× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Banau

Terlupakan dalam kebisuan.

Direktur LSM RORANO
Banau
Ilustrasi. Kompas.

11/07/2020 · 15 Menit Baca

Engkau yang datang penuh misteri
Hanya ingin teriakan kata merdeka
Sebagimana moyangmu yang perkasa
Katarabumi dari bukit Tagalaya..

Kata adalah bagian dari ingatan yang kerap terjebak di antara lupa. Dengan kata, kita mencoba menyusun jejak sejarah masa lalu. Terkadang bentuknya jadi puisi sebagaimana penggalan “Sajak-Sajak Bumi Banau” punya Rusli Jalil yang saya kutip di awal tulisan ini. Rusli, seolah ingin merangkum semangat perlawanan lampau para Kolano yang terus menginspirasi dalam serentang masa.

Katarabumi dalam buku Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah, merupakan Kolano Jailolo terbesar. Ia adalah salah satu bangsawaan yang diangkat jadi Mangkubumi. Lalu secara perlahan makin kuat dan akhirnya berkuasa setelah penguasa Jailolo, Kolano Jusuf, mangkat. Sementara putranya, Firuz Alauddin dalam keadaan sakit-sakitan.

Di bawah Katarabumi, kekuasaan Jailolo membentang hingga ke Moro dan sebagian besar Halmahera. Jailolo tak tersentuh, meski sering diserang Ternate yang dibantu Portugis. 

Nama Katarabumi sendiri adalah sebutan lidah Portugis yang kesulitan menyebut nama aslinya, Kolano Tarkibun. Kadang, mereka juga menyebutnya Catabruno.

Katarabumi adalah turunan Kolano. Garis turunannya sampai ke Muhammad Arif Billa di Tahane, yang jadi panglima dalam Perang Nuku. Turunan Katarabumi juga ada di Dufa-Dufa Ternate, Soasio Tidore, Mareku, Toloa, Tomalou, Weda, Moti, Makeang hingga Seram Timur.

Ketika berkuasa, ia adalah Kolano yang melawan upaya kristenisasi kala itu. Ia mengamuk karena para penginjil mengkonversi orang-orang yang telah Islam menjadi Kristen. Mereka melanggar perjanjian yang dibuat Sultan Khairun dengan Portugis, bahwa boleh mengkristenkan tapi hanya orang-orang yang belum beragama.

Ironisnya, langkah Katarabumi yang menegakkan perjanjian itu, malah diperangi Khairun dengan memperkuat armada Portugis menghantam Jailolo. Jailolo terkepung. Mereka hanya bertahan dan penderitaan rakyatlah yang memaksa Katarabumi menyerah.

Versi Portugis menyebut Katarabumi menyerahkan diri lalu dipaksa sesuai agama Katolik, beristri satu dan menceraikan istri-istri lainnya. Kolano ini menolak dan minum racun lalu mati. Versi ini dibantah keturunan Katarabumi dan cerita rakyat yang berkembang bahwa Katarabumi diserang saat Jailolo mengalami musibah bencana alam. Tak tega rakyatnya saling bunuh dengan Ternate. Kelaparan dan terkepung Portugis, ia memilih turun tahta dan masuk hutan, menyepi.

Sebagian keturunannya meyakini Sang Kolano meninggalkan Jailolo menuju Weda. Itu sebabnya selat di depan Sagea disebut Bobane Jailolo. Sementara hutan di Jailolo, konon tak ada yang tak bernama. Semuanya punya sebutan. Itu sebabnya jika para tetua di Jailolo hendak ke hutan untuk mencari kebutuhan hidup dan rorano, mereka akan meminta siloloa pada Sang Kolano. Mereka yakin, Katarabumi masih bersemayam di hutan-hutan itu yang punya “nama dan batas”.

***

Batas di sini juga adalah bagian dari keyakinan. Sesuatu yang banal. Yang diwariskan secara turun temurun. Ada kemerdekaan yang ditegakkan dan berdiri bebas mulai terusik. Keresidenan Ternate mulai dijadikan sebagai pelabuhan perdagangan bebas pada tahun 1854. Tekanan ke Halmahera kemudian meningkat. 

Kewajiban menyuplai komoditas-komoditas ekspor dari penduduk Halmahera (Jailolo, Sahu, Loloda, Kao, Galela dan Tobelo) jadi keharusan. Ini diperparah dengan kewajiban upeti serta pajak tinggi untuk penguasa di Ternate, yang memicu kembali embrio perlawanan.

Peneliti sejarah Univeritas Khairun Ternate, Irfan Ahmad menyebut, semasa kanak, Banau telah menyaksikan rakyat Jailolo bekerja keras untuk hidup. Kondisi kala itu diperparah dengan kerja rodi untuk Belanda. Belum lagi pajak yang begitu besar yang diterapkan oleh Pemerintah Kolonial. Kebencian terhadap Belanda bertambah karena Kesultanan Ternate tidak dapat berbuat banyak. Lahirlah pemberontakan Dano Baba Hasan (1875-1876) yang menuntut haknya sebagai Kolano. Saat itu, Banau masih kanak-kanak.

Selain kerja rodi membuka jalan dan lahan perkebunan, Belanda juga menetapkan kewajiban berbentuk natura - sejenis pajak bumi - yang setiap tahun wajib dikirim ke Ternate seperti damar, rotan, kayu cendana, kayu besi, kayu jati, sagu, kelapa, jagung, beras dan burung cendrawasih.

Setiap tahun, menurut Hanna A. Willard dan Des Alwi dalam buku “Ternate dan Tidore: Masa Lalu Penuh Gejolak”, Afdeeling - wilayah setingkat kabupaten - seperti Jailolo, Sahu, Gamkonora, Loloda, Kao dan Galela, harus mengirim 20 orang dan empat kora-kora bagi pelayanan umum, 275 pon beras putih sosoh (tumbuk) dan 42 pon beras yang belum sosoh bagi setiap penduduk laki-laki. Untuk wanita yang belum menikah, 5 pon beras tumbuk dalam bakul yang indah. Afdeeling Kao juga harus memberikan 12 orang dan 4 kora-kora untuk pelayanan umum ditambah upeti lain berupa satu botol atau seperdua mutiara.

Kao juga harus mengirim 50 orang laki laki dewasa untuk dipekerjakan di kapal yang berlayar secara teratur antara Ternate dan Sulawesi. Selain itu, rakyat Jailolo dan sekitarnya juga berkewajiban menyerahkan upeti. Sedangkan para Sangaji dari distrik-distrik Jailolo dan Sahu juga berkewajiban menyediakan beras dan sagu setiap tahunnya dalam jumlah tertentu bagi kebutuhan Ternate dan para pegawai Belanda.

Banau tumbuh dalam kondisi sulit ini. Tak ada keterangan tertulis kapan ia lahir. Ayahnya Alum adalah seorang nelayan asal Desa Tuada. Ibunya bernama Musiri. Beberapa keterangan lisan menyebut lelaki perkasa yang bernama lengkap Banau Bin Alum Bin Abdul Gani ini lahir sekitar tahun 1870-an. Beranjak remaja, Banau jatuh cinta pada gadis sekampung bernama Adawiah. Pasangan muda ini lalu menikah dan dikarunia seorang putera yang diberi nama Sulaiman. Berbilang bulan kemudian, Banau pergi ke Kao. Saya menduga, pilihan ke Kao adalah bagian dari pengembaraan untuk mencari sesuatu yang “militan”.

Keserakahan Belanda yang merampas tanah dan batas-batas yang digariskan para leluhur harus dilawan. Butuh militansi. Ada transformasi yang mengubah sesuatu yang subyektif jadi universal. Banau tidak ingin terpenjara pada ke-aku-an. Ia meninggalkan keluarga dan menerobos batas kungkungan agar merdeka. Merdeka di sini bukan untuk dirinya semata, tetapi untuk sesuatu yang lebih besar. Masa depan rakyat tanpa penindasan. Sebagaimana kata-katanya:

“afa fonyiha mote mancia walanda, coba ua ngone ana golaha susa lebe laha fosone wange ne afa sado ngone fo susa sado ngofa se dano”. (Jangan mau dijajah oleh Belanda, jika kita terus dijajah, lebih baik mati hari ini dari pada susah sampai anak cucu kita). 

Ini semacam ideologi perlawanan yang merestorasi perjuangan Katarabumi dulu.

Selama di Kao, Banau terlibat dalam pertemuan-pertemuan hingga terjadinya Perang Kao tahun 1908. Lagi-lagi pajak dan upeti jadi penyulut perlawanan rakyat. Irfan Ahmad menyebut nama Tengku Idris, ulama asal Aceh yang jadi sosok tempat Banau berguru ilmu agama dan perang. Tengku Idris adalah tawanan perang Aceh yang dibuang Belanda ke Halmahera. Ia dikabarkan sering berkeliling beberapa daerah untuk mengobarkan semangat melawan Belanda. 

Dalam catatan yang lain, Tengku Idris ternyata dibuang ke Ternate. Ia adalah pemimpin yang mengorganisir penyerangan rakyat Aceh terhadap posisi Belanda di Meukek, Aceh Selatan tahun 1905. Pasukan Tengku Idris adalah bagian dari sayap militer pimpinan Teuku Ben Mahmud yang bergerilya melawan Belanda hingga ke Tapaktuan dan perbatasan Sumatera Utara.

Yang hidup dalam pembuangan di Halmahera justru pejuang asal Riau. Namanya Lamtohadi yang bergelar Datuak Sinaro Nan Putiah. Dalam catatan Suwardi MS, Guru Besar Sejarah Universitas Riau, Lamtohadi berjuang mempertahankan negeri Kuantan saat Belanda menyerbu Riau. Ia adalah pemimpin rakyat dalam Perang Manggis yang pecah karena Belanda merampas hak tanah dan menindas rakyat dengan upeti yang besar. 

Lamtohadi tertangkap setelah benteng Pintu Gobang jatuh. Ia ditahan dalam  penjara Tanjung Pinang selama tiga tahun antara 1905 hingga awal 1908. Di tahun yang sama, Lamtohadi dikirim ke pembuangan di Halmahera. Ia hidup di Halmahera hingga meninggal. Ada banyak turunan Datuak ini yang belum ditelusuri termasuk hubungannya dengan Banau.

Usai Perang Kao yang berujung penangkapan dan pembunuhan sejumlah pejuang, Banau pulang ke Tuada. Cita-citanya mengusir Belanda tak padam. Ia mulai bergerilya di Jailolo. Mendatangi banyak tempat bertemu rakyat. Menyebar ideologi menolak penindasan. Di sisi kolonial, Belanda makin merajalela karena krisis keuangan kala itu di negaranya. Pajak tambahan diberlakukan. Penanaman sagu ditingkatkan. 

Pada tahun 1914, kondisi Jailolo makin panas setelah Belanda mengirim seorang Kontrolir bernama Karel Bernard Agerbeek. Banyak peraturan baru dari Residen di Ternate yang harus dijalankan oleh Kontrolir yang baru. Beberapa kepala kampung yang beragama Islam diberhentikan dan digantikan dengan kepala kampung yang berasal dari suku pribumi. Belanda meyakini para kepala kampung yang tidak beragama jauh lebih loyal.

Kebijakan Agerbeek seperti menyulut sekam. Banau makin membara. Rapat-rapat terbatas dilakukan. Pemberontakan disiapkan. Banau diminta memimpin. Ia diyakini punya kemampuan mengatur dan menguasai strategi dan memiliki nyali petarung. Banau dibantu empat kapita; Yoga, Madi, Adam Lamo dan Poen. Pada 12 September 1914, Banau memimpin penyerangan terhadap kediaman Agerbeek. Agerbeek sendiri tewas bersama tiga prajurit Belanda. Seorang pekerja Belanda lolos dan melarikan diri ke Ternate.

Informasi pemberontakan Banau membuat Residen Ternate, Palmer Van Den Broek marah besar. Ia lalu mengirim satu brigade infanteri yang dipimpin oleh Letnan Ouwerling. Polisi yang dipersenjatai juga ikut dikirim ke Jailolo. Pertempuran pecah saat pasukan Belanda tiba. Banyak yang tewas di kedua kubu.

Pada tanggal 14 September 1914, Ouwerling memimpin pasukan berangkat ke kampung Porniti dan kembali perlawanan dilakukan. Ouwerling tewas bersama sejumlah anak buahnya. Belanda dipukul mundur. Tak mau dipermalukan, Belanda kembali mengirim pasukan berkekuatan besar untuk menangkap Banau. Namun rakyat bungkam, melindungi. Gunung dan hutan pun menutup diri. Tak ada jejak.

Belanda akhirnya mengambil “jalan memutar” yang licik. Rakyat disiksa. Sultan Ternate Muhammad Usman Syah juga diinterogasi sebelum diasingkan ke Bacan. Tuduhannya ikut berkomplot dengan Banau. Merasa bertanggungjawab, Banau memilih menyerahkan diri. Ia tak ingin rakyat dan Sultannya menderita.

Banau yang memberontak untuk menjaga “batas-batas” itu lalu dihukum mati di tiang gantungan. Sebuah akhir yang agung. Mengulang epos Katarabumi. Apa yang diwariskan? “Nisan yang meninggalkan jejak tanya” seperti dituliskan Uchie di akhir puisinya?.

***

Saya melihat kebesaran warisan itu berbentuk ideologi perlawanan. Melawan ketidakadilan. Melawan kepongahan yang kerap berwajah santun. Kita seharusnya terus belajar dari Banau untuk tidak dihinakan atas nama apapun. Hak kita atas “batas-batas” itu sejak lalu dan nanti adalah legacy yang tak boleh digadaikan. Apalagi dibiarkan terampas. 

Banau dahulu menghidupkan lagi “sel-sel” perlawanan Katarabumi dan Baba Hasan untuk menjaga “batas-batas” itu di antara hutan yang menyembunyikan gunung dan sungai. Sesuatu yang dulu dikobarkan api perlawanannya oleh Babullah lalu diaminkan Nuku.

Ia menggerakan “sel-sel” yang bisa menyatukan para Alifuru Halmahera untuk berperang. Mereka ini adalah bagian dari Soa Nyagimoi. Klan “Kesepuluh” yang belum beragama dan konsisten menjaga “batas-batas” dengan keyakinan bahwa mati adalah sebuah kehormatan daripada hidup terjajah di atas tanah yang dirampas kolonial.

Kolonial dulu adalah bangsa asing. Saat ini kolonial tak lebih dari sekelompok pribumi berwajah kapitalis yang disuapi cukong. Tanah yang di atasnya ada “batas-batas” bagi kita berarti penanda kelahiran. Sumber kehidupan. Jaminan masa depan. Tak boleh tergadaikan.

Ideologi perlawanan Banau jangan sampai ikut mati. Terlupakan dalam kebisuan. Saya jadi ingat sebuah puisi pendek penuh keyakinan yang terselip dalam novel “Laut Bercerita” punya Leila S, Chudori; Matilah engkau mati. Engkau akan lahir berkali-kali.

Dengan itu pula, kita mengingat Banau yang Agung. Yang menjaga “batas-batas”.


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca