× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Kalau Saya ke Tobelo

Semacam Prosa
Kalau Saya ke Tobelo
Ilustrasi: Laut. Foto: Abi N. Bayan.

20/06/2020 · 3 Menit Baca

LELAKI YANG INGIN BERLAYAR KE TELUK WEDA

--kepada Tantri

Saat bulan di langit tanpa payung, aku ingin sekali berdayung. Kalau bukan kepadamu perahu ini ingin beralamat, maka kepada mama juga perahu ini meminta pulang. Sungguh, aku ingin sekali berdayung, agar jalan-jalan di tubuh Halmahera tidak menghadangku. Tidak menghadang perahu yang ingin pulang ke teluk.

Di teluk Weda, di pantai Nusliko, aku ingin bersamamu, bersama mama yang tangannya berhari-hari dipeluk dungi ikan, dan harum wangi lolosi yang berhari-hari papa tangkap di laut. Juga harum wangi onde-onde yang akhir-akhir ini mama buat berhari-hari.

Sungguh, aku ingin bersamamu, perempuan yang hari-harinya seperti lautan bebas tanpa kapal dan perahu. Sementara hari-hari lelakinya, seperti papan tatagi yang kehilangan pemain dan batu-batu. Sungguh, aku ingin bersamamu, perempuan yang air matanya lebih asin dari lautan, yang kesepiannya seperti benih cengkeh di tengah belukar. Sementara kesepian lelakinya, seperti benih pala di tengah alang-alang yang sedang rimbun dan menghijau.

Sungguh, aku ingin bersamamu, di tepi pantai yang ada tak ada kapal, dayung, dan perahu. Seperti di sini, seperti malam ini.

Morotai, 2020.

 

MIMPI YANG DATANG SESUDAH PAGI

Esok kau akan kembali membuang jangkar, melepas umpan. Kemudian ikan-ikan masa kecil itu akan kembali ke lambung perahumu. Sementara aku di tanah jauh, harus kembali sebagai kepiting yang kehilangan gelap. Terkurung di dalam rumah yang dibentengi batu-batu, tapi bukan rijang. Meski ketapang yang tumbuh kokoh di bentangan mataku, ketapang yang berdiri dan rimbun di sepanjang ingatan.

Esok kau akan kembali ke bukit, membaca aliran sungai, sambil sesekali bersandar di batang pala, cengkeh, dan kelapa. Kemudian burung-burung masa kecil itu akan kembali menyanyikan lelahmu bersama angin laut yang berembus begitu merdu. Sementara aku di tanah jauh, harus kembali ke dalam lubang batu-batu sebagai udang yang takut dihajar desis. Berpeluk cemas dan penuh kekhawatiran.

Esok kau akan kembali menyalakan api, dan pisang kuli-kuli, sagu, kasbi, serta batata yang wangi itu, aku harus kembali menadahnya dalam mimpi.

Morotai, 2020.

 

KALAU SAYA KE TOBELO

--kepada Fahmi Lolahi

Kalau saya ke Tobelo, bolehkah antar saya ke Pulau Tulang? Saya ingin bertualang sebelum pulang. Saya ingin menyaksikan matahari pergi dari laut timur dan pulang ke Halmahera. Saya ingin melihat botol-botol bekas itu tumbuh sebagai laboratorium.

Saya ingin belajar kepada anak-anak yang rajin berenang dan menyelam di bawah matahari yang cahayanya menembus dasar laut.  Saya ingin belajar kepada ibu yang rajin dan setia mengisi butir-butir pasir ke dalam botol, sambil sesekali tersenyum.

Sebab Ia--- seperti ibuku juga; perempuan yang tak pernah menjadi mantan, perempuan yang tak pernah fasih menyebut nama-nama leluhur dan nama-nama saudara ayah. Sebab lidahnya telah diikat dengan adat dan budaya. Sungguh, Ia-- seperti ibuku juga; perempuan yang kini matanya selalu hujan, tapi hatinya selalu ingin ke kebun.

Kalau saya ke Pulau Tulang dan ingin pulang, bolehkah antar saya dengan kole-kole atau perahu semang? Saya ingin duduk di belakang sebagai pemegang dayung atau kemudi. Saya ingin merasakan sabar dan tabah papa bertahun-tahun memegang dayung di tengah gelombang, dibakar hujan, diguyur matahari.

Tapi  kalau saya ke Tobelo dan kamu tak sempat mengantar saya ke Pulau Tulang, bolehkah antar saya ke Hibualamo? Sebab Ia---rumah dan ibuku juga, sebagaimana Bangsaha.

Morotai, 2020.

*Hibualamo: Rumah Adat Tobelo.

*Bangsaha: Rumah Adat Galela.

 

AKU MASIH DI SANA

Aku masih di sana
di tepi pantai itu, menunggu matahari
menghitung perahu pulang pergi bergantian.

Aku belum pergi,
ikan-ikan pagi itu masih berenang di kelopak mata
dan kamu masih berkayuh dari tanjung yang jauh
pulang ke teluk, pulang ke dada ibu.

Aku masih di sana
di bangku panjang buatan papa
di dapur mama yang harum
minyak kelapa buatan sendiri.

Apakah kamu tidak melihatku?

Aku di sampingmu,
duduk bersama mama, bersamamu
menadah pisang goreng dan ikan bakar
sambil bercerita tentang ayah, tentang kebun
tentang kekasih yang ingin kubawa kepadamu.

Aku masih di sana
di puncak bukit itu, menunggu hujan
menanam benih cengkeh
dan berharap, babi-babi itu
tak datang meminangnya.

Apakah kamu tidak melihatku?

Aku di sampingmu
duduk di matamu yang hijau
memandangi langit biru
sambil mendengarkan bisikmu.

Galela, 2020.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Hujan

#ESAI - 05/07/2020 · 3 Menit Baca

Dari Boku Madoto ke Bisoa

#SASTRA - 04/07/2020 · 1 Menit Baca

Marah Sudah, Kapan Copot Terawan?

#POLITIK - 03/07/2020 · 3 Menit Baca