× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Pelanggar

Cerpen

Pecinta Sastra
Pelanggar
Safety Mart Indonesia

09/10/2020 · 3 Menit Baca

Pagi itu Suryo berdiri di atas trotoar memandang rumah sakit umum di seberang jalan. Wajahnya lesu dan rambutnya sedikit berantakan. Tas rangsel Levis hitam yang nampak tua melengket di punggungnya. Lalu ia mulai langkah pertamanya.

"Pipppp, pippp!" Sebuah mobil hampir menyambarnya. Suryo kembali ke atas trotoar. Dilihatnya kendaraan motor dan mobil begitu ramai. Suryo berdiri sebentar menunggu peluang. Kesempatan datang juga, belum sampai di garis putih puluhan motor dan sebuah mobil ambulans melaju sambil mengeluarkan suara yang memekakkan telinga. Terkejut, Suryo pun membalikan badannya dan berlari kembali ke trotoar. Para pejalan kaki menatapnya dengan ekspresi wajah yang kaku.

Kali ini, Suryo benar-benar fokus. Bola matanya yang coklat itu bergerak-gerak mengikuti lajunya kendaraan. Baginya, jalan raya merupakan salah satu masalah ketiga bagi orang-orang di kota besar selain pengangguran dan kemiskinan. Orang-orang metropolis harus menghadapi jalan raya antara hidup dan mati. Dan banyak di antara mereka mati dalam kesia-siaan. Begitulah yang ia tonton di TV di kampungnya setelah pulang dari berkebun seharian.

Suryo mencoba lagi, kali ini penuh kehati-hatian. Tapi sesekali langkahnya terhenti dan sesekali pula melangkah mundur. Diingatnya saat menonton televisi, orang-orang ketika akan menyeberangi jalan raya, mereka mengangkat tangan ke atas melambai ke arah kendaraan agar diberi kesempatan. Suryo lakukan hal itu persis seperti yang dilakukan di dalam televisi, tapi para pengendara tak peduli dengan keberadaannya. Beberapa menit kemudian Suryo kembali lagi ke trotoar dengan muka masam.

Sinar matahari mulai menghangatkan kota. Gedung-gedung tinggi berkaca berkilau, menyilaukan mata. Suryo tak beranjak dari atas trotoar meski kulitnya mulai terasa perih. Rumah sakit di seberang jalan itu membuat hatinya gelisah. 

Saat hendak menyeberangi jalan lagi, seorang pejalan kaki menghampirinya dan berkata, " kurang lebih tiga ratus meter ke arah timur ada jembatan penyeberangan."

"Oh, iya terima kasih, pak," tanggap Suryo lemah.

Suryo memandang ke arah timur, puluhan kepala dengan wajah beragam, sibuk, tak ada yang tersenyum saat tepat di depannya. "Ah, tiga ratus meter. Jembatan penyeberangan," keluhnya dalam hati.

Kembali Suryo pandangi rumah sakit dan memastikan jalan raya masih juga ramai. "Jembatan saja," serunya dalam hati. Ketika baru empat langkah ke arah timur, hp di saku kamejanya berdering.

"Iya, adikku, aku sudah di depan rumah sakit."

"Iya, kak cepat, dokter sudah terima surat rujukan dan sudah mengurus untuk persiapan operasi ibu dan dokter tak mau menunggu lama, kak."

"Bilang sama dokter, kak segera datang untuk menyelesaikan pembayaran operasi ibu," tegas Suryo.

"Cepat ya kak, cepat, karena di sini banyak pasien yang antri kata dokter, sedang ibu semakin kritis," balas adiknya penuh gelisah.

"Tutttt, tuttt," suara adiknya diseberang telpon tak lagi terdengar.

Kali ini Suryo tak mau lagi melangkah ke arah timur menuju jembatan penyeberangan dan secara kebetulan jalan raya di depannya itu lengang. Dengan satu tarikan nafas ia berlari memasuki jalan raya hingga sampai di batas jalan yang memisahkan dengan jalan raya ke arah barat. Kebetulan juga jalan raya arah barat itu pun lengang dan Suryo pun berlari hingga memasuki pintu gerbang rumah sakit. 

Sambil menghembuskan nafasnya, Suryo melangkah pelan. Tapi sebelum salah satu kakinya menyentuh teras rumah sakit. Lima orang Satpol-PP merangkulnya dan membawanya. Suryo kebingungan, "kenapa aku di rangkul."

"Kau melanggar aturan," kata salah satu Satpol-PP. "Ikut saja ke pos."

"Aturan apa?" Bantahnya.

Di pos sang komandan Satpol-PP membentaknya. Seraya berkata, "kau melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh kota ini, yakni dengan menyeberang jalan tak menggunakan jembatan penyeberangan."

"Tapi aku keburu-buru ke..."

"Keburu-buru matamu," potong sang komandan."

"Kau tahu tidak, kalau sampai ada kecelakaan, itu mengganggu ketertiban dan kenyamanan lalu-lintas," lanjut sang komandan.

"Tapi pak..."

"Tapi, tapi apa," potong sang komandan sambil membentak. "Kau telah melanggar Perda nomor 16 tahun 2012 tentang pembinaan dan pengawasan ketertiban umum."

"Tapi, pak, ini kali pertama aku ke kota karena ibuku masuk rumah sakit dan akan dioperasi," kata Suryo meyakinkan.

"Ah, alasan saja. Tampang kayak kalian ini kalau ketangkap banyak bohongnya," tukas sang komandan.

"Pak tolong, pak, tolong, ibuku..."

"Sudah cukup kami bertoleransi, kau diancam tiga bulan penjara dan denda dua puluh lima juta."

"Apa," tersentak Suryo dari kursinya yang bersamaan dengan HP-nya berdering, dijawabnya, kabar meninggal ibunya. Suryo menangis sejadi-jadinya. Sang komandan dan anak buahnya tertawa lepas.

 

Yogyakarta,(10/03/2016) - Banemo,(28/09/2020)


Share Tulisan FirmanSyah Usman


Tulisan Lainnya

Yusuf Abdulrahman di Mata Ngofa ma Jojo

#SOSOK - 21/10/2020 · 15 Menit Baca

Kami Ingin Orgasme Kalian Mau Apa?

#SASTRA - 21/10/2020 · 1 Menit Baca

Sebelas Martir

#ESAI - 12/10/2020 · 5 Menit Baca