× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#AGAMA

Moderasi Islam

Keseimbangan Berpikir Matrealisme dan Spiritualisme

Mahasiswa Magister Studi Qur'an-Hadis
Moderasi Islam
Ilustrasi: alkhairat-ternate.or.id

25/03/2020 · 15 Menit Baca

Al-Qur’an menawarkan pola hidup dan berpikir yang seimbang antara  hal yang bersifat materi dengan ruhani. Kedua term tersebut dikenal dengan matrealisme dan spiritualisme. Keseimbangan diantara keduanya adalah jalan bagi umat Islam untuk melakukan langkah moderasi, sebagaimana al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Allah telah menjadikan umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat yang moderat atau pertengahan (ummatan wasata), umat yang adil dalam setiap tindakan untuk menentukan segala sesuatu, terutama tentang hal-hal yang bersifat matrealisme dan spiritualisme (dunia dan akhirat).

Matrealisme, dalam kajian filsafat merupakan suatu bentuk dari realisme, dikarenakan paham ini menyamakan yang nyata dengan materi. Penganut matrealisme menganggap materi merupakan suatu yang nyata, substansi dan hakikat yang paling dalam bagi manusia. Matrealisme sering dijelaskan sebagai bentuk eksistensi dari segala sesuatu yang ada bahkan menjadi sumber bagi adanya jiwa manusia. Hakikat matrealisme sendiri berada pada rumusan “tidak lain kecuali”, yang berusaha untuk melacak segala sesuatu yang ada sehinggga sampai tiada lain kecuali materi yang bergerak.

Spiritualitas sendiri secara bahasa diartikan dengan segala aspek yang berkenan dengan jiwa, semangat dan keagamaan yang mempengaruhi kualitas hidup manusia. Encyclopedia Americana menyebut istilah spiritualitas dalam dua definis, yakni sebagau aliran filsafat manusia (yang merupakan lawan dari matrealisme) dan istilah yang sering ditujukan kepada sekte atau kelompok kegamaan dari kalangan Kristen (bahkan dalam agama lain, termasuk Islam) yang menekan pada hal-hal yang bersifat kerohanian. Sehingga dapat ditemukan titik perbedaan antara matrealisme dengan spiritualisme yakni pola hidup yang menyangkut dengan kebendaan dan kerohanian.  

Dalam al-Qur’an, istilah keduanya tidak disebut secara khusus melainkan secara spesifikasinya dapat ditemukan dalam beberapa term dalam al-Qur’an. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan kebendaan (matrealisme) al-Qur’an sering menyebutnya dengan dua term yakni ad-Dunya berarti “yang dekat” dengan maksud kehidupan dunia adalah sesuatu yang dekat dengan manusia, dan asy-Syahadah yang diartikan oleh Ali Asy-Sabuni dengan “yang dapat disaksikan atau dilihat” yakni segala sesuatu yang dapat dilihat secara nyata termasuk benda sangat kecil seperti proton dan netron.

Istilah al-Hayatud dunya yakni “kehidupan dunia adalah kehidupan yang selalu berhubungan dengan kebutuhan biologis manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya di dunia, sekaligus yang dapat mendukung kegiatan ibadah dan muamalah sebagai tanggung jawab sosial sebagai manusia. Al-Qur’an kemudian menggambarkan hal tersebut dengan mata’ul hayatid dunya atau kesenangan dunia antara lain, kehidupan bersama keluarga, kebutuhan sandang, pangan dan papa yang cukup serta alat transportasi yang baik, dengan signifikansi untuk menjadi modal guna memperolah kesuksesan di akhirat kelak. Sebagaimana Allah berfirman;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ ١٤

Terjemahannya:

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Q.S Ali Imran (3): 14)

Dalam terminologi spiritualisme, al-Qur’an juga tidak menyebut secara khusus melainkan secara spesifik dengan istilah ar-Ruh. Ar-Ragib al-Asfahani menjelaskan tentang ar-Ruh yang merupakan nama lain dari an-Nafs atau jiwa. Ar-Ruh dalam al-Qur’an memiliki substansi dengan kemunculan al-Bayan (kehidupan), at-Taharruk (gerak), istijabul manafi’ (kekuatan yang menarik/mendatangkan berbagai manfaat bagi kehidupan) dan istidfa’ul mudar (kekuatan yang menolak berbagai kemudaratan). Ar-Ruh dari segi sifatnya merujuk pada hal-hal yang metafisk, yakni berada di balik segala sesuatu yang bersifat fisik dan kebendaan.

Dijelaskan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an ar-Ruh dijelaskan sebagai otoritas mutlak dari Allah, manusia hanya diberikan sedikit pengetahuan tentang ar-Ruh, itupun hanya kepada sebagian kecil manusia dengan kemampuan yang sangat terbatas (baca: Q.S al-Isra’ (17): 85). Ar-Ruh juga dapat disematkan pada malaikat Jibril (juga malaikat lain), dikarenakan penciptaan mereka dari cahaya yang bersifat metafisik (baca: an-Nahl (16): 102). Selain itu, ar-Ruh dalam Q.S asy-Syu’ara (26): 192-195, diartikan dengan al-Qur’an, dengan maksud yang metafisik yakni, jiwa al-Qur’an yang dapat menghidupkan jiwa manusia (intelektual, emosi, dan spiritual) yang mati.

Dari penjelasan dua terminologi tersebut, al-Qur’an pun menawarkan prinsip yang seimbang diantara keduanya (moderat). Dalam Q.S al-Qasas (28): 77 menggambarkan beberapa substansi yakni hidup yang berorientasi pada akhirat tetapi tidak melupakan dunia, hidup dengan berbuat baik kepada siapa saja (fisik) sebagaimana Allah berbuat baik kepada makhluk-Nya, dan hidup dengan tidak berbuat kerusakan di bumi (sebagaimana tugas khalifatullah kepada manusia). Argumen ini merujuk pada penafsiran dari Abdur Rahman bin Nasir As-Sa’di pada ayat tersebut, dalam kitab tafsirnya, Tasyirul Karim al-Rahman fi Tafsir al-Kalam al-Mannan, menyatakan;

“Sungguh pada dirimu telah berhasil (memiliki) harta sebagai media untuk hidup di akhirat yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain kami. Makan carilah dengan harta itu, apa yang ada pada Allah dan bersedahlah; jangan (dengan harta itu) terbatas hanya semata-mata untuk mendapatkan kepuasan dan kezelatan saja”. Selanjutnya, “kami tidak menyedekahkan seluruh harta anda sehingga anda menjadi tersia-sia, tetapi berinfaklah untuk akhirat anda dan nikmatikal kehidupan anda yang tidak bertentangan dengan agama dan tidak membahayakan akhirat anda”

Konsep hidup dalam Islam yang tidak hanya mengatur kehidupan di dunia namun di akhirat kelak membuat pesan yang ada dalam al-Qur’an juga ditujukan untuk membimbing manusia agar dapat menyadari  bahwa harta (matrealisme) yang dimiliki itu juga harus dibawa atau menjadi modal untuk kehidupan di akhirat kelak (spiritualisme) agar dalam kehidupan manusia, dia dapat mengerti dan pahami keseimbangan (moderat) diantara keduanya yang saling melengkapi satu sama lain. Sebagaimana dalam sindirannya dari seorang filsuf, Diogenes; “Ilahikan apapun yang ada di dunia, agar dapat menuai hasil di akhirat, kalau tidak, manusia akan tertinggal”.

Al-Qur’an juga memberika dua cara membawa harta untuk bekal di akhirat, yaitu dibawa sendiri, yakni berupa kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, perumahan, kendaraan, dan atau ibadah haji. Selanjutnya adalah dengan cara dititipkan kepada orang lain, yakni dalam bentuk zakat, infak, sedekah dan santunan sosial lainnya termasuk harta yang dititipkan pada kaum duafa. Ada kalangan manusia yang begitu keras dan juga secara tegas menolak kehidupan di akhirat, dikarenakan pandangannya yang hanya mengacu pada hal-hal keduniaan (matrealisme).

Pandangan ini kemudian ditolak oleh al-Qur’an, dikarenakan pandangan yang terlalu matrealistik tidak mampu untuk menempuh ruang dan waktu. Selain itu, pandangan yang matrealistik hanya akan terpaku pada tataran empiris, yang terlihat, terasa, dan terukur. Tidak ada kepedulian akan adanya hal-hal yang metafisik sebagaimana spesifikasi dari spiritualitas. Menurut mereka di luar dunia yang empiris, hanyalah sebuah imajinasi dan dongeng belaka. Al-Qur’an kemudian merespon dengan pertanyaan singkat dan bernilai filosofis-refletif lewat Q.S at-taubah (9): 38;

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ ٣٨

Terjemahannya:

Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit (Q.S at-taubah (9): 38)

Dalam gambaran pada ayat ini, setidaknya memberikan argumentasi kritis kepada kaum matrealisme agar tidak terlalu condong pada hal-hal yang terlihat saja, melainkan pada yang tidak terlihat (spiritualistik) juga perlu untuk dilakukan. Pemahaman bahwa, spiritualistas (akhirat) hanyalah gambaran ketidakberdayaan orang-orang, ketidakpercayaan pada akhiran dan menganggapnya sebagai ilusi, haruslah dimarginalisasikan pada pandangan atau pola pemikiran yang moderat atau seimbang. Dikarenakan keseimbangan diantara keduanya, dunia (kebendaan/matrealisme) dan akhirat (tidak terlihat/spiritualisme) adalah keseimbangan yang proporsional.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca