× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#HUMANIORA

Fagogoru

Kisah Tiga Negeri.

Akademisi, Penulis
Fagogoru
Tradisi Cokaiba. Foto: Pidii.info.

02/06/2020 · 3 Menit Baca

TERENTANG jauh sebelum pendidikan karakter dikenal dan menjadi populer era milenial ini, ternyata, para leluhur terutama di tiga negeri: Maba, Patani, Weda, lebih dikenal dengan nama Gamrange, sebelumnya bernama Pnu Pitel, yang berarti tiga kampung/negeri, telah merumuskan daya takar, suatu konsep yang mampu mengikat dan memberi nilai, setidaknya bagi komunitas terbatas kala itu. 

Para leluhur tiga negeri itu ternyata lebih arif bijaksana dan cerdas membaca tanda-tanda perubahan zaman yang bergerak. Sebuah landasan besar dan kokoh disiapkan bagi generasi selanjutnya, dikonstruksi secara visioner, dengan berlandaskan artikulasi pengetahuan lokal yang ada dalam ruang hidup mereka.

Gamrange, yang kemudian lebih akrab dan saling mengait dengan apa yang disebut Fagogoru, suatu pemodelan sosial yang berarti rasa rindu, rasa sayang, yang kemudian mewujud sebagai ideal type, mengintegrasikan dinamika kehidupan, kosmologi, keragaman alam pikiran yang ada di tiga negeri tersebut. Lalu itu bertahan hingga kini. Menautkan satu fase waktu ke fase waktu berikut.

Dan Fagogoru itulah, kemudian berkembang nilai kohesi sosial lainnya. Fantene, saling memberi sesuatu dengan menggelar Fanten, perayaan budaya yang dilaksanakan setiap datangnya Maulid Nabi Muhammad SAW. Bulan kelahiran Rasulullah SAW. Fagogoru kemudian perlahan-lahan, melebur dan membentuk wawasan "falsafah integralistik" yang mengatasi partikularitas paham perseorangan dan golongan di antara masyarakat Maba, Patani, Weda. 

Dalam perjalanannya, Fagogoru kemudian mengalami banyak tafsiran makna, simbol, dan mitos. Tulisan singkat ini tidak akan memasuki wilayah itu. Yang pasti, bahwa Fagogoru tidak terbatas pada simbol dan mitos. Fagogoru jauh melesat menjadi sebuah nilai, yang hingga detik ini hidup subur dalam ruang kehidupan sosial budaya masyarakat Gamrange: Maba, Patani, Weda.

Secara intrinsik, Fagogoru melahirkan nilai-nilai dari dalam, yakni: Ngaku re Rasai, Budi re Bahasa, Sopan re Hormat, dan Mtat re Mimoy. Nilai-nilai ini mungkin persis sama dengan nilai-nilai daerah lain. Namun memiliki kebermaknaan yang mungkin saja dari segi penafsiran akan sedikit berbeda, atau memiliki klaim-klaim yang beragam, bahkan saga asal-usulnya.

Ngaku re Rasai merupakan nilai yang meletakkan legitimasi atas pengakuan akan hubungan manusia dengan Tuhan (habblum minallah) sebagai sesuatu yang sakral dan sentral. Hubungan manusia dengan Tuhan, menjadi dimensi paling mendasar bagi masyarakat Fagogoru, karena disitulah nilai transendensinya diletakkan. Ngaku, suatu pengakuan kedirian manusia yang lemah dihadapan Sang Pencipta. Manusia hanyalah abdi dan tidak memiliki apa-apa, selain ketakwaan. Melalui syahadat, pengakuan itu dikuatkan dan dilesatkan. Nilai ini diawali dengan membangun hubungan dengan sesama manusia (habblum minannas), Rasai. Yaitu, pengakuan akan hubungan persaudaraan dengan sesama manusia tanpa melihat latar sosial, sebagai jembatan menuju hubungan dengan Tuhan. Ngaku Rasai merupakan bentuk representasi absah kosmologi Fagogoru.

Bagi masyarakat Patani, pengejawantahan nilai-nilai Fagogoru dibuktikan dengan memberi bekal bagi anak-anak mereka. Sejak subuh anak-anak Patani sebelum berangkat ke sekolah diwajibkan mengaji terlebih dahulu beberapa lembar. Sebuah model penanaman pendidikan karakter yang telah dikenal sejak lama di Patani.

Budi re Bahasa adanya laku dan tutur yang terjaga ketika menyampaikan kepada sesama, terlebih kepada yang lebih tua. Budi bahasa mengimplementasikan nilai-nilai persaudaraan terhadap sesama. Di sinilah, peran bahasa menjadi sesuatu yang demikian penting. Selain sebagai unsur pemersatu bagi masing-masing wilayah Maba, Patani, Weda, Budi Bahasa bagi masyarakat Fagogoru menjadi titik sentral untuk merawat nilainilai luhur yang ada bagi kelangsungan kehidupan.

Sopan re Hormat, merupakan sikap perilaku, kesantunan, serta hormat menghormati yang diwujudkan dalam kehidupan sosial masyarakat Fagogoru. Sopan hormat merupakan aplikasi tindakan moral dari individu yang selalu dijaga, di mana pun, dan kapan pun. Sopan Hormat lebih merupakan suatu bentuk penghargaan terhadap sesama manusia.

Mtet re Mimoy/Metakat re Mimoy/Maimoe re Mataket, berarti malu dan takut melakukan kesalahan. Bagi masyarakat Fagogoru, memiliki nilai malu dan takut melakukan suatu kesalahan merupakan penghormatan atas martabat dan harga diri. Mtet re Mimoy merupakan landasan etis bagi masyarakat Fagogoru, yang mengkonstruksi Ngaku re Rasai. Melalui Mtet re Mimoy, ruang kesadaran untuk memahami dimensi sosial kehidupan didedahkan. 

Sementara nilai yang menguatkan dari luar, atau nilai ekstrinsik, oleh masyarakat Maba, Patani, Weda meliputi: Falgali (saling membantu), Fantene (saling memberi), Faisayang (saling menyayangi), Faisiling (saling mengingatkan), Fasigaro (ajakan kebersamaan), Falcino (kegembiraan bersama /simore), Fadedele (mengikut-sertakan), Fabuleta (suatu bentuk Falgali untuk membantu orang meninggal) dan Fabinofo (bentuk Falgali untuk membantu orang menikah). Fabuleta dan Fabinofo, merupakan bentuk Falgali yang dikenal di kalangan masyarakat Weda. 

Fagogoru, tidak sekadar sebuah mitos, simbol, dan performa budaya. Lebih dari itu, Fagogoru menjadi sebuah identitas yang diartikulasikan dari pengetahuan, kepercayaan yang diuntai dengan nilai-nilai, dirawat dalam alam pikiran, yang setiap saat diproduksi melalui kisah dan lelaku masyarakat Gamrange, untuk menjadi inspirasi yang menautkan generasi demi generasi.

Bagi Halmahera Tengah, beruntung memiliki nilai Fagogoru yang begitu agung dan kini menjadi kebijakan, dengan kata lain ada kulturisasi-struktur atas nilai-nilai Fagogoru dalam kebijakan. Fagogoru dapat menjadi pedestal dan kerangka kuat untuk membangun masa depan masyarakat. Fagogoru harus menjadi identitas bagi masa depan mayarakat Halmahera Tengah guna mengerek kehidupan menjadi lebih baik.[]


Share Tulisan Herman Oesman


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca