× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#HUMANIORA

Mutiara Itu Bernama Desa

Kekuatan ekonomi desa dalam dimensi kritik.
Mutiara Itu Bernama Desa
Foto; Virgiawan Listanto

08/06/2020 · 15 Menit Baca

Pasca kemerdekaan Indonesia, pembangunan infrastruktur dan suprastruktur terkonsentrasi di kota, hal ini menjadikan fenomena gerakan penduduk dari desa ke wilayah perkotaan (urbanisasi). Ada pull factors (faktor penarik) dan push factors (faktor pendorong) yang menjadikan masyarakat desa memutuskan untuk menjadi masyarakat urban (perkotaan).

Pull factors nya adalah kota menjadi sentra wilayah industri, fasilitas di kota mudah didapatkan, fasilitas pendidikan termasuk jenjang pendidikan tinggi, fasilitas sosial, dan transportasi. Juga gaya hidup kekotaan yang dianggap sebagai bagian dari modernitas adalah bagian dari faktor penarik tersebut. Push factors nya adalah di desa terbatas lapangan kerja, tuntutan gaya hidup modern, dan minimnya fasilitas sosial, transportasi, dan pendidikan. Alhasil arus urbanisasi ini membuat gerakan perpindahan masyarakat desa ke masyarakat kota semakin masif. Mereka yang tergerak atas push factors dan pull factors memilih untuk bermukim secara permanen di kota, beranak pinak di kota, mengabdi di kota.

Dewasa ini desa terlalu termajinalisasi, dikucilkan bahkan hanya dibahas di seminar saja, lalu setelahnya diskusi tentang desa berakhir di situ, tidak ada solusi yang paling solutif mengenai 'desa yang maju'. Sempit rasanya, sebab suang dialog itu hanya akan dikerucutkan pada anggaran yang dikelola desa, tidak ada narasi soal sumber daya Manusia (SDM) dan potensi sumber daya alam (SDA) pula keadilan dan kesejahteraan masyarakat desa.

Dalam pandangan privat saya, sebagai orang yang menggemari musisi legendaris Virgiawan Listanto atau akrab dikenal publik dengan nama Iwan Fals. Saya tidak menggurui, atau pula sok-sokan mematerialisasikan lagunya berjudul 'Desa' yang termaktub dalam album 'Manusia Setengah Dewa' yang adalah suara kritis Iwan dalam menaruh harap pada Desa. Saya akui Iwan Fals begitu menikmati musik sebagai instrumen kritikannya. Lagu dengan judul 'Desa' sendiri diciptakam pada 2004 silam. Disajikan secara akustik, dan lirik mudah dicerna, lagu Desa mengandung makna dan kritik cukup menohok, khususnya bagi pemerintah.

Larik pertama pada bait lagu Desa, saya kira menjadi larik pembuka yang pas untuk mewakili bait-bait berikutnya. Iwan Fals, sang legenda musik balada itu, memang piawai menciptakan lagu dengan lirik-lirik pedas yang relevan dengan kondisi kekinian bangsa ini.

Namun jauh sebelumnya, Iwan Fals telah menyuarakan pentingnya arti desa bagi dirinya. Lewat lagu-lagu lawasnya seperti 'Potret Panen Mimpi Wereng' (Iwan Fals/Ma’mun- 1987), 'Panggilan dari Gunung dan Mencetak Sawah' (1992), dan lainnya, Iwan Fals memang telah menyuarakan desa dengan ciri khas kritik sosialnya. Bahkan Iwan memutuskan untuk hijrah dari kota Jakarta ke salah satu desa di Jawa Barat, karena kecintaannya terhadap desa. 


Desa harus jadi kekuatan ekonomi, agar warganya tak hijrah ke kota
Desa adalah kekuatan sejati
Negara harus berpihak pada para petani
Entah bagaimana caranya
Desalah masa depan kita, Keyakinan ini datang begitu saja
Karena aku tak mau celaka, Desa adalah kenyataan
Kota adalah pertumbuhan, Desa dan kota tak terpisahkan Tapi desa harus diutamakan

Bagi yang gemar bermain logika perlu ketajaman nalar untuk memahami lagu Desa. Contoh kalimat yang berbunyi “agar warganya tak hijrah ke kota.” Warga desa yang hijrah ke kota sama dengan meninggalkan dan membiarkan desa agar tidak berkembang. Kota menjadi magnet untuk menyedot potensi warga asal desa dan kota semakin menjauh meninggalkan desa.

Padahal kota mempunyai banyak persoalan, dari kemacetan, pengangguran, kriminal, lahan sempit, polusi udara, sampai ketidak ramahan. Sementara desa yang tenang, hijau, jernih, lahan yang luas, udaranya segar, dan ramah tidak menjanjikan untuk kehidupan warganya. Padahal yang dibayangkan Iwan Fals jika desa bisa mandiri secara ekonomi maka akan banyak karya-karya luar biasa lahir dari desa. Iwan Fals menuturkan tentang beberapa karyanya banyak lahir dari inspirasi yang didapatkan di desa. "Selama 17 tahun tinggal di desa saya banyak mendapatkan inspirasi dari sepinya suasana desa," kata Iwan Fals. Lalu Mari kita telah, keresahan Vergiawan dan relaita desa hari ini;

Kekuatan Ekonomi Desa Dalam Dimensi Kritik.

"Desa harus jadi kekuatan ekonomi".....

Begitulah lirik lagu Iwan Fals, persoalan mendasarnya adalah ekonomi, imbasnya adalah urbanisasi yang merupakan fenomena marak di hampir seluruh dunia. Tak dipungkiri, kompetisi pasar yang membutuhkan lapangan kerja dan lembaga pendidikan tinggi yang membutuhkan mahasiswa mendukung berbagai sektor yang dikembangkan. Kota memilki magnet yang besar bagi anak desa yang mencari kerja, menjadi primadona bagi anak desa yang terpelajar untuk melanjutkan studinya dan memiliki impian meneruskan kehidupan di sana dan melupakan tempat asalnya.

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, pembangunan perdesaan ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa. Caranya, dengan mendorong pembangunan desa desa mandiri dan berkelanjutan yang memiliki ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Upaya mengurangi kesenjangan antara desa dan kota dilakukan dengan mempercepat pembangunan desa-desa mandiri serta membangun keterkaitan ekonomi lokal, antara desa dan kota melalui pembangunan kawasan perdesaan, sederhananya adalah Pembangunan tidak lagi terpusat di perkotaan (Sentralisasi), melainkan harus dilakukan menyebar di seluruh pelosok Indonesia (Desentralisasi). Ini adalah pintu gerbang kesejahteraan.

Namun sayangnya, mengelola desa bukanlah hal mudah, mulai dari membangun infrastruktur, suprastruktur hingga kesejahteraan sosial, meski desa mendapatkan suplai anggaran yang begitu besar dari APBN yaitu dana desa (DD). Namun sumber daya manusia (SDM) di stakeholders Desa sangatlah minim, bisa dibilang sebagian besar dari mereka bingung mau diapakan uang sebesar itu. Sedang Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat kasus korupsi di sektor anggaran desa menjadi kasus yang terbanyak ditindak oleh aparat penegak hukum selama tahun 2019 lalu bila dibandingkan sektor-sektor lainnya.

Data ICW menunjukkan, terdapat 46 kasus korupsi di sektor anggaran desa dari 271 kasus korupsi selama 2019. Korupsi anggaran desa tercatat memberi kerugian negara hingga Rp. 32,3 miliar (Sumber; Kompas.com). Banyaknya korupsi dana desa ini menunjukkan belum adanya sistem yang secara komprehensif dibuat oleh Pemerintah dalam hal pengawasan dana desa. Insinuasinya adalah pemerintah desa sebagian tidak mampu mengelola uang sebanyak itu.

Kekuatan Ekonomi dan Kearifan Lokal (Local Wosdom)

Ini adalah hal yang paling fundamental, desa sendiri adalah struktur masyarakat terkecil di negara. Untuk memahami desa, kita terlebih dahulu harus memahami kultur budaya dan kebiasaan masyarakat desa. Ini sangatlah sulit terwujud, karena di setiap tahun anggaran. Ada yang namanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) yang dicita-citakan mampu menjadi lokomotif ekonomi masyarakat desa. Namun sejauh ini banyak desa yang belum berhasil memanfaatkan lembaga ini. Meski mendapat kucuran anggaran milyaran rupiah tiap tahunnya, sejauh sejak 2015 silam banyak desa yang belum menemui titik klimaks pembangunan.

Apa sebenarnya yang menjadi kendalanya? Mari kita cari apa sebabnya; ini hemat saya, para pembaca yang budiman. Pemerintah melalui Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal biasanya mengeluarkan Peraturan mentri tentang prioritas penggunaan dana desa (DD), sederhananya begini; orang yang kesehariannya melihat kondisi dan budaya serta kebiasaan masyarakat di perkotaan pulau Jawa mencetuskan regulasi tentang prioritas penggunaan dana desa (DD) kepada desa di Papua, Maluku, Sumatra dan Kalimantan. Prioritas itu adalah protokol dan aturan main pagu dana desa (DD), jadi imajinasi desa mewujudkan kesejahteraan sosial terhalang oleh regulasi.

Anda tahu, bahwa kesejahteraan itu tidak terwujud atas satu prespektif saja. Meski pemerintah lewat data statsitiknya menyatakan 'sudan ada kesejahteraan sosial di desa', tapi jika masyarakat desa menggap itu bukan kesejahteraan? This is logic! Anda tentu telah mendengar cerita suku asli Australia (Aborigine) atau suku Togutil di pedalam Halmahera. Mereka melihat kesejahteraan tidak sama dengan yang kita lihat, itulah yang disebut sebagai Local Wisdom, Yuval Noah Harari menulis; "Yang luar biasa dari manusia adalah, dia mampu menciptakan sistem lalu ia hidup dalam sistem (budaya) tersebut." Meski sistem itu mengkhianati kemerdekaan berpikirnya. Ya demikian, dana desa yang dikelola desa harus tunduk pada regulasi. Ini secara tidak langsung membunuh imajinasi dan ide masyarakat desa dalam mengarang basis pikiran membangun desa.

Cendekiawan Desa Menuju Desa Kosmopolitan

Negara belum sepenuhnya hadir di tengah masyarakat kampung untuk membuka luas akses pendidikan, Negara masih membiarkan disparitas kota dan desa. Juga, kesadaran dari orang-orang terdidik asal desa yang mukim di kota tidak terkontruks sehingga turut menumbuh suburkan disparitas kampung dan kota. Sehingga, kondisi sumber daya manusia kampung yang seadanya menambah segala hal pelik yang memperuncing perbedaan tersebut.

Desa bukanlah ruang hampa tanpa pengetahuan, pembangunan infrastruktur dan suprastruktur lah yang membuat dikotomi kampung dan kota, kampung dipandang sebagai antitesa daripada kota. Desa harus menjawab spirit zaman, mempersiapkan pergantian generasi, menabrak keterbatasan akses dan mobilitas, bergerak menuju desa yang kosmopolitan.

Cendekiawan Desa adalah sebuah gerakan penyadaran orang-orang pintar asal desa untuk membangun desa. Cendekiawan desa mempertautkan jenius desa dengan pemberi beasiswa, berikhtiar menjadi metamorfosa dan sintesa dari dikotomi desa dan kota. Cendekiawan desa menjadi model pembangunan kawasan berbasis sumber daya manusia bersinergi dengan jenius desa, nantinya para jenius desa inilah yang mengubah dan menyelesaikan sendiri persoalan desanya.

Sekarang, saatnya masyarakat desa dan jenius desa membuat desa berdaulat, mengembangkan desa kearah kosmopolitan (kemajuan), membentuk paradigma ‘orang terdidik desa harus membangun desa’ dan memastikan ‘masa depan desa’.


Share Tulisan Abubakar Ismail


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca