× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Maut Hitam

Sebuah catatan medis Eropa di masa lalu.
Maut Hitam
Ilustrasi kematian akibat wabah pes.

09/06/2020 · 3 Menit Baca

London, Inggris di tahun 1603 menjadi musim panas yang menakutkan. Ribuan millenium baru berkulit putih tiba-tiba mati secara misterius, kulitnya menghitam dan melepuh. Jaringan di bagian sela-sela jari tangan, jari kaki, atau ujung hitung tiba-tiba mati. Sekitar 25.000 warga London divonis terpapar wabah pes.

Di abad-abad itu, bangkai mayat membusuk di tengah jalan, asap kematian dan bau daging menguap ke rumah-rumah. Kematian kabarnya disebabkan karena bakteri versinia pestis yang terdapat di dalam kutu tikus hitam yang suka tinggal di dekat manusia kemudian beranak pinak lalu membentuk pasukan memerangi imun tubuh. Dalam masa inkubasi urat-urat nadi dicekik. Usia manusia menjadi sangat pendek. Kejadianya hampir serupa dengan wabah corona virus disease atau Covid-19 di abad ke 21 ini. Kematian massal di abad-abad itu membuat sekitar 60 persen populasi Eropa punah.

Ribuan kematian misterius itu seperti ada dalam mimpi buruk. Umunya ada gejala seperti demam beberapa hari kemudian mati secara mendadak. Kematian ini membuat para kuli pengangkut mayat bekerja lebih ekstra, mereka mengangkut ribuan mayat ke sebuah lubang besar yang digali. Tak sedikit juga orang yang frustasi karena wabah ini memilih mengahiri hidupnya dengan melompat ke lubang. Tapi ada juga yang memilih lari meninggalkan kota.

Sejarawan Norwegia, Ole Jorgen Benedictow menegaskan dalam bukunya: The Black Death, 1346-1353. Wabah pes muncul dari dekat laut Kaspia, Selatan Rusia (Kini masuk wilayah Ukraina) pada musim semi 1346. Wabah ini kemudian migrasi ke barat lewat kutu-kutu yang menumpangi tikus-tikus cokelat Rusia. Kutu-kutu itu kemudian menghinggapi tikus hitam di tempat migrasinya lalu menyebar dan bersarang ditubuh manusia selama 10 hingga 14 hari.

Epidemic ini berkembang begitu pesat, dari London, Inggris, kemudian berlanjut ke Eropa Utara, hingga Norwegia, Jerman dan Belanda. Desas-desus kematian itu membuat orang-orang Eropa ketakutan. Tak sedikit dari mereka memilih memperbaiki diri karena beranggapan bahwa wabah pes adalah kutukan Tuhan yang menimpa para pendosa. Dalam buku “Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme”. Jack Turner, penulis non-fiksi berkebangsaan Australia menulis, mereka yang belum terjangkit berusaha melarikan diri ke luar Kota.

Dalam catatan yang lain menyebutkan, begitu mengerikannya, Raja Charles II dan kalangan istana bahkan melarikan diri ke Oxford karena takut. Pelarian itu membuat penduduk marginal meradang. Mereka memilih bertahan di London sambil menyaksikan orang-orang terdekat mereka mati terpapar wabah itu. Hanya butuh beberapa bulan, London berubah menjadi kota yang nyaris mati. Suasanya persis seperti virus Corona menyerang Kota Wuhan di Cina baru-baru ini. Lalu-lintas perdagangan terputus, ekonomi lumpuh, bangunan-bangunan nampak seperti tak berpenghuni. Kemudian ketakutan fase kedua muncul, tiba-tiba orang-orang menganggur karena tak ada lagi pengusaha yang mampu mempekerjakan mereka.

Alhasil, perburuan dan pembunuhan terhadap kaum minoritas seperti Yahudi, pendatang, pengemis, serta penderita lepra menjadi jalan keluar orang-orang Eropa karena mengira dengan melakukan itu mereka dapat mengusir wabah pes. Sedangkan orang-orang yang memiliki kelaianan kulit atau yang memiliki jerawat yang parah akan dikucilkan hingga depresi.

Dari laman id.wikipedia.org tertulis, wabah pes atau black death adalah epidemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14. Pada saat yang bersemaan terjadi pula epidemi pada sebagian besar Asia dan Timur Tengah yang menunjukkan bahwa peristiwa di Eropa sebenarnya merupakan bagian dari pandemi multiregional. Wabah ini merenggut sedikitnya 75 juta nyawa. Tapi masih ada juga beberapa wabah penting lain yang muncul setelah black death. Wabah-wabah itu diantaranya wabah Italia (1629-1631), wabah besar London (1665-1666), wabah besar Wina (1679), wabah besar Marsille (1720-1722), serta wabah pada tahun 1771 di Moskwa. Penyakit ini berhasil dimusnahkan di Eropa pada awal abad ke-19, tetapi masih berlanjut pada bagian lain dunia (Afrika Tengah dan Oriental, Madagaskar, Asia, beberapa bagian Amerika Selatan).

Dalam sejarah kesehatan. Wabah maut hitam atau black death tak hanya menyerang bangsa Eropa. Sebuah artikel yang ditulis situs Historia dengan judul: Kala Black Death Hampir Memusnahkan Eropa menjelasakan, Martina Safitry, Dosen IAN Surakarta yang pernah meneliti penyakit pes untuk tesisnya menemukan fakta bahwa epidemi ini pernah menerobos dinding pertahanan kesehatan di Indonesia. Alhasil, ketika pes masuk ke Jawa pada tahun 1920. Orang-orang Belanda menjadi panik. Kebijakan yang sangat intensif pun dibuat untuk menanganinya begitu gencar.

Pada kisah-kisah lainya, Jack Turner juga mengungkapkan beberapa fakta perihal wabah tersebut. Selain menulis orang-orang yang lari ketakutan, Jack juga menulis kisah orang-orang yang selamat. Salah satunya adalah John Donne (1572-1631). Menurutnya, John selamat dari teror penyakit menular itu karena mengkonsumsi rempah-rempah Maluku sebagai obat memperkuat kekebalan tubuh.

John yang merupakan cendekiawan di Merton College, Oxford dan orang-orang yang selamat mengklaim bahwa ramuan kayu manis, gaharu, dupa, kuma-kuma, bunga pala, dan cengkih telah menyelamatkan mereka di saat jalanan sempit Oxford telah sesak dengan mayat-mayat. Kesaksian John ini akhirnya di uji oleh semua ahli medis di Inggris ditengah bayang-bayang maut yang menyelimuti seluruh dunia pada 1348 dan hasilnya melebihi fungsi detoksinasi. Seratus tahun berikutnya, kesaksian Nicolause de Camitibus dari Padua juga merekomendasikan rempah-rempah sebagai ramuan yang ampuh melawan korupsi udara disaat wabah.

Catatan medis John itu diperkuat oleh Peny Le Counter dan Jay Burreson, mereka menulis sebuah buku yang berjudul “Napoleon’s Buttons”. Dalam buku ini, Peny Le Counter dan Jay Burreson mengatakan bahwa pada paru abad ke-14 hingga 18, pala telah dipercaya sebagai obat pelindung wabah karena memiliki kandungan isoeugenol yang berfungsi sebagai insektisida alami untuk mengusir kutu. Selain Peny Le Counter dan Jay Burreson, dalam berbagai catatan kegandrungan kuno di Mesir, Tiongkok, Mesopotamia, India, Yunani, Romawi, serta Jazirah Arab juga menyebutkan bahwa rempah-rempah seperti kayu manis, gaharu, dupa, kuma-kuma, bunga pala, dan cengkih tak hanya menjadi simbol eksotisme, kekayaan, prestise, dan sarat dengan kesakralan. Tetapi juga menjadi panacea (obat penyembuh). **


Share Tulisan Nasarudin Amin


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca