× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Hujan

Ada misteri. Sesuatu yang tak terjamah. Hujan memang lebih tabah di bulan Juni.

Direktur LSM RORANO
Hujan
Ilustrasi. Pixabay/Adam Tepl.

05/07/2020 · 3 Menit Baca

Apa yang paling diingat dari bulan Juni. Hujan. Entah karena rintik atau derasnya yang “membersihkan” lalu segalanya jadi sedap dihirup. Atau karena jatuhnya menembus atap yang bocor, melubangi tanah, menyiram ilalang kering dan jadi berkah bagi hidup yang kerontang. Kadang Hujan malah mengingatkan dengan caranya tentang kealpaan yang dilakukan manusia. Bentuknya bencana. Tak ada yang bisa melawan. Bagaimana kita bisa menghentikan tiap tetes yang jatuh?. Kita hanya bisa menunggunya untuk berhenti sendiri.

Hujan juga mengores kenangan. Segala yang tersimpan rapi dalam ingatan yang berkelindan dengan lupa. Ingatan tentang pertemanan, cinta, penghianatan, rasa sakit, melupakan atau tentang yang menguatkan seperti berbagi dukungan, bangkit dan berlari seperti menghapus jejak buram di kaca jendela. Hujan menegaskan pilihan ; jika kita tidak bisa menerima, maka kita tak akan pernah bisa melupakan. Mungkin dengan itu, kita akan terkesima dan tak jadi bertanya mengapa Sapardi Djoko Damono menuliskan hujan dengan kata tak bersayap.

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan di bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu

Ada misteri. Sesuatu yang tak terjamah. Hujan memang lebih tabah di bulan Juni. Meski tak diminta, Ia mengguyur kota kecil yang penuh sesak ini tanpa salah. Dimakipun ia tetap menyiram. Sama seperti virus kecil berukuran 125 nanometer yang menyebarkan pandemi dengan keriangan yang tak palsu. Ada banyak gerutuan tapi coronavirus nyaman mengikuti kemana saja kita berpendar. Rahasianya - tentang apa dan mengapa virus ini berubah jadi pandemi - tak terungkap meski sains kini memimpin peradaban modern dengan kalkulus yang cermat. Tak ada vaksin untuk melawannya.  

Sepanjang Juni kali ini, kita juga dibiasakan menghitung. Bukan untuk hujan yang setia menetes tapi juga tentang jumlah kasus terkonfirmasi positif yang terus bertambah. Sebelum Juni, Ternate - kota kecil dengan laut biru yang jadi benteng pembatas - hanya punya kasus kurang dari seratus orang. Saat hujan reda di akhir bulan, mereka yang positif terinfeksi coronavirus jadi 365 orang. Ada tambahan sebanyak 266 orang. Darimana mereka datang? Mereka ada di sekitar kita seturut transmisi lokal yang terus meroket. Orang-orang itu berubah jadi carrier tanpa mengerti. Di Maluku Utara, kasus positif sepanjang Juni bahkan melebihi 500 kasus baru. Penambahan ini membelah kebenaran.

Masyarakat praktis jadi dua. Ada yang percaya coronavirus adalah pandemi yang meluluhlantakan banyak bangunan kesehatan dengan segala akibatnya seperti angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Mereka yang percaya itu, meresponsnya dengan ketaatan menjalankan protokol kesehatan. Namun ada juga yang meyakini bahwa ini adalah konspirasi, semacam hoaks yang didesain, sesuatu yang tak patut dipercaya dan karenanya purbasangka dientaskan. Mereka menolak dengan banyak alasan. Karena itu kita butuh kebijakan. Sesuatu yang tidak membenarkan dirinya tetapi tidak pula menyalahkan yang lain. Kebijakan mirip pelangi yang muncul saat hujan usai. Sapardi Djoko Damono menuliskan dengan rasa yang sehati.

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan di bulan Juni
Dihapuskannya jejak jejak kakinya
Yang ragu ragu di jalan itu

Butuh kebijakan yang tak ragu. Keraguan hanya milik mereka yang tak punya cita cita.  Tak punya niat melawan coronavirus. Sesuatu yang paling “berbahaya” dari coronavirus adalah kecepatannya saat menyebar. Kita butuh mengimbangi yang cepat itu. Butuh penegakan diagnostik untuk memisah mana yang terinfeksi dan mana yang belum. Ada alat untuk mengujinya. Semacam laboratorium yang berstandard global. Biar hasilnya akurat dan dipercaya. Jika alat itu tidak ada, kita hanya bisa menunggu “hujan” berhenti. Ibarat balapan motoGP, coronavirus menempel dipunggung Valentino Rossi. Sementara kita beradu cepat dengan motor bebek yang olinya jarang diganti, mesinnya sering mati. Jadinya, saat coronavirus sudah begitu jauh menyebar, kita bahkan belum punya cara mengejarnya.

Jumlah kasus terus meningkat. Yang sembuh tak banyak. Kematian mengekor dengan pasti. Butuh sesuatu yang “militan”. Sebuah tindakan yang tak normal karena kita memang masih darurat kesehatan. Tapi saat tindakan yang tegas itu tak kunjung datang. Kita terjebak pada sebuah labirin yang tak berujung. Kegelisahan menyergap dalam sepi. Bertanya tak melahirkan jawaban. Diam ibarat mengundang maut. Dulu kita melawan lalu diajak berdamai. Besok-besok kita akan melawan lagi karena coronavirus nyatanya tak berhenti. Sama seperti kita menanti hujan mereda di bawah langit yang hitam. Sapardi Djoko Damono memahat hujan pada enigma yang tak terucap.

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan di bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Hujan bulan Juni memang istimewa dan misterius. Ada kecemasan dan pengharapan yang saling mengunci pada kata kata. Hujan melatih ketabahan. Biar tak ragu dan lebih arif. Karena sejatinya hidup adalah proses yang dimulai dari “akar” yang kokoh. Tempat pohon berpijak dan meneguhkan semerbak bunga-bunga.


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Korban

#ESAI - 10/08/2020 · 3 Menit Baca

Media dalam Riuh Rendah RUU PKS

#MEDIA - 10/08/2020 · 5 Menit Baca