× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#OPINI

Kemelut Hagia Sophia

Pandangan kritis tentang kebijakan Hagia Sophia.

Mahasiswa Magister Studi Qur'an-Hadis
Kemelut Hagia Sophia
gopos.id

09/08/2020 · 1 Menit Baca

Hagia Sophia pada dasarnya merupakan bangunan yang didirikan untuk menjadi wadah beribadah orang Kristen Ortodoks di Konstantinopel kala itu. Sebelum ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II, kota ini telah mengalami masa kemunduran yang ditandai dengan penyerangan Pasukan Salib terhadap kota Konstantinopel, dan dilanjutkan dengan beberapa krisis akibat perang yang terjadi pada negeri-negeri sekitar kala itu. Sehingga membuat dari ekonomi kota ini telah hancur. 

Maka, ketika pasukan Sultan Mehmed II menyerang, secara hitung-hitungan pastilah kalah telak. Dari jejak hostoris ini, dapat disimpulkan bahwa penyerangan terhadap Konstantinopel bukanlah semata-mata kedikdayaan Islam, atau superioritas Islam, namun telah ada faktor internal dan eksternal yang membuat Konstantinopel jatuh.

Dari segi hadis tentang ramalan Rasulullah terkait jatuhnya Konstantinopel pun, perlu dikritisi, mengingat dari segi perawi hadis ini dikategorikan sebagai perawi yang lemah. Bahkan, dalam buku "Hadits Lemah dan Palsu Yang Populer di Indonesia" halaman 286-287, hadis ini termasuk salah satu di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis dalam menerima hadis perlu untuk ditingkatkan lagi. Pandangan terhadap hadis yang cenderung tekstual dapat meruntuhkan nilai kemukjizatan akal yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Mari kita lihat hadis tersebut; Dari Abdullah bin Bisyr Al-Ghonawi, ia berkata: Bapakku telah menceritakan kepadaku: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ

Artinya:
“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“.

Hadits ini dikategorikan sebagai hadis yang lemah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/235, Bukhori dalam "Tarikh Shoghir", hal. 139, Thabrani dalam "Al Kabir" 1/119/2, Hakim 4/4/422, Ibnu Asakir 16/223 dan lainnya.

Sisi cacatnya hadis ini, ada pada diri Abdullah bin Bisyr Al-Ghonawi, dia seorang perawi yang "majhul" dan hanya di-tsiqah-kan oleh Ibnu Hibban, padahal beliau masyhur atau sering dikenal dengan tasahul-nya (sikap menggampangkan). Meskipun demikian, Imam Al Hakim berkata: “sanadnya shohih dan disepakati oleh Adz Dzahabi” (Silsilah Adh Dha’ifah, hal. 878).

Kembali ke sisi historis. Saat jatuh, Sultan Mehmed II kemudian mengalihfungsikan Hagia Sophia sebagai masjid, dikarenakan "belum ada tempat ibadah secara resmi" saat itu. Berjalan beberapa masa, sampai pada era kepemimpinan Mustafa Kemal Attaturk, Hagia Sophia dialihfungsikan sebagai Museum dan menjadi salah satu warisan sejarah dunia oleh UNESCO. 

Baru-baru ini, kembali seorang Reccep Tayyep Erdogan, mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid. Hal ini menuai banyak pro-kontra. Namun, bagi saya, hal ini adalah langkah keliru, mengingat tujuan dijadikannya Hagia Sophia sebagai Museum adalah langkah untuk melepaskan belenggu keagaamaan yang nantinya akan menjadi kecemburuan antar umat Islam dan Nasrani.

Oleh karena itu, langkah dari Erdogan, saya anggap keliru, mengingat sudah baik tempat itu dijadikan sebagai Museum agar mengenang bagaimana kedigdayaan dua agama besar dalam sistem kenegaraan-kebangsaan. Erdogan juga dianggap berlebihan menjadikan Hagia Sophia sebagai masjid, dikarenakan masjid di Turki yang menjadi induk, ikonik juga megah, telah banyak dijumpai. Saya pun berpandangan bahwa, hal ini dapat menciderai nilai-nilai toleransi di Turki yang sudah sejak lama dibangun.

Langkah ini juga perlu dicatat, bahwa bukan hanya orang beragama lain yang menolak, namun, para intelektual Muslim secara internal Turki maupun eksternal, memberikan pandangan yang tidak sejalan dengan kebijakan Erdogan. Jangan sampai, hanya untuk kepentingan politik semata, dengan melihat notabene masyarakat beragama Islam di Turki yang lebih dominan, sehingga langkah itu menjadi daya tarik untuk melanggengkan kekuasaannya.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca