× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Menggugat Kematian

Oleh Gufran A. Ibrahim.

Content Creator
Menggugat Kematian
Ilustrasi. Pixabay.

14/07/2020 · 3 Menit Baca

Menggugat Kematian
Oleh Gufran A. Ibrahim
Guru Besar Antropolinguistik FIB Universitas Khairun

 

"Jangan mati di masa pandemi." Ini semacam gugatan yang disodorkan penyelenggara seminar daring ini.[i] Tapi sebelum tiba pada perkara kepada siapa gugatan itu dialamatkan, kita perlu ingat bahwa ternyata tak satu pun peristiwa dalam kebudayaan kita tidak menggunakan bahasa. 

       Kebudayaan tumbuh karena disemai bahasa. Kebudayaan A—Z kita tumbuh dan maju karena kita menghidupkan bahasa. Meskipun dalam terminologi kebudayaan, bahasa diletakkan sebagai anasir kebudayaan, dalam praktiknya, bahasa dan kebudayaan saling menghidupkan. Relasi keduanya seperti awan dan hujan, seperti kayu bakar dan api, bahkan seperti laut dan arus. Kebudayaan tanpa bahasa adalah kesunyian, sedangkan bahasa tanpa kebudayaan kebisuan. 

       Sebab itu, Leslie White—antroplog kognitif—menyatakan posisi bahasa dalam kebudayaan dengan satu pertanyaan retoris, Remove speech from culture and what would remain? Ya, kalau tidak ada bahasa, masih adakah kebudayaan? Mungkin hanya ada kesunyian dan kebisuan, karena manusia tidak mempercakapkan dan menghidupkan kebudayaan dengan bahasa yang dibikin dan dipilihnya.

       Bahasa yang dimaksud di sini bukan sebatas artikulasi sintaksis dalam bangunan wacana. Dalam kerangka ini, bahasa adalah segala sediaan kesadaran dalam struktur batin, deep-structure, dalam alam pikir kita, lalu kita ejawantahkan ke dalam struktur lahir, surface structure, berupa anasir bunyi, kata, kalimat, dan wacana yang merekam sekaligus meresonansikan kebudayaan kita. Jadi, bahasa adalah proses transformatif alam pikir manusia yang tidak sekadar berbicara—karena kita memang hewan yang bercakap-cakap, animal speaking, al-hayawan al-natiq—tetapi juga cara kita membentuk dunia kita.   

       Melalui proses transformatif itu, kita bentuk, kita kuasai, bahkan kita manipulasi percakapan-percakapan untuk menyusun “batu bata” alam pikir kita menjadi bangunan yang (kemudian) kita beri nama kebudayaan. Bahasa adalah respons-respons dan penciptaan ikhtiar kita terhadap perubahan-perubahan dalam segala mileu mondial yang kita hadapi dan kita bikin sendiri.

       Nah, ketika pandemi Covid-19 datang memukul segala sendi kehidupan kita, terutama nyawa kita—anasir biologis sekaligus teologis yang membuat kita hidup—dan membikin segala kerumitan di dalamnya, kita membangun respons-respons. Salah satu respons kita atas deraan wabah global itu adalah mempercakapkannya. Kita mempercakapkan kesimpangsiuran angka pertambahan kesakitan dari hari ke hari. Kita mempercakapkan kesigapan, juga kegagapan kita dalam mengatasi wabah ini; bahkan sampai pada satu titik ekstrim, kita memperbalahkan, apakah kematian seseorang—entah itu saudara kita, kawan kita, kolega kita—karena wabah ini atau karena sebab sakit lain.

       Sampai pada titik ini, Covid-19 tidak hanya membikin kita takut, cemas, dan panik, tetapi sebegitu dekat ia datang seakan-akan mempersoalkan demarkasi yang begitu tipis antara kehidupan dan kematian. Sebagai sebuah peristiwa perpindahan alam yang dialami semua makhluk hidup, termasuk manusia, karena alasan biologis dan teologis, kematian telah bercampur aduk dalam suasana ketidakpastian dan kemampuan kita mengelola pandemi. Relasi antara warga dan pemerintah menjadi tegang karena masing-masing berpegang pada kebenarannya sendiri-sendiri; dan semua itu bertumpu pada keidakpastian, terutama kepastian status pesakit dalam masa pandemi. 

       Tulisan ini tidak membahas soal kematian karena korona atau bukan korona. Tetapi, ketidakpastian—atau tepatnya kebenaran yang dipegang pemerintah dan warga—kecepatan penanganan wabah dan lambannya responsibiltas kita, begitu juga tidak tertibnya warga mematuhi protokol kesehatan adalah garis kontinum problem yang telah mengantar kita semua pada satu titik penting dalam kehidupan: bagimana membahasakan kehidupan dengan definisi kematian. 

       Pada titik inilah kita memprotes, bahkan menggugat dengan macam-macam pilihan bahasa: “kalau sakit, jangan ke rumah sakit”, “jangan sakit di masa pandemi”, bahkan “jangan mati di masa pandemi.” Ini bukan sekadar perkara kata dan kalimat, tetapi lebih dari itu, ini adalah alam pikir kita yang telah terbentuk dalam struktur batin kita kemudian mengejawantah ke tampilan-tampilan percakapan kita. 

       Lalu kepada siapa gugatan ini kita alamatkan? Pemerintah? Tuhan? Terlepas dari pilihan-pilihan jawaban yang bisa kita berikan, kelambanan penanganan wabah, kesimpangsiuran angka dan status kesakitan serta ketidaktertiban warga—kalau tidak mau dikatakan bebal—pandemi ini telah menciptakan tafsir masing-masing pihak tentang kehidupan sekaligus kematian, satu rangkaian peristiwa alamiah sekaligus teologis. 

       “Jangan mati di masa pandemi” bisa jadi bukanlah gugatan kepada siapa pun, termasuk kepada Tuhan. Ini mungkin semacam cara manusia, yang terus mau hidup, ingin berdamai dengan dirinya sendiri. Sebagai makhluk hidup, manusia secara naluriah sedang mengambil mekanisme pemertahanan hidup, manakala segala ikhtiar telah diambil. 

       “Jangan mati di masa pandemi” mungkin adalah cara manusia, yang punya bahasa, mau berkabar bahwa garis pisah antara hidup dan mati mungkin hanya setipis selaput, tetapi bila secara teologis Tuhan masih meneruskan kehidupan, maka kematian janganlah datang di masa pandemi, karena definisi-definisi medis dan sosial tentang kematian sudah terlanjur menjadi “bahasa yang sama” atau “bahasa yang berbeda.” 

       Bisa jadi, “jangan mati di masa pandemi,” secara mondial adalah semangat untuk hidup, dan di lain sisi, secara teologis, adalah permohonan kepada Tuhan pencipta kehidupan agar manusia masih diberi kesempatan untuk hidup. Kematian memang ujung dari satu fase kehidupan, tetapi tidak ada satu pun makhluk hidup ingin mati, kecuali kematian, dengan segala sebabnya, akan datang kepada setiap makhluk hidup. Kalau demikian, apakah “jangan mati di masa pandemi” adalah gugatan kita kepada pemerintah, atau mekanisme naluriah setiap makhluk “ingin hidup seribu tahun lagi”—meminjam Chairil Anwar—atau protes kita pada Tuhan?

       Lepas dari tiga kemungkinan ini, dalam masa pandemi ini, kita sedang “menggugat kematian” dalam cara-cara kita ingin berdamai dengan wabah.

 

[i] Materi pengantar seminar daring yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun dengan tajuk “Jangan Mati di Masa Pandemi: Dari Pengambilan Paksa Pasien dengan Protokol Covid-19, Tinjauan Sosial, Budaya, dan Politik”, 11 Juli 2020, pukul 11.00—13.30 melalui Zoom Meeting.


Share Tulisan Lefo Ikhtisar


Tulisan Lainnya

Korban

#ESAI - 10/08/2020 · 3 Menit Baca

Media dalam Riuh Rendah RUU PKS

#MEDIA - 10/08/2020 · 5 Menit Baca