan data persoalan paling mendasar adalah validitas. Artinya sejauh mana validitas data dan informasi dapat diuji, sementara dalam dunia TI atau digital, dua hal tersebut masih menjadi persoalan.

Contohnya, saat anda mendaftarkan diri di akun media sosial, apakah anda mengunggah profil data diri secara valid, atau hanya data fake atau palsu. Sementara, inti dari data dan informasi adalah realitas atau kesamaan data dengan fakta yang sebenarnya. Pada akhirnya, era Big Data adalah era dimana secara metode kembali kepada konvensional untuk mendapatlan validitas.


Share Tulisan Achmad Kirin


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca