× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

1945

Agaknya dalam sejarah manusia, sampai hari ini, yang “normal” tak berarti sama dengan “damai”.
1945
Ilustrasi. Surabaya Juang.

21/09/2020 · 3 Menit Baca

Orang Kambodia menyebutnya “chhnam saun”, tahun 0. Nol: angka yang melompong, penanda ketiadaan tapi juga pembuka, ketika rezim Khmer Merah dengan brutal mencoba hapus masa lampau Kambodia dan membasmi semua sisanya. Antara 1975-1979 itu—masa “The Killing Field”—sejuta orang dibunuh atas nama komunisme dan masa depan. Angka “0” mengisyaratkan akhir dan awal yang radikal. Sejarah sedang dipatahkan.

Bagi Ian Buruma, itu tahun 1945. Perang Dunia II yang membunuh 75 juta manusia berakhir. Dalam “Year Zero: A History of 1945”, sebuah rekaman yang memukau tentang kehidupan di patahan sejarah itu, Buruma mengisahkan situasi yang remuk, yang dengan kacau merangkak ke sesuatu yang baru. Seperti ribuan bangunan megah Eropa yang hancur dihantam bom, banyak hal berharga hilang. Sementara itu penggantinya, suasana “normal” pasca-perang, membawa tragedinya sendiri: orang-orang—lelaki dan perempuan—yang kelaparan, aristokrat yang tak laku sebagai pelacur, perempuan-perempuan pro-Jerman yang jadi sasaran pembalasan, bahkan bekas penjaga kamp yang dibantai.

Buruma lahir pada 1951 di Den Haag. Ia dikenal sebagai penulis non-fiksi yang dengan trampil menggabungkan data yang kaya dengan narasi yang mengasyikkan, seraya menyisipkan sebuah perspektif yang umumnya lugas, tanpa ilusi, tapi membuka mata. 

Dari Buruma, seorang Belanda yang dikenal sebagai “orang yang tahu Asia” (ia belajar di Universitas Leiden dan Nihon), kita sebenarnya berharap ia punya kisah tentang Indonesia, terutama ketika berbicara tentang 1945. Tapi tidak. Year Zero, yang terbit di tahun 2013, bukan rekaman dekolonisasi. Benar, ia bercerita tentang pembebasan, tapi bukan dalam bentuk  sorak-sorak bergembira. Bukan juga dengan heroisme anti-Nazi Jerman, anti- Fasisme Jepang dan anti penjajahan Eropa di Asia. Tahun 1945, dalam buku ini, adalah tahun luka-luka, kesumat dan kekacauan moral.

Tentang Indonesia, Buruma cuma bicara singkat—dan itu pun terkait dengan thema Eropa: dendam. Belanda—yang di Eropa dijajah Jerman, di Indonesia dikalahkan dengan gampang oleh Jepang—menyimpan bukan saja ilusi imperialnya yang lama, tapi juga hasrat menebus rasa malu. Den Haag ingin mengklaim kembali “milik”-nya yang hilang, Indonesia—tak melihat bahwa sejarah telah patah di tahun 1945. 

Buruma memandang negatif sikap Pemerintah Belanda, meskipun ia melihat proklamasi kemerdekan Indonesia disiapkan dengan “konsultasi yang akrab”, in close cosultation, dengan para perwira Jepang yang masih berkuasa di Jakarta. Sebabnya mudah dijelaskan: sadar negerinya akan kalah, para perwira Jepang itu memutuskan, lebih baik mendukung sebuah Indonesia yang merdeka dan “anti-Barat” ketimbang memberi peluang hegemoni bagi musuh.  

Dalam catatan Buruma, selama perang kemerdekaan yang berkecamuk ketika  Belanda datang untuk merebut “Nederlands Indie” kembali, pasukan Indonesia mendapatkan senjata dari tentara pendudukan Jepang, sebagai pemberian, hasil perampasan, atau jual beli. Diperkirakan para pejuang Indonesia memperoleh lebih dari 50 ribu pucuk  bedil, 3000 senapan mesin, dan seratus juta kotak amunisi

Tapi tak selamanya hubungan berlangsung dengan bersahabat. Di Semarang,  kesatuan tentara Jepang di bawah Mayor Kido Shinichiro bentrok dengan para pemuda Indonesia yang menuduh Jepang menyabot persediaan air kota. Ketika sejumlah pemuda terbunuh, datang pembalasan. Lebih dari 200 orang sipil Jepang yang disekap di penjara kota Semarang dibantai. Sebuah laporan tentara Inggris mencatat: “Sejumlah mayat digantung dari atap dan jendela, yang lain ditusuk sampai tembus dengan bambu runcing...Beberapa orang mencoba menulis pesan terakhir mereka dengan tulisan darah di tembok-tembok...”.  Menghadapi itu, pasukan Jepang tak diam. “Lebih dari 2000 orang Indonesia dibantai sebagai pembalasan...’

Berbeda halnya dengan posisi orang Belanda. Di hari-hari pertama sejak Jepang menyerah, tulis Buruma, “hanya sedikit sikap bermusuhan” terhadap mereka. Sukarno, Hatta dan Syahrir—tokoh-tokoh yang melawan penjajahan Belanda—bukan penggerak kebencian tarhadap orang Belanda. Dalam kata-kata Buruma, mereka “tak tertarik akan kekerasan revolusioner”.  

Ini yang tak dimengerti Den Haag. Tokoh-tokoh politik Belanda melihat Sukarno dengan pandangan yang diwarnai—seperti saya sebut di atas—dendam kepada Jepang yang telah mengalahkan mereka dengan gampang di Indonesia. Mereka pun mencoba meyakinkan pemerintah Inggris bahwa  “apa-yang-disebut-pemerintahan-Sukarno” sebanding  rezim Quisling yang pro-Nazi dan pemuda revolusioner Indonesia sebanding “Pemuda Hitler”. 

Dengan sikap Belanda seperti itu, harapan Lord Mountbatten, panglima Sekutu untuk Asia Tenggara, tak terpenuhi. Ia sebenarnya punya ide agar “pihak Belanda dan Indonesia berciuman dan jadi teman—lalu menarik diri”.

Tentu Belanda tak mau menarik diri dari koloninya yang besar ini. Konflik pun tak terelakkan. Bahkan akhirnya pasukan Inggris sendiri ikut terlibat. Dalam perang Surabaya, November 1945, perwira tingginya terbunuh, di antara puing dan jenazah ribuan pejuang dan penakluk.

Semua itu mengukuhkan pesimisme Buruma: pasca-1945, mereka yang menjanjikan kemerdekaan dan perdamaian terbukti bisa mendaur ulang kekejaman Jerman dan Jepang. Pada 1945, dendam menggerakkan pemindahan 11 juta orang berdarah Jerman yang tak bersalah dari wilayah bagian timur Austria—tanpa orang-orang ini  sadar mereka harus jadi tanda balasa dendam.

Walhasil, tak banyak pagi cerah pada 1945. Di lubuk Tahun Nol, dunia sudah menyimpan “Perang Dingin” antara Moskow dan Washington—perang yang sama sekali tak dingin dari benua ke benua.  

Agaknya dalam sejarah manusia, sampai hari ini, yang “normal” tak berarti sama dengan “damai”.


Share Tulisan Goenawan Mohamad


Tulisan Lainnya

Yusuf Abdulrahman di Mata Ngofa ma Jojo

#SOSOK - 21/10/2020 · 15 Menit Baca

Kami Ingin Orgasme Kalian Mau Apa?

#SASTRA - 21/10/2020 · 1 Menit Baca

Sebelas Martir

#ESAI - 12/10/2020 · 5 Menit Baca