× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Membaca Kemerdekaan dalam Spirit Nuku

Sulthan Saidul Djehad Muhammad El Mabus Amirudin Sjah Kaicil Paparangan.

Akademisi, Penulis
Membaca Kemerdekaan dalam Spirit Nuku
Ilustrasi. Alfoeren Molukken, Maluku 1880.

16/08/2020 · 5 Menit Baca

"Dalam masa hidupnya, Nuku dikenal sebagai Jou Barakati, "Dewa Fortuna". Ia adalah salah satu dari sejumlah individu langka yang bermunculan dalam sejarah Asia Tenggara yang diwarnai oleh spiritualisme tertentu, aura yang dikenali oleh rakyat dan karenanya diikuti..."(Leonard Y. Andaya, 1993 : 239)

Setiap kali kemerdekaan Indonesia diperingati, yang harus diingat sebagai api proklamasi adalah semangat juang, semangat persatuan, dan semangat membangun negeri (Latif, 2018:149). Bagai merapal doa-doa, selarik semangat di atas tetiba mengingatkan saya pada sebuah epos. Kisah hebat tokoh besar: Sultan Nuku (Sulthan Saidul Djehad Muhammad El Mabus Amirudin Sjah Kaicil Paparangan). Kisah yang patut menjadi nafas dan cermin bagi bangsa dan anak negeri, di tengah kita kehilangan keteladanan kepemimpinan. Kisah Nuku merupakan kisah kepahlawanan, keteladanan, kemanusiaan, kepedulian, dan kesederhanaan yang patut dihidupkan di tengah ruang hidup yang surplus pertentangan dan kegaduhan, serta miskin perenungan. 

E. Katoppo dalam bukunya: “Nuku, Riwayat Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Maluku Utara 1780-1805” (1957:39) menulis; “Ketika Sultan Djamaluddin ditangkap, gemparlah seisi istana Soasiu, beberapa orang pangeran dan bobato hendak mengangkat senjata tetapi ditegur Djamaluddin sendiri. Teristimewa kepada Nuku diberinya pesan, jangan mengadakan perlawanan dengan senjata sebelum disusunnya suatu angkatan perang yang lebih kuat dan teratur daripada yang sekarang ada.” 

Untuk menggantikan Sultan Djamaluddin, diangkatlah Gaydjira untuk sementara waktu sebagai wakil sultan. Oleh putra-putra Sultan Djamaluddin, yakni Kamaludin dan Nuku datang memprotes kepada Gubernur Thomaszen tentang penangkapan sultan dan pengangkatan Gaydjira. Tak lama setelahnya, Gubernur Thomaszen digantikan oleh Gubernur Cornabe. April tahun 1780, Gaydjira wafat, dan Patra Alam Putera Gaydjira diangkat menjadi Sultan Tidore berdasarkan pengaruh dan desakan Gubernur Cornabe. Kebijakan ini jelas membuat Kamaludin dan Nuku memprotes sekeras-kerasnya pada gubernur tentang pengangkatan itu dan juga kepada Patra Alam. 

Dalam protesnya, Nuku mengatakan Patra Alam sama sekali tidak berhak atas tahta kerajaan Tidore, sebab ayah Patra hanyalah wakil sultan. Yang berhak adalah Nuku lalu berikutnya Kamaludin. Menurut Nuku dan Kamaludin, Patra Alam naik tahta dengan jalan korupsi. Demikian juga Cornabe yang telah menerima sogok dari Patra Alam, keduanya telah melakukan kecurangan dan menginjak-injak hukum dan keadilan. 

Setelah Patra Alam merasa dirinya kuat, pada tanggal 2 Juli 1780 dengan mendadak menyuruh pasukannya untuk menyerbu kediaman Kamaludin dan Nuku. Barang-barang dan harta benda dirampas, rumah-rumah dibakar. Kamaludin ditangkap dan diserahkan kepada Cornabe melalui Patra Alam dan dikirim ke Batavia. Sebaliknya, Nuku berhasil lolos, tak ada barang yang dibawa. Hanya pakaian yang melekat di badan : sehelai kemeja dan sehelai celana tua. Tanggal 17 Juli 1780, Patra Alam dilantik selaku Sultan Tidore yang berlangsung di gubernuran dalam benteng Oranye di Ternate.

Ketika upacara pelantikan berlangsung, Nuku bersama istri dan anaknya Abdul Gafar tengah berada di sebuah kora-kora dalam perjalanan menuju Weda dan Patani, disertai beberapa pengiringnya yang setia. Dari Weda dan Patani itu, Nuku bersama-sama dengan sangaji-sangaji dan raja-raja merundingkan organisasi perlawanan terhadap Patra Alam. Tanggal 4 September 1780 terkumpullah berpuluh-puluh kora-kora. Kurang lebih sebanyak 90 buah kora-kora. Separuhnya berasal dari wilayah Salawati yang dipimpin rajanya sendiri yang sejak lama dikenal patuh dan setia pada Sultan Tidore yang sah. 

Lalu wilayah Patani datang dengan 20 buah kora-kora, Raja Misool mengirim 14 buah kora-kora. Sementara Gebe, Waigama dan Waigeo hanya mengirim masing-masing tiga/empat buah kora-kora, sebab wilayah ini kurang mampu. Sebagai organisatoris ulung, Nuku pun mengatur siasat perlawanan dengan Patra Alam. Membuat beberapa rancangan yang amat cerdas, dan menjadikan Patani sebagai tempat pertahanan yang kuat. Di balik Pulau Fau sebuah teluk di Pulau Gebe dijadikan tempat berkumpul kembali. (Katoppo, 1957: 41-42).

Pada tahun 1805 di usia lanjutnya, 67 tahun, keadaan tubuh Nuku makin ringkih dan melemah, tapi kodrat rohaninya begitu kuat. Hampir 25 tahun Nuku berjuang untuk melaksanakan cita-citanya, yaitu untuk kemerdekaan Maluku, bebas dari kompeni Belanda, bebas dari kuasa asing. Dengan program kerjanya: mempersatukan dan membulatkan kerajaan Tidore; memulihkan empat kesultanan Maluku; persekutuan empat kesultanan untuk menentang dan menghapuskan penjajahan asing di Maluku. (Katoppo, 1957, Amal, 2010, Widjojo, 2013).

Satu kesimpulan jujur dari apa yang dikutip Widjojo (2013:338) menyatakan: "Ia (Nuku) adalah seorang negarawan yang berjuang sekuat tenaga bagi kebesaran dan kemerdekaan Tanah Airnya-Maluku."

Di tahun 1805, program kerja mempersatukan dan membulatkan Tidore dapat dikatakan tercapai. Nuku menjalankan politik yang bijaksana baik ke dalam maupun keluar. Kerajaan Tidore berhasil dipoles Nuku menjadi utuh dan kuat secara politis dan ekonomis. Secara politis, kerajaan Tidore era Sultan Djamaludin memiliki wilayah kekuasaan yang mencakup: Pulau Tidore, Maitara dan Mare, Gebe, wilayah Kalana Fat atau Raja Ampat, yakni Waigeo, Salawati dan Misool dengan ratusan pulau-pulau kecil hasil taklukkannya, serta Papua Besar atau Irian Barat. Oleh Nuku diperbesar lagi meliputi: seluruh Seram Timur, Pulau-Pulau Keffing, Geser, Seram Laut, Pulau-Pulau Gorong, Pulau-Pulau Watubela dan Tior. Pula telah dirampas dan diduduki sementara waktu hingga ada pula perdamaian dengan Sultan Ternate : Pulau Makian, Kayoa, dan seluruh jazirah selatan Halmahera, dari Gane hingga Foya.

Secara ekonomi, Nuku berhasil melakukan kerjasama dengan pedagang asing untuk kepentingan wilayah kekuasaannya. Hasil bumi dan laut untuk ekspor dapat dijual dengan harga yang lumayan kepada pedagang-pedagang asing: cengkih, pala, fuli, kulit-masoi, mutiara dan kulit mutiara, karet (kulit penyu), ambar, kulit burung cendrawasih, ikan kering, kulit rusa, tanduk rusa, dan lain-lain. Semuanya mendapat pasaran yang lumayan. Dengan orang Inggris dan Kompeni Belanda, Nuku melakukan persetujuan dagang. Jadi, bukan hanya sultan dan para bobato di pusat yang hidup makmur, akan tetapi kemakmuran era Nuku itu merata hingga ke daerah-daerah.

Nuku adalah satu-satunya Sultan Tidore yang tetap melakukan kunjungan dengan mengitari kerajaannya tiga kali dalam setahun menurut program yang telah ditentukan. Yakni sekali dalam bulan syawal (sesudah hari raya lepas puasa) lebaran atau Idul Fitri; sekali dalam bulan Dzulhijjah (sesudah hari raya Idul Qurban/Idul Adha) dan sekali dalam bulan Rabiul Awwal/Maulid. Selain menilai keadaan daerah yang dikunjungi, Nuku juga mengontrol pemerintahan, apakah rakyat mendapat perlakuan adil dari bawahannya atau tidak. Nuku mau menyaksikan dengan mata kepala sendiri cara rakyat merayakan hari raya, yang saat itu menjadi suatu ukuran taraf kemakmuran, apakah pakaian dan makanan cukup bagi rakyatnya untuk merayakan lebaran dengan penuh suka cita, apakah masjid-masjid terpelihara dengan baik. Demikianlah semangat etos kepemimpinan Nuku terhadap rakyat dan wilayah kekuasaannya.

Dalam politik keluar, Nuku menjalankan politik bebas. Artinya, ia mau hidup damai dan bersahabat dengan kuasa-kuasa asing, asal jangan menyinggung kedaulatan dan kemerdekaannya. Sebab itu tidak pernah ada perjanjian persahabatan yang memuat pasal-pasal seolah-olah kuasa asing yang berdaulat dan memberikan kerajaan itu sebagai “leen” (pinjaman). 

Di usia 75 tahun kemerdekaan bangsa ini, kita butuh figur-figur prominen yang kuat berjuang, figur-figur otentik yang dapat mempersatukan dan membangun negeri laiknya Nuku. Memaknai kemerdekaan bangsa ini, mari tundukkan kepala sejenak, kita mengirimkan Al-Fatihah untuk Sultan Nuku (Sulthan Saidul Djehad Muhammad El Mabus Amirudin Sjah Kaicil Paparangan) dan juga para pahlawan lainnya. Merdeka...! []


Share Tulisan Herman Oesman


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca