× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#HUMANIORA

Tradisi Gendang Sahur di Tanah Raja

Dahulu, tradisi membangunkan sahur ini hanya menggunakan alat musik tabuh, seperti tifa dan rebana.
Tradisi Gendang Sahur di Tanah Raja
Aksi pemuda gendang sahur, foto Revelyno

19/05/2020 · 1 Menit Baca

Tradisi merupakan sesuatu yang dilakukan sejak lama dan diteruskan kepada generasi ke generasi selanjutnya sehingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Begitulah yang tertulis di Wikipedia.

Sebenarnya, tradisi membangunkan sahur di bulan Ramadhan pada tiap daerah tak jauh berbeda dengan aktivitas di daerah lain di Nusantara yang melibatkan warga segala usia. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Ini juga salah satu yang membuat bulan Ramadan dirindukan.  

Bagi warga Ternate, aktivitas ini dikenal dengan sebutan "Gendang Sahur". Tradisi gendang sahur ini, dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Ramadan--menjadi tradisi.

Dahulu, tradisi membangunkan sahur ini hanya menggunakan alat musik tabuh, seperti tifa dan rebana. Saat zaman berganti, alat musik yang digunakan pun mulai beragam dan berbeda di tiap kampung serta kelurahan. Latihan pun diadakan agar kompak dan harmoni.

Seperti halnya yang kini dilakukan oleh remaja dan pemuda Kelurahan Tanah Raja. Secara berkelompok dengan alat musik sederhana berupa gitar, tam-tam (gendang), harmonika dan kecrekan, mereka lalu berkeliling membangunkan sahur.

Sejumlah syair lagu religi tentang bulan suci Ramadan pun dilatunkan. Beberapa syair bahkan diciptakan warga setempat. Lagu ciptaan Djakaria Dasim, paling sering dinyanyikan saat gendang sahur di Tanah Raja. 

Dari Ramadan ke Ramadan, lagu-lagu Om Jaka, sapaan akrab Djakaria Dasim ini terus dilantunkan dan akrab di kuping warga, seperti: Sambut Ramadan, Putri Dusun, Tinggal Sedikit Hari (Akhir Ramadhan), Burung Dara dan Malam Takbiran

“Lagu yang saya bikin itu, sekitar sepuluh lagu. Jadi syair lagu ini dia muncul begitu saja ketika saya lagi duduk santai. Ada juga di saat saya bangun dari tidur langsung saya pegang gitar dan mulai buat lagu. Dulu, saya bikin lagu tanpa menggunakan not balok dan alat rekaman, saya cipta lagu-lagu ini sekitar tahun 89-90,” kenang Om Jaka saat dijumpai.

Bahkan kini dalam latihan, beliau sendiri jua lah yang membimbing anak-anak remaja Tanah Raja dalam membawakan lagunya. Seperti diakui Jainal Mochtar dan juga Irfan Fabanyo yang tergabung dalam kelompok pemuda gendang sahur tersebut. 

Konon, cara membangunkan sahur seperti ini kurang lebih sama dengan dengan tradisi membangunkan sahur di Kairo, Mesir, yaitu: Mesaharati. Tradisi Mesaharati dilakukan dengan memukul drum pada waktu sahur dengan menyanyikan syair-syair keagamaan yang berhubungan dengan Ramadan. Tradisi ini bahkan sudah dimulai sejak dinasti Fatimiah.

Dengan membangunkan orang untuk melaksanakan sahur diyakini mendatangkan beberapa keutamaan, antara lain adalah mendapatkan pahala, membantu orang lain meraih kesempurnaan puasa, agar sahur tidak terlambat.

Cara membangunkan sahur ini sudah dimulai sejak zaman Rasulullah dahulu. Cara yang dilakukan Rasulullah dengan menggunakan azan. Saat itu, azan dilakukan dua kali, yaitu azan pertama untuk membangunkan dan melakukan sahur, dilantunkan oleh Bilal bin Rabah dan azan yang kedua adalah azan subuh yang dilantunkan oleh Abdullah bin Umi Maktum, di mana semua umat Rasul sudah tidak lagi melaksanakan sahur, karena memasuki puasa dan mulai mendirikan salat subuh.

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya, Bilal melakukan azan di malam hari (sebelum subuh). Makan dan minumlah kalian sampai Ummi Maktum Adzan.” (HR. Muslim 1092). Itulah cara Rasulullah membangunkan sahur umatnya untuk menjalankan ibadah puasa dan mendapatkan berkah. 

Wallahu a’lam.

25 Ramadhan 1441 H / 18 Mei 2020.


Share Tulisan Revelyno M. Hitiyahubessy


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca