× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Belajar Toleransi dari Sultan Khairun

Sikap saling menghormati dan toleransi menjadi sebuah sikap yang mahal akhir-akhir ini.

Pemerhati Sejarah
Belajar Toleransi dari Sultan Khairun
Dokumentasi pribadi.

12/09/2020 · 15 Menit Baca

Permasalahan yang menyinggung suku, agama, ras dan budaya di Indonesia seolah tidak ada ujungnya. Halili, selaku Direktur riset SETARA Institute, sebuah lembaga yang konsen dalam bidang advokasi demokrasi, kebebasan politik dan HAM, melaporkan bahwa ada sebanyak 398 kasus berupa intimidasi terhadap rumah ibadah yang terjadi dalam kurun waktu 2007-2018. Banyaknya jumlah kasus menunjukkan betapa masalah ini bukanlah soal sepele dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Halili berpendapat bahwa dengan melihat angka-angka tersebut, seharusnya pemerintah sudah mengetahui apa yang perlu dikerjakan.

Masih dengan kasus yang sama, sebagaimana dikutip dari laporan Lembaga Pengamat Hak Asasi Manusia, Imparsial, tercatat ada 31 kasus intoleransi di Indonesia yang terjadi dalam rentang waktu setahun lalu, antara November 2018 hingga November 2019. Paling dominan adalah kasus pelarangan ibadah dan pembubaran ritual kepercayaan. Ardimanto Adiputra, Koordinator Program Penelitian Imparsial menambahkan, ada tiga kasus mengenai perusakan rumah ibadah. Sedangkan kasus pelarangan kebudayaan etnis tertentu ada dua, serta beberapa kasus lainnya terkait tata cara berpakaian keagamaan, imbauan mewaspadai aliran tertentu sampai penolakan bertetangga dengan pemeluk agama lain.

Dari hasil dua laporan lembaga di atas, jelas sekali terlihat ada masalah dalam diri bangsa Indonesia. Sikap saling menghormati dan toleransi menjadi sebuah sikap yang mahal akhir-akhir ini.

Sejarah mencatat, di banyak tempat di Kepulauan Nusantara, perbedaan keyakinan dan suku bangsa tidak menjadi hambatan untuk hidup berdampingan. Kesultanan Ternate di bawah kepemimpinan Sultan Khairun membuktikannya. Syiar Islam yang sudah lama dijalankan oleh Kesultanan Ternate tidak merasa terganggu dengan kehadiran Misi Jesuit yang dibawa oleh bangsa Portugis. “Tokoh-tokoh Kristen seperti Antonio Galvao, Xaverius dan Alfredo de Castro mengakui sikap toleransi sang sultan. Khairun juga ikut menjaga hubungan baik dengan kaum Kristen Moro serta tidak mempermasalahkan Misi Jesuit yang beroperasi di Ternate dan Moro,” ujar Adnan Amal di buku Kepulauan Rempah-Rempah.

Khairun dibaiat sebagai Sultan Ternate atas kehendak rakyat. Ia menggantikan Tabriji yang diasingkan di Goa. Sebelum naik tahta, badai politik dan konflik internal melanda Kesultanan. Wafatnya Sultan Bayanullah menjadi awal dari semua kemelut yang terjadi. Sejarawan Leonard Y. Andaya dalam buku Dunia Maluku, Indonesia Timur pada Zaman Modern Awal, menjelaskan bahwa kematian sang sultan masih meninggalkan misteri. Beberapa sumber menceritakan, ia diracuni oleh rakyat Ternate karena tidak senang melihat kedekatannya dengan Serrao. Sebagian pendapat lain mengungkapkan, dalang pembunuhan tersebut adalah pedagang-pedagang muslim. Mereka merasa sangat dirugikan perihal pemberian monopoli perdagangan rempah ke Portugis.

Sepeninggal Sultan Bayanullah, pucuk pimpinan silih berganti dan tidak bertahan lama. Deyalo yang melanjutkan estafet kepemimpinan dari Nyai Cili Nukila, hanya berumur setahun. Upaya kudeta yang dilakukan oleh persekutuan Taruwese dengan Portugis membuahkan hasil. Deyalo dilengserkan kemudian digantikan oleh adiknya, Boheyat. Portugis kembali mencampuri urusan kesultanan. Kali ini, Boheyat dijebloskan ke dalam penjara atas dasar tuduhan rencana pembunuhan gubernur. Tabariji (saudara tiri Boheyat) lantas tampil untuk mengambil alih kekuasaan. “Adanya intervensi Portugis dalam pemerintahan lebih banyak mudaratnya dibanding manfaat yang didapatkan,” kata Sartono Kartodirdjo dalam Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 dari emporium sampai Imperium. 

Sultan Tabariji juga mengalami nasib serupa seperti para pendahulunya. Perseteruan dirinya dengan Gubernur Ataide berujung pada penangkapan. Ia lalu diasingkan ke Goa bersama Nyai Cili Nukila dan Pati Sarangi. Sebagai gantinya, Khairun dinobatkan sebagai sultan. Suksesi Khairun menjadi sultan bukan tanpa riak. Pembelaan yang dilakukan Tabariji di pengadilan membuahkan hasil, ia dinyatakan tidak bersalah dan berhak atas tahta kerajaan. Putusan yang cukup kontroversial. Adnan Amal menduga bahwa pemberian Ambon dan daerah sekitarnya dari Tabariji kepada Jordao de Freitas serta perubahan status kerajaan dari Islam ke Kristen, mempengaruhi hasil persidangan tersebut.

Kepulangan Tabariji ke Ternate adalah ancaman nyata untuk tahta Khairun. Seketika itu Khairun harus menelan “pil pahit” berupa penangkapan atas dirinya dan kemudian diasingkan ke Malaka. Peristiwa ini semakin memperpelik urusan internal Kesultanan Ternate. Nahas bagi Tabariji, dalam perjalanan untuk merebut kembali kekuasaannya, ia jatuh sakit dan keburu meninggal di Malaka. Mendengar berita kematian Tabariji, Raja Muda Portugis di Goa langsung bergerak cepat dengan membebaskan Khairun dan secara sah mengakuinya sebagai Sultan Ternate yang baru.

Dua perjanjian yang dibuat oleh Tabariji dengan Jordao Freitas langsung dibatalkan oleh Sultan Khairun pada awal kepemimpinannya. Apa yang dilakukan oleh Khairun kala itu, terbilang sebuah keputusan yang sangat berani, mengingat masih kuatnya cengkraman Portugis di Ternate. Melalui putusan itu, Khairun juga sedang memperlihatkan ketegasan dan wibawanya, serta secara tidak langsung dia mengirimkan sinyal peringatan kepada Portugis. Gebrakan dari Khairun berikutnya adalah, menginginkan Kerajaan Bacan, Jailolo, Ternate dan Tidore bergabung dalam sebuah konfederasi dan berada di bawah kendalinya. Karena dengan begitu, Maluku akan menjadi sebuah kekuataan yang disegani oleh bangsa-bangsa lain. Sayang, keinginan tersebut tidak bisa terwujud, hanya mengendap di pikirannya saja. “Jika dilihat dari kacamata masa lalu, ide Khairun sangatlah absurd. Namun hal ini membuktikan, bahwa Khairun adalah seorang negarawan dan pemikirannya menembus zaman,” bela Adnan.

Meskipun telah beberapa kali dikecewakan oleh sikap Portugis yang terlalu mencampuri urusan pemerintahan, namun Sultan Khairun membuktikan keluasan hatinya dengan tetap membuka pintu bagi misi evangelisasi yang tengah dijalankan. Sungguh sebuah kondisi yang tidak pernah terlintas dalam pikiran para petinggi Portugis waktu itu. Trauma akan gesekan-gesekan dengan kekuatan Islam yang pernah menimpa mereka di Afrika Utara, sedikit menciutkan nyali untuk melanjutkan misi tersebut di Maluku.

Bayangan buruk bahwa peristiwa yang sama akan menimpa mereka lambat laun menjadi sirna. Tak lain disebabkan karena hubungan hangat yang sudah terjalin antara Sultan Khairun dengan Xaverius beserta pastor lainnya. Beberapa kebijakan yang dicetuskan oleh sultan semakin mempemudah misi penyebaran agama Kristen, di antaranya memisahkan pemukiman Islam dan Kristen serta menghadirkan rasa aman bagi pemeluk agama Kristen. Misi Evangelisasi perlahan menuai hasil, masyarakat banyak yang berganti agama, ditambah lagi dengan beberapa bangsawan Ternate dan Jailolo yang menyatakan dirinya siap untuk dibaptis. Hal ini tidak lantas mengubah pendirian Khairun untuk menghentikan misi tersebut. Pada satu kesempatan, Khairun malah mengirim putra kesayangannya, Baabullah, untuk menimba ilmu di Sekolah Kristen yang ada di Goa. Dalam catatan Francois Valentijn yang dikutip oleh Andaya, “Meskipun Khairun seorang fanatik dalam membela akidah agamanya, namun dalam kesehariannya selalu mengedepankan toleransi dan penuh kehati-hatian dalam menjalankan hukum dan peraturan.”

Sebelum adanya misi Evangelisasi, Kesultanan Ternate sedang gencar-gencarnya melakukan Islamisasi di tanah Maluku dan sekitarnya. Jika di tempat lain kedua misi ini sering mengalami benturan, tidak berlaku di Ternate. Sembari menancapkan kekuasaan dan pengaruhnya, Sultan Khairun dengan cerdas membukakan jalan agar kedua misi tersebut dapat beriringan dalam mencapai tujuannya masing-masing tanpa harus melukai satu sama lain. Romantisme dua misi penyebaran agama terbesar di dunia nampaknya akan berlangsung lama.

Angin segar yang ditiupkan oleh Khairun, dimanfaatkan betul oleh Portugis. Misi Evangelisasi berkembang dengan cepat dan pesat. Tidak puas sampai di situ, keserakahan Portugis semakin terlihat dari aktivitas monopoli perdagangan rempah. Keresahan muncul di pihak kesultanan dan rakyat Ternate. Misi Gold, Gospel, Glory yang dibawa Portugis dari tanah leluhurnya, mulai menampakan wujud aslinya di Ternate.

Bulan madu antara Portugis dengan Sultan Khairun mengalami keretakan, mimpi buruk kembali menghantui Portugis. Kristenisasi yang awalnya berjalan dengan mulus, di beberapa daerah memperlihatkan tanda-tanda perlawanan dari warga, guncangan pun tak bisa dihindarkan. Kebencian dan dendam meninggalkan bekas di ingatan para petinggi Portugis dan Sultan-sultan Maluku. Melihat kondisi tersebut, Khairun langsung bereaksi dengan mengundang Sultan-sultan di Maluku ke dalam suatu pertemuan tertutup. “Keputusan kemudian disepakati, misi Evangelisasi harus dihentikan dan orang-orang Portugis harus diusir dari Moro dan Maluku. Sejak saat itu, perubahan drastis dari sikap Khairun mulai dirasakan oleh Portugis,” terang Adnan.

Seperti api dalam sekam, kira-kira peribahasa ini cocok menggambarkan keadaan yang terjadi setelah pertemuan itu. Dendam lama akibat kezaliman Portugis selama ini kembali bersemi. Ketegangan dan bentrokan antara umat Muslim dan Kristen, juga menjadi bahan bakar yang memanasi dendam tersebut. Perang hanya tinggal menunggu waktu saja. Penyerbuan yang dilakukan oleh pasukan Kesultanan Ternate ke daerah-daerah yang menjadi basis pemukiman Kristen, cukup merepotkan Portugis. Tekanan demi tekanan makin membuat mereka terpojok, imbasnya Misi Evangelisasi harus dihentikan.

Sadar akan kondisi tersebut, membuat Diego Lopez de Mequita, Gubernur yang bertugas di Ternate waktu itu, langsung mengumumkan gencatan senjata dan memohon perundingan damai. Permohonan tersebut disambut baik oleh Sultan Khairun. Pada malam yang telah disepakati, mereka berdua bertemu di Benteng Gamlamo. Sang sultan yang tidak mempunyai prasangka buruk melangkah dengan tenang ke ruang perundingan. Belum sampai langkahnya ke sana, ia ditikam dari belakang. Pelakunya adalah Antonio Pimental, keponakan dari Gubernur Mequita. Malam tanggal 28 Februari 1570 merupakan malam yang pilu bagi rakyat Ternate. “Sultan kesayangan mereka, yang selama ini sangat toleran dan banyak memberikan kemudahan pada Misi Jesuit, justru tewas secara tragis”, tutup Irza Arnyta Djafaar dalam buku Jejak Portugis di Maluku Utara.

Meski harus tutup usia di ujung keris, namun apa yang telah ditanam oleh Sultan Khairun sejak beratus tahun lalu tidak menguap begitu saja. Sikap toleransi dan menghadirkan rasa aman untuk setiap pemeluk agama yang ada pada zaman itu, juga bisa dilihat dan dirasakan pada hari ini. Letak rumah ibadah yang saling berdekatan, tidak adanya perasaan curiga antar pemeluk agama serta setiap orang dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang adalah bukti nyata. Selain itu, beragam etnis mulai dari Jawa, Minangkabau, Bugis, Buton, Tionghoa, Arab dan etnis-etnis yang ada di pulau-pulau sekitar Ternate, dapat hidup berdampingan dan rukun. Kondisi ini membuktikan bahwa pluralisme dapat tumbuh subur di negeri kita tercinta.


Share Tulisan Dodi Suprihanto


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca