× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#HUMANIORA

Ketika Milenial Bicara Poligami, Apa Kata Mereka?

Perkawinan yang eksistensinya masih menjadi perdebatan di masyarakat.
Ketika Milenial Bicara Poligami, Apa Kata Mereka?
Ilustrasi: Modus Aceh.

03/06/2020 · 5 Menit Baca

Terlahir menjadi seorang milenial memang bukan hal mudah. Beberapa orang menyebut milenial sebagai generasi keren dan seru apalagi yang menyebut milenial hanyalah generasi yang terlalu self-sentris, apatis, dan progresif dalam melihat sesuatu yang bukan menjadi dunia mereka. 

Generasi Milenial yang juga punya nama lain Generasi Y ini nyatanya sudah masuk dalam percakapan kita sehari-hari. Mereka adalah kelompok-kelompok manusia yang terlahir di atas tahun 1980-an hingga tahun 1997.

Lantas pertanyaannya apa yang manjadi sekumpulan anak muda ini disebut Milenial? Salah satu alasan yang logis yakni mereka adalah generasi  yang pernah melewati masa millennium kedua sejak teori generasi di unggah ke publik oleh Karl Mannheim pada tahun 1923 silam.

Mengutip laman Tirto.id, esai sosiolog kawakan Mannheim bertajuk "The Problem of Generation" menjelaskan jika manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Ini artinya, manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-Perang Dunia II memiliki karakter yang berbeda meski mereka saling memengaruhi.

Dari teori generasi tersebut kian banyak pakar yang mulai mendefinisikan setiap generasi manusia berdasarkan tahun kelahiran. Seperti di Amerika Serikat para sosiolog membagi menjadi rentetan generasi bermula dari Generasi Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-Perang Dunia II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, dan Generasi Z.

Kebiasaan Kelompok Milenial

Memang harus disadari, milenial ini hidup di zaman yang begitu akrab dengan teknologi. Agenerasi ini begitu percaya diri memainkan platform-platform teknologi kekinian yang sangat membantu kebutuhan mereka sehari-hari seperti belanja tanpa harus berpergian, memesan makanan dengan sentuhan jari dan masih banyak lagi.

Lebih memilih mengakses informasi lewat media sosial dengan rata-rata pemakaian 3 sampai 5 jam per hari dan hampir 90 persen mengaksesnya lewat genggaman tangan. 

Melansir artikel dari laman Time.com yang berjudul "Millennials: Me Me Me Generation", Larry Rosen seorang professor psikologi dari California State University mengatakan generasi Y hampir sepanjang hari berinteraksi melalui layar ponselnya masing-masing. 

Sering kali meraka keluar rumah hanya untuk nongkrong duduk di bar atau coffee shop namun aktivitas sosialnya bukan lagi mengobrol dengan teman sampingnya tapi justru berpindah di kekedua tangannya. "Mereka melakukan perilaku itu untuk mengurangi kecemasan mereka" kata Larry.

Poligami dari Sudut Pandang 

Sedikit membahas latar belakang milenial, sekarang saya akan menggali seperti apa point of view atau sudut pandang generasi milenial tentang poligami. Di negara mayoritas muslim terbesar di dunia seperti Indonesia, Poligami kerap menjadi topik pembicaraan yang kontroversial. Hampir 86 persen penduduk Indonesia menentang praktek ini. Ditambah membicarakan isu poligami memang mungkin tidak akan ada habisnya biar bagaimana pun akan terus ada sisi yang mendukung dan ingin memilih untuk menjalankannya, dan ada pula sebaliknya. 

Vice Indonesia baru-baru ini mengunggah tayangan mengenai keresahan orang-orang  tentang isu poligami yang mulai berkembang modern. Dalam video berdurasi 24 menit itu, muncul gerakan konservatif gaya baru berjuang mempromosikan praktik perkawinan paling kontroversial di Indonesia ini dalam ruang publik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit soal dogma perkawinan.

Keberadaan poligami di dalam Al-Quran hampir tidak ada lagi yang menolaknya, seluruh ulama baik yang klasik maupun modern, akan selalu berangkat dari kerangka dasar Al-Quran. 

Jika berbicara tentang poligami, satu hal yang menarik di sini adalah meskipun setiap orang berangkat dari dasar pemikiran yang sama, namun kesimpulan yang dihasilkan cenderung beragam bahkan tidak jarang banyak yang menolaknya. Di dalam Al-Quran, Allah SWT hanya sekali membicarakan kebolehan poligami yaitu QS. An-Nisa 4:3.

Secara eksplisit, ayat ini memang membolehkan seorang laki-laki untuk menikah dengan lebih dari satu orang perempuan. Kebolehan yang dimaksud di sini adalah hanya dibatasi dengan empat orang istri, di samping dengan syarat harus mampu berlaku adil.

Pertanyaan besarnya, apakah kebolehan ini sudah merupakan ketentuan dari Allah? Lalu, bagaimana konsep adil yang dikehendaki dalam permasalahan poligami? Saya bertemu tiga orang perempuan yang lahir dalam generasi Y alias milenial dari tiga kota dan latar belakang yang bebeda untuk mengetahui sejauh mana mereka tanggap soal dogma perkawinan ini.

Lalu, Apa Kata Para Milenial?

Kharisma Hawa (24) seorang karyawan swasta bank nasional asal Kota Malang mengartikan praktik poligami sebagai suatu kondisi atau keadaan di mana seorang suami menikahi lebih dari satu orang istri pada waktu yang bersamaan. Hawa menolak mentah-mentah bahkan sepakat untuk membatalkan perkawinan jika suatu saat nanti pasangannya mengehendaki poligami.

"Saya lebih baik tidak menikah atau membatalkan pernikahan jika suatu hari nanti pasangan saya berniat untuk poligami. Namun, saya tetap salut kepada para istri di luar sana yang mengijinkan suaminya berpoligami," katanya.

Terlahir sebagai generasi milenial tak membuat Hawa abai terhadap isu sensitif seperti ini. Bahkan, dengan gamblang Hawa tetap sepakat untuk menjauh dari praktik poligami baginya berbagi hati dengan perempuan lain dalam satu atap rumah tangga adalah hal yang berat dalam konteks perasaan ataupun  materi pernikahan.   

Masih sama, Putri Indriana (24) milenial yang sekarang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara di Kementerian Keuangan Republik Indonesia, menolak kehadiran praktik poligami dalam bentuk apapun. Perempuan berhijab ini juga menitik beratkan poligami dalam konteks "berbagi" yang artinya berbagi suami dan berbagi kasih sayang.

"Nggak (setuju), bagi gue psangan itu satu seumur hidup. Kalau emang mau sama yang lain, selesaikan dulu sama yang lama, baru cari baru, bukan dengan berbagi cinta. Masalah pernikahan bakal macem-macem mulai ngomongin tagihan listrik sampai ngurusin sekolah anak. Gak mau lagi ditambah masalah berbagi kasih sayang sala orang lain," tutur Putri.

Penolakan berlanjut dari Bella Dwita (23) yang saat ini mengajar sebagai guru di salah satu sekolah negeri di Kalimantan Tengah. Melihat poligami jauh dari perspektif agama, Bella memiliki pandangan jika praktik ini diperbolehkan namun tidak dianjurkan.

Poligami hanya diperuntukkan untuk laki-laki yang bisa menjalankannya dengan benar. Bella pun sama seperti dua perempuan milenial yang saya temui sebelumnya, namun Bella juga tidak menampik dalil yang tercantum dalam kitab suci umat Islam itu.

"Jelas menolak. Karena sebelum akad terucap sudah ada kesiapan serta kesanggupan untuk hidup berdampingan antara dua insan (hanya berdua) selamanya dalam suka dan duka yang akan dilewati bersama. Selain itu, poligami bisa berdampak buruk dalam pernikahan terlalu banyak minus setelahnya yang akan diterima terutama psikologis".

"Menurut saya wanita juga tidak ada yang rela suaminya membagi hatinya ke wanita lain selain kepada ibu dan keluarga. Jika memang ada, itu berarti wanita itu memang benar-benar siap menerima dan teruntuk saya tidak siap dan saya menolak adanya poligami," kata Bella.

Setelah ngobrol dan bertanya kepada pelaku milenial soal dogma perkawinan yang eksistensinya masih menjadi perdebatan di masyarakat, ternyata generasi yang enggak kenal batas ini sepakat dan satu hati untuk bersama-sama menjauh dari praktik poligami. 

Poligami hanya diperuntukkan untuk laki-laki yang bisa menjalankannya dengan benar. Bella pun sama seperti dua perempuan milenial yang saya temui sebelumnya, namun Bella juga tidak menampik dalil yang tercantum dalam kitab suci umat Islam itu.

"Jelas menolak. Karena sebelum akad terucap sudah ada kesiapan serta kesanggupan untuk hidup berdampingan antara dua insan (hanya berdua) selamanya dalam suka dan duka yang akan dilewati bersama. Selain itu, poligami bisa berdampak buruk dalam pernikahan terlalu banyak minus setelahnya yang akan diterima terutama psikologis".

"Menurut saya wanita juga tidak ada yang rela suaminya membagi hatinya ke wanita lain selain kepada ibu dan keluarga. Jika memang ada, itu berarti wanita itu memang benar-benar siap menerima dan teruntuk saya tidak siap dan saya menolak adanya poligami," kata Bella.

Setelah ngobrol dan bertanya kepada milenial soal dogma perkawinan yang eksistensinya masih menjadi perdebatan di masyarakat, ternyata generasi yang enggak kenal batas ini sepakat dan satu hati untuk bersama-sama menjauh dari praktik poligami. 

Meski tersirat jelas dalam QS An-Nisa 4:3, di mana adanya hukum atas pembatasan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW namun demikian ayat ini juga masih multi-intepretasi. Hal ini semata-mata bukan lagi menjadi landasan untuk sekumpulan orang-orang yang terlahir setelah generasi X  ini terdorong untuk meng-iyakan poligami dalam konteksnya mesing-masing.


Share Tulisan Restu Saputra


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca