× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Kala Portugis Berganti Rupa di Benteng Kastela

Intrik politik selalu mewarnai perebutan kursi kesultanan.

Pemerhati Sejarah
Kala Portugis Berganti Rupa di Benteng Kastela
Salah satu sisa reruntuhan bangunan di Benteng Kastela (Dokumentasi pribadi)

05/09/2020 · 3 Menit Baca

Awalnya berjalan manis

Kemudian berakhir tragis

Tak puas menduduki Malaka, Sang Gubernur Jenderal, Alfonso de Albuquerque lantas mengirim beberapa armada untuk mencari Kepulauan Rempah. Satu kapal sampai di Banda. Sementara kapal yang dinahkodai Francisco Serrao karam di perairan Ambon. Berita itu tersiar sampai di telinga penguasa Ternate. Tanpa pikir panjang Sultan Bayanullah langsung bergerak cepat mengirim utusan menjemput Serrao.

Setiba di Ternate, Serrao disambut hangat oleh Sultan Bayanullah. Keduanya pun kemudian sepakat merumuskan perundingan perdagangan. Tawaran berupa pembeli tunggal dengan harga yang menjanjikan langsung dipenuhi oleh sang sultan. Adnan Amal di buku Kepulauan Rempah-Rempah berpendapat bahwa kemurahan hati sang sultan adalah buntut dari rivalitas ekonomi antara Ternate dan Tidore, kemudian menjalar pada pencarian mitra bisnis asing yang mapan. Ini menjadi awal mula kolonialisme bangsa Eropa di Nusantara.

Kabar mengenai kebaikan Sultan Bayanullah dicatat oleh Tome Pires dalam karyanya yang fenomenal, Suma Oriental. “Rajanya merupakan pengikut Muhammad, dikenal sangat baik dan sangat dihormati oleh negeri-negeri tetangga. Dia selalu memegang teguh keadilan serta menjaga agar rakyatnya selalu patuh.” Bahkan Pires juga mengartikan kedekatan yang baru diresmikan tersebut tidak hanya terfokus kepada perdagangan saja. Lebih daripada itu, Kesultanan Ternate juga menyatakan sikap sebagai abdi atau pelayan bagi Kerajaan Portugis, sebagaimana isi surat yang ditulis oleh sultan dan dikirim ke Malaka.

Tahun berganti, hubungan Portugis dengan pihak kesultanan semakin mesra. Pengangkatan Serrao sebagai penasehat kesultanan menjadi bukti. Niat hati Portugis mendirikan benteng langsung direstui. Hal ini bertujuan untuk mengamankan monopoli perdagangan rempah di Maluku dan mengantisipasi kekuatan Spanyol, musuh bebuyutan mereka di Tidore. Raja muda Portugis di Goa langsung memberikan mandat kepada Antonio de Brito untuk membangun benteng di Ternate. Di sebuah daerah yang bernama Gamlamo.

Peletakan batu pertama yang dilakukan de Brito pada tanggal 24 Juni 1522, menjadi tanda Portugis membangun benteng pertamanya di Nusantara. Upacara ini disaksikan langsung oleh Bangsawan Ternate dan para rohaniawan Portugis. Benteng pun dibaptis dan diberikan nama; Nostra Senhora de Rosario, Gadis Cantik Berkalung Bunga Mawar. “Pengerjaan dimulai tahun 1522, mulanya didirikan tembok luar seukuran 26 depa persegi dilengkapi dengan bastion, dan sebuah menara bertingkat dua. Tahap berikutnya, bagian dalam yang digunakan sebagai gudang, barak personel beserta kelengkapan dagang dan pertahanan,” ujar Irza Arnyta Djafaar dalam Jejak Portugis di Maluku Utara.

Nurachman Iriyanto dalam “Benteng-Benteng Kolonial Eropa di Pulau Ternate” di buku Benteng Dulu Kini dan Esok, menuliskan ada dua nama lain dari benteng tersebut. Pertama, bernama Saint John, mengacu pada nama gereja yang berada di dalamnya. Kedua, dikenal dengan sebutan Benteng Sao Paulo. Meski berbeda, ketiga nama itu memiliki kesamaan, yakni sama-sama sulit dieja. Masyarakat Ternate lebih senang menyebutnya dengan nama Benteng Gamlamo. Sekarang ini lebih dikenal dengan nama Benteng Kastela. Kata tersebut merujuk pada kastil, sebuah bangunan yang dikelilingi parit.

Dalam perjalanannya, pembangunan benteng itu tidak berjalan sesuai dengan harapan, sempat beberapa kali terjadi masalah. Garcia Henriquez yang menggantikan de Brito melanjutkan pada tahun 1525. Tepat pada tahun 1530, Gonsalo Periera mengambil alih proyek tersebut. Barulah di tahun 1540 di bawah kepemimpinan Jorge de Castro, pendirian benteng dapat dituntaskan.  

Tembok benteng terbilang kokoh pada zaman itu. Tersusun dari batu kali dan karang yang direkatkan memakai kalero–sejenis kapur hasil pembakaran batu karang lalu dicampur dengan pasir dan air rendaman kulit pohon lubiri. Ketebalannya pun bervariasi. Di sisi barat berkisar 40 cm, sementara tebal dinding luar sisi selatan sekitar 175 cm, dan pada dinding barat daya bangunan mencapai 270 cm.

Pos penjagaan terletak di sisi barat laut benteng. Struktur pondasi bangunan yang tersisa di sisi barat dipercaya masyarakat setempat sebagai bangunan rumah sakit. Begitu pula dengan struktur batuan yang terdapat di sudut barat daya, terindikasi sebagai jalan atau jembatan penghubung dermaga menuju benteng. Djafaar menambahkan  bahwa setidaknya ada tiga sumur tua di kawasan benteng, satu berdiameter 110 cm dengan tebal 15 cm. Dua lainnya berdiameter 160 cm, tebal dindingnya mencapai 26 cm.

Selain menjadi kantor pemerintahan dan agen perdagangan, dibangun juga Sekolah Teologia dalam kawasan benteng. Hal ini bertujuan untuk mendukung misi Evangelisasi yang sedang digencarkan Portugis. Konon, merupakan sekolah keagamaan pertama di Asia Tenggara yang memberi pelajaran agama, membaca, menulis dan berhitung untuk anak-anak Portugis sendiri maupun anak-anak pribumi Ternate dan beberapa daerah lainnya. Adnan Amal menceritakan, jelang tahun 1569, Gamlamo atau Kastela merupakan satu-satunya benteng yang berdiri di luar Malaka. Segala kebutuhan dan keperluan benteng dikirim langsung dari Goa via Malaka. Tidak mengherankan jika persenjataan dan perlengkapan perang benteng tersebut termasuk paling unggul pada zamannya.

Perlahan tapi pasti, dari benteng ini Portugis mulai berganti rupa. Wajah dan watak aslinya mulai kelihatan. Semua dihalalkan, dari monopoli perdagangan hingga mencampuri urusan kesultanan. Intervensi Portugis berujung pada kemelut di tubuh pemerintahan. Intrik politik selalu mewarnai perebutan kursi kesultanan. Kondisi ini berakhir ketika Sultan Khairun naik tahta. Namun itu tidak berlangsung lama, peristiwa tragis terjadi di Benteng Kastela. Sang sultan ditikam dari belakang ketika hendak melakukan perundingan. Sontak peristiwa itu memancing amarah rakyat Ternate. Si pewaris tahta, Sultan Babullah langsung menghimpun kekuatan dan mengobarkan perang. Puncaknya pada tahun 1575 Benteng Kastela dikuasai dan Portugis diusir keluar dari Ternate.


Share Tulisan Dodi Suprihanto


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca