× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#POLITIK

Rasisme Blak-Blakan dalam Serial Netflix 'When They See Us'

Batas antara aspirasi dan subversi sengaja dikaburkan dengan pasal makar. Pola demikian terus dimainkan oleh negara.

Volunteer
Rasisme Blak-Blakan dalam Serial Netflix 'When They See Us'
Unjuk rasa. Foto: bbc.com/indonesia/Novrian Arbi.

20/06/2020 · 15 Menit Baca

19 April 1989. Sudah musim semi, libur sekolah sebentar lagi. Sepulang sekolah, puluhan bocah Afrika-Amerika dari Harlem bagian timur, dengan bergerombol, menuju Central Park Manhattan. Mereka janjian berkumpul di sana pukul sembilan malam. Sekadar kongkow-kongkow saja. Beberapa dari mereka menggodai orang yang kebetulan lewat di situ.

Namun, tiba-tiba terjadi perkelahian di antara dua bocah. Suasana jadi ribut. Ketika sirine mobil polisi memecah keriuhan. Mereka lari kocar-kacir. Bersembunyi. Melompati pagar beton. Menuruni bukit. Beberapa anak diamankan malam itu juga, dengan tanpa basa-basi. Polisi langsung main tangkap. Bahkan satu dari mereka, wajahnya ditimpuk pakai helem. Keras. Bikin memar. Sampai si anak tak sadarkan diri.

Di malam yang sama, dan tempat yang sama, tapi di sudut yang berbeda, terjadi penganiayaan kepada seorang perempuan kulit putih. Patricia “Trisha” Ellen Meili. Dia bekerja di sebuah bank investasi.

Meili tengah joging di taman itu. Lalu tiba-tiba diserang oleh seorang lelaki sampai sekarat. Lukanya parah di bagian wajah dan badan. Polisi dipanggil ketika tubuhnya ditemukan di semak-semak hutan: dia dipukuli secara brutal, diperkosa, tengkorak retak dan kehilangan banyak darah. Nyawanya tinggal setengah. Bekas darah, setapak kaki, dan seretan manusia, masih kentara di tempat kejadian perkara (TKP) ketika Kepala Unit Kejahatan Seksual Kejaksaan Manhattan, Linda Fairstein, datang bersama polisi di pagi buta. Satu polisi mengonfirmasi ke Linda bahwa peristiwa itu terjadi pada pukul 1:30 dini hari.

Pada saat Meili ditemukan, Polisi sudah menangkap belasan bocah, termasuk Kevin Richardson (yang ditimpuk dengan helem) dan Raymond Santana.  Polisi yakin mereka bagian dari kelompok remaja yang membikin onar tadi. Paginya, Polisi ditugaskan berjaga-jaga di Harlem, di permukiman kulit hitam. Mengawasi. Mencari pelajar yang berusia 15. Dan menangkapnya. Mereka kemudian membawa dua lagi untuk diinterogasi. Antron McCray dan Yusef Salaam. Satu bocah yang lain adalah Korey Wise. Dia sohib Yusef Salaam. Korey tak sampai hati melihat Yusef sendiri dibawa ke kantor Polisi.

Segera, polisi menduga lima anak itu yang menimbulkan kekacauan di Central Park. Bertanggung jawab atas serangan terhadap Meili. Linda mengarang sebuah cerita supaya keributan yang ditimbulkan oleh bocah pelajar Afrika-Amerika itu adalah satu rangkaian dari peristiwa Meili. Dia mengubah waktu peristiwa peyerangan Meili menjadi pukul sepuluh malam atau sebelas malam. Agar jarak waktunya tidak terlampau jauh. Lalu mengubah rute joging Tirsha agar dekat dengan tempat berkumpulnya para pelajar tersebut.

Lantas, kelima nama di atas menjalani proses interogasi yang sungguh mengintimidasi. Berjam-jam tanpa makan dan minum. Dibentak. Ditampar. Bahkan tanpa pendampingan orang tua. Mereka dipaksa untuk mengakui kesalahan yang mereka sendiri tidak tahu dan tidak lakukan. Para penyidik membuat mereka harus setuju, kalau mereka adalah aktor terhadap peristiwa penyerangan Meili, dengan janji akan langsung dibebaskan. Padahal tidak. Justru kelima bocah itu dibuat saling tuduh; dijebak dengan pertanyaan dan jawaban yang dibuat oleh penyidik sendiri; dan dipaksa menanda tangani berita acara pemeriksaan (BAP). Kelimanya dikambing hitamkan dan segera menjadi tersangka.

Ketika pengacara bertanya kepada Korey, kenapa dia mau mengatakan yang tidak benar?

“Mereka (penyidik) bilang jika aku di sana dan jika aku setuju, aku bisa pulang, dan hanya itu yang aku mau, hanya itu yang aku mau. Segera pulang. Sampai saat ini,” jawab Korey.

Kelima anak itu hanya bisa meraung-raung memanggil nama orang tuanya. Mereka terpaksa merelakan masa depan dan hanya bisa pasrah pada putusan pengadilan. Kepasrahan itu membuat kepercayaan mereka tumbuh sedikit demi sedikit. Kepercayaan untu melawan tindakan diskriminasi dan rasisme. Tekanan demi tekanan membuat mereka sadar bahwa ada rasialisme yang selalu menggerogoti kehidupan mereka - orang kulit hitam - yang mengancam kemerdekaan dan hak asasi.

Tapi kesadaran itu hanya tumbuh pada diri anak-anak itu. Tidak dengan hakim, tidak dengan jaksa. Bahkan tidak dengan Donald Trump. Saat peristiwa itu, Donald Trump, mengeluarkan uang sebesar 85.000 dollar untuk beriklan di halaman utama empat surat kabar di New York. Ia mengampanyekan: “kembalikan hukuman mati”. Sinting.

Namun betapa pun usaha yang dilakukan orang tua, anak-anak itu, dan pengacaranya, hakim tetap menjatuhi hukuman. Banyak yang menganggap putusan itu sangat diskriminatif. Kelimanya harus melewati seluruh masa remajanya dari dalam penjara. Empat dari mereka masing-masing menjalani masa tahanan 6-7 tahun di penjara anak-anak. Sementara Korey sendiri, menjalani masa tahanan selama 13 tahun di penjara dewasa.

Pada tahun 2001, seorang terpidana kasus pembunuhan berantai dan pemerkosaan, Matias Reyes, masuk penjara selama seumur hidup. Bertemu dengan Korey. Dia melakukan pengakuan kepada pihak berwajib, kalau yang melakukan penganiayaan dan pemerkosaan kepada Meili adalah dirinya. Ketika DNA-nya diperiksa, memiliki kecocokan dengan yang ditemukan di tempat kejadian. Matias Reyes juga menyampaiakan fakta baru, kalau dia melakukan pemerkosaan itu sendirian.

Setahun berselang, Robert Morgenthau, Jaksa Distrik untuk Kabupaten New York, meminta kantornya melakukan investigasi dan memberi rekomendasi kepada pengadilan negara bagian, bahwa vonis lima pria terhadap semua dakwaan, dikosongkan atau dihapuskan. Pengadilan mengindahkan dan Negara menarik semua tuduhannya. Anak-anak itu sudah tumbuh menjadi pria dewasa dan bertransformasi sebagai ikon “anti-rasisme”.

Kasus tersebut dikenal sebagai “Central Park Jogger Case” atau “Central Park Five”. Central Park Five adalah Kevin Richardson (14), Raymond Santana (14), Antron McCray (15), Yusef Salaam (15), dan Korey Wise yang berusia 16 tahun.

Begitulah yang bisa kita saksikan di serial pendek Netflix 'When They See Us' dalam empat episode. Sangat emosional. Serial pendek ini disutradarai oleh Ava DuVernay. Inisiatif pembuatan film mula-mula datang dari Raymond Santana. Ia menghubungi Ava DuVernay melalui Twitter, menanyakan apakah dia pernah berniat menjadikan kisah Central Park Five menjadi film. 

Ava DuVernay seorang sutradara perempuan keturunan Afrika-Amerika yang cemerlang. Mendapat banyak penghargaan. Tahun 2012, ia mendapat penghargaan sebagai sutradara terbaik untuk film keduanya Middle of Nowhere, dalam Festival Film Sundance. Saat itu, ia sekaligus jadi perempuan Afrika-Amerika pertama yang berhasil memenangkan penghargaan Festival Film Sundance.

Ava DuVernay, melalui serial When They See Us, menelanjangi hukum Amerika yang sungguh mendiskriminasi orang kulit hitam. Ia juga menunjukkan, bagaimana media massa ikut mempertegas garis demarkasi antara orang kulit hitam dan orang kulit putih. Media massa memigura kasus Central Park Five. Membuat seolah-olah orang kulit hitam adalah sekumpulan pembuat onar; liar; mereka datang dari dunia penuh narkoba, senjata, kekerasan, kemiskinan; dan pokoknya, adalah kriminal. Pantas dijauhi dan diwaspadai. Sinis pada kulit putih. Kalau kata filosof dari Italia, Giorgio Agamben, mereka ‘di-homo sacer-kan’. Kaum yang tereksklusi dari masyarakat. Mereka terbuang, jorok, dan pantas untuk dipersalahkan, kalau bisa dilenyapkan dengan impunitas.

Walau tahun 2003, kelima anak itu mengajukan gugatan terhadap kota New York atas pengkriminalisasian mereka, diskriminasi ras, dan atas stigma yang mereka alami. Butuh lebih dari satu dekade untuk bisa memenangkan gugatannya. Tapi toh ternyata tak menjamin lenyapnya diskriminasi atas orang kulit hitam.

Sejak peristiwa George Floyd, gerakan anti-rasisme di Amerika muncul dengan besar. Tahun 2020 menjadi demontsrasi terbesar di sana setelah sekian tahun lamanya. Itu sekaligus meununjukkan kalau rasisme memang masih bersemayam. Gerakan ini membawa slogan “Black Lives Matter”.

Ada kesamaan dalam serial When They See Us dan kasus George Floyd, aktor utama perangai rasisme  ialah penegak hukum, lebih menonjolnya adalah oknum polisi.

Bagaimana dengan orang asli Papua di Indonesia?

Jangan tanya lagi, mereka mau demo saja, dituduh makar. Dituduh subversif. Tiga hari lalu, tujuh aktivis Papua di Balikpapan, Kalimantan Timur, dijatuhi hukuman. Sepuluh sampai sebelas bulan penjara. Salah satu tahanan itu adalah Buchtar Tabuni yang dituntut sebelas bulan penjara. Buchtar Tabuni salah satu pimpinan dari United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), sebuah serikat gerakan kemerdekaan untuk Papua dan Papua Barat.

Para tahanan di Balikpapan, kemudian disebut Balikpapan Seven, ditangkap di ibukota provinsi Papua Barat, Jayapura tahun lalu. Mereka dituduh bertanggung jawab atas kerusuhan yang sempat terjadi pada Agustus hingga September 2019. Bulan Oktober, Kejaksaan Tinggi Papua melimpahkan kasus ini ke Kejaksaan Negeri Balikpapan. Persidangan mereka lantas digelar di Pengadilan Negeri Balikpapan. Para tahanan sempat memohonkan agar proses persidangan dilakukan di Jayapura, tapi ditolak hakim.

Setelah dijatuhi hukuman, Buchtar Tabuni, mengatakan kepada pengadilan, "dalam hati nurani saya, saya tidak bersalah."

Keyakinan Buchtar Tabuni tentu berdasar, tapi apa mau dikata. Batas antara aspirasi dan subversi sengaja dikaburkan dengan pasal makar. Pola demikian terus dimainkan oleh negara untuk meredam dan menjerat suara-suara yang meneriakkan pembebasan dari perilaku rasisme, diskriminasi, dan kolonialisme.

Penahanan tujuh aktivis Papua di Balikpapan lantas direspon lebih dari 150 politisi Papua, tokoh masyarakat dan tokoh agama, termasuk anggota parlemen dan senat. Menandatangani sebuah petisi yang meminta Presiden Joko Widodo, membatalkan tuduhan kepada para terpidana.

Sementara itu, karena gerakan anti rasisme di Amerika terus membesar dengan slogan ikoniknya, aktivis Papua lantas mengadopsi slogan itu dengan menyerukan “Papuan Lives Matter”. Upaya itu dilakukan, setidaknya isu Papua bisa menggema dan mendapat perhatian internasional.

Kasus hak asasi manusia di Papua memang sungguh dahsyat. Sudah seperti serial Netflix: When They See Us. Orang Papua harus menjalani hukuman yang diskriminatif. Menjalani hukuman yang mereka tidak tahu mereka habis melakukan kesalahan apa. Apakah karena ikut bersolidaritas? ataukah karena ikut melawan tindakan rasisme?  Tapi apapun itu, beralasan atau tanpa alasan, mereka tetap salah. Mereka tetap dipenjara. Huh.


Share Tulisan Arief Bobhil


Tulisan Lainnya

Hujan

#ESAI - 05/07/2020 · 3 Menit Baca

Dari Boku Madoto ke Bisoa

#SASTRA - 04/07/2020 · 1 Menit Baca

Marah Sudah, Kapan Copot Terawan?

#POLITIK - 03/07/2020 · 3 Menit Baca