× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Seniman: Anugerah, Pendidikan dan Lingkungan Sosial

Oleh: Zainuddin M Arie.

Content Creator
Seniman: Anugerah, Pendidikan dan Lingkungan Sosial
Zainuddin M Arie saat HUT Teater Anak Bangsa di Ternate. Foto: Anas.

22/06/2020 · 15 Menit Baca

Seniman tak hanya subyek penyampai atau penghidang keindahan bagi masyarakatnya, akan tetapi seniman pun memiliki kapasitas merawat sense of art  rasa seni atau rasa keindahan di tengah masyarakatnya. Tak dapat dibayangkan bila masyarakat hidup tanpa seni. Kehidupan kerontang, hubungan sosial serba tegang, komunikasi hambar dan lingkungan tanpa variasi dan tak berwarna.

Bila eksistensi agama menuntun manusia menuju kebenaran (al-haq), teknologi memberikan kemudahan maka seni menyumbangkan keindahan, sehingga hidup lebih berasa dalam sensivitas yang luhur. Tak heran bila Plato mewajibkan calon pemimpin agar belajar dan menghayati seni agar memiliki tingkat kepekaaan sosial maupun lingkungan sebagai bekal kepemimpinannya.

Sehubungan dengan itu, berikut dikemukakan beberapa catatan respon terhadap eksistensi seni di daerah ini.

a. Diyakini sepenuhnya, bahwa Allah SWT. itu indah dan mencintai keindahan. Namun kenyataan yang terlihat di tengah masyarakat Maluku Utara eksistensi seni belum sepenuhnya disadari sebagai anugerah Allah SWT yang sempurna dan amat berhrga bagi kehidupan yang semestinya disyukuri dan didayagunakan dalam bentuk-bentuk apresiatif yang lebih terhormat. Sidi Gazalba (1977) menyatakan bahwa selama ini orang mengkaji Islam hanya sebagai agama atau religi.

Sedikit sekali atau hampir tidak ada orang yang mengkaji Islam sebagai sosial-budaya sehingga soal-soal kesenian tidak timbul dalam kajian. Gazalba (1975:208) mengemukakan, Islam merupakan fitrah dan seni adalah fitrah manusia, dengan sendirinya seni masuk dalam addin. Rendahnya kesadaran, keyakinan, apresiasi, pendayagunaan dan penguatan seni telah menempatkan sektor kehidupan berkesenian pada tempat yang sangat tak menguntungkan.

b. Seni bukan sekedar kegiatan selingan di tengah suatu kegiatan atau upacara tertentu, yang menempatkan aktivitas berkesenian pada posisinya yang kurang dihargai dan tidak menguntungkan secara estetik, sosial maupun ekonomi. Sangat jarang kegiatan atau perhatian terhadap kesenian memeroleh perhatian utama sebagai bagian integral dari keseluruhan unsur kebudayaan yang dibutuhkan kehidupan dalam merawat sensibiltas agar interaksi sosial tak terjadi dalam kekeringan dan ketegangan belaka. Eksistensi seni belum dipandang sebagai sektor yang memiliki manfaat yang lebih besar, selain hanya sekedar pelengkap saja yang tanggapi secara apa adanya dan “biasa-biasa” saja. 

c. Belum adanya wadah representatif dan formal yang mengedukasi masyarakat dalam menerima, memahami, menyukai, dan mendukung kegiatan berkesenian secara sungguh-sungguh hingga berdampak secara religis, edukatif, ekonomis, maupun sosial.

Salah satu isu yang mengemuka dalam upaya menambah pengetahuan, pengalaman, atau meningkatkan kesadaran dan pembentukan sikap apresiatif terhadap keberadaan kegiatan kesenian di negeri ini menjadi demikian lemah dan rentan terhadap tantangan lingkungan masyarakat yang dinamis karena belum munculnya kelompok secara kolektif atau lembaga secara parmanen yang berperan dalam usaha menggali sikap apresiati terhadap dunia seni dan kehidupan berkesenian melalui upaya mendidik, melatih, mengembangkan, memasarkan dan memasyarakatkan kesenian secara masif, terencana dan terus menerus. Kalau pun ada maka yang muncul hanyalah sekelompok anak-anak muda yang menyukai bidang seni tertentu yang melakukan kegiatan edukasi seni secara terbatas, internal dalam kelompoknya dan tak mampu bertahan di tengah perubahan trend sosial.

Produk kerja seni kelompok ini tak selalu dapat dipasarkan, karena terkendala oleh masalah klasik seperti fasilitas, sarana, dana maupun sumber daya penggeraknya. Kenyataan ini menjauhkan keberadaan seni dari lingkungan masyarakat sehingga seni sebagai bagian integral dari satu totalitas kebudayaan kurang diterima.

Tercatat sejak tahun 1982, setelah dibongkarnya Gedung Kesenian Ternate, maka kota tua ini tak lagi memiliki sarana berkesenian. Kota ini pun tak memiliki suatu Taman Budaya sebagaimana dapat ditemukan di Kota Ambon, provinsi Maluku atau Manado, Sulawesi Utara atau sarana seperti Arena Expo Budaya Papua di Wamena, Kota Jayapura, provinsi Papua. Dewan Kesenian Ternate (Maluku Utara) yang sempat hadir pun ternyata harus berujung ajal sebelum sempat bernafas panjang.       

d. Para pihak (seniman) yang secara personal maupun kolektif belum memeroleh kekuatan atau penguatan (empowering) secara sosial, finansial, maupun edukatif agar tetap hidup dan tetap mengembangkan karya, menjalani kehidupan berkesenian, merawat sense of estetik masyarakat. Kekuatan yang dimiliki seniman di daerah ini hanyalah sekedar dapat hidup dan tak mati berkarya. Pelaku seni secara berkelompok atau perseorangan hanya dapat hidup secara alamiah, apa adanya dan bergantung pada kemampuan dirinya sendiri yang juga tak cukup mapan.

Kelompok-kelompok ini pada suatu saat akan marak bermunculan namun tak bisa bertahan memenuhi kebutuhan internalnya dan sayup-sayup menjawab tantangan perubahan. Tercatat beberapa kelompok yang sempat “bertahan” secara minimal saat ini, antara lain Teater Anak Bangsa, Kampoeng Warna, Gumutu, Parada Nusantara, Sanggar Seni Kie Raha, Kapseti, Nomat, Timur Jauh, Lesbumm, serta sederetan nama-nama lainnya.

Pada kenyataannya kelompok-kelompok ini dapat “bertahan” bergantung pada kemampuan nakhoda (tokoh) yang menjadi lokomotif hidup bagi perjalanannya, bukan oleh insentif finansial eksternal, fasilitas atau sarana pembinaan maupun penguatan dari pihak lain.    

e. Seniman berbagai bidang telah lahir di negeri Moloku Kie Raha (sebutan lain bagi provinsi Maluku Utara). Mereka hadir ke pentas eskistensi artistik dengan bermacam karya pada bidang masing-masing, mulai seni musik, seni tari, seni peran, seni sastra hingga seni rupa. Bila dikategorikan, dapat disebutkan terdapat dua kategori seniman di kota ini, yakni seniman yang lahir dengan talenta secara natural dan seniman bertalenta yang memiliki tambahan pengetahuan akademik. Namun, hampir semua seniman tersebut bukan merupakan seniman yang memiliki tambahan pengetahuan akademik (Muhammad, 2020).

Kebanyakan seniman dengan natural capacity tersebut lebih sering melakukan kegiatan berkesenian secara alamiah. Hanya beberapa seniman yang telah menghadirkan karya-karyanya dalam bentuk-bentuk ekspresi yang lebih kekinian dan “baru”. Hal mana dapat dilakukan karena seniman seperti dimaksud memang pernah memiliki sejumlah pengalaman berkarya baik di negeri ini maupun yang diperolehnya dari pengalaman-pengalamannya dari perjalanan di tempat lain yang dipadukan dengan kekayaan negeri.

Belum adanya hasrat seniman, dukungan atau pun dorongan kepada seniman pekarya non akademik agar dapat mendalami dan mengembangkan talentanya melalui dunia pendidikan tinggi. Padahal bila seniman yang selama ini berkarya dengan talenta alamiah dapat memiliki sejumlah pengetahuan dan pengalaman akademis diharapkan kelak kedua kemampuan (talenta natural dan pengetahuan akademik) akan melahirkan sinergi kapasitas artistik dan kognitif yang saling menguatkan.  Pelukis tersohor seperti Raden Saleh pun pernah menambah pengetahuan akademis pada bidang seni rupa di Belanda dan melakukan kunjungan belajar ke musium studio di Jerman, Austria, Italia dan Perancis (data www.tribunnews.com) sebagai upaya menguatkan natural capacity.

Dengan potensi alamiah (talenta) dan pengetahuan akademik yang dimilikinya seniman akan memiliki ruang gerak aktifitas yang lebih luas tak hanya melahirkan karya akan tetapi dapat berpartisipasi dalam bidang-bidang lain seperti bidang pendidikan, pariwisata, kebudayaan (secara umum), bisnis, serta bidang-bidang lain yang membutuhkan.

Minimnya seniman dengan latar natural dan akademik tersebut, dapat disebabkan oleh sikap, lingkungan dan kemampuan pembiayaan. Belum ada suatu kebijakan kemitraan pihak formal maupun pihak swasta yang memberikan dukungan secara signifikan agar seniman bertalenta natural dapat mengenyam pendidikan dan atau pengalaman seara akademik.  

f. Belum muncul secara tetap dan menguat suatu realitas habitus atau konsep kebiasaan para seniman perupa, di mana konsep habitus (kebiasaan) merupakan “struktur mental dan kognitif” yang digunakan … untuk menghadapi  kehidupan sosial (lihat Piere Bordieu 1930-2002, dalam Oesman, 2017:340). Contoh seniman di jalan Baraga Bandung, para pelukis di Pasar Seni Jaya Ancol dapat dirujuk sebagai suatu fenomena habitus dimaksud, di mana para pelukis telah hidup dalam kebiasaan-kebiasaan yang terkonsentrasi pada aktifitas peroduktif seni lukis sebagai profesinya. Realitas habitus ini mampu menandai lingkungannya sehingga terciptalah brand atau ikon akan eksistensi seni lukis pada tempat tersebut.

Beberapa hal tersebutkan di atas, merupakan bagian dari gelisah, perjuangan, hasrat dan hajat maupun mimpi seniman (seperti yang dirasakan seniman lainnya tentunya di negeri ini) yang menempati ruang dalam diri seniman. Hal mana menampak sebagai fenomena pengalaman dan kenyataan selama ini. Di tengah keterbatasan-keterbatasan dukungan sosial, politis (baca:regulasi dan Kebijakan Pemerintah), minimnya pengetahuan dan finansial tersebut, nyatanya nadi seni terus berdenyut oleh segala harapan dan upaya seniman di negeri Moloku Kie Raha.***


Share Tulisan Lefo Ikhtisar


Tulisan Lainnya

Hujan

#ESAI - 05/07/2020 · 3 Menit Baca

Dari Boku Madoto ke Bisoa

#SASTRA - 04/07/2020 · 1 Menit Baca

Marah Sudah, Kapan Copot Terawan?

#POLITIK - 03/07/2020 · 3 Menit Baca