× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Jangan Merokok di Bido

Sebentar lagi, saat matahari pulang ke peraduan. Kita mulai ...
Jangan Merokok di Bido
Marinus Bilote (Fotografer : Nasarudin Amin)

03/10/2020 · 5 Menit Baca

Marinus Bilote sudah terlihat menua. Tapi ia tak sedang sekarat terbaring di rumah sakit seperti pria paruh baya lain pada umumnya di Kota-Kota besar. Telapak kakinya masih sangat kuat berjalan. Suaranya begitu tegas, juga sorot matanya masih setajam elang. Sore itu sekita pukul 17.20 WIT, saya sengaja menemui Martinus hanya untuk sekedar mengingatkan lagi tentang rencana sesi wawancara yang saban hari, menjelang maghrib sudah dibisiki Pak Agus, Sekretaris Panwaslu Kecamatan Pulau Batang Dua ke daun telinganya.

“Sebentar lagi, saat matahari pulang ke peraduan. Kita mulai sesi wawancaranya,” Jawab Marinus dengan mata yang masih begitu liar. Saya memang tak tahu, apa rumus yang dipakai Marinus dan tokoh masyarakat lainya di Kelurahan Bido, Kecamatan Pulau Batang Dua sehingga tak ada puntung rokok dan asap tembakau yang melayang-layang di kampung itu.

Marinus merupakan satu dari ratusan warga yang tak ingin hidup berteman dengan asap tembakau, juga minuman keras (miras) lokalan. Dia bercerita, kebisaan orang-orang Bido tidak merokok sudah diterapkan jauh sebelum ia lahir. Ia bahkan tak tau persis kapan rokok dan miras tak dibolehkan untuk dikonsumsi di Kelurahan Bido.

“Kebiasaan tidak merokok itu sudah lama, sejak leluhur kita. Jadi sebelum saya lahir sampai eksodus bersama orang tua saya mendirikan kampung ini. Masyarakat di Kampung ini memang sudah tidak merokok, dan kita sudah terbiasa dengan ini,” ungkapnya.

Ia bilang, dahulu kampung ini adalah hutan kosong, tapi ada sebagian yang menjadi lahan pertanian warga Lelewi. Orang-orang Bido kata dia semuanya berasal dari Lelewi. Kala itu di tahun 1956, ada 7 KK (Kepala Keluarga) yang eksodus ke tanah ini untuk mendirikan perkampungan.

“Dulu orang tua saya, dan beberapa keluarga orang tua saya punya kebun di sini (Bido), mereka merasa sulit kalau pergi ke kebun karena jaraknya yang terlalu jauh. Itu sebabnya mereka putuskan untuk membangun perkampungan yang lebih dekat dengan kebun mereka. Jadi mereka (pendiri kampung) ini sebenarnya satu rumpun saja dengan orang-orang di Lelewi, tapi semua kita yang hidup di sini asalnya dari Loloda di Halmahera,” tutur pria paruh bayah ini kepada saya, 29 September 2020.

Menurut cerita orang-orang tempatan, ada tiga Kelurahan di Kecamatan Pulau Batang Dua yang warganya tidak diperbolehkan merokok. Tiga Kelurahan itu masing-masing Kelurahan Lalewi, Kelurahan Bido dan Kelurahan Pantai Sagu. “Warga di tiga Kampung ini tidak merokok,” ujarnya.

Di ruang tamu menantunya, Marinus merunut cerita bahwa warga di tiga Kelurahan ini tidak merokok karena perintah Gereja Kalvari Protestan. Alkitab orang kristiani melarang keras warga di tiga Kelurahan itu merokok, apalagi mabuk-mabukan.

“Ajaran ini nilainya begitu kuat tertatam, termasuk di Kelurahan Bido. Akan menjadi fatal apabila kita merokok karena merusak kesehatan. Itu menjadi dogma agama khususnya di gereja,” ungkapnya.

Agaknya muskil untuk membayangkan di dalam pikiran dan merasakannya di dalam hati. Bagaimana situasi se-sehat ini bisa terjalin begitu saja tanpa ada protes. Sebanyak 110 KK dengan kurang lebih 300 jiwa warga bisa tidak merokok selama hidup mereka. Sesuatu pemandangan yang tidak dilakoni warga di Kota Ternate, padahal sudah dipagari dengan Peraturan Daerah (Perda) tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Tak hanya di Bido, pola hidup seperti ini juga bisa di temui di Halmahera Barat. Ichwan Susanto, Fransiskus Pati Herin dan Ingki Rinaldi sudah pernah menerbitkan laporan serupa. Kala itu, mereka melakukan liputan di Desa Guaeria, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat. Desa ini juga menerapkan peraturna larangan merokok bagi siapapun, baik warga desa maupun pengunjung yang datang. Orang yang melanggar akan diminta meninggalkan desa tersebut. Di Desa ini, tidak sebatang rokok pun boleh menyala. Penduduk di desa ini bahkan melarang asap rokok melayang-layang di udara.

Sehari sebelumnya, saya juga sudah melakukan penelusuran di sejumlah titik di Kelurahan Bido. Di sini hampir tidak ada puntung rokok tercecer di jalan. Bahkan di warung-warung kecil milik warga juga tidak menjual rokok. Tentu ini hasil kerja keras warga setempat yang konsisten dalam mewujudkan kampung mereka bebas asap rokok.

Seorang warga yang enggan menyebutkan namanya mengungkapkan, keinginan warga hidup sehat menjadi kunci kampung ini taka da asap tembakau yang berseliweran di langit. Ini barangkali yang membuat kampung ini tidak terserang corona virus disease 2019. Bahkan jika ada tamu dari luar daerah yang datang, mereka terpaksa harus lari ke bibir pantai, bersembunyi di semak-semak dan di balik gundukan pasir, baru bisa merokok. Itupun asapnya harus dibuang perlahan-lahan sehingga tidak dicurigai warga tempatan.

Nururrahman, seorang mahasiswa Universitas Cokroaminoto Palopo, pernah membuat study tentang pengaruh rokok terhadap kesehatan dan pembentukan karakter manusia menyebut, rokok adalah salah satu permasalahan nasional bahkan telah menjadi permasalahan internasional yang telah ada sejak revolusi industri.

Menurut Nururrahman, rokok merupakan salah satupenyumbang terbesar penyebab kematian yang sulit dicegah dalam masyarakat. Kandungan senyawa penyusun rokok yang dapat mempengaruhi pemakai adalah golongan alkaloid yang bersifat perangsang (stimulant) seperti nikotin, nikotirin, anabasin, myosmin. Kebiasaan merokok yang bersifat adiktif dapat menyebabkan terbentuknya sifat egois dari para perokok. Ini dapat terlihat dari kebiasaan merokok didepan umum dan ditempat-tempat terbuka.

Dimana pembentukan karakter seseorang dipengaruhi oleh faktor organis dan faktor non-organis, dimana faktor organis dibentuk oleh faktor genetik dan integritas kerja sistem organ tubuh misalnya, otak. Sedangkan faktor nonorganisberhubungan dengan faktor lingkungan dimana seseorang itu bermukim. Rokok bisa menyebabkan penyakit jantung koroner, trombosis koroner, kanker, bronkitis atau radang cabang tenggorok, dan kematian pada janin. Selain itu efek lain bagi kesehatan yang ditimbulkan karena merokok adalah wajah keriput, gigi berbercak dan nafas bau, lingkungan menjadi bau, menjadi contoh yang buruk bagi anak, menjadi gerbang penggunaan obat-obatan terlarang.

Yosias Kontrake (48), seorang Pendeta di gejeja protestan misi indonesia (GKPMI) di Kelurahan Bido menegaskan, di dalam alkitab perjanjian baru melarang semua penganutnya mengotori diri. Karena tubuh manusia adalah tempat terbaik untuk Tuhan bersemayam. “Merokok dan minum alcohol itu kan merusak tubuh. Maka kita harus menjaga tubuh kita agar bersih saat dipandang Tuhan,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, yang harus dijaga manusia adalah pribadi masing-masing. Kemudian tidak boleh mengotori tubuh. “Kalau ada yang merokok, silahkan cari polisi tangkap saja. Karena hal-hal yang bersifat merusak itu dilarang. Anak-anak kami kalau kedapatan merokok, kami pukul, kami hukum dia. Jadi tidak boleh,” tegas Yosias.

Memiliki Adab Yang Baik

Selain tidak merokok dan mengkonsumsi miras, enam Kelurahan di Kecamatan Pulau Batang Dua juga masih menjaga adab yang baik. Merlon Kuadang, seorang pemuda di Kelurahan Mayau mengungkapkan, hidup penuh keadaban yang diterapkan masayrakat di Kecamatan Batang mulai di ajarkan di Sekolah dan di rumah-rumah.

Setidaknya ini saya alami sendiri. Baru pertama kali tiba di Kecamatan Batang Dua, kami turun di Kelurahan Bido, lalu menyeberang ke Kelurahan Mayau menggunakan mobil pic up, sepanjang jalan kami disapa sejumlah orang dengan senyum ramah. “Selama pagi, selamat pagi, selamat pagi, selamat pagi,” sapa sejumlah warga dan siswa saat kami berpapasan dengan mereka di jalan.

Marinus bilang, kebiasaan menyapa ini tidak boleh hilang. Ia harus dipelihara, dijaga, dihormati dan diberi tempat untuk terus beranak pinak. Karena itu, praktek ini selalu diterapkan di mana saja. Di jalanan ketika berpapasan dengan sesama warga, di kebun, bahkan saat melaut pun kebiasaan saling menyapa ini masih diterapkan.

Selain saling menyapa. Marinus juga mengaku, semangat babari  (gotong royong) warga di Kecamatan Pulau Batang Dua ini masih terus terawat dengan baik. “Babari ini biasa kami terapkan pada saat musim panen, ada juga saat mau membangun rumah, itu kami kerjakan secara gotong royong, sehingga pekerjaan yang tadinya sulit bisa menjadi mudah,” jelasnya.

Marinus berpesan kepada semua generasinya agar selalu melakukan hal-hal yang baik. Sehingga menjadi pola panutan bagi daerah-daerah lain bahkan Indonesia sekalupun. “Bukan cuman di Bido tapi kiranya itu tercermin sampai di mata dunia. Itu yang kami dambakan,” ungkapnya. (**)


Share Tulisan Nasarudin Amin


Tulisan Lainnya

Yusuf Abdulrahman di Mata Ngofa ma Jojo

#SOSOK - 21/10/2020 · 15 Menit Baca

Kami Ingin Orgasme Kalian Mau Apa?

#SASTRA - 21/10/2020 · 1 Menit Baca

Sebelas Martir

#ESAI - 12/10/2020 · 5 Menit Baca