× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Revolusi Jarod

Oleh A. Malik Ibrahim

Content Creator
Revolusi Jarod
Foto: Pinterest.

18/09/2020 · 5 Menit Baca

“Di Jarod, jauh lebih happy.
 Ngopi, nge-mie selalu dihidangkan
 dalam suasana ringan dan santai”.

Di ujung Jalan Merdeka – sebelah  lapangan tenis. Ada kafe Jarod. Tepatnya di poros strategis Benteng Fort Oranje. Kawasan kejar-kejar bagi penjual buah dengan petugas Satpol. Ruang publik (public sphere) yang hari ini menjelma  jadi ”lanskap” inspirasi yang kerap mengusung tradisi diskursus  anak-anak muda Ternate. Tidak hanya itu – Komunitas Jarod adalah potret kegelisahan ”separatis” (sekelompok para aktivis) yang tumbuh dan berkembang dari kampus. 

Sebagai ruang interaksi sosial, Jarod (Jalan Roda) memiliki citarasa  yang mirip ”angkringan” di Yogya atau The Young di Tidore, adalah sederet kafe yang sempat saya tongkrongi. Kafe sejenis ini menawarkan menu dengan konsep 3M: murah-meriah-merakyat. Suasananya begitu mengalir, familiar, dan  bersahaja tanpa beban. Kesetaraan adalah simbol komunitas Jarod, tentang pentingnya pergulatan intelektual tanpa tendensi ”mengobral” gelar dan jabatan. Di situlah ciri pluralisme ruang publik menurut perspektif Hannah Arendt. 

Bila demikian, bagi saya Jarod bukan sekadar kata hampa atau ruang semu. Tentu dalam fungsinya sebagai publik sphere, Jarod haruslah sebuah negasi, sebuah perlawanan yang mewakili suara kritis masyarakat kota. Terlalu lama negeri ini berada dalam lamunan budaya bisu. Kuatnya dominasi  kekuasaan menguasai ruang publik telah melahirkan rasa gamang masyarakat. Ekspansi pasar kapitalis mencabik-cabik ruang publik itu dan menghapus peran kritisnya. Di mana pun, ketika perbincangan mengenai politik selalu berpola pada dua arah; pusat dan pinggiran. Hegemoni kekuasaan spasial dan visual adalah dinamika lain dari ”refeodalisasi” ruang publik. 

Diskursus Jarod dan transformasi ruang publik, sebenarnya hanya ingin menunjukkan bahwa, Ternate dengan segala kedigjayaan sejarah kotanya telah menafikan hadirnya ruang interaksi. Bagi saya, Jarod adalah contoh kedai pinggiran yang lahir dari semangat, bagaimana rakyat mengais rejeki di tengah kelimpahan hedonisme Ternate. Dari modal jatuh-bangun. Terbanting dan dari satu pinggiran jalan ke pinggiran jalan lain. Sedemikian keras terlempar. Melebihi dari kuatnya hempasan banjir yang menyeret mereka. Alhasil, Jarod, yang padanya tergambar segala sketsa yang kita rindukan tentang ruang narasi untuk mendekonstruksi solidaritas warga. Ibarat kanal ruang publik adalah media yang menyalurkan komunikasi rakyat dengan pemerintah.

Meski bukan suara dominan, Jarod adalah suara nyaring dan interupsi publik. Membaca perspektif Jarod, maka sebetulnya adalah bergumul dengan suara keprihatinan diskursus ruang publik. Sebuah perlambang budaya tanding (counter culture) terhadap penyumbatan arus informasi antara diperintah dan yang memerintah. Di sana secangkir kopi dengan segala pahit getirnya, adalah negasi perlawanan menemukan eskalasi di saat pemerintah sebagai representasi ”orang tua”, begitu mengecewakan.

Sketsa Ruang Publik

Fenomena lahirnya kepercayaan pada peran kafe sebagai ruang diskursus, pada akhirnya memang menciptakan dua realitas. Pertama, ruang publik tidak hanya sesuatu yang bersifat fisik-spasial, tapi juga mencakup ranah kultural atau entitas sosial. Kedua, segala pembicaraan dan refleksi ruang publik, selalu mengandaikan sesuatu, yang disebut ”kita” dalam arti komunitas, cita-cita atau fakta. Bukan pada kerumunan (crowd) yang sifatnya anonim atau fisik semata. 

Bagi Henri Lefebvre, (Priyono, 2010), ”publik domain menunjuk pada jaringan keterlibatan dan ruang sosial tertentu yang menyangga kerja sama dan koordinasi civitas, terutama dalam interaksi kota. Ia lebih mengacu pada jaringan trust dan resiprositas yang menentukan ada tidaknya kohesi sosial suatu masyarakat. Cakupan interaksi sosial yang melintasi batas-batas kesempitan ekonomi warga. Seperti yang dicontohkan Habermas; sebagai ruang yang mengaliri arus keterlibatan kolektif yang selalu dinegosiasikan, bersifat tidak stabil, lentur dan terbuka”.

Banyak revolusi dipikirkan dan dilahirkan dari kafe. Di Negeri Seribu Menara Mesir misalnya, kafe  bukan hanya sekadar tempat berdiskusi dan forum dialog. Tetapi jadi miniatur negara dan inspirasi revolusi perubahan. Kafe juga menjadi tempat mangkalnya tokoh-tokoh besar Mesir seperti Syeikh Jamaludin al-Afghani, Umar Makram, Syeikh al-Basyari, Abdullah al-Nadim dan Naguib Mahfoudz, pemenang Hadiah Nobel Sastra 1988 yang kesohor itu. Di Indonesia budaya kafe sebagai jaringan diskursus dan perjumpaan gagasan telah muncul di mana-mana. Relevansinya akan semakin nyata, karena budaya kafe seperti ini - didorong oleh akselerasi besar gelombang intelektual. 

Dalam budaya kafe, pemikiran tidak mengambang di langit, tapi menjelajah pada tindakan mengubah keadaan. Interaksi sosial ruang publik selalu berawal dari ide. George Bernard Shaw mengatakan: ”Orang-orang yang beruntung di dunia ini adalah mereka yang bangun dan mencari situasi yang mereka inginkan, dan bila mereka tidak menemukannya, mereka membuatnya”. Kafe sebagi ruang publik adalah oase – yang memiliki persaudaraan batin. Ia terhindar dari desakan-desakan politik. Titik singgungnya mengacu pada keterlibatan intelektual dan pemihakan nilai-nilai independen. 

Secangkir Kopi  Jarod

Sebagai sebuah entitas sosial Jarod telah tumbuh dan bergerak dengan cita rasa yang unik. Ia tak sekedar kafe, tapi lebih dari itu adalah ruang perjumpaan. Sesungguhnya Jarod dan seterusnya itu adalah tempat pengeraman kegelisahan anak muda yang menghendaki perubahan. Jika di sana kita menemukan titik pergulatan dengan realitas kekuasaan, maka arus kecenderungan diskursus adalah bagaimana memahami dan  memberi makna, tanpa harus merasa ditunggangi. Fenomena Jarod bagi saya tak sebatas lingkaran gegap-gempita gagasan, mungkin perlu diberi tafsir baru tentang bagaimana merumuskan sebuah diskursus. Tanpa itu Jarod hanya jadi kedai isu, desas-desus dan rumor karena komunitasnya kehilangan keseriusan.  

Sebuah ruang publik tidak bisa dibangun dalam iklim rasa takut. Karena ketakutan hanya membuat orang membebek, bisu dan membantah tanpa bisa berargumentasi secara cerdas. Dan dari kultur ini – Jarod harus jadi lokomotif penjalaran kesadaran intelektual dengan tetap berbasis pada kampus. Di sini pertimbangan kritisisme menjadi penting, untuk membedakan komunitas Jarod dengan kafe lain yang cuma menyuguhkan sesuatu yang serba instan. 

Di era ”polis”, kepercayaan tidak pernah dapat dibangun dalam waktu satu hari. Kepercayaan antara pemimpin dan rakyat telah dibangun dalam waktu yang lama. Degradasi ruang publik justru disebakan oleh intervensi hegemoni kekuasaan dan refeodalisasi demokrasi. Akibatnya, ruang publik kerap menjadi simbol tirani mayoritas, ruang dominasi yang perannya sebatas kerumunan tak bermakna. Imposisi dan pemaksaan dari satu pihak dengan sendirinya akan mengaburkan makna hakikinya. Untuk itu, keharusan untuk mengembalikan ruang publik yang merakyat, aman dan gratis  harus menjadi perhatian serius Pemerintah Kota. 

Jarod dengan seraut kenangan yang saya miliki, tentu begitu sederhana. Jauh dari kesan mewah dan profan. Kafe yang tiap saat penuh sesak dan hiruk pikuk anak-anak muda. Bila suatu kelak saya berkunjung ke Jarod, tentu yang dirindukan  adalah menikmati secangkir kopi. Semoga ini bukan sebuah ”igauan”, karena keragaman Jarod tidak terletak pada menunya. Melainkan pada perspektif negasi - sebuah diskursus, interaksi dan empati sesama komunitas. Segala  gagasan yang terlontar dari diskusi Jarod, ia akan jadi kekuatan pengubah jalannya revolusi kesadaran.[]

(Pernah dimuat di Malut Post, Selasa, 04 Maret 2014)


Share Tulisan Lefo Ikhtisar


Tulisan Lainnya

Yusuf Abdulrahman di Mata Ngofa ma Jojo

#SOSOK - 21/10/2020 · 15 Menit Baca

Kami Ingin Orgasme Kalian Mau Apa?

#SASTRA - 21/10/2020 · 1 Menit Baca

Sebelas Martir

#ESAI - 12/10/2020 · 5 Menit Baca