× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#RESENSI

'Politik' dalam Novel

Mungkin saatnya kita menggeser wilayah politik yang dikenal kasar, kaku, dan kotor, dengan wajah politik santun melalui sastra.

Akademisi, Penulis
'Politik' dalam Novel
Sampul Imperium, Sebuah Novel.

08/09/2020 · 3 Menit Baca

Kefasihan yang tidak menggugah tak kupandang sebagai kefasihan
(Cicero, surat kepada Brutus, 48 SM)


SETIAP manusia merupakan pembuat kisah yang didalamnya menjadi peran utama. Kisah itu bernama diri, yang merupakan pusat aktivitas kesadaran sekaligus menjadi tempat berbagai daya dari luar ikut menyumbang bagian cerita untuk melengkapinya. Dengan memahami kisah, kita dapat memahami bahwa diri setiap orang terhubung dengan diri orang lain. Setiap orang dapat memahami dirinya melalui dan di dalam keterlibatan dengan orang lain. 

Sebuah kisah tidak pernah bisa dipahami pada dirinya sendiri. Tanpa memahami rujukan yang dikandungnya, sebuah kisah hanyalah kumpulan tanda-tanda mati, onggokan lambang yang kering-kerontang, atau meminjam kata-kata Friedrich Nietzsche (1844-1900), ‘sekumpulan metafor mati’  tak menarik dan menjemukan.

Adalah Robert Harris, seorang penulis terbaik dunia, meluncurkan novelnya Imperium, Sebuah Novel (Gramedia Pustaka Utama, 2006/2008). Inilah novel politik yang diriset dengan ketelitian penuh, dengan mengambil setting era sejarah Romawi Kuno. Sebagian besar paparan kisah dalam novel ini adalah peristiwa yang pernah terjadi. Novel setebal 416 halaman ini mengisahkan tentang Tiro, sekretaris pribadi senator Romawi dalam melayani seorang negarawan dan orator brilian, Marcus Tullius Cicero.

Dari Tiro, yang selama 36 tahun bekerja pada Cicero, banyak yang menghujaninya dengan pertanyaan seperti apa Cicero setelah kematiannya. Namun Tiro selalu diam (hal. 13). Hingga suatu ketika, Tiro terkaget dari keterdiaman yang panjang. Terngiang kembali kata-kata terakhir Cicero kepadanya tentang permintaannya agar Tiro menyampaikan kebenaran tentang diri Cicero. Dan inilah yang dilakukan Tiro.

“Jika Cicero tidak senantiasa tampil sebagai simbol budi pekerti, biarlah. Kekuasaan memberikan banyak kemewahan bagi manusia, tetapi dua tangan yang bersih jarang termasuk didalamnya. Dan tentang kekuasaan serta dirinyalah aku akan berdendang. Yang kumaksud adalah kekuasaan politis resmi –yang dalam bahasa Latin dikenal sebagai imperium –kekuasaan atas hidup dan mati, sebagaimana dimandatkan oleh Negara kepada seseorang,” tulis Harris, mengurai cerita Tiro. 

Tiro kembali bercerita. “Ratusan orang mengincar kekuasaan tersebut, tetapi Cicero adalah sosok unik dalam sejarah republik ini, dalam arti Cicero mengejarnya tanpa bantuan sumber daya apa pun selain bakatnya sendiri. Tidak seperti Metellus atau Hortensius, dia bukan berasal dari keluarga aristokrat yang agung, dengan piutang budi politik turun – temurun selama beberapa generasi yang dapat ditagih pada saat pemilu. Cicero tidak memiliki armada perang perkasa yang mendukung pencalonannya, seperti Pompeius atau Caesar. Cicero tidak memiliki harta berlimpah seperti Crassus untuk melicinkan jalan. Yang dimiliki Cicero hanyalah suaranya –dan dengan kekuatan tekad semata, Cicero mengubahnya menjadi suara paling termasyhur di dunia.” (hal. 14).

Membaca kisah negarawan besar, Cicero, melalui penuturan Tiro dalam novel Imperium, membawa kita pada sebuah dunia yang berbagai unsurnya saling terkait-berkelindan, berinteraksi menjalin peristiwa terbayang, dan membentuk makna. Imperium, bisa disebut sebagai kumpulan kisah orang yang memiliki pengalaman di tengah lingkaran kekuasaan. Manusia, merupakan kumpulan rujukan. Semakin kaya rujukan yang dikandungnya, semakin besar daya tariknya. Orang yang punya banyak pengalaman lebih senang didengar daripada orang tak berpengalaman. Orang yang punya banyak pengetahuan lebih didengarkan dan dijadikan tempat belajar ketimbang orang yang miskin pengetahuan. Semakin unik dan kaya kandungan kisah hidup seseorang, semakin menarik ia untuk dikenali dan dicermati. Inilah yang dialami Tiro ketika bekerja pada Cicero. Tiro yang menuliskan pidato, surat, dan karya tulis, bahkan puisi Cicero.

Gaius Verres, seorang pria tua, penduduk Sisilia itu ketakutan karena menjadi korban perampokan Gubernur Romawi korup, dan meminta Cicero mewakilinya untuk menuntut sang gubernur. Diungkap Tiro, bagaimana Cicero dengan keseriusan menangani kasus Verres. Cicero bekerja pada setiap jengkal perjalanan dari Regium ke Roma. Bersandar, terguncang, dan tersungkur di belakang pedati yang membawanya dalam perjalanan. Menyusun garis besar kasusnya terhadap Verres. (hal. 161).

Perdebatan, yang diistilahkan Cicero ”duel akbar” dalam kasus Verres, merupakan perdebatan yang menjadi perhatian warga Roma. Cicero menunjukkan kemampuan dan kewibawaannya dalam perdebatan di ruang sidang itu. (hal. 183-190)

”Hari ini mata dunia terpaku pada kita, ingin mengetahui seberapa jauh tindak-tanduk setiap orang di antara kita akan mencerminkan ketaatan pada nurani dan kepatuhan pada hukum...Kasus Verres akan menentukan apakah mungkin, dalam sidang pengadilan yang terdiri atas para senator ini, seseorang yang benar-benar bersalah dan benar-benar kaya dapat dihukum. Karena seluruh dunia tahu perbedaan Verres dengan orang lain hanyalah dalam hal kejahatannya yang mengerikan dan kekayaan yang melimpah,” demikian pidato pembuka Cicero dihadapan juri (hal. 191).

Cicero adalah sosok negarawan yang patut menjadi contoh, ketika membela hak-hak masyarakat yang dilindas penguasa. Cicero dengan kemampuan kata-katanya, dengan kesantunan terhadap lawan-lawan politiknya, dengan perilaku politiknya yang anggun dan kesederhanaannya dalam jabatan yang diemban telah menjadi magnet bagi sebuah kekuasaan yang berwajah kemanusiaan. 

Kemampuan manusia dengan potensinya dimulai dengan kesadaran diri, yang dalam istilah Ludwig Binswanger (1956) dikenal sebagai being-able-to-be (kemampuan-untuk-mengada). Ini adalah kesadaran elementer pada manusia, kesadaran bahwa ia ada dan mampu mempertahankan “ada”nya di dunia. Aktualisasi dari potensi-potensinya menunjukkan bahwa manusia berpartisipasi dalam dunianya. Dalam partisipasinya, ia bukan menyerap saja dari dunia, melainkan juga mengevaluasi dunia. Setiap tindakannya disertai penilaian yang mengandung dugaan-dugaan dan harapan-harapan yang mungkin diwujudkan sebagai akibat dari tindakan-tindakannya. Cicero membuktikan aktualisasi dirinya dengan menyerap dan mengevaluasi dunia yang digelutinya. Dunia kekuasaan yang justru dia sendiri berada di dalamnya.

Novel karya Robert Harris yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama Jakarta ini, patut dibaca oleh akademisi, birokrat, politisi, dan penguasa, atau mereka yang tertarik pada dunia politik. Mungkin saatnya kita menggeser wilayah politik yang dikenal kasar, kaku, dan kotor, dengan wajah politik santun melalui sastra. Dan, Imperium Sebuah Novel ini, adalah kisah politik dalam bentuk novel yang bisa menjadi alternatif sebagai teman bacaan menyenangkan di tengah carut marut politik Indonesia dan Maluku Utara. Saatnya, mungkin saja politisi kita membangun kefasihan yang menggugah di tengah masyarakat yang mengalami tekanan akibat dililit pandemi Covid-19 dan berbagai dominasi ruang sosial dan ekonomi. Selamat membaca. []


Share Tulisan Herman Oesman


Tulisan Lainnya

Yusuf Abdulrahman di Mata Ngofa ma Jojo

#SOSOK - 21/10/2020 · 15 Menit Baca

Kami Ingin Orgasme Kalian Mau Apa?

#SASTRA - 21/10/2020 · 1 Menit Baca

Sebelas Martir

#ESAI - 12/10/2020 · 5 Menit Baca