× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Muhammad Zainal Abidin

Kompatriot revolusi sejati.

Pekerja Pemilu
Muhammad Zainal Abidin
Ilustrasi. Foto: lifestyle.okezone.

18/06/2020 · 15 Menit Baca

Namanya bersinar usai pulang kampung. Ia datang dari tanah Ceylon menumpang kapal Inggris menuju tanah Maluku. Bagaimana ceritanya bisa menggaet hati orang Inggris, tak banyak referensi yang memberi tahu. Tapi sejarah menulisnya sebagai orang yang paling lihai dalam urusan negosiasi.

Sekitar lima belas tahun hidupnya berada di tanah asing. Srilanka adalah daerah sasaran pembuangan sang pangeran dari Tidore ini. Bersama sang ayah, Sultan Jamaluddin dan kakaknya Kaicil Garomahongi ketiganya ditangkap oleh kaki tangan Gubernur VOC Ternate, Thomaszen. Mereka dituduh menyusun rencana senyap bersama Kesultanan Bacan dan Mindanao mengusir Belanda dari Ternate.

Tuduhan ini entah bersumber dari fakta ataukah rekayasa, tetapi sikap menolak patuh Sultan Jamaluddin terhadap VOC dalam operasi hongi yang menyengsarakan rakyat menjadi salah satu pemicunya. Termasuk didalamnya sikap keras kepala Tidore tak terima beban pembayaran utang yang ditimpa Belanda. Dari Ternate, kapal Belanda membawa mereka menuju Batavia lalu menancap lagi ke Srilanka. Konon Yang Mulia Jamaluddin tak lagi dibawa ke Srilanka,  Paduka dikabarkan wafat di tanah Batavia.

Zainal Abidin, Putra Sultan Tidore Muhammad Mashud Jamaluddin. Ia tak lain adalah adik dari Kaicil Nuku Prins Rebel. Kedatangannya di tanah Maluku pada tahun 1794 menopang semangat membara perjuangan. Tahun itu adalah tahun kebangkitan, setelah Nuku dan para pejuang melewati masa-masa sulit diserang dan dikepung dari berbagai penjuru kekuatan VOC, Ambon, Banda dan Ternate yang beraliansi dengan Kesultanan Tidore dan Ternate yang masa itu berada dibawah kendali VOC.

Kemenangan menghadapi armada tempur Warner Gobius yang terkenal pada perang Gorom menjadi salah satu pelecut kebangkitan Nuku, disamping arus balik dukungan orang-orang di Utara Halmahera. Para Ksatria Canga yang berjumlah sekitar 400 orang berdiri berjejer dalam nyali yang menyala, mereka tebalkan tekad berada di samping Nuku dalam gelora perjuangan.

Nuku merasakan getar juang yang makin kuat tatkala kehadiran adiknya. Tak menunggu waktu lama, Nuku bergegas memberi instruksi. Ini mungkin adalah tugas pertama, sekaligus ujian loyalitas bagi Kaicil Zainal. Nuku memilih Zainal yang baru pulang untuk melakukan dua tugas besar yakni melakukan negosiasi dan konsolidasi kekuatan di Raja Ampat, Halmahera dan Pulau Gebe serta menyiapkan sebanyak mungkin armada tempur (perahu kora-kora) untuk kepentingan perang, pangkalan dan galangannya.

Zainal menghela langkah, arahnya menuju Raja Ampat. Ia datang dengan misi konsolidasi, mengajak mereka yang dahulu berdiri dibawah panji Nuku untuk kembali. Orang-orang ini pernah disesatkan oleh VOC yang menipu Sultan Kamaluddin Asgar untuk memburu dan meluluhlantakkan markas Nuku.

Kaicil Zainal memulai dari Misool dan Waigama. Dua raja di daerah ini ia datangi. Tatapannya yang penuh wibawa membawa dampak baik. Kata-katanya yang mengalir lembut bersahaja membikin segalanya kian apik. Ia benar-benar seorang Kaicil yang jenius, ia tahu titik dimana setiap hati ditaklukkan. Ia berbicara dengan bahasa yang mungkin saja diajari oleh sang kakak yang revolusioner, Nuku.

Berhasil. Kaicil Zainal melewati ujian permulaan itu dengan sangat baik. Misool dan Waigama memilih berbalik. Mereka yang beberapa waktu lalu tunduk pada kompeni memilih jalan padu bersama Nuku, persekutuan dengan Belanda telah ditarik. Dukungan itu tampak dan menampakkan diri, seratus kora-kora terbaik telah memilih siaga. Di Waigama, kala itu mereka mulai pasang kuda-kuda. Ini kora-kora khusus dipersembahkan untuk perjuangan Nuku, ini dipersembahkan untuk memastikan jalan padu perjuangan kemerdekaan.

Dua tempat tuntas, Kaicil Zainal memilih jalur baru. Kali ini Waigeo dan Salawati menjadi sasaran. Apa yang diperoleh di Waigeo makin menambah tekad juang. Orang-orang disini telah dengan suara bulat berjuang bersama Nuku. Meski begitu, jalan terjal bertabur kerikil berhamburan di Salawati. Daerah keempat yang dikunjungi Zainal di Raja Ampat ini butuh daya olah tersendiri.

Salawati termasuk yang paling bergigi dalam gerakan melawan Nuku. Pada tahun 1789, rajanya pernah mengucap janji setia bersama VOC dan Sultan Kamaluddin di benteng oranye Ternate. Bisa jadi ini salah satu beban yang dipikul oleh penguasa Salawati, hingga membikin pertarungan kata-kata Kaicil Zainal makin alot. Tapi kelihaian selalu menjadi ciri Zainal, takdir bagus memberinya jalan mulus.

Seluruh Raja Ampat akhirnya tuntas dalam kepal tangan bersama perjuangan Nuku. Ini tugas perdana Kaicil Zainal Abidin yang terbilang sukses, meski tidak mudah untuk melakukannya. Tidak gampang memang untuk menaklukkan hati dan menggaet kembali orang-orang Raja Ampat untuk kembali ke jalan sebenar-benarnya perjuangan. Kaicil Zainal telah membuktikan itu, dan telah mempertegas pada sang kakak bahwa pilihannya untuk mengutus dirinya benar-benar sangat tepat.

Setahun setelah negosiasi sukses itu, Kapal Resource dari Inggris yang dipimpin Kapten Lander dicarter oleh Nuku mengelilingi Kepulauan Papua. Kapal ini disambut mesra, aroma sukacita membahana. Sambutan meriah berbunga di Raja Ampat, kepal tangan Nuku menabur sinyal kuat. Gemuruh suara orang-orang Salawati, Waigeo, Waigama dan Misool seolah menjadi pemicu bara semangat.

Kapal Resource  menyeberang ke Pulau Gebe. Disana Nuku memilih masa jeda sambil, menuliskan surat untuk saudaranya Sultan Kamaluddin di Tidore. Surat ini tertulis di tanggal 29 Agustus 1795, ia seolah surat cinta yang ditulis seorang lakilaki pemberontak kepada saudaranya yang sedang mendekap tahta Tidore.

Dalam tinta pena itu, Nuku meminta saudaranya kembali kepada kesetiaan dan janji-janji juang yang dahulu mereka ikrarkan.  Dalam bait tulus itu Nuku mendesak pinta agar saudaranya mau bekerjasama melawan musuh yang sebenarnya, VOC Belanda. Niat baik Nuku ternyata tak mendapat kecup hangat dari sang adik. Kamaluddin menolak, bahkan dengan kekuasaan yang dimilikinya meminta Nuku untuk tidak mengacaukan Tidore dan bersegera kembali ke Seram Timur, Nuku bahkan diminta bersikap tunduk pada titah kompeni.

Nuku mungkin saja berang, tapi ia masih punya sabar. April 1796, kembali sebuah surat dilayangkan untuk Paduka Kamaluddin di istana Tidore. Tak tega rasanya seorang saudara melukai saudaranya sendiri. Nuku masih memikirkan harkat Tidore dan segala kejayaannya, tapi sekali lagi Kamaluddin menolak jalan kooperatif. Niat baik sang pangeran pemberontak dengan tegas ditolak.

Setahun setelah upaya damai yang tak berhasil itu, datang dari Tidore Abdul Jalal dan Bobato Kesultanan Tidore. Mereka orang suruhan Kamaluddin diutus hendak menemui Nuku. Situasi seolah darurat, ada gurat cemas menampar wajah Jalal dan kawan-kawan setelah beberapa minggu sebelumnya (Maret 1797), armada Nuku menaklukkan Bacan. Nuku tak menemui mereka, tapi kali ini orang kepercayaan yang ditugasi bertemu utusan Kesultanan itu adalah Kaicil Zainal Abidin.

Payahe, 6 April 1797 pertemuan Zainal dan Jalal itu terjadi. Marilah kita dengarkan kutipan kata-kata lugas yang mengalir dari mulut Kaicil Muhammad Zainal Abidin menghadapi perutusan Tidore itu sebagaimana tertuang dalam buku Nuku; Perjuangan Kemerdekaan Maluku Utara karya E. Katoppo.

“Saking sudah beberapa kali Nuku sendiri menawarkan perundingan dan perdamaian yang selalu ditolak saja oleh Kamaluddin yang tetap bersandar dan hanya bergantung pada kekuatan kompeni dengan dua tiga buah pancalangnya yang sudah bobrok, maka sekarang ini tak ada gunanya lagi akan berunding.”

Dalam tatap tenang dan cahaya yang melingkari wibabanya, Kaicil Zainal terus menghela kata-kata kepada utusan Jalal, “Ultimatum Nuku yaitu Kamaluddin wajib menyerah tanpa syarat, ia harus turun dari tahta kerajaan Tidore, selaku bukti penyerahan tak bersyarat itu, ia harus menyerahkan  mahkota dan upacara kerajaan kepada Nuku”.

Ini sikap tak hanya lugas, tapi tegas. Kaicil Zainal dengan sepenuh kepercayaan diri yang dipunyainya menghadang kata-kata berat yang dibebankan pada Abdul Jalal. Mereka diam seribu bahasa, membisu tanpa kata-kata. Jalal dan para bobato pulang ke Tidore dengan beban berat dan mentalitas yang goyah. Mereka seolah tak punya pilihan untuk bergabung dengan pasukan Nuku yang armadanya cukup banyak, kuat dan tangguh.

Esok harinya teror itu benar-benar dimulai. Kaicil Zainal memimpin laskar bernyali, Dalam sekejap kilat Akelamo dan Mare ditaklukkan. Dua titik strategis yang paling terdekat dengan Pulau Tidore ini telah dibawah kendali. Lima hari setelah itu atau 12 April 1797, Kaicil Zainal bersama sang kakak Nuku kembali ke tanah air tanpa hadangan. Kaicil Zainal menjadi pioneer utama, ia terus-menerus menegaskan istruksi Nuku kepada pasukan garda revolusi untuk tidak melakukan pertumpahan darah.

Revolusi Tidore ini benar-benar revolusi bermartabat. Tak ada dendam yang merasuk kepala, Nuku konsisten di jalan itu. Ia seolah belajar pada peristiwa Fathul Makkah tatkala Nabi yang agung datang dari Madinah menaklukkan Mekkah. Di Tidore, kehadiran Nuku, Kaicil Zainal dan pasukannya di April yang bercahaya itu disambut sukacita. Gerbang istana tampak terbuka, singgasana tak ada sesiapa sebab Kamaluddin telah melarikan diri ke Ternate.

Setelah April heroik itu bukan berarti  tugas Kaicil Zainal usai. Nuku telah menduduki tahta Kesultanan Tidore menggantikan Kamaluddin. Penobatan ini dihadiri oleh para bobato dan perangkat adat Kesultanan dan diberi gelar Sultan Said’ul Jehad Muhammad el Mabus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan, Sultan Tidore, Papua, Seram dan daerah-daerah taklukannya.

Di Pemerintahan baru ini, Zainal menorehkan jejak-jejak hebat. Tak hanya perihal kelihaian bernegosiasi, tapi ia juga menunjukkan kelasnya sebagai seorang laksamana ulung sebagaimana Katoppo menyebutnya. Beberapa aksi-aksi militer terbaik dikomandoinya, ia tangkas berperang dan piawai mengatur strategi dan taktik. Ia tumbuh bersama Nuku sebagai seorang kompatriot revolusioner sejati.


Share Tulisan Rusly Saraha


Tulisan Lainnya

Hujan

#ESAI - 05/07/2020 · 3 Menit Baca

Dari Boku Madoto ke Bisoa

#SASTRA - 04/07/2020 · 1 Menit Baca

Marah Sudah, Kapan Copot Terawan?

#POLITIK - 03/07/2020 · 3 Menit Baca