× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#INTERMESO

Keheningan

Ini baru mobil. Bagaimana dengan alat-alat elektronik, industri tekstil dan lain sebagainya itu.

Multimedia Editor
Keheningan
Charging point. Foto: Pixabay.

09/03/2020 · 1 Menit Baca

"Guna meningkatkan faktor keselamatan berkendara di jalan, Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) bakal mewajibkan kendaraan listrik untuk memiliki suara buatan. Pasalnya, mobil maupun sepeda motor yang tidak memiliki suara bisa membahayakan pengguna jalan karena tingkat awasan yang rendah. Terlebih saat melaju di jalan tol yang cukup renggang."

Begitu bunyi teras berita pada media online Kompas.com pagi ini, Senin (09/03) dengan judul "Kendaraan Listrik Nantinya Wajib Bersuara". 

Tak bersuara, hening, ternyata membahayakan manusia juga. Berita ini memicu kepala saya jadi tak hening. Sedikit bising--bahkan di kepala--syukuri itu tanda hidup.

Sebelum manusia menyciptakan mesin, sudah ada suatu ke-mesina-an dalam diri kita, dalam imajinasi kita, dalam dambaan-dambaan kita, dalam dunia kita. Dan "dunia" pribadi khusus itulah yang bergerak, dan menggerakkan. Sampai ilmu pengetahuan timbul, sampai teknologi ada dan berkembang.

Umpan baliknya: hasil-hasil ilmu pengetahuan dan teknologi memperkuat dambaan-dambaan, mempertajam imajinasi hingga jiwa mesin di dalam diri kita semakin ramai mewujud. Tercipta untuk jadi budak manusia. 

Seperti yang terjadi sekarang di negara-negara maju dan mulai terjadi di metropol kita ini: mesin dalam imaji telah meledak keluar dari menusia dan mewujud mesin apa saja. Namun ia malah tumbuh menjadi suatu kekuasaan otonom, yang tidak lagi budak-abdi, melainkan tuan yang menyetir manusia.

Gejala ini oleh para ahli disebut Entfrendung, alienation (per-asing-an). Mesin yang ada di dalam diri manusia lalu semakin menjadi mesin asing. Bekerja di luar manusia, otonom, sewenang-wenang. Hal itu menjadi masalah bangsa manusia di seluruh dunia. Ini harus kita pahami.

Di zaman Henry Ford I orang masih enak sebentar-sebentar datang pada Ford dengan keluhan radiator kurang bekerja, rem lekas blong--bahkan ada yang kala itu datang ke Los Angeles melapor (dengan ketawa) bahwa setirnya lucu sekali: bila diputar ke kanan, roda malah belok ke kiri. Never mind, diservis sebentar dan orang zaman romantik dulu lalu ngacir pergi bersiul-siul.

Dalam sistem ultraperfect teknologi seperti sekarang, hal-hal semacam itu pasti kerugiannya triliunan dolar dalam pertarungan konkurensi industri tinggi maha berat. Teknologi dan industri modern saat ini bukan lagi salah satu bengkel model Ford awal, melainkan imperium, yang sering lebih kuat-kuasa daripada agama atau negara. 

Mobil bukan hanya berarti baja dan mesin. Ia berarti dunia karet, aspal, minyak bumi, listrik, beton, kapal, pelabuhan, bank, asuransi, pengendalian riset dan manipulasi bermiliar-miliar lainnya seperti pernah diutarakan Romo Mangun.

Bahkan, merupakan sesuatu yang sering takut kita omongkan, tetapi toh sekali saat harap diketahui khalayak ramai: kontrol terhadap universitas, kabinet-kabinet dan parlemen negara manapun, ideologi negara, mental dan moral pembesar, sikap wanita, pembangkangan angkatan remaja dsb.

Ini baru mobil. Bagaimana dengan alat-alat elektronik, industri tekstil, dan lain sebagainya itu. Jadi "berisik" kan, saya?

Sudah, itu saja dulu. Mobil listrik yang juga kini diwajibkan ikut angkat suara untuk keselamatan manusia, menjadikan sesuatu ini kian langka dan bahkan mungkin sudah hapus, ia bernama: hening.


Share Tulisan Ghazali Hasan


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca