× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#AGAMA

Genealogi Lokalitas Islam

Pertautan Antara Konteks Lokal dan Islam.

Mahasiswa Magister Studi Qur'an-Hadis
Genealogi Lokalitas Islam
Ilustrasi: jalandamai.com

17/04/2020 · 15 Menit Baca

Masyarakat pada suatu daerah memiliki kebiasaan yang selalu dilakukan dan telah mendarah daging pada setiap aspek kehidupan mereka. Kebiasaan tersebut dimanifestasi dalam bentuk adat istiadat, tradisi, dan budaya dan menjadi local wisdom hasil warisan para pendahulu yang harus dijaga dan dirawat secara baik, dikarenakan akan menjadi identitas setiap daerah. Seiring dengan berkembangnya zaman, local wisdom sangat perlu untuk dilakukan pelestarian, di satu sisi nilai-nilai tetap terjaga dan tetap mengeksistensikan khazanah lokal dengan kondisi masyarakat yang selalu berkembang.

Islam sebagai bentuk ajaran pada masyarakat juga menginginkan perilaku yang harus sesuai dengan al-Qur'an dan Sunnah. Islam pada masa awal juga memiliki karakteristik yang menyesuaikan dengan kondisi Arab sebagai daerah awal Islam. Karakteristik ini yang kemudian ingin dibawa pada daerah lain, yang masyarakatnya sudah terlebih dahulu dibentuk dengan adat istiadat, budaya serta tradisi, akan menimbulkan problem, di satu sisi menginginkan Islam (dengan karakteristik Arab) harus sesuai dengan tatanan awal masyarakat (local wisdom) atau tatanan itu yang harus menyesuaikan dengan Islam. Walaupun ada dalam beberapa tempat yang jika ditelusuri sudah ada semacam nilai-nilai Islam yang terkandung dalam tatanan awal masyarakat.

Michel Foucault, sebagai seorang filsuf berpandangan bahwa, dalam fase ini terjadi perang pengetahuan (knowledge), dimana pengatahuan siapa yang berkuasa maka dia yang akan menang,  polarisasi ini disebut dengan the power of knowledge. Foucault dengan sederhana ingin menyatakan bahwa, manusia dalam suatu tatanan masyarakat memiliki pilihan untuk menentukan identitas tempat mereka, lewat bagaimana mereka memilih, menerima, menelaah bahkan mengembangkan apa yang ada di depan mereka (antara local wisdom dan Islam), proses ini yang dinamakan dengan episteme oleh Foucault.

Dalam penerapannya pada fenomena yang terjadi di masyarakat, akan ditemukan dua langkah yang akan dijalani, dan membutuhkan waktu serta peran dari beberapa unsur-unsur masyarakat, terutama pemimpin. Langkah pertama, disebut oleh Foucault dengan marginalisasi, sebuah proses membuang beberapa nilai-nilai yang dianggap tidak relevan untuk diterapkan pada kondisi masyarakat. Seringkali, fase ini menuai banyak pro dan kontra, namun dengan adanya pengetahuan dengan dasar kesepakatan. Maka, akan ditemukan jalan keluar dari problem ini.

Gambaran ini diilustrasikan dengan contoh kedatangan Islam pada daerah Ternate, yang awalnya menyembah roh-roh halus/dinamisme (perspektif Tuhan) dimarginalisasikan atau dibuang dan digantikan dengan peyembahan kepada Allah SWT. Marginalisasi ini juga akan mendapati beberapa unsur yakni, proses, agensi, lembaga dan ruang lingkup. Proses dijelaskan dengan berjalannya marginalisasi, agensi dimaksudkan pada orang yang melakukan (pembawa Islam atau penguasa Ternate), lembaga ditujukan pada unsur pemerintahan yang mengatur keberlangsungan hidup masyarakat dan ruang lingkup sebagai gambaran terhadap di mana tempat marginalisasi itu terjadi.

Pada langkah pertama, akan ditemukan gambaran awal transformasi antara kondisi daerah dengan Islam. Islam yang datang dengan misi bukan semerta-merta menghancurkan namun menjadi sebuah rahmat bagi setiap daerah yang dimasukinya, menjadi alasan mengapa tidak perlu dilakukan penyeragaman identitas antara satu daerah dengan yang lain. antara Arab dan Indonesia tidak perlu untuk menjadi satu identitas, melainkan substansi Islam itu yang haruslah menjadi prioritas utama yang harus diterapkan. Dalam konteks penyebaran Islam di Indonesia sendiri, dikenal dengan cara penyebarannya yang begitu kharismatik dan berbeda dengan daerah lain.

Hal inilah yang merupakan landasan mengapa ketika Islam datang ke suatu daerah tidak membawa budaya Arab-nya, melainkan membawa hasil kepercayaan atau teologi bahkan nilai-nilai kebaikan untuk diperkenalkan dan disebarkan ke seluruh alam. Maka bukan budaya Arabnya, namun Islamnya yang disebarkan, karena jikalau budaya yang disebarkan, maka setiap daerah tentu sudah mempunyai budayanya masing-masing. Sungguh tidak relevan jika ingin memaksakan agar budaya dari Arab diterima dan diambil secara mentah-mentah untuk dikonsumsi oleh daerah lain, bahkan harus dengan dalih untuk mengikuti "sunnah", karena dalam al-Qur'an pun menjelaskan secara jelas bahwa dalam rangka beragama maka tidak ada paksaan di dalamnya (baca: al-Baqarah (2): 256).

Langkah kedua yang ditekankan oleh Michel Foucault adalah normalisasi, dapat dimaksudkan juga dengan proses sterilisasi Islam dengan daerah yang dimasukinya. Islam dengan tujuan rahmatan lil alamin-nya diharuskan untuk menyusupi lokalitas dari masyarakat pada suatu daerah. Dengan kata lain, adanya pengorganisasian setiap aspek kehidupan masyarakat yang bersatu padu antara Islam dengan nilai lokal mereka. Dengan tujuan, adanya bentuk sinergitas antara satu sama lain dan menciptakan identitas baru dari hasil normalisasi tersebut.

Normalisasi sering digambarkan dengan bagaimana mengorganisir suatu tradisi atau lokalitas yang ada di suatu daerah, ke dalam tuntunan Islam, hal ini yang kemudian sering dikenal dengan istilah “Islam Lokal”, atau di daerah Maluku Utara yang disebut dengan “Islam Kepulauan” yakni bagaimana setiap lokalitas (local wisdom) masyarakat diorganisir dalam Islam dan menciptakan identitas baru yang sesuatu dengan etnografi daerah tersebut.

Dalam normalisasi ini juga akan ditemui beberapa unsur yang sama dengan proses marginalisasi, yakni agensi, lembaga dan ruang lingkup. Kembali dijelaskan bahwa, proses adalah alur berjalannya normalisasi, agensi yaitu orang yang melakukan (dalam fase ini juga terdapat orang yang memiliki pengetahuan, dimana relevansinya pada the power of knowledge dari Foucault), lembaga ditujukan untuk unsur pemerintahan yang mengatur keberlangsungan hidup masyarakat dan yang terkhir adalah ruang lingkup yang ditujukan untuk tempat dimana tempat normalisasi itu berlangsung (semisal, Islam Kepulauan).

Adanya dua langkah ini (marginalisasi dan normalisasi) dapat menunjukan genealogi dalam membentuk tatanan kehidupan masyarakat pada suatu daerah yang berbeda-beda, dalam tatanan tersebut merujuk pada tradisi, adat dan budaya, bahkan psikologi dari masyarakat di suatu daerah yang cenderung berbeda-beda, semisal lokalitas Islam yang ada di daerah Indonesia bagian Barat tentu berbeda dengan lokalitas Islam yang ada di bagian Indonesia Timur. Argumentasi ini kemudian sejalan dengan definisi genealogi dari Foucault yang tidak hanya sebatas menyingkapkan unsur-unsur terdalam dari tiap-tiap episteme (terbentuknya identitas pada daerah) tetapi lebih jauh, dia mau menemukan variable tersembunyi, motif dan sebab terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut.

Jika, perbedaan tersebut dianggap sebagai hal yang salah, dalam hal ini ketika tradisi Islam di Indonesia yang dipaksakan harus sama dengan Arab, dengan dalih ingin sesuai dengan nabi Muhammad SAW (ittiba’) yang ketika itu hidup di Arab, maka perlu adanya penyadaran kembali, bahwa setiap apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dari segi kebiasaannya sesuai dengan konteks di mana nabi hidup. Semisal, ada kecenderungan umat Islam di Indonesia mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, bersurban, dan memelihara jenggot untuk menunjukkan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT dan diangga satu ittiba’ atau mengikuti jejak Nabi Muhammad.

Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukanlah pakaian kanjeng Nabi. Abu Jahal juga mengenakan pakaian jubah dan berjenggot karena itu memang pakaian nasional (Arab). Sehingga tidak dapat dipaksakan untuk harus sama apalagi mengatasnamakan keimanan. Hemat saya, apa yang dilaksanakan oleh Nabi bisa diterapkan jikalau tindakannya nabi dapat dilihat sesuai dengan konteks daerah atau kondisi yang dialami. Seringkali, terlewat dalam setiap pikiran kita bahwa, ketika Islam itu adanya di Arab maka segala bentuk apa yang dilakukan di Arab baik, budaya maupun teologi Islam secara utuh harus diambil dan diterapkan di Indonesia.

Hal tersebut tentu butuh pengkajian lebih detil terlebih dahulu agar Islam ini tidak dipandang sebagai "agama penghapus lokalitas suatu daerah", melainkan sebagai agama penyempurna dan memiliki relevansi dengan adat istiadat, budaya dan tradisi (lokalitas) di setiap daerah. Inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil alamin, yakni Islam datang pada suatu daerah dengan membawa rahmat kebaikan, ketenangan, keadilan, kebijaksanaan, dan hal-hal baik lainnya, semua itu termanifestasi lewat akulturasi antara nilai-nilai Islam dan lokalitas daerah masing-masing.

Masih banyak orang di masa sekarang yang terkesan menganut Islam yang tidak disertai penerapan Islam yang tidak sesuai konteks di mana dia hidup. Meminjam sebuah gambaran dari seorang tokoh nasional Indonesia, yakin Moh. Hatta dalam analoginya tentang "Islam Gincu dan Islam Garam". Beliau mengatakan bahwa; "Jangan menjadi seperti Islam Gincu itu, yakni ketika gincu di taruh di dalam sebuah air putih, maka yang berubah itu hanya warnanya namun tidak pada rasa airnya. Melainkan jadilah seperti Islam Garam, di mana ketika garam dimasukan di dalam air, maka warna air tersebut memang tidak berubah tetapi rasa air tersebut akan berubah".

Analogi menjadi pelajaran yang menarik bahwa, seseorang yang memeluk agama Islam tidak hanya dibuktikan dengan dia berpakaian laksana orang Islam (warna gincu), namun diharuskan pada penerapan nilai-nilai Islam tersebut (rasa garam), agar kehadiran Islam pada suatu daerah, tidak hanya sekedar sebagai simbol saja, melainkan kehadiran dari Islam yang berpadu dengan lokalitas daerah sehingga dapat relevan dengan keadaan atau kondisi daerah tersebut. Islam datang ke suatu daerah, tidak untuk merubah warna dari daerah itu, melainkan Islam datang untuk menambah nilai-nilai kebaikan pada daerah yang berpadu dengan adat istiadat, tradisi dan budaya pada suatu daerah.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca