× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Pagi Itu Kemerdekaan Sedang di Puncak

Puisi
Pagi Itu Kemerdekaan Sedang di Puncak
Ilustrasi: Laut. Foto Sendiri.

18/06/2020 · 1 Menit Baca

Pagi itu kemerdekaan sedang di puncak. Ia duduk sambil bersandar di antara pohon pala, cengkeh, dan kelapa. Ia harum dan basah. Ia pandangi pulau dan perahu di kejauhan lalu dalam hati ia berkata, hidupku begitu sederhana. Hari ini bermandi keringat, esok bermandi laut. Hari ini aku di darat, esok aku di laut. Hari ini aku di kebun, esok aku di perahu. Hari ini memeluk parang, esok memeluk dayung. Hari ini menanam di bukit, esok menanam di laut. Sore itu kemerdekaan masih di puncak. Ia harum dan basah. Ia duduk sambil memandangi dadanya sendiri. Nasib dan masa depan berkecamuk dalam dada, seperti arus dan gelombang saat ia menanam di laut.

Gelal, 2020.

 

DI PASAR RAKYAT TANJUNG BISOA

Tak ada ikan, tak ada suntung. Tak ada apa-apa. Kecuali suara katak dari selokan dan suara kantuk yang terus bergema dari jauh. Pohon-pohon tumbang jauh terbaring. Batu-batu duduk kesepian di atas bahu pasir. Perahu-perahu lelah dan lelap tertidur. Pukul dua puluh dua kau masih duduk dan sesekali berdiri. Meraba-raba rindu dan emosi yang datang bergantian di udara. Tak ada ikan, tak ada suntung. Tak ada apa-apa. Kecuali suara hujan begitu ringis dan bau tahi kambing menyengat di mana-mana. Kau masih duduk dan sesekali berdiri. Meraba-raba awan hitam yang rimbun di langit. Tak ada apa-apa. Kecuali suara seseorang yang lelah dan tertatih di dalam dada.

Supu, 2020.

 

DI LOLODA DI HALMAHERA

Kepada kebun
kami belajar ilmu kenegaraan

kami belajar ilmu memimpin
kepada kelapa yang tinggi tapi tidak menindas

kecuali angin hujan badai atau ada yang sengaja
memotong dan ia tak sanggup bertahan dan harus roboh.

Kami belajar ilmu keberagaman
kepada cengkeh, langsa, pala, coklat, sagu, pinang

dan segala yang hidup berdampingan
tapi buah, ranting, dan daunnya tak saling mencuri
kecuali kami salah menanam mereka sejak kecil.

Kami belajar kepada mereka yang membiarkan
di bawah mereka--rica, tomat, bawang, kunyit,
goraka, atau segala-- hidup dan tumbuh.

Kami tak tahu
bila kebun kami ditanami sawit
apakah masih ada kehidupan di bawahnya

kami juga tak tahu
bila kebun kami ditanami alat besi atau beton
apakah masih ada kehidupan di bawahnya

kami tak tahu, sebab itu
mengapa kami harus melawan.

Supu, 2020.

 

AKHIRNYA KITA PUN SALING PRANK

Akhirnya kita pun saling prank
dunia mem-prank kita dan kita pun saling prank
penguasa mem-prank kita dan kita pun saling prank
media mem-prank kita dan kita pun saling prank.

Akhirnya kita pun saling prank
dengan rumah ibadah kita saling prank
dengan rumah sakit kita saling prank
dengan rumah sendiri kita saling prank
dengan sembako kita saling prank

dengan jalan kita saling prank
dengan pasar kita saling prank
dengan media massa kita saling prank
dengan apa dan siapa saja kita saling prank
saling prank kita sampai heng.

“Hidup masih berputar
di antara keren dan kere
penguasa tetap keren
dan rakya kecil tetap kere

hidup masih berputar
di antara prank dan perang
kita dihajar prank penguasa
di tengah perang melawan Corona”.

Maha benar
kita bangsa besar dan kuat.

Galela, 2020.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Hujan

#ESAI - 05/07/2020 · 3 Menit Baca

Dari Boku Madoto ke Bisoa

#SASTRA - 04/07/2020 · 1 Menit Baca

Marah Sudah, Kapan Copot Terawan?

#POLITIK - 03/07/2020 · 3 Menit Baca