× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Yang Liyan

Ini adalah upaya menopang lunglai kakiku memikul beban moral kitab suci ...
Yang Liyan
Ilustrasi kekerasan seksual. Foto: Google.

25/09/2020 · 5 Menit Baca

AKU berkisah, berkeluh kesah penuh keromantisan pada semesta, pada aku Yang Liyan. Ini adalah upaya menopang lunglai kakiku memikul beban moral kitab suci serta adab rasionalisme. Karena bagiku, Al-Hallaj benar adanya: “Ana Al-Haqq”. Akulah kebenaran.

Bulan penuh dengan bias cahaya matahari yang memancarkan temaramnya ke bumi. Angin malam berembus kencang, aroma laut dan pasir pantai yang hangat, ditemani sebatang rokok, aku memilih menepi di sini, pada pesisir selatan yang diperebutkan para Taipan. Hanya ada aku yang mengada pada potongan tubuh yang menjadi perempuan.

Aku yang berkali-kali dikhianati kehidupan. Aku yang acapkali dikucilkan peradaban. Aku yang dijejaki puluhan penis menuntut setia tak berbalas, menghujam rahimku dengan sejuta perih disertai sedikit kenikmatan demi kepuasan berahi yang tak kunjung puas. Aku yang berulang kali dilaknat dunia berkelamin jantan sebagai ketidaksempurnaan menjadi perempuan, karena vaginaku yang melebar layak tubuhku yang mulai melar, walau uterusku tak jua mengandung zigot berubah embrio berbuah orok sebagaimana yang mereka tuntut.

“Siapa kamu?” tanya lelaki bermata sayu penuh rangsangan serupa mata buas pemangsa, yang menyapaku di bawah kolong langit beralaskan tanah basah yang baru saja disetubuhi awan gelap berparas monster, 18 tahun silam.

“Aku Dara. Kau bisa menyapaku Gadis,” jawabku singkat. Mendengar seruan tersebut, laki-laki berpangkat bintang itu lalu menghujaniku dengan peluh dan spermanya yang bercampur darah dari hymenku yang pecah.

Dia menyetubuhiku di banyak tempat. Di atas dermaga, pesisir pantai, hutan, barak, dan bahkan rumahku. Aku digaulinya berkali-kali. Setiap hari. Jarang hanya sekali. Dua hingga tiga kali untuk sekali pertemuan. Dia begitu payah, tapi berlagak perkasa. Seorang penderita ejakulasi dini dan disfungsi ereksi yang terlalu berhasrat memamerkan kejantanannya.

Aku menjalankan tugas melayani dia seperti dia menunaikan tanggungjawab melayani negara. Dia, orang asing dari daratan luas di pucuk kekuasaan, yang menunjukkan sikap heroik membela burung ilusi dan para pancanya dengan hadir mengamankan konflik horizontal berbasis agama di kampungku. Konflik yang menjadi tontonan para punggawa di atas singgasana rupiah, setelah sebelumnya percikan api disebar oleh para makelar mereka. Komprador berjubah yang doyan onani di atas mimbar.

Dia seperti tak pernah puas pada isi celana yang harusnya sudah membuktikan kelakiannya. Dia dan juga belasan lelakiku setelahnya bersikap serupa, seolah maskulinitas mereka cacat jika ditaklukan vaginaku yang tak pernah lelah, juga tak butuh obat kuat.

“Kemarin aku melihatmu berjalan dengan dia. Apa hubungan kalian? Ingat, kau sudah kuperawani. Tak ada satu pun lelaki yang mau menikah dengan perempuan yang tak lagi suci!” Lelaki itu mengancamku saat kami terkulai lemas di atas ranjang reyot dalam bilik papan sempit tanpa sehelai benangpun. Dia tak lagi memanggilku Dara atau Gadis. Dia menyebutku perempuan. Aku berganti nama. Ya, kini aku perempuan dalam pelukan seorang laki-laki. Dia memilikiku, aku miliknya, tidak sebaliknya. Akulah Yang Liyan baginya.

Aku membisu sejenak, lalu berucap terbata, ”Dia teman sekolahku. Rumah kami searah, jadi pulang bersama-sama”. Dia tak lagi menanggapi secara verbal, hanya sebuah kecupan hangat mendarat di dahiku. Lalu berlanjut sebagaimana yang sudah-sudah, dia tidak akan pernah berhenti di situ. Dia mulai mengecup turun ke pipi, hidung, bibir, dagu dan seterusnya.

Bibirnya mulai menggerayangi seluruh wajah hingga ke telingaku sembari berbisik, “Aku sayang kamu. Aku akan menikahimu!” lalu daun kuping beranting itu digigitnya pelan. Aku paham dan mulai merasakan libidoku bangkit. Setelahnya, dia akan melanjutkan aksi mengeksplorasi sekujur tubuhku yang sudah bugil saat aksi pertama beberapa menit lalu dimulai dan berakhir 10 menit kemudian.

Percintaan itu digelar selama lebih dari setahun, ketika awal abad dan milenium baru dimulai. Pada tahun itu dan tahun sebelumnya, aku melihat kepala-kepala ditebas, perempuan diperkosa, anak-anak mengais mayat orangtua, ribuan orang mati, dan ratusan ribu mengungsikan diri. Jerit tangis dan rintihan sakit selaras dengan dentuman bom dan senjata atas nama. Ya, ini adalah perang atas nama.

Atas nama Tuhan dan agama. Atas nama etnis, suku, golongan darah, dan garis keturunan. Sang Kiai NU mungkin benar, “Tuhan tak butuh dibela!” karena Ia lebih besar dan kuat dari kita yang diciptakanNya. Tapi saat itu, siapa yang hendak mendengarkan petuahnya? Semua orang penuh gelora membantai sesama, setelah diinjeksi dengan ayat-ayat kebencian pada mereka yang berbeda.

26 Desember 1999 adalah Natal dan Ramadhan berdarah yang memutuskan ikatan batin dan cinta kasih pada saudara sedarah namun tak seiman. Tragedi ini yang mengantarkan pertemuanku dengan lelaki berseragam itu, yang mencintai serta mencaci dan menginjaki perutku dengan sepatu larsnya secara simultan, yang menghujaniku dengan ciuman dan ujung senapannya sekaligus, yang membelikan baju pengantin seraya melambaikan tangannya padaku dari atas kapal perang AL pada medio 2001 sebagai salam perpisahan.

Perilaku serupa juga dipertontonkan puluhan temannya saat itu dan dibalas dengan tangisan pelacur mereka yang berdiri di sekitarku. Para puan yang menengadahkan wajah penuh harap agar rasa kasihan bisa menghentikan kekasih hati mereka berpulang pada istri dan anak yang tengah menanti.

Sauh perahu besi ditarik dari dasar laut sebagai penanda bahwa para serdadu akan dibawa kembali ke Tanah Jawa. Lambaian dari wajah memelas lelaki itu membuatku mual. Sebelum naik ke atas kapal, dia membuat pengakuan tentang khianatnya selama ini. Bahwa dia bukan seorang lajang. Bahwa istri dan anak-anaknya tengah menanti kepulangannya. Aku pun membalikkan badan setelah meneteskan airmata ditinggal pria asing yang pernah memilikiku.

Sebagian perempuan-perempuan itu kemudian berjalan mengikutiku setelah kapal berlayar menjauh, sebagian lagi masih bertahan di atas dermaga. Mayoritas mereka masih menangisi diri yang dicampakkan setelah dicecap layaknya saus. Beberapa di antara mereka membawa serta perut buncit yang berisi benih tentara-tentara itu. 

Orang-orang menonton kami. Kami adalah dunia tontonan bagi publik yang tak pernah menaruh iba. Massa menyebut kami bodoh, liar, dan binal. Tak ada satu pun yang memberikan hujatan serupa pada para serdadu beristri itu. Tak ada yang pernah bertanya ketika wajah kami lebam dan tubuh kami memar, bahkan orangtua sekalipun, yang terlanjur bangga dengan kepiawaian kami menggaet pahlawan bangsa ini.

Setelah heroisme itu berlalu, kami lantas dilaknat karena tak cukup mawas menjaga potongan daging bernama payudara dan vagina dari buasnya pangkat. Kami tak diakui karena tak cukup telaten meladeni buas berahinya para army dan akhirnya ditinggal pulang oleh mereka, lalu menyisakan rasa malu bagi keluarga yang dicibir telah melahirkan dan mendidik pelacur.

Aku tak hanya dikhianati lelaki itu. Aku juga terkhianati keluarga, teman, dan lingkungan sekitar. Diusir dari rumah, ditinggalkan sahabat-sahabat dekat, dikeluarkan dari sekolah, dan dihakimi masyarakat. “Lihat! Tentara pulang gendong ransel di belakang. Perempuan-perempuan itu gendong ransel di depan. Itu akibatnya jika terlalu sundal!”

Aku membuka telinga mendengar semua cacian murka itu dan mulai menyalahkan diri sendiri karena jatuh cinta kepadanya. Tapi cinta tak sekalipun mendikte pada siapa dia akan berlabuh. Cinta datang padaku tanpa permisi dan pergi dariku tanpa salam. Tetap saja, aku muak dengan semua sandiwara atas nama, sekalipun atas nama cinta yang telah menciptakan nelangsa untukku. Akhirnya, percintaan hanyalah tentang pengabdian atas tubuh.

**

20 tahun kemudian...

Hari ini aku melihat tubuh telanjang seorang perempuan yang terkulai di atas ranjang sebuah hotel, bermandikan peluh dan darah segar. Sosok lelaki berperawakan tinggi yang hanya mengenakan sebuah celana pendek, berdiri di samping ranjang dengan memegang sebilah pisau.

“Menikahlah denganku. Aku akan membebaskanmu dari hinaan dan kotornya hidupmu. Aku ingin memilikimu seutuhnya, bukan hanya untuk sesaat saja!” lelaki itu mengiba beberapa saat yang lalu.

“Aku tak ingin dimiliki. Itu bukan sesuatu yang bisa membebaskanku. Kau hanya ingin menjadikanku tawananmu. Aku tak ingin menikah!” perempuan itu membalas dengan tegas.

“Tidak! Kau harus menjadi milikku seutuhnya. Aku tak ingin melihatmu dijamah lelaki lain!” lelaki itu masih berkeras hati hendak melamarnya.

Perdebatan itu kian panjang dan lama. Laki-laki itu marah dan beranjak dari tempat tidur, meninggalkan perempuan jalang tak tahu untung itu meratap di balik selimut. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan sebilah pisau dan langsung menusuk-nusuk tubuh perempuan malang yang sedang memejam itu tanpa ampun.

Sebuah serine ambulans berbunyi. Laki-laki itu telah berlari keluar beberapa saat lalu. Aku kaget dan kembali memandang nanar sosok perempuan itu. Oh, sungguh diriku yang malang, kehidupanku yang liar dan binal telah mengantarkanku pada kematian, tanpa cinta dari seorang pun jua.


Share Tulisan Astuti N. Kilwouw


Tulisan Lainnya

Yusuf Abdulrahman di Mata Ngofa ma Jojo

#SOSOK - 21/10/2020 · 15 Menit Baca

Kami Ingin Orgasme Kalian Mau Apa?

#SASTRA - 21/10/2020 · 1 Menit Baca

Sebelas Martir

#ESAI - 12/10/2020 · 5 Menit Baca