× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#IPTEK

Alasan Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi Kita di Media Sosial

Memakainya tanpa hati-hati dapat memudahkan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan datamu.
Alasan Pentingnya Menjaga Keamanan Data Pribadi Kita di Media Sosial
ilustrasi foto: dribbble.com/angeltseva

08/08/2020 · 5 Menit Baca

Kasus tuduhan melanggar privasi yang dialami oleh Google bikin banyak orang nggak sadar kalau mereka masih kena pantau dalam mode pribadi atau mode 'incognito'. Jendela rahasia ini memang banyak dipakai oleh sebagian orang untuk mengakses bokep atau buat mereka yang tidak mau aja riwayat jelajahnya ketahuan temen kantor atau istri sendiri. Dengan kata lain, akivitas kita di internet tidak akan tersimpan jika mode ini diaktifkan. Pemahaman ini diyakini oleh para pengguna internet dahulu sampai pada akhirnya hari ini mode 'incognito' tak lagi seaman itu.

Beberapa waktu lalu Google digugat secara "class-action" pada tanggal 2 Juni 2020 atas tuduhan pelanggaran privasi dengan mengumpulkan data pengguna dengan alat pelacakan, seperti Google Analytics, Google Ad Manager, dan aplikasi lainnya termasuk aplikasi ponsel. Raksasa teknologi ini disinyalir memantau aktivitas pengguna termasuk saat menggunakan mode 'incognito', kok bisa? Mode pribadi pada Google Chrome ini membebaskan penggunanya berselancar di internet dengan aman tanpa harus meninggalkan password penting, namun nyatanya Google tetap memantau dan mengumpulkan riwayat pencarian dan semua aktivitas kita terlepas dari perlindungan yang sudah diambil pengguna untuk merahasiakan privasi selama mengakses internet.

Gugatan tersebut diajukan oleh Chasom Brown, Maria Nguyen, dan William Byatt di California, Amerika Serikat. Menurut klaim mereka Google bisa merekam dan mempelajari tentang teman, hobi, makanan kesukaan, kebiasaan berbelanja hingga "hal-hal memalukan" yang pengguna cari di internet. Gugatan itu dilayangkan melalui Pengadilan Distrik Utara California. Nampaknya Google ngibulin penggunanya dengan iming-iming keamanan serta kerahasiaan, atas hal tersebut perusahaan harus mengganti rugi setidaknya USD 5 miliar atau setara Rp70 triliun.

Melansir vice.com, dalam menyikapi tuduhan yang dialamatkan kepada perusahaannya Google membantah telah memantau semua aktivitas pengguna saat mengaktifkn mode pribadi. "Aktivitas pengguna di internet tidak akan tersimpan di browser atau perangkat jika mode 'incognito' pada Chrome dinyalakan. Seperti yang sudah dinyatakan setiap anda membuka tab 'incogito', situs web bisa menumpulkan informasi pencarian selama anda menjelajahi internet," kata juru bicara Jose Castaneda kepada New York Times.

Apa Sih Mode Pribadi 'Incognito' Itu?

Sudah bukan rahasia bahwa privasi sangat sulit didapatkan ketika kita masuk ke dalam internet. Semua riwayat kita akan tersimpan dan itu akan menjadi data yang bisa saja digunakan oleh perusahaan besar untuk kepentingan mereka apalagi yang berbau profit perusahaan. Cara paling umum yang bisa kita lakukan untuk menjaga privasi kita adalah dengan menyalakan mode 'incognito'.

Sebagian besar pengguna internet pastinya sudah familiar bahkan sering menggunakan mode ini untuk menjelajahi internet. Mode pribadi ini dirancang untuk menghapus data lokal apa pun selama kita mengakses web pada browser. Artinya situs yang kita kunjungi tidak bisa mendapatkan cookies milik kita karena sudah terblokir secara otomatis selain itu, tidak ada penelusuran yang direkam dalam riwayat pencarian lokal.

Jangan merasa aman dulu, ada pertanyaan apakah mode 'incognito' bisa melindungi komputer atau laptop kalian dari malware dan kejahatan siber lainnya? Jabawannya: tidak.

Dalam banyak kasus, mode pribadi yang kita aktifkan pada browser memang bisa melindungi informasi personal aga tidak dicuri orang lain. Tapi itu hanya edikit membantu pasalnya, mode penyamaran tidak memiliki paket keamanan dan tidak didesain untuk memproteksi data dan perangkat yang kita gunakan dari malware. Sebagai catatan 'incognito' tidak memiliki kemampuan mengenali virus. Malware masih bisa dengan mudah diunduh meskupin mode penyamaran aktif walau demikian laptop yang kalian gunakan sudah terinfeksi virus atau malware. Mode 'incognito' tetap tidak bisa menahan informasi pribadi kita dicuri oleh program jahat yang ada di jaringan internet.

Data Pribadi Kita Juga Sasaran Empuk 'Broker Data'

Berkaca dari kasus yang dialami Google dan fitur mode senyap yang ditawarkan oleh browser seperti Chrome atau Mozilla Firefox tak membuat data pribadi kita benar-benar aman lho. Ketika kita menjelajahi internet, mulai dari belanja online, membeli mobil, rumah,  nge-like Instagram maupun Facebook, sampai membayar tagihan kartu kredit tentu meninggalkan jejak digital. Mungkin belum ada yang tahu jika jejak digital yang nggak sadar kita tinggalkan itu menjadi lapak keuntungan bagi Broker data.

Apa itu Broker data? Broker data adalah pihak yang mengumpulkan informasi tentang konsumen kemudian menjual data tersebut ke perusahaan maupun ke personal. Para broker data ini tidak memiliki hubungan langsung dengan orang-orang yang datanya mereka ambil. Secara nggak langsung, orang-orang yang mengakses internet kebanyakan tidak sadar data mereka sedang diambil secara diam-diam.

Analis dan koordinator di Electronic Frontier Fondation, Amul Kalia menyebutkan jika masih banyak orang yang tidak mengetahui perusahaan-perusahaan mana saja yang memanfaatkan data pribadi pengguna internet ketika mereka sedang asik nge-like postingan di sosial media. "Kebanyakan orang tidak tahu siapa perusahaan-perusahaan ini dan bagaimana mereka bisa mendapatkan data pribadi seseorang, dan orang akan kaget apabila tahu seberapa banyak informasi yang mereka punya tentang anda", dilansir Vice.com.

Pertanyaan selanjutnya, darimana broker mendapatkan datamu? sebenarnya broker data mengumpulkan banyak informasi dari banyak arsip yang beredar di internet. Misalnya arsip publik, arsip properti, arsip pengadilan, arsip SIM, data sensus, akte kelahiran, akte pernikahan, hingga arsip perceraian. Selain semua hal yang terkait dengan data personal, para broker ini juga membeli informasi dari sumber komersial dengan mengambil riwayat pembelian pengguna termasuk tanggal, jumlah uang, cara pembayaran, dan kupon yang digunakan. Sumber data atau informasi yang mereka peroleh kebanyakan berasal dari media sosial, priwayat jelajah pengguna di web browser, aplikasi kuis, dan sumber lain yang tersedia untuk umum.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Memberikan informasi ketika mengakses media sosial bikin kita rentan terhadap pengumpulan data broker. Beberapa orang bahkan kita pun masih lengah dengan mudah memberikan tanggal lahir sebagai password, alih-alih supaya mudah diingat. Cara terbaik melindungi informasi pribadi kita adalah dengan menjadi proaktif dan tidak memberikan informasi ke orang lain termasuk dalam hal berbisnis harus yakin dengan komitmen untuk tidak menjual data yang kita miliki.

Tak sampai di situ, disiplin dalam mengakses sosial media seperti mengaktifkan mode privat pada Instagram atau Twitter menjadi langkah yang tepat untuk menghambat pengumpulan informasi kalian oleh Broker. Selain itu, jangan coba-coba mengikuti kuis-kuis online yang banyak beredar secara online sebab tidak ada yang bisa menjamin keamanan informasi yang kalian berikan ketika mengikuti kuis tersebut.

Koordinator Regional SAFEnet (Southeast Asia Freedom of Expressin Network) Damar Juniarto kepada Dailysocial mengatakan, masih banyak kasus penyelahgunaan data pribadi tak lepas dari tingkat literasi digital masyarakat yang masih rendah. Terlepas dari motivasi pelaku, kita masih kesulitan membedakan mana data yang bisa disebar ke publik dan mana yang tidak. Parahnya saat ini hanya dengan menelusuri nomor identitas diri seseorang di mesin pencari kita bisa dengan mudah menemukan data pribadi seperti NIK bahkan KK seseorang.

Sebenarnya perlindungan data pribadi tidak hanya mencakup informasi seperti nomor KTP atau KK, tetapi juga semua data lain yang menyangkut diri pribadi yang bersangkutan termasuk data keluarga, harta kekayaan, dan lain-lain. Meskipun sudah ada beberapa regulasi yang mengatur mengenai data pribadi, publik tetap membutuhkan aturan khusus yang fokus menangani data yaitu UU Perlindungan Data Pribadi (PDP).

Menurut Damar, adanya UU PDP akan memayungi aturan mengenai data yang tersebar di berbagai sektor. Nantinya beleid ini akan memudahkan negara dan masyarakat dalam menangani kasus penyalahgunaan data yang kerap kali dilakukan secara terpisah dan memakan waktu karena butuh koordinasi antarsektor dan lembaga. "Kalau UU PDPD ini muncul, dia akan jadi omnibus law yang memayungi semuanya menjadi lebih kuat," tuturnya. Sayangnya publik harus bersabar, sebab kebutuhan UU PDP ini masih terganjal dalam proses legislasi. Setelah beberapa tahun berbentuk draft, RUU PDP berhasil masuk daftar prioritas program legislasi nasional (Prolegnas) di DPR.


Share Tulisan Restu Saputra


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca