× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#INTERMESO

Warsit, Edi, Inul dan Corona

Ngeri kali Bung Edi ini, itu corona Bung, bukan papeda kuah kuning.

Multimedia Editor
Warsit, Edi, Inul dan Corona
Ilustrasi: Pixabay.

02/04/2020 · 3 Menit Baca

Entah kenapa, berselang hari, saya disuguhkan kiriman link berita di grup Whatsapp tentang virus corona yang berhubungan dengan anggota DPRD. Ada yang membikin senyum kecut, ada yang bikin sumringah. Mulai dari anggota DPRD Blora yang viral itu. Lalu Medan dengan selera kulinernya yang ajaib. Dan yang terakhir, Ternate: membanggakan. 

Anehnya, yang membanggakan itu justru tak viral. Yah, bad news is good news.

Dua anggota dewan yang menghebohkan itu, adalah orang yang membangkang pada protokol kesehatan cegah corona di daerahnya masing-masing. Mereka berdua mengomel kepada petugas dengan segala dalilnya.

Sepanjang yang awak tahu, jika sedang bertugas di lapangan, berpangkat atau bergolongan rendah sekalipun, ia menjadi pemimpin tertinggi di tempat ia nge-Pam atau tempat ia menjalankan perintah tugasnya. Misal, seorang polantas, jika sedang bertugas, ia bisa menilang jendral polisi, bahkan presiden jika menyalahi aturan. Begitu harusnya aturan itu ditegakkan bukan?

Mari kita mulai dari Blora, Jawa Tengah. Para petugas medis awalnya hendak memeriksa kondisi kesehatan anggota dewan yang baru pulang dari kunjungan kerjanya, terkait pencegahan wabah virus Covid-19. Namun, petugas medis yang menjalankan tugas dan fungsinya itu malah mendapat respons kurang mengenakan.

Salah satu anggota dewan berinisial Warsit, eh, itu nama ya.. bahkan sempat membentak-bentak petugas medis.

"Kamu pejabat enggak? S-O-P-nya mana? Surat tugasnya mana? Kita DPR bukan anak gembala. Pakai aturan. Pakai undang-undang," ujarnya dengan nada tinggi. Lord Warsit juga melanjutkan, "Kita kan tidak tahu kalau di terminal misal ada copet, siapa yang tanggung jawab?" itulah muntahan kata-kata yang terekam video.

Saya jadi ingin tahu, bagaimana beliau yang terhormat ini masuk di sebuah mal lalu diperiksa tasnya oleh satpam. Apa ia begitu juga? Ini serupa. Protokol kesehatan itu justru sebelum sampai di rumah, agar beliau yang terhormat tidak menularkan pada anak-istri juga handai taulan di sekitar. Tapi mungkin Lord Warsit lelah. Kita sudahi saja Blora.

Mari kita terbang ke Medan, Sumatra Utara. Ini lebih gawat lagi. Corona sudah menjadi kuliner di sana.

Dengan alasan yang sama sesuai protokol kesehatan dan juga menjalankan Maklumat Kapolri dengan alasan salus populi suprema lex esto, keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Petugas kepolisian di Medan kemudian melarang sang anggota dewan yang terhormat itu ke sebuah rumah duka untuk kebaikannya. 

Meskipun sang anggota dewan yang terhormat ini bertujuan baik pula--hendak melayat--namun rekan yang meninggal itu berstatus PDP corona. Dan tanpa pengaman apapun, Lord Edi Saputra, pasti dilarang. Larangan polisi itu membuatnya mengamuk. Amukan itu kemudian membuatnya lapar dan meminta aparat memberikannya sesuatu untuk ditelan. Tak tangung-tanggung, corona-lah menggugah seleranya saat itu. 

"Aku anggota DPR tak takut mati aku Bang. Dijamin negara aku. Mana virusnya biar kutelan sekarang. Mana Corona itu biar kutelan, mana...". 

Ngeri kali Bung Edi ini, itu corona Bung, bukan papeda kuah kuning. 

Peristiwa itu kemudian membuat warganet geram dan berjuntai-juntai amarah di kolom komentar berita daring nasional. Namun meski begitu, tindakan Lord Edi ini menjadi inspirasi. Inspirasi pegimana maksud lo

Nih, lihat saja ini. Dengan peristiwa itu, Detikcom kemudian tercerahkan dan mengambil momentum edukasi untuk menulis artikel: "Anggota DPRD Medan Ingin Telan Corona, Adakah Efeknya Bagi Pencernaan?". Itu tandanya, dalam keburukan, ada kebaikan. Begitu juga sebaliknya.

Kini, kita sudahi saja dulu kuliner baru khas Medan ini. Mari kita bergeser ke timur Indonesia. Ternate, tepatnya. Ada kebijaksanaan yang ditunjukkan anggota dewan yang terhormat di sana. 

Namanya Zainul A Rahman. Di saat pemerintah daerah sedang bingung mencari lokasi isolasi pasien corona, Inul, begitu sapaan akrabnya, menawarkan gedung DPRD Ternate. Tempat sehari-harinya beliau ditempatkan rakyat untuk bekerja mewakili mereka.

Ia sigap. Berdiskusi dengan beberapa rekannya yang kemudian bersetuju untuk merelakan gedung dewan yang terhormat sebagai lokasi alternatif. Dengan catatan tentunya.

“Saat ini tak etis lagi jika saling menyalahkan, karena ini sudah menjadi masalah bersama. Sehingga saya dan teman-teman DPRD lainnya sudah diskusikan, jika tim medis melihat kantor DPRD menjadi repsentatif untuk ruang isolasi pasien covid-19 dan lainya dan itu diizinkan pimpinan maka silahkan saja dipakai,” ucapnya.

Usai membaca berita tentang Pak Inul yang mengusulkan Gedung DPRD menjadi tempat untuk isolasi pasien Covid-19, saya jadi kagum. Cepat tanggap. Mulia sekali hati Pak Inul ini. Tapi setelah saya ingat-ingat, Pak Inul ini sering membuat satire secara terbuka. Beliau memang pernah saya nobatkan diam-diam, sebagai satiris mumpuni.

Tahun lalu, saat ia dilantik sebagai anggota dewan yang terhormat, beliau datang pada acara pelantikan sebagai anggota terpilih dengan mengunakan angkot. Selain menunjukan sikap beliau yang merakyat, beliau juga punya hasrat menyindir gaya hidup anggota dewan yang.... gitu deh

Jadi, dengan usulan gedung dewan menjadi lokasi isolasi pasien, saya rasa itu juga cara beliau membuat satire. Seingat saya, BK DPRD Kota Ternate pernah membuat evaluasi absen kehadiran anggota dan kita memang belum tahu apa hasilnya. Itu di awal Februari 2020. Saat itu, corona baru tiba di Indonesia, masih nyasar-nyasar, belum ketemu alamat.

Mungkin saja, Pak Inul sudah tahu hasil evaluasi BK DPRD soal absensi kehadiran tersebut. Dengan pengetahuaan itulah, menjadikan dasar Pak Inul mengusulkan gedung dewan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan. Karena mana tahu, sesuai evaluasi BK DPRD, kebanyakan penghuni gedung itu sudah terlatih Work from Home selama ini. Terlatih mengosongkan. Mungkin. Mungkin, ya.... Bisa jadi.


Share Tulisan Ghazali Hasan


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca