× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#AGAMA

Kajian Hadis Barat

Perang Intelektual Studi Hadis Sarjana Barat.

Mahasiswa Magister Studi Qur'an-Hadis
Kajian Hadis Barat
artikula.id

28/03/2020 · 15 Menit Baca

Para pengkaji hadis di era modern akan mendapati beberapa pemikir hadis dari kalangan Muslim maupun orientalis yang telah memberikan khazanah intelektual dalam studi hadis, Terlepas dari metode dan kritik mereka, kesemuannya telah menambah gagasan baru dengan tujuan memperluas dan memperdalam kajian hadis. Kajian hadis di Barat sendiri, dari sisi kecenderungan dapat dibedakan dalam dua kelompok, yakni skeptis dan believers. Kelompok pertama, mengkaji hadis berangkat dari keraguan menerima hadis yang banyak bertentangan dengan kenyataan sejarah oleh karenanya tidak terbukti autentik.

Kelompok pertama, yang melahirkan metode analisis baru terhadap sanad, yakni Joseph Schacht dengan dasar temuan Goldziher. Dalam dua bukunya The Origins of Muhammadan Jurisprudence dan An Introduction to Islamic Law, dia mengembangkan beberapa teori untuk menganalisis sanad yaitu back projection, the spread of isnads, family isnads, dan Common Link. Setelah temuan itu, banyak sarjana Barat lebih fokus pada teori Schacht, yang mana dalam kelompok ini beranggapan bahwa perkembangan hukum baru muncul belakangan. Kalau Goldziher hanya sampai meragukan hadis Nabi, sedangkan Schacht sampai pada keyakinan bahwa tidak ada hadis yang dapat dinyatakan autentik berasal dari Nabi, terutama yang berkenaan dengan hukum.

Dalam istilah sunnah, Schacht mengikuti pandangan Goldziher dan Margoliouth, dan mengutip perkataan Ibn al-Muqaffa. Dia menyebut sunnah dengan istilah living tradition (tradisi yang hidup) yang berarti kebiasaan atau praktek yang disepakati, dan menurut dia dalam konteks awal Islam, sunnah lebih memiliki konotasi politis daripada konotasi hukum dan tidak secara khusus dilekatkan pada Nabi, seperti sebutan sunnah Abu Bakar dan ‘Umar. Konsep sunnah Nabi, baru ada pada sekitar abad kedua dan dibuat oleh orang-orang Irak, yang berbeda dengan orang Madinah, dan al-Shafi’i, orang yang memposisikannya sebagai praktek hidup Nabi secara khusus.

Selanjutnya mazhab Suriah dan Irak sama-sama melakukan Back Projection (memproyeksikan tradisi yang hidup dari mazhab kepada nabi). Teori Projecting Back (proyeksi ke belakang), yaitu menisbahkan atau mengaitkan pendapat para ahli fiqh abad kedua dan ketiga hijrah kepada tokoh- tokoh terdahulu agar pendapat itu memiliki legitimasi dari orang- orang yang mempunyai otoritas lebih tinggi. Menurutnya, para ahli fiqh telah mengaitkan pendapatnya dengan para tokoh sebelumnya, sampai kepada Nabi Muhammad SAW sehingga membentuk sanad hadis.

Schacht juga menggagas teori Argumentum e Silentio, kesimpulan teori ini yang diperoleh dalam penelitiannya terhadap al-Muwatta’ yang membuktikan bahwa ada suatu hadis tidak eksis di dalamnya atau pada masa kitab tersebut disusun, memperlihatkan bahwa hadis tersebut tidak dipergunakan sebagai argumen hukum dalam suatu pembahasan yang seharusnya merujuk kepada hadis itu, jika hadis itu telah ada. Maka hadis yang terdapat dalam kitab sesudahnya adalah palsu karena Malik yang lebih dulu ada seharusnya mencantumkan hadis tersebut. Kemudian terdapat pula hadis yang dalam  al-Muwatta’  dicatat  dengan  sanad  mursal,  tapi  dalam  dua generasi berikutnya yaitu dalam sahih al-Bukharī, hadis tersebut dicatat dengan sanad yang lengkap sampai Nabi. Ini membuktikan bahwa hadis tersebut telah dipalsukan.

Adapun kelompok kedua, dari segi mengkaji hadis didasarkan pada keyakinan akan kebenaran hadis, baik sisi historis maupun keautentikannya. Kelompok ini menempatkan hadis sebagai sumber hukum dan doktrin teologis, sehingga kecenderungannya berupaya menjaga keberadaan hadis. Salah satu tokoh dari kelompok ini adalah, Musthafa al-Azami, seorang pemikiran hadis yang menolak kesimpulan sarjana Barat tentang kajian hadis. Terutama interpretasi tentang fenomena common link  dari Joseph Scacht,dengan meragukan validitas teori tersebut.

Azami menyatakan bahwa metode common link dan semua kesimpulan yang dicapai dengannya tidak relevan dan sama sekali tidak berdasar. Dalam bukunya, Studies in Early Literature with A Critical Edition of Some Early Text  Musthafa Azami mencoba menelusuri dan membuktikan bahwa teori common link tidaklah ilmiah, dan hanyalah sebuah sebuah imajinasi dari Josep Schacht yang kemudian di kembangkan oleh  G.H.A Juynboll, yang mencoba menelusuri isnad dalam naskah Suhaili. Hasilnya, hadis-hadis yang terdapat dalam naskah tersebut dapat dibagi atas tiga kategori: Pertama, hadis-hadis yang diriwayatkan hanya oleh seorang sahabat, yang mana ia memiliki seorang murid, dan murid itu sendiri juga hanya mempunyai seorang murid yang meriwayatkan hadis darinya.

Hadis-hadis yang termasuk pada kelompok ini berjumlah 5 hadis (hadis nomor 11, 28, 35, 43, dan 44). Kedua, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu yang hanya mempunyai seorang murid. Akan tetapi, hadis- hadis ini di dukung oleh para sahabat lainnya. Hadis yang tercakup dalam kategori ini berjumlah 11 hadis, yakni hadis nomor 1, 2, 13, 14, 29, 31, 34, 37, 38, 39, dan 42. Ketiga, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu yang memiliki lebih dari seorang murid. Pada saat yang sama, hadis tersebut diriwayatkan oleh para sahabat lain yang menyampaikannya kepada sejumlah muridnya. Hadis dalam kelompok ini berjumlah 32 hadis. Yakni nomor 3, 4,, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 12, dll. 

Menurut Azami, fenomena common link sangat jarang, jika tidak pernah terjadi dalam periwayatan hadis. Metode common link hanyalah imajinasi dari Schacht yang tidak pernah ada dalam kenyataan. Naskah Suhaili ini berisi 40 hadis. Sementara  Azami meneliti para perawi hadis-hadis itu sampai generasi Suhail, yaitu jenjang ketiga (al-tabaqat al-thalithah) termasuk tentang jumlah dan domisili mereka. Dia membuktikan bahwa pada jenjang ketiga, jumlah rawi berkisar antara 20 sampai 30 orang, sementara domisili mereka berpencar-pencar dan berjauhan, sementara teks hadis yang mereka riwayatkan redaksinya sama.

Dengan demikian, M. M. Azami berkesimpulan sangat mustahil menurut situasi dan kondisi pada saat itu mereka pernah berkumpul untuk membuat hadis palsu sehingga redaksinya sama. Dan sangat mustahil pula bila mereka masing-masing membuat hadis, kemudian oleh generasi-generasi berikutnya  diketahui  bahwa redaksi hadis yang mereka buat itu sama. Kesimpulan beliau ini bertolak belakang dengan kesimpulan Schacht, baik tentang rekonstruksi terbentuknya sanad hadis maupun bunyi teks hadis (matan). Juynboll dalam bukunya Muslim Tradition mengungkapkan bahwa, argumen yang diberikan ‘Azami masih kurang sempurna atau belum paripurna, dan tidak memberikan pengaruh pada pemikiran sarjana Barat maupun timur yang mengikuti konsep Common Link Schacht.

Kemudian Azami dalam disertasinya mengungkapkan berbagai fakta-fakta untuk menolak semua pikiran-pikiran atau argumen-argumen oleh para orientalis. Misalnya, seperti Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, Robson, Wensicnk, Guillaume, Sachau, dan lain-lain. Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht adalah yang paling banyak mendapat kritikan dari Azami, disebabkan karena kedua tokoh ini dinilai yang paling banyak berpengaruh dalam hal pembabatan hadis Nabi, baik di kalangan orientalis sendiri maupun di kalangan sementara cendekiawan Muslim.

Untuk melemahkan teori Schacht tetang projecting back, Azami yang melakukan penelitian khusus tentang hadis-hadis nabawi yang terdapat dalam naskah-naskah klasik. Di antaranya adalah naskah milik Suhail bin Abū  Salih (W. 138 H). Abū  Shālih (ayah Suhail) adalah murid Abū Huraīrah, sahabat  Nabi Muhammad SAW. Karenanya, sanad atau transmisi hadis dalam naskah itu berbentuk dari Nabi Muhammad SAW, Abū Hurairah, Abu Salih. Azami mempertanyakan anggapan bahwa periwayat yang menduduki posisi common link perlu di curigai atau lebih dari itu, dituduh telah memalsukan hadis.

Menurutnya, jika memang ditemukan seorang periwayat, seperti al-Zuhri yang menjadi satu-satunya periwayat yang menyampaikan kepada sejumlah muridnya, akan tetapi kita mengetahui bahwa kethiqahannya diakui oleh para kritikus hadis maka tak ada alasan jika beliau memalsukan hadis. Karena kita perlu menyertakan bukti yang kuat ketika menuduh seseorang telah memalsukan hadis. Ahli hadis pun mengakui bahwa problem periwayatan hadis secara sendirian dan implikasinya. Akan tetapi semua itu bergantung kepada perawinya. Jika perawinya seseorang Thiqah muttaqin, maka hadisnya bisa dinyatakan sebagai sahih. Sebaliknya, jika seorang perawi atau orang di bawahnya itu dinyatakan shuqud maka hadisnya dianggap munkar.

Dengan demikian, interprestasi Juynboll yang mengatakan bahwa seorang common link adalah pemalsu dan pencetus hadis itu tidak dapat diterima. Sebab, diterima atau ditolaknya sebuah hadis itu tergandung kualitas seorang perawi bukan kuantitas perawinya sebagaimana kriteria yang ditetapkan Juynboll. Di tempat lain, Juynboll menunjukan bahwa jika seorang tidak melihat seluruh isnad dalam hadis, maka dia akan salah dalam mengidentifikasi seorang common link. Karena bisa jadi ketika seseorang itu mengakatan bahwa hadis ini hanya diriwayatkan oleh al Zuhri seorang dan ia tertuduh sebagai common link. Padahal, disisi lain jika kita teliti ada jalur lain selain al Zuhri semisal Hisyam. Maka, al Zuhri tidak lagi sebagai the real common link-nya, akan tetapi orang di atasnya yang bisa dikatakan the real common link. Dan begitu seterusntya sampai isnad sambung kepada Nabi.

Dinamika kajian hadis antara dua kelompok ini menandakan terbangunnya perang narasi intelektual yang begitu baik dalam kajian hadis. Walaupun beberapa pandangan dari kelompok kedua, banyak masyarakat muslim menentang dan menolak hasil-hasil kajian atau analisis yang dilakukan terhadap hadis. Sikap kritis dan sistematis yang menjadi karakter para kelompok kedua, dirasa mengganggu “stabilitas religiusitas” yang telah berjalan berabad-abad. Namun, terlepas dari hal itu, dalam hal ini kelompok pertama juga mengakui mereka, kalangan kelompok kedua sendiri juga terjadi dinamika, tidak satu suara.

Pada titik inilah, kajian hadis mulai dipandang sebagai alternasi cara pandang dalam mengembangkan kajian itu sendiri. Perang argumentasi dari dua kelompok ini, dapat ditemukan bagaimana perkembangan dalam dunia kajian hadis begitu berkembang dan sarat akan kazanah intelektual. Sehingga, membuat para pengkaji modern seperti para mahasiswa di beberapa perguruan tinggi Islam diarahkan untuk dapat menerapkan bahkan mengembangkan beberapa pemikiran tersebut baik teori maupun pendekatan agar semakin berkembang sedemikian rupa.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca