× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#AGAMA

Transformasi Makna Idul Fitri Masa Pandemi COVID-19

Islam adalah agama yang salah satu karakteristiknya yaitu fleksibel.

Dosen FSEI IAIN Ternate
Transformasi Makna Idul Fitri Masa Pandemi COVID-19
Foto: Dokumentasi Pribadi.

22/05/2020 · 3 Menit Baca

Pandemi Corono Virus Desease 2019 (Covid-19) yang merambah dunia global, nyaris merubah segalanya. Aspek-aspek penting seperti sosial, ekonomi, politik dan keagamaan, menjadi sangat dinamis bahkan memunculkan problem dan perdebatan yang cukup serius.

Seperti halnya aspek-aspek lainnya, aspek keagamaan terutama Islam, memunculkan "masa'il al-fiqhiyah" yaitu problem sosial masyarakat yang berkaitan dengan hukum atau fikih. Hukum yang sejak dulu telah mapan, kini dan mungkin ke depan akan terus mengalami reformulasi dan reinterpretasi.

Sejak pandemi Covid-19 mewabah dan persis saat umat Islam sedang menjalankan ibadah bulan Ramadan. Tentu saja pelaksanaan sejumlah ibadah berhadap-hadapan dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, misalnya social and physical distancing. Masyarakat dilarang untuk berkumpul dan berkerumun. Sementara pelaksanaan ibadah shalat berjamaah, Tarawih, Jumatan dan shalat Idul Fitri, tentu saja dilakukan secara berjamaah. Karena itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa No. 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah pada Masa Terjadi Pandemik Covid-19. Baik fatwa MUI maupun himbauan pemerintah, direspon oleh masyarakat secara beragam, pro dan kontra.

Pelaksanaan ibadah puasa pada saat pandemi Covid-19, tentu saja mengalami kondisi yang spesifik, karena terjadi benturan kepentingan. Menjaga keselamatan jiwa versus melaksanakan sejumlah ibadah. Oleh para mujtahid, ahli Ushul telah menyelesaikan masalah ini dengan kaidah "menolak mafsadat diutamakan dari meraih maslahat". Artinya, pelaksanaan sejumlah ibadah secara berjamaah di masjid, ditinggalkan dan dilakukan di rumah saja, sedangkan menjaga keselamatan jiwa dengan cara menjaga jarak atau menghindari kerumunan lebih diutamakan.

Model amaliah Ramadan tanpa Tarawih. Jumatan dan shalat Idul Fitri di masjid, memunculkan pertanyaan, apakah amaliah Ramadan seperti itu mampu mengantar umat Islam kepada capaian kembali ke fitrah? Dalam hadis ditegaskan bahwa "barang siapa berpuasa karena iman dan perhitungan (ايمانا واحتسابا), akan diampuni dosanya, terdahulu dan akan datang". Hadis ini mengisyaratkan bahwa puasa yang benar-benar karena iman dan introspeksi diri, maka dia laksana seorang bayi yang baru lahir dengan kesucian tanpa noda dan dosa, alias kembali fitrah. Ini adalah konsep teologis yang sangat mendasar dan banyak dipahami, meski ada sekelompok sufi yang berpandangan bahwa kembali ke fitrah, bermakna kondisi kebersatuan cahaya hati sang sufi dengan cahaya Ilahi dalam sebuah musyahadah dan mukasyafah secara ruhaniyah.

Bagaimana dengan Ramadan tanpa shalat berjamaah di masjid?

Islam adalah agama yang salah satu karakteristiknya yaitu fleksibel. Dalam menghadapi masalah, umat Islam diberikan keluwesan memilih di antara sejumlah pilihan yang bisa disesuaikan kemampuan. Selain itu, Islam juga sama sekali  tidak kaku dalam penerapan hukum-hukumnya. Karena itu pula pada masa pandemi ini, umat Islam dibolehkan memilih untuk tidak shalat secara berjamaah dan menggantikannya dengan shalat di rumah saja. Umat Islam harus lebih mengutamakan tinggal di rumah dan menjaga kesehatan bersama keluarga. Mengikuti imbauan pemerintah untuk tidak keluar rumah, mencuci tangan dengan sabun atau pembersih tangan, memakai masker dan menyantap makanan bergizi agar imunitas tubuh meningkat. Semua ini, jauh lebih penting dan perlu diutamakan daripada pelaksanaan ibadah, wajib sekalipun. Ini adalah jalan yang dianjurkan oleh para mujtahid Islam, para alim Ulama yang memiliki pemahaman mantap tentang Islam dan hukum-hukumnya.

Karena itu, Ramadan tanpa shalat berjamaah, tidak mengurangi nilai-nilai  kembali ke fitrah, kembali menjadi suci laksana bayi yang baru lahir. Artinya Ramadan masa pandemik ini, barometernya tidak lagi semata amaliah shalat secara berjamaah di masjid, tetapi kali ini ketaatan terhadap fatwa MUI dan imbauan pemerintah tentang ketaatan mengikuti protokol kesehatan, menjadi bagian penting dan menggantikan ibadah-ibadah yang dilaksanakan secara berjamaah pada biasanya.

Inilah esensi Islam yang lebih dinamis dan berorientasi lebih kepada kemaslahatan umat. Tidak terpaku dan rigid pada soal-soal yang mapan. Perubahan dan transformasi nilai-nilai, akan selalu berjalan beriring dengan dinamika zaman, tempat dan kondisi, sebagaimana dikemukakan Ibnu al-Qayyim al-Jauwziyah dalam kitab "I'laam al-Nuwaqqi'in 'an Rabb al-'Alamiin", bahwa "perubahan fatwa diakibatkan terjadinya perubahan-perubahan zaman, tempat, keadaan, niat dan motivasi".

Ramadan khas Pandemik Covid-19, tahun 2020 ini tidak lagi hari-hari dan malamnya diisi dengan sejumlah shalat berjamaah di masjid, tetapi diisi dengan upaya-upaya pemeliharaan keselamatan jiwa dalam bentuk "tinggal di rumah".  Meskipun Ramadan tidak diakhiri dengan takbiran dan shalat I'ed di masjid atau di lapangan, tetapi nilainya tidak berkurang, bahkan tidak mustahil, lebih banyak dan berkah, karena kita selain telah menunjukkan ibadah ritual, tetapi juga sudah memeraktekkan ibadah sosial. Umat Islam yang tetap secara konsisten menjaga keselamatan jiwa bersama keluarga, tetap akan merayakan hari kemenangannya, kembali ke fitrah, meski shalat I'ed dan lebarannya dengan cara virtual.

Wallahu A'lam.


Share Tulisan Hamzah


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca