× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#KESEHATAN

Apa Perlu Karantina RW di Jakarta?

Data pertumbuhan kasus menunjukkan banyak kelurahan yang masih kategori ‘merah’ malah dilewati.
Apa Perlu Karantina RW di Jakarta?
Anies Baswedan. Foto: Diskominfo.

03/06/2020 · 30 Menit Baca

Bagaimana Pemerintah Jakarta menentukan pembatasan sosial di tingkat Rukun Warga? Data pertumbuhan kasus menunjukkan banyak kelurahan yang masih kategori ‘merah’ malah dilewati.

Pemerintah Jakarta akan “mengarantina” 62 rukun warga (RW). Istilah yang akan digunakan adalah Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL). Dari total 2.783 RW di Jakarta, 62 wilayah dianggap masih kategori merah.

Bila jadi, pengumuman PSBL akan disampaikan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan, hari ini (3 Juni). Esok adalah batas akhir masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) periode ketiga bagi Jakarta yang telah berlaku sejak 22 Mei.

Sebelumnya, Gubernur Jakarta berharap tahap ketiga ini menjadi PSBB penghabisan. “Jika kita disiplin. Karena itu saya sampaikan kepada semua, jangan sampai kita memperpanjang lagi,” kata Anies Baswedan melalui kanal YouTube DKI Jakarta, 19 Mei.

Penetapan PSBL didasarkan pada data epidemiologi yang dikumpulkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi. Patokannya adalah perkembangan efektif reproduksi virus SARS-CoV-2, biasa disingkat Rt. Kalkukasi Rt digunakan untuk menentukan potensi populasi yang rentan tertular.

Menurut paparan Gubernur, pada bulan Maret lalu, angka reproduksi virus di Jakarta ada di posisi 4. Ini berarti, 1 orang yang terinfeksi dapat menularkan kepada sedikitnya 4 orang lain. Pada 17 Mei, angka Rt terpantau ada di posisi 1,11. Angka ini bervariasi dari mulai 1,08 (4 Mei) yang bertahan hingga 8 Mei, lalu naik ke angka 1,10 pada 9 Mei.

Sudah sebegitu efektifkah penutupan Ibukota sehingga lebih dari 95 persen wilayah akan dilonggarkan, dan orang kembali bebas bergerak?

Penutupan Jakarta

Pergerakan orang di Ibukota sebenarnya sudah mulai dibatasi secara drastis, hampir empat pekan sebelum PSBB. Gubernur menutup sekolah-sekolah dan memerintahkan siswa belajar dari rumah mulai Senin, 16 Maret. Sepekan kemudian, perusahaan swasta, bank dan kantor pemerintah daerah di Ibukota diminta untuk mengurangi kegiatan bekerja di kantor dan diganti dengan bekerja dari rumah.

Lini Masa Penutupan Jakarta

  • Senin, 16 Maret

Sekolah-sekolah ditutup, siswa belajar dari rumah.

  • Senin, 23 Maret

Kegiatan bekerja dari rumah dimulai.

  • Jumat, 10 April

PSBB periode pertama.

  • Jumat, 24 April

PSBB periode kedua. Terjadi dua tahap PSBB dalam periode kedua ini. Pertama 24 April 7 Mei, lalu diperpanjang otomatis hingga 21 Mei.

  • Jumat, 22 Mei

PSBB periode ketiga.

Laporan Mobilitas Google, 15 Februari-25 Mei, mengonfirmasi pada 23 Maret (dimulainya bekerja dari rumah sesuai perintah Gubernur), orang yang pergi ke kantor mulai turun hingga 23 persen. Pada 25 Maret malah menjadi berkurang 69 persen. Laporan Google ini diperoleh dari pemindaian perangkat telepon pintar yang dimiliki oleh warga Jakarta.

Suka tidak suka, Jakarta sebenarnya sedang dikarantina selama hampir tiga bulan. Meski, pemerintah lebih suka menggunakan istilah “pembatasan sosial berskala besar (PSBB).” Untuk lebih memperketat Jakarta, Gubernur menetapkan aturan agar mereka yang masuk dan keluar Ibukota dengan alasan tertentu yang diizinkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanangan Covid-19 tingkat Nasional, mesti memiliki surat izin keluar masuk (SIKM). Ini terutama untuk mengantisipasi arus balik dari orang Jakarta yang ternyata sebagian masih mudik lebaran.

Hasil pengetatan itu dapat dilihat pada situr resmi Pemerintah Jakarta, data corona.jakarta.go.id. Sejauh ini ada 7 kelurahan yang nol kasus positif. Tiga kelurahan terdapat di Jakarta (daratan), dan empat lainnya ada di Kepulauan Seribu. Di daratan, kelurahan dengan angka 0 positif: Kelurahan Kuningan Barat, Duri Selatan, dan Roa Malaka.

Hingga 2 Juni, di Jakarta tercatat ada 7.459 kasus positif, 2.405 orang dinyatakan pulih, dan 525 pasien telah meninggal. Sedangkan 2.786 tengah menjalani isolasi mandiri dan 1.743 dirawat di rumah sakit.

Pergerakan Orang Mulai Gagal Dibatasi

Tapi, sejak awal Mei, orang mulai merasakan ada yang keliru dalam penerapan PSBB di Jakarta. Daya tahan untuk berdiam di rumah menyusut. Bila dihitung sejak PSBB, praktis hanya sebulan jalanan Jakarta betul-betul sepi. Lengang. Atau hampir dua bulan, bila dihitung dari dimulainya perintah Gubernur untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah.

Menjelang Ramadan, beberapa pasar tradisional dan mulai dipadati warga. Pergerakan orang melebihi 5 kilometer dari kediamannya bisa dibatas, namun gerombolan orang dapat ditemui di muka gang dan jalan-jalan kecil. Utamanya, di kawasan pemukiman padat, dengan rumah sempit berisi lebih dari 5 orang, berdiam di rumah tentu gerah.

Sejak pekan pertama bulan Mei, dari simulasi di Google Maps, dapat dijumpai titik-titik kuning di berbagai jalan utama. Kuning berarti banyak kendaraan merayap di lokasi tersebut. Kelak, titik kuning itu berubah menjadi merah setelah Ketua Gugus Tugas, Doni Monardo, menyatakan bahwa mereka yang berusia di bawah 45 tahun dibolehkan untuk kembali bekerja, 12 Mei.

Tanpa menunggu pernyataan Doni Monardo menjadi ketetapan, banyak perusahaan mulai memanggil kembali karyawannya untuk kembali bekerja di kantor. Sejak Senin kemarin, kalau melihat jalan Jakarta pagi dan sore hari, suasanya hampir mirip bulan Januari dan Februari. Bedanya pusat belanja belum sepenuhnya buka. Tapi, ini cuma soal waktu.

PSBL Tidak Dikenal

Istilah Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL) yang disampaikan—di antaranya—oleh Deputi Gubernur Bidang Pengendalian Kependudukan dan Permukiman DKI Jakarta, Suharti, 2 Juni, sesungguhnya tak dikenal dalam peraturan kekarantinaan kesehatan Indonesia.

Sewaktu pro-kontra mengenai lockdown di Ibukota, pertengahan Maret lalu, SpektatorID mengingatkan 4 istilah yang dikenal dalam UU Kekarantinaan Kesehatan (UU No. 6/2018), yakni: karantina rumah, karantina rumah sakit, karantina wilayah, dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Baru dua pekan kemudian, 31 Maret 2020, Presiden menetapkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang PSBB. Dalam pelaksanaannya, PSBB ini lebih terasa sebagai praktik karantina wilayah. Hanya minus Pasal 55 UU 6/2018: selama karantina wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dengan melibatkan pemerintah daerah dan pihak terkait.

PP itulah yang menjadi dasar Pemerintah Jakarta menguatkan penutupan sekolah, tempat hiburan, kantor, pusat belanja, dan aneka pembatasan lain. Kini, apa dasar yang bisa digunakan oleh Gubernur?

Membatasi ruang gerak di suatu wilayah, sekecil apapun, bukan perkara semantik mengubah kata “berskala besar” menjadi “berskala lokal”. Bila hanya soal bahasa, Jakarta pun “lokal” di mata “nasional”.

Pemerintah Jakarta perlu mengevaluasi secara mendalam sebelum mengambil keputusan membuka sebagian besar wilayah, dan hanya membatasi ruang gerak penduduk di 62 RW. Barangkali, mesti pula termasuk meragukan diri sendiri untuk yakin dengan Rt sebesar 1,11 di atas. Kita tahu tingkat pengujian di lapangan, seperti terjadi di seluruh wilayah Indonesia, belum lah memadai.

Hingga kemarin, baru ada 154.345 spesimen yang diambil melalui tes PCR, dan 143.367 melalui uji kilat. Total angka tersebut belumlah mencapai 20 persen dari penduduk Jakarta.

Tak Mencakup Semua Kelurahan Merah

Pemerintah Jakarta perlu menjelaskan bagaimana penentuan rencana mengarantina 62 RW. Faktanya, beberapa kelurahan yang masih dalam kategori merah berdasarkan peta Jakarta sendiri, diabaikan. Sedangkan beberapa RW yang ditetapkan akan dikarantina malah berada di wilayah oranye bahkan kuning.

Berdasarkan tabel calon RW yang akan dikarantina di bawah, 62 RW itu terdapat di 45 kelurahan. Untuk diketahui, Jakarta memiliki 260 kelurahan.

Kotamadya/
Kecamatan

Kelurahan

RW

Positif

Pulih

Meninggal

JAKARTA PUSAT

         

Tanah Abang

Kebon Kacang

07, 09

96

23

4

Tanah Abang

Kebon Melati

12, 13, 14

70

17

4

Tanah Abang

Petamburan

02, 04

133

28

7

Senen

Kramat

06

58

6

3

Johar Baru

Kampung Rawa

02

25

8

5

Cempaka Putih

Cempaka Putih Barat

01

37

15

4

Cempaka Putih

Cempaka Putih Timur

03, 07

46

29

1

Sawah Besar

Mangga Dua Selatan

10

15

0

0

Menteng

Gondangdia

01

12

6

2

Kemayoran

Cempaka Baru

02

35

1

7

JAKARTA UTARA

         

Pademangan

Pademangan Barat

07, 10, 11, 12, 14

141

24

7

Tanjung Priok

Sunter Agung

17

151

43

11

Penjaringan

Penjaringan

12, 17, 11

89

4

3

Koja

Rawa Badak Selatan

04

27

8

0

Cilincing

Sukapura

01

24

4

1

Cilincing

Cilincing

05

23

4

1

Cilincing

Semper Barat

01, 09

23

3

0

Kelapa Gading

Kelapa Gading Barat

08

51

29

3

JAKARTA BARAT

         

Tambora

Jembatan Besi

01, 04, 07

42

3

1

Tambora

Krendang

01, 06

20

3

2

Tambora

Angke

11

16

1

0

Tambora

Pekojan

03

16

1

0

Tambora

Duri Utara

07

10

1

1

Tambora

Kali Anyar

08

8

1

2

Tambora

Tanah Sereal

12

22

0

2

Palmerah

Kota Bambu Utara

03

37

6

4

Palmerah

Jatipulo

05

30

10

1

Palmerah

Palmerah

04

60

18

3

Taman Sari

Maphar

05

59

29

0

Taman Sari

Tangki

03, 04

11

0

1

Grogol Petamburan

Grogol

01

25

3

0

Grogol Petamburan

Tomang

06

46

29

1

Kembangan

Joglo

01

23

5

1

Kembangan

Srengseng

05

28

13

3

JAKARTA SELATAN

         

Cilandak

Pondok Labu

02, 08

27

16

1

Cilandak

Lebak Bulus

05

28

10

6

JAKARTA TIMUR

         

Matraman

Utan Kayu Selatan

01

40

16

3

Matraman

Kayumanis

07

28

11

1

Duren Sawit

Pondok Bambu

03

65

7

4

Duren Sawit

Pondok Kelapa

02

57

29

4

Kramat Jati

Kampung Tengah

04

51

5

6

Kramat Jati

Batu Ampar

03

23

14

3

Kramat Jati

Balekambang

05

15

3

1

Jatinegara

Bidara Cina

07

31

8

5

Ciracas

Ciracas

10

23

10

5

Sekadar contoh, Kelurahan Kayu Manis dengan total kasus 28 orang, masuk dalam wilayah merah. Di Kayu Manis, salah satu RW-nya (07) akan dikarantina. Sementara tetangga kelurahan mereka, Pal Meriam dengan angka kasus positif 31, pulih baru 4 orang, dan meninggal telah 4 orang, bukan bagian dari calon karantina. Keduanya termasuk zona merah.

Tangkapan layar [screen shot] Kelurahan Kayu Manis dan Pal Meriam. Sumber: corona.jakarta.go.id

Pertanyaan serupa dapat diajukan untuk Duren Sawit, yang diapit oleh Kelurahan Pondok Bambu dan Pondok Kelapa. Bila Pondok Bambu dan Pondok Kelapa termasuk wilayah karantina, maka Duren Sawit yang sebetulnya juga merah, dilewatkan. Pun Kelurahan Klender.

Tangkapan layar [screen shot] kawasan Duren Sawit. Sumber: corona.jakarta.go.id

Balekambang di Kramat Jati adalah kawasan kuning dengan kasus positif 15 orang. Tetangga mereka, Batu Ampar adalah kawasan oranye dengan 23 kasus positif. Dua RW di kedua kelurahan tersebut akan dikarantina, bersamaan dengan satu kelurahan merah: Kampung Tengah. Namun, Pejaten Timur yang bersebelahan dengan Bale Kambang, meski beda kecamatan, luput.

Tangkapan layar [screen shot] Kelurahan Balekambang dan sekitarnya. Sumber: corona.jakarta.go.id

Bila peta Jakarta ditelusuri lagi, akan terlihat beberapa kelurahan bernasib sama. Tanpa kejelasan cara pemilihan dan kepastian mengenai pertumbuhan angka infeksi, rencana bercita rasa permainan kata semacam “pembatasan sosial berskala lokal” sebaiknya dikaji lagi. []

* Tulisan ini pertama terbit di SpektatorID/Airlambang.


Share Tulisan Spektator.id


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca