× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Kerangka dan Bulan

Untuk Hamid Basyaib dan kawan-kawan.
Kerangka dan Bulan
Ilustrasi: Observatorium/Pixabay.

17/06/2020 · 15 Menit Baca

Polemik ini membuat saya, dan saya harap orang-orang lain, belajar — belajar kembali dan belajar lebih lanjut. Tentang banyak hal, dari yang paling abstrak sampai dengan yang paling praktis. Salah satunya adalah belajar bagaimana, dengan sopan, mengoreksi bacaan yang tak seksama.

Dalam tanggapan saya kepada AS Laksana, misalnya, saya mengutip satu paragraf panjang dari Popper di awal bukunya, “In Search for A Better World”: “Despite my admiration for scientific knowledge, I am not an adherent of scientism. For scientism dogmatically asserts the authority of scientific knowledge; whereas I do not believe in any authority and have always resisted dogmatism; and I continue to resist it, especially in science. I am opposed to the thesis that the scientist must believe in his theory…

Kalimat Popper yang menyebut “my admiration to sciences…” tidak saya potong. Dengan kata lain, saya tetap menunjukkan bahwa bagi Popper, sains patut dikagumi. Yang ditolak Popper (dan saya setujui penuh) adalah sikap dogmatik saintisme. “For scientism dogmatically asserts the authority of scientific knowledge…

Tapi Taufiq menyimpulkan bahwa saya mengabaikan keyakinan Popper akan sains…

Sementara itu, saya juga menemukan pembacaan yang kurang seksama ketika AS Laksana menganggap saya melakukan “disinformasi” melalui satu terjemahan bebas atas kalimat-kalimat Alfred North Whitehead dalam “An Introduction to Mathematics”. Ia anggap itu “kampanye hitam” Whitehead buat ilmu yang dicintainya.

Padahal saya ingin tunjukkan adalah Whitehead memperingatkan, mereka yang belajar matematika harus siap kecewa. Ilmu yang hebat ini (“this great science”, kata Whitehead) tak mudah dikuasai. Jangan sembarangan menggunakan ilmu yang sulit ini buat mengkwantifikasi apa yang terdapat dalam alam…

**

Ada dugaan saya yang agak liar, mengapa terjadi pembacaan (atau penafsiran) yang terbalik itu.

Pertama, saya telah membuat kalimat yang tidak jelas.
Kedua, tafsir atas tulisan saya berdasar sebuah praduga bahwa saya seorang yang bersalah, karena tidak suka sains, cenderung menjauhi sains, atau bahkan “anti-sains”. Ini dimulai setelah saya, dalam sebuah diskusi, menolak berkhidmat pada sains.

Dalam tulisan AS Laksana pertama ia menyebut “ketidak-sukaan pribadi” saya kepada sains. Dalam tulisan Hamid Basyaib ada sangkaan yang kurang-lebih sama.

Bagian pertamanya (konon akan terdiri dari enam bagian!) membentangkan profil pemikiran saya. Ia tulis panjang sekali dengan bagus sekali hingga seperti sebuah obituari. Bagi saya ini sebuah kehormatan — tapi pada saat yang sama memberi kesan bahwa pendapat saya tentang sains adalah perpanjangan semata dari latarbelakang pemikiran saya yang dibentuk oleh kesukaan saya kepada sastra dan seni.

Tentu saja benar: pandangan saya dipengaruhi latarbelakang saya. Dan, seperti diketahui banyak orang, hampir seluruh hidup saya berada dalam dunia sastra dan seni. Tapi sikap kritis kepada sains modern bukan cuma saya yang mengemukakan. Sikap itu juga dikemukakan mereka yang berbeda jauh dengan latar belakang sastra dan seni — mereka yang tak ada hubungannya dengan “Romantisme” (apapun artinya label itu)

Husserl, misalnya, yang melihat dengan kritis efek sampingan “matematikasi ilmu” sejak abad ke-17, berangkat dari studi matematika, fisika dan filsafat. Gelar doktornya dia dapat di bidang matematika. Ia kemudian menulis “Philosophie der Arithmetik” di tahun 1891. Di situ konon, (tentu saya tak membacanya sendiri), ia coba paparkan dasar psikologis aritmatika — dengan akibat dikritik tandas oleh Gottlob Frege, tokoh yang menegaskan bahwa aritmatika adalah cabang logika. Husserl kabarnya mendengarkan dengan kecut kritik Frege, meskipun ia akhirnya tak juga mengikuti garis “logisime”. Hasilnya: fenomenologi.

Pengritik sains modern yang semula tak didengar keras adalah Alfred North Whitehead. Bersama Bertrand Russel, (kita semua tahu, mereka berdua menulis “Principia Mathematica”, 1910), Whitehead juga tak seluruhnya sepakat dengan Frege yang dengan versi logisismenya ingin agar isi matematika sepenuhnya ditentukan dari dalam sistem logika. Russel dan Whitehead memasukkan juga cabang-cabang matematika yang belum “dilogikakan”.

Kecenderungan Whitehead untuk “togetherness” seperti saya uraikan dalam tulisan yang lalu agaknya nampak di sini — yang menyebabkan ia mengritik apa yang ia sebut sebagai “bifurcation of nature”. Baginya gambaran tentang alam yang terpecah-pecah itu — yang dimulai Newton dan terakhir dikemukakan lagi oleh Meillassoux — adalah hasil penggambaran yang semata-mata rasional.

Karena saya sudah menguraikan hal itu dalam tulisan saya yang lalu (“Tempat Yang Bersih dan Lampunya Terang buat Sains”), saya tak akan mengulanginya di sini.

Yang ingin saya katakan: sikap menolak berkhidmat kepada sains bukanlah cuma sikap kekonyolan seorang Goenawan Mohamad yang suka menulis syair-syair romantis. Mereka yang mengikuti sejarah pemikiran [Eropa] modern tak akan berfikir begitu. Mereka tak akan tersentak oleh kritik terhadap sains — meskipun kritik itu pertama kali mereka dengar hari Rabu yang lalu.

Kritik terhadap positivisme bukan “kejahiliahan” baru. Pendapat saya tak 100% orisinal. Di tahun 1886, Nietzsche sudah memulainya dalam “Der Wille zur Macht”. Para pemikir yang mengikuti pandangan Nietzsche cukup ramai, Derrida, misalnya, sampai abad ke-21. Terkadang dengan kecurigaan kepada sains yang terlalu bringas, misalnya, bahwa kebenaran sains adalah hasil relasi kuasa.

Tapi ada yang tilikan kritisnya lebih dalam.

Terutama yang di awal abad ke-20 dipaparkan Max Weber. Sosiolog dari Universitas Heidelberg yang sangat dihormati ini menganalisa gerak masyarakat modern. Weber terkenal dalam sikapnya yang mendua tentang modernitas. Dalam dunia modern kemajuan jadi pola utama, bersama beranjak naiknya kapitalisme dan kemajuan sains. Tapi bersama itu, ketika masyarakat didorong masuk ke sebuah dunia di mana orang bisa menguasai semua hal dengan “kalkulasi” —tanpa bimbingan hal-hal yang ajaib mengenai hidup — ada soal yang tergantung-gantung.

Dalam tulisan yang lalu saya sudah menyebut pidato Weber di tahun 1917 yang terkenal, “Wissenschaft als Beruf.” Di sana ia menegaskan, “Sains tak punya makna karena tak bisa memberi jawab kepada pertanyaan yang datang dari Leo Tolstou — satu-satunya pertanyaan yang penting bagi kita: Apa yang semestinya kita lakukan dan bagaimana semestinya kita hidup?”.

Karya ilmiah berangkat dengan prasyarat (“Voraussetzung”) bahwa aturan logika dan metode valid. “Tapi prasyarat ini tak bisa dibuktikan dengan cara sains”, kata Weber. Makna sains pada akhirnya harus ditafsirkan — “tafsir yang harus diterima atau ditolak menurut sikap paling dasar terhadap hidup dari masing-masing kita“.

Kita menemukan kontradiksi. Di masa ketika sains dengan dahsyat mengubah kehidupan alam dan manusia, di masa itu pula ia tak mampu menjawab persoalan tentang maknanya sendiri bagi manusia. Dari sini problem timbul. Terutama di sekitar masa ketika Weber menyaksikan Perang Dunia I.

Perang berskala sebesar itu belum pernah dialami Eropa sejak memasuki zaman modern. Eropa menanggung luka dan cemas sebagaimana dilukiskan perupa Otto Dix dan dipaparkan Bertold Brecht dengan getir. Di masa itulah tumbuh Mazhab Frankfurt yang terkenal, ketika Adorno dan Horkheimer menggugat rasionalitas “Pencerahan” dalam “Dialektik der Aufklärung”. Adorno juga menerbitkan “Maxima Moralia”, yang dikatakannya ditulis dari “kehidupan yang telah cidera”.

Kehidupan yang cidera itu adalah kehidupan di mana alam ditaklukkan dan dimanipulasi, dan kriterium keberhasilan akal hanyalah sejauh mana ia jadi alat efektif sains untuk menyederhanakan kehidupan dan meniadakan kompleksitasnya. Dunia — juga manusia —direduksi menjadi obyek yang bisa diklasifikasi, dihitung, diukur, ditimbang. Akal instrumental menghadapi “yang-bukan-subyek” (the Other) sebagai obyek yang untuk di-“mengerti” (comprehended) — yang juga berarti di-“kungkung” (comprehended).

Di Jerman, ketika Naziisme mulai berkibar, Adorno — yang berayah Yahudi dan beribu keturunan Korsika — dikungkung dalam klasifikasi etnis. Ia dimasukkan ke dalam golongan Yahudi. Ia, bersama Hokrheimer, melarikan diri ke Amerika.

Ia mengalami tekanan dua hal. Pertama, tekanan dari Naziisme, yang dalam kata-kata Hitler, adalah “biologi terapan”. Kedua, dari ekses rasionalitas, yang kemudian disimpulkan Adorno sendiri sebagai sebuah kapasitas mereduksi kehidupan: “Denken heißt identifizieren“: berfikir adalah mengidentifikasi, memberi batasan, merumuskan.

Di tahun 1946, Max Horkheimer menulis “Eclipse of Reason” yang terbit di Amerika. Kalimatnya menohok: “Sekarang, orang terlalu terbuai untuk menghindar dari kompleksitas dengan menyerah ke dalam ilusi, bahwa ide-ide dasar akan dijelaskan oleh fisika dan teknologi”.

Kata Horkheimer pula: “…reason has become an instrument…. Its operational value, its role in the domination of men and nature, has been made the sole criterion.

Harus dikatakan bahwa lanskap modern yang digambarkan Adorno dan Horkheimer ungu suram, nyaris semenakutkan Brave New World Aldous Huxley. Tapi dari sana kita tahu ada persoalan-persoalan dasar yang tak bisa dipecahkan sains: bisakah sains tak memberlakukan manusia sebagai obyek? Dan bagaimana?

Sayang sekali, Hamid tak menelaah perkembangan pemikiran Eropa (dan dunia), yang menyebabkan munculnya kritik, bahkan penolakan, terhadap sains modern sebagai model pengetahuan yang lain. Paparannya yang bersemangat — lengkap dengan katalogus prestasi sains yang hebat-hebat — tak memberi ‘insight” baru —lebih mirip dakwah sebuah keyakinan, bukan sebuah hasil pemikiran yang tumbuh dari konfrontasi dengan masalah-masalah fundamental: mengapa alam semesta, seperti dikatakan Galileo, pelopor sains modern, “ditulis dalam bahasa matematik”? Mengapa pula sains meyakini data indrawi sebagai pangkal eksperimennya? Apa arti “riil”?

Saya tak tahu apakah dia mengelak berkofrontasi dengan pertanyaan semacam itu. Kesan saya, dasar epistemologinya, maaf, kurang siap.

“Pembuatan model bukan berarti mereduksi realitas”, katanya, “…tapi demi memungkinkan sesuatu itu diteliti untuk diketahui”.

Bukankah justru untuk membuat sesuatu diteliti, agar diketahui, maka dilakukan reduksi terhadap realitas yang sedang ditelaah?

Reduksi itu yang saya sebut, perlunya pigura, “frame”, kerangka. Bagian dari metode ilmiah yang elementer. Saya tak tahu apakah Hamid pernah bekerja meneliti di laboratorium dan melihat obyek penelitian dengan mikroskop. Saya pernah, seperti saya katakan dalam tulisan terdahulu. Maka saya bisa katakan, mikroskop dan preparat itu semacam “simbol” bagaimana biologi mereduksi kehidupan.

Demikian juga halnya dengan teleskop yang mengintip bulan. Bulan yang dicontohkan Hamid dalam tulisannya adalah bulan yang telah direduksi secara konseptual. Segala anasir romantisnya di-“copot” dulu, atau dipinjamkan kepada penyair seperti Sapardi dan Goenawan.

Sementara itu, seorang astronom — atau peneliti apapun —bekerja dengan kerangka hipothesa, dan hipothesa ada dalam kerangka theori. Semua agar tertib, terkendali, dan tidak berkelemak-peyak. “The aim of science is to seek the simplest explanation of complex facts”, kata Alfred Lord Whitehead dalam “The Concept of Nature”.

Tapi Whitehead juga menambahkan: “Seek simplicity and distrust it”. Dengan kata lain, konklusi dari sebuah penelaahan ilmiah harus dilihat sebagai sesuatu yang selalu perlu diragukan, untuk ditelaah kembali — dan ini kita semua setuju. Pada akhirnya, realitas — sebagaimana dialami dalam dunia-kehidupan — lebih kompleks, lebih kaya, ketimbang yang ditangkap sains. “Kita hidup dalam detail”, saya kutip Whitehead lagi.

Untuk memahami itu semua memang diperlukan dasar epistemologi yang kuat — juga filsafat. Sayangnya, Hamid tak [mau] belajar filsafat. Mungkin ia setuju yang dikatakan Sulak, bahwa “ide-ide filsuf adalah kegelapan total bagi orang kebanyakan” (sebenarnya juga tak hanya ide filsafat; tapi juga Teori Relativitas).

Mungkin juga Hamid tak belajar filsafat karena, seperti dikabarkannya kepada Agus Sudibyo (yang menulis sebuah buku dengan dasar theori Agamben) filsafat “dengan sendirinya mati”.

Saya tidak tahu bagaimana Hamid akan membuktikan secara ilmiah bahwa filsafat sudah mati; tapi tampaknya ia yakin itu.***.

(SEKIAN DULU. SUDAH TERLALU PANJANG. AKAN DISAMBUNG DENGAN TANGGAPAN UNTUK TAUFIQURRAHMAN, YANG MENARIK, KARENA MEMANCING PERCAKAPAN FILSAFAT, KHUSUSNYA TENTANG MEILLASSOUX. TAPI SAYA TAK BERMAKSUD MENULIS SAMPAI ENAM BAGIAN, APALAGI SEPANJANG “GAMES OF THRONE”).

***

Jakarta, 17 Juni 2020.


Share Tulisan Goenawan Mohamad


Tulisan Lainnya

Hujan

#ESAI - 05/07/2020 · 3 Menit Baca

Dari Boku Madoto ke Bisoa

#SASTRA - 04/07/2020 · 1 Menit Baca

Marah Sudah, Kapan Copot Terawan?

#POLITIK - 03/07/2020 · 3 Menit Baca