× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#AGAMA

Ignaz Goldzhier dan Kritiknya Terhadap Kesejarahan Hadis

Hadis Dalam Frame Kritis Kaum Orientalis.

Mahasiswa Magister Studi Qur'an-Hadis
Ignaz Goldzhier dan Kritiknya Terhadap Kesejarahan Hadis
Foto: Wikimedia Commons.

04/04/2020 · 5 Menit Baca

Kemunculan kritik hadis bukan hanya dari intern umat Islam namun hal tersebut sangat signifikan dilakukan juga oleh kaum orientalis. Kritik yang dilontarkan mereka bukanlah kritik bernada hinaan namun penuh dengan landasan argumentatif. Budaya kritik seperti ini bisa juga menjadi jalan tersendiri bagi umat Islam untuk lebih kritis dalam menerima hadis yang terkesan mendeskreditkan.

Pada tulisan ini penulis menunjukan kritik yang dilontarkan oleh seorang tokoh orientalis yakni Ignaz Goldziher, merupakan tokoh besar orientalis yang sangat berpengaruh dalam kajian keislaman di Eropa. Dia berkebangsaan Hungaria, serta berasal dari keturunan bangsa Yahudi. Pengaruh pemikirannya tidak hanya di bagian Barat, melainkan terhadap dunia Timur, terlebih setelah salah satu karyanya yang fenomenal mengakibatkan respon yang diterima tidak hanya bersifat positif tetapi juga negatif dari kalangan pemikir barat dan timur.

Ignaz yang berlatar belakang sebagai seorang sejarawan dan pendidik, membuatnya tertarik mengkaji keilmuan Islam dalam bidang hadis dari sejarah pra-Islam sampai dengan doktrin pada dua abad setelah meninggalnya Nabi. Pada fase ini menurutnya dibuat konsep-konsep hadis yang dianggap menyimpang oleh para ulama Timur khususnya. Kritik terhadap gagasan terminologi dari hadis dan sunnah oleh Goldziher sangat bersifat provokatif dengan motif ingin mencari akar kata hadis yang telah lama terlembagakan oleh aspek agama, menurutnya;

  • Hadis merupakan sebuah komunikasi maupun pengkabaran dari sekelompok orang-orang dalam lingkup keagamaan;
  • Hadis sebuah data sejarah yang bersifat duniawi maupun keagamaan dari masa awal Islam hingga pada masa belakangan;
  • Hadis bukanlah sebuah dokumen yang berfungsi di awal ke-Islaman melainkan penggambaran atas sebuah kecenderungan di tengah-tengah masa perkembangan Islam

Goldziher juga menyinggung perihal terminologi sunnah pada kajiannya terhadap sejarah pra-Islam yang dilakukannya secara mendalam pada karya Muslim Studies, Goldzhier mengungkap bahwa;

  • Penggunaan istilah sunnah dalam Islam sangat berkaitan erat dengan Arab di masa jahiliyah dengan melihat kebiasaan atas sebuah perilaku yang dilakukan terus menerus disebut juga sunnah oleh Goldziher;
  • Sunnah merupakan pengulangan istilah dari Arab kuno oleh Islam yang lebih bersifat keagamaan.

Dari sikap skeptis Goldziher disebabkan oleh analisisnya terhadap perkembangan hadis, yang menurutnya hadis tidak sepenuhnya hanya berita lisan yang keabsahannya melalui isnad. Kritik lainnya adalah terdapat hadis-hadis yang menurutnya kontradiktif yang diklaim oleh mereka (para ulama) berasal dari Nabi; sahabat nabi yang kecil justru lebih banyak meriwayatkan hadis ketimbang sahabat Nabi yang telah besar serta dekat dengan Nabi; hadis yang datanya belakangan tidak dapat teruji kebenarannya oleh hadis yang telah ada terlebih dahulu.

Dari kritiknya tersebut Goldziher mengungkapkan adanya pemalsuan dan interpolasi terhadap hadis yang dimulai sejak  awal perkembang dunia Islam atas alasan politik maupun  nasihat moral praktis sehingga banyak bermunculan hadis-hadis ekslusif yang bersifat pembenaran bahkan terkesan diskriminatif. Pergolakan politik yang terjadi pada masa dinasti bani Umaiyah berupa pertentangan antara kaum elit pemerintahan dengan para ulama disebabkan corak pemerintahan yang lebih sekuler yang menurut Goldziher terdapat adanya motif pemalsuan hadis 

Dari peristiwa itulah kemudian dijelaskan olehnya para kalangan alim ulama mulai mencari-cari sunnah Rasul sebagai legitimasi terhadap praktik-praktik yang mereka lakukan dan juga bagi penentangan mereka terhadap penguasa. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok pemerintah dengan mencari hadis-hadis yang sesuai dengan maksud dan tujuan agar dapat dijadikan sebagai landasan pembenaran atas tindakan yang lakukan demi mempertahankan supremasi kekuasaan. Fenomena seperti ini tidak lebih kurangnya sama seperti yang dilakukan masa kini.

Revolusi yang terjadi pasca dinasti Umaiyah menjadikan para ulama mendapatkan pengaruh dan kedudukan di pemerintahan, sehingga Abbasiyah lebih bercorak teokratik, yakni menjadikan hadis sebagai rujukan atas persoalan yang tidak terdapat dalam nash al-Quran. Pada masa tersebut pula melahirkan dua aliran mazhab hukum yakni ahlu al-hadis dan ahlu al-ra'yu. Goldziher menganalisis bahwa hal tersebut berdampak disatu pihak oleh ahlu al-ra'yu, sehingga menurut mereka demi mempertahankan eksistensi mazhab hukum adalah lebih bersifat bijaksana jika menyelaraskan hadis-hadis yang ada untuk memperkuat doktrin mereka. Oleh karenanya muncullah hadis-hadis mengenai ijtihad.

Bukti telah terjadinya pemalsuan hadis menurut Goldziher ditandai dengan munculnya beberapa rekasi setelahnya, yakni munculnya matan-matan hadis yang berisi seolah-olah nabi akan menghukum orang-orang yang telah memalsukan hadis dan menyandarkan kepadanya dengan hukuman api neraka; terdapat kelompok yang menolak seluruh kitab hadis dan hanya kembali kepada al-Quran saja; reaksi yang muncul dikalangan ahli hadis sendiri yang mendominasi pandangan mereka bahwa perlunya sebuah metode untuk mengevaluasi keshahihan sebuah hadis dimana justru memfokuskan kajian pada sanad atau pada perawinya dan bukan pada matannya.

Upaya penulisan hadis sebagai bentuk pemeliharaan menuai perdebatan antar beberapa pihak yang mendukung untuk dituliskan dengan pihak yang tidak mau menuliskannya. Goldziher mendeskripsikan bahwa bentuk penulisan hadis di awal dinasti Islam kurang mendukung aspek religius atas dampak dari sifat sekularisasi, sementara baru terdapat dalam periode dinasti kedua yang bersifat kanonikal.

Corak penulisannya terbagi atas dua hal yaitu lebih mementingkan aspek eksternal hadis atau sanad dan yang keduan berdasarkan tematik matan hadis, yang oleh Goldziher masa tersebut menjadi masa pertumbuhan hadis sangat subur karena bermunculan satu per satu hadis dari segala aspek, sementara di periode selanjutnya menjadi masa kemunduran hadis karena pengkaji hadis lebih memilih meringkas kembali hadis-hadis yang telah ada.

Contoh hadis yang dikritisi oleh Goldzhier. Yakni, hadis yang diriwayatkan oleh al-Zuhri yaitu;

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم وَمَسْجِدِ الأَقْصَى.

Artinya:

Tidak diperintahkan pergi kecuali menuju tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.”

Hadis yang dapat dijumpai dalam kitab-kitab Hadis seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan an-Nasa’I, dan lain sebagainya. Hampir semuanya diriwayatkan melalui jalur Ibn Shihāb al-Zuhrī sebagaimana dalam riwayat di atas.

Menurut Goldziher, terdapat faktor sosio-politik yang mempengaruhi munculnya hadis ini melalui jalur al-Zuhri. Al-Zuhri diklaim telah dipaksa untuk membuat hadis yang sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW oleh ‘Abd al-Malik bin Marwan (khalifah Dinasti Umayyah di Damaskus), ia khawatir apabila ‘Abdullah bin Zubair (yang memproklamirkan dirinya sebagai khalifah di Mekah) mengambil kesempatan dengan menyuruh orang-orang Syam (Syria dan sekitarnya) yang sedang melaksanakan ibadah haji di Mekah untuk berbaiat kepadanya. Karenanya, ‘Abd al-Malik bin Marwan berusaha agar orang-orang Syam tidak lagi pergi ke Mekah, tetapi cukup hanya pergi ke Kubah Sakhra’ di al-Quds yang pada saat itu menjadi wilayah Syam.

Faktanya, sebagaimana yang diutarakan oleh Musthafa ‘Azami, sejarah membuktikan sebaliknya. Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai kelahiran al-Zuhri, yakni antara 50-58 H. Ia juga belum pernah bertemu dengan ‘Abd al-Mālik bin Marwān sebelum tahun 81 H. Dan pada tahun 68 H orang-orang dari Dinasti Umayyah berada di Mekah pada musim haji. Dari sini menurut ‘Azami ‘Abd al-Mālik baru berfikir untuk membangun Kubah Sakhra’ yang konon akan dijadikan pengganti Kakbah itu pada tahun 68 H. Jika demikian, maka al-Zuhri pada saat itu baru berumur 10 sampai 18 tahun.

Karenanya sangat tidak masuk akal seorang anak yang terlibang masih muda sudah masyhur sebagai seorang intelektual yang memiliki reputasi ilmiah di luar wilayahnya sendiri, di mana ia mampu mengubah pelaksanaan ibadah haji dari Mekah ke Jerussalem. Lagi pula di Syam pada saat itu masih banyak sahabat dan tabi’in dan mereka tidak mungkin diam saja melihat hal itu.

Dilihat dari redaksi hadis yang dikutip oleh Goldziher sendiri, tidak ada redaksi yang menunjukkan bahwa akan ada Kubah Sakhra’ yang hendak dibangun untuk kepentingan ibadah haji, yang ada hanyalah isyarat pemberian keistimewaan kepada Masjidil Aqsha. Dan hal ini wajar saja mengingat Masjidil Aqsha pernah menjadi kiblat pertama umat Islam.

Dari beberapa argumentasi yang dilakukan oleh Goldzhier setidaknya mampu menjadi gambaran bagaimana pergolakan masa lalu tentang hadis. Terutama pada penggunaan hadis sebagai legitimasi keagamaan demi merebut hal duniawiah sehingga pelajaran bagi para pembaca adalah lebih berhati-hati dalam mengambil dan menerima teks keagamaan secara mentah, namun diharuskan untuk menelaah lebih lanjut teks keagamaan tersebut. Tanpa bermaksud untuk menolak semua hadis tetapi lebih kepada sikap objektif pada teks-teks keagamaan.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca