× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#OPINI

'Track Record' Nasionalisme Islam

Membangun bangsa Indonesia yang agamis-nasionalis revolusioner.

Mahasiswa Magister Studi Qur'an-Hadis
'Track Record' Nasionalisme Islam
Ilustrasi: ayomadrasah.id

17/08/2020 · 5 Menit Baca

Kesalahan landasan epistemik beberapa kalangan Islam yang mempertentangkan antara nasionalisme dengan Islam adalah memandang dari segi historis awal kemunculan gerakan nasionalisme yang dikembangkan di Eropa, merupakan gerakan nasionalisme sekuler yang bertujuan untuk mempersatukan negara-negara Eropa dan memecah belah umat Islam yang tersebar di berbagai negara dengan alasan perbedaan bahasa, RAS dan budayanya, agar umat Islam lemah dan mudah dijajah. 

Padahal, jika ditinjau kembali, gerakan nasionalisme yang dibawa kaum imperialis dan masuk ke dunia Islam justru menyadarkan kaum muslimin untuk bangkit dan melepaskan diri dari penjajahan kaum imperialis Barat. Jika ditinjau dari sejarah peradaban dan politik Islam, gerakan nasionalisme Eropa yang kemudian berdampak baik pada semangat nasionalisme di dunia Islam, berpengaruh terhadap perubahan wajah dunia Islam. 

Sepanjang rentang sejarah, Islam telah mengalami pasang surut peradaban. Dari perspektif politik, peradaban Islam tidak terlepas dari aktifitas politik umat Islam. Dengan politik, kaum muslimin dapat menghantarkan peradaban Islam sampai ke puncak kejayaannya, dan dengan politik, kaum muslimin mengalami kegagalan dan kemunduran.

Azyumardi Azra, mengatakan kemunduran umat Islam disebabkan adanya kemerosotan dan disintegrasi politik yang menghantarkan umat Islam ke dalam stagnasi. Sir Hamilton Alexander Rosskeen Gibb FBA, juga memandang bahwa ketika umat Islam terlena dalam kejumudan, terpuruk dalam stagnasi dan termarjinalkan dalam kehidupan internasional, masyarakat Eropa justru sedang memasuki masa pencerahan yang dikenal dengan “renaissance”.

Secara genealogis, masa pencerahan tersebut di awali dengan kesadaran masyarakat Eropa dari masa “aufklarung” (kegelapan dan keterbelakangannya) di saat umat Islam mengalami kejayaan, lalu mereka berusaha bangkit dari keterbelakangannya itu dengan menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dari dunia Islam. Kekuasaan umat Islam di daratan Eropa, seperti di Spanyol dan Sicilia telah menjadi jembatan emas bagi Eropa untuk mentranfer ilmu pengetahuan dan peradaban dari dunia Islam. 

Dari kenyataan inilah kemudian sejarah berbalik seratus delapan puluh derajat. Bila dulu umat Islam menguasai dunia dan menjadi kiblat bagi Eropa dan peradaban dunia, maka kini yang terjadi sebaliknya. Kemajuan dunia Eropa dari segi politik dan peradaban, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologinya, yang didorong oleh semangat nasionalisme Eropa menjadikan mereka berkeinginan menguasai dunia. 

Kemajuan ini juga berdampak pada praktek kolonialisme dunia Eropa terhadap dunia Islam. Penjajahan Eropa terhadap dunia Islam menyebabkan ketertinggalan kaum muslimin di berbagai bidang, akibatnya semakin lama umat Islam semakin lemah dan terpuruk. Sebaliknya, negara-negara Eropa semakin maju dan jauh meninggalkan negara-negara yang nota bene penduduknya mayoritas muslim (termasuk Indonesia). 

Ketertinggalan umat Islam ini diperparah lagi dengan melemahnya semangat mereka untuk berjuang menegakkan kedaulatan Islam yang dulu kejayaannya pernah mereka capai di kala negara- negara Eropa masih dalam kegelapan. Kondisi seperti ini lambat laun menyadarkan sebagian kaum muslimin atas kelemahan dan ketertinggalannya. 

Akhirnya umat Islam bangkit, dengan semangat persatuan dan cita-cita kemerdekaan untuk melepaskan diri dari penjajahan kolonial Eropa yang diilhami oleh semangat nasionalisme Islam. Praktik inilah sebagaimana yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh bangsa Indonesia, dengan menganut rasa cinta terhadap Islam dan cinta terhadap tanah air, kemudian menjadikan negara Indonesia mampu keluar dari penjajahan bangsa Eropa.

Gerakan-gerakan pembaharuan ini, disinyalir diprakarsai oleh para mujaddid (tokoh-tokoh pembaharu) di berbagai negara Islam. Walaupun zaman kebangkitan umat Islam disinyalir pada awal periode modern (tahun 1800-an M.), Namun menurut Harun Nasution, pada periode pertengahan pun sebenarnya telah muncul pemikiran pembaharuan di dunia Islam, terutama di Kerajaan Turki Utsmani.

Gerakan kebangkitan Islam ini diawali dengan lahirnya gerakan revivalisme Islam atau revivalisme pramodernis yang muncul pada abad ke-18 dan 19 Masehi di Arabia, India dan Afrika. Tokoh utamanya adalah Imam Muhammad ibn Abd al-Wahhab (abad ke-18 M.), yang melanjutkan pemikiran tokoh ulama sebelumnya, yaitu Imam Ahmad ibn Hanbal (abad ke-12 M.) dan Imam Ibnu Taimiyah (abad ke-14 M.). 

Setelah itu lahir gerakan modernisme Islam klasik yang muncul pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi di bawah pengaruh ide-ide Barat. Tokoh utamanya adalah Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha (ketiganya hidup pada abad ke-19 dan 20 M.). Kemudian lahir kembali gerakan pemurnian agama Islam gaya baru yang disebut neo-revivalisme Islam atau revivalisme Islam pasca- modernisme. 

Tokoh utamanya adalah Hasan al-Banna, Muhammad Sayyid Qutb, Abul A`la al- Maududi dan Taqiyuddin al-Nabhani (semuanya hidup pada awal abad ke-20 M.). Setelah itu muncul lagi gerakan modernisme Islam gaya baru yang disebut dengan neo-modernisme Islam oleh para tokoh pembaharuan Islam kontemporer pada abad ke-20 M. Salah satu tokohnya adalah Fazlur Rahman dari Pakistan yang memiliki pemikiran yang terbilang liberal dan radikal.

Dapat ditarik benang merahnya bahwa, paham nasionalisme sekuler yang lahir di Barat telah dimodifikasi atau diformulasikan sedemikian rupa oleh para pemikir muslim menjadi nasionalisme yang berbasis Islam yang kemudian dikenal dengan nasionalisme Islam. Paham nasionalisme Islam ini lalu menjadi senjata ampuh umat Islam untuk bangun dan bangkit dari keterpurukannya di segala bidang, terutama pembebasan diri dari kolonialisme negara-negara Barat atas dunia Islam. 

Sebagaimana definisi dari Rupert Emerson yang menyatakan, nasionalisme sebagai komunitas orang-orang yang merasa bahwa mereka bersatu atas dasar elemen-elemen penting yang mendalam dari warisan bersama dan bahwa mereka memiliki takdir bersama menuju masa depan. Ernest Renan, juga menilai nasionalisme sebagai kesatuan solidaritas yang besar, tercipta oleh perasaan pengorbanan yang telah dibuat di masa lampau untuk membangun masa depan bersama. 

Nasionalisme sebagai kehendak untuk bersatu (le dwsire d’entre ensemble). Nasionalisme seperti ini diartikan sebagai anti kolonialisme. Pengaruh implementatif dari Rupert Emerson dan Ernest Renan ini, dapat dilihat secara nyata pada negara-negara yang sedang mengalami penjajahan (Barat atas dunia Islam). Mereka bangkit menentang penjajahan dan satu demi satu dapat memerdekakan diri dari belenggu penjajahan tersebut. 

Sebagai contoh, Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam bergerak bangkit melawan kolonial Belanda dengan semangat nasionalisme Indonesia, “Bertanah air satu tanah air Indonesia. Berbangsa satu bangsa Indonesia. Berbahasa satu bahasa Indonesia”, hingga kemudian menggapai kemerdekaannya di bawah pimpinan Soekarno yang kemudian menjadi presiden pertama Indonesia. 

Soekarno memaknai nasionalisme dengan mengacu pada Ernest Renan, dengan mengungkapkan bahwa semangat nasionalisme merupakan semangat kelompok manusia yang hendak membangun suatu bangsa yang mandiri, dilandasi satu jiwa dan kesetiakawanan yang besar, mempunyai kehendak untuk bersatu dan terus menerus ditingkatkan untuk bersatu, dan menciptakan keadilan dan kebersamaan.

Paham nasionalisme seperti ini membentuk persepsi dan konsepsi identitas sosial kaum pergerakan di seluruh negara jajahan, antara satu daerah dengan daerah lain sebagai suatu kekuatan politik yang tidak bisa disepelekan oleh penguasa kolonial saat itu. Sebagai contoh semangat nasionalisme yang ditunjukan oleh Tidore untuk bergabung dan ikut berjuang bersama Indonesia.

Tujuan nasionalisme tersebut adalah langkah pembebasan dari segala macam bentuk penjajahan dan berusaha untuk mencapai kemerdekaan yang sebenar-benarnya, dalam rangka menciptakan masyarakat bangsanya yang adil, makmur, aman dan sejahtera serta tidak ada lagi penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lainnya dalam bentuk apapun; politik, ekonomi, budaya, keyakinan dan lainnya.

Dari histrorisitas panjang tentang pengaruh nasionalisme dengan Islam terhadap bangsa Eropa (non-Islam) dengan Islam (negara-negara mayoritas Islam), dapat juga dijadikan sebuah bukti bahwa Islam tidak semerta-merta mempertentangkan soal nasionalisme. Melainkan jiwa nasionalisme dengan Islam menjadi sebuah jalan untuk menuju pada evolusi pemikiran progresif yang dapat memajukan suatu bangsa.

Hal ini tentu sudah dicontohkan oleh para tokoh-tokoh bangsa kita pada masa perjuangan, dengan mengatasnamakan Islam dan jiwa nasionalisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bangsa Indonesia mampu untuk merdeka dan keluar dari keterpurukan selama dijajah oleh bangsa Eropa. Indonesia harus menjadi tempat pencerahan Islam, dengan menghadirkan keterbukaan dalam menerima keragaman-perbedaan ilmu pengetahuan serta memperlihatkan jiwa nasionalisme yang revolusioner. Sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang mendunia namun agamis-nasionalis.


Share Tulisan Muhammad Sakti Garwan


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca