× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Sang Guru Sejati

Aktor di balik pendidikan Desa Maidi.
Sang Guru Sejati
Foto Istimewa

09/10/2020 · 3 Menit Baca

Masih sangat muda, saya waktu itu, hingga saat ini rasanya sulit untuk kembali menenun ingatan tentang kedatangan beliau, lelaki perkasa dengan gaya rambut kilaunya, tinggi badanya kurang lebih 160 centimeter. Saat itu usia saya baru menginjak 11 tahun. Orang-orang tentu punya sikap yang sama kepada beliau sebagaimana tamu lainya yang datang kesana. Tapi siapa yang menduga, pijakan kakinya adalah cahaya untuk pendidikan di daerah terpencil itu.

Ia baru saja pindah tugas di Desa Maidi, mengepalai Sekolah Menengah Pertama di sana, laki-laki berambut lurus dan murah senyum itu adalah Jainal Ali, seorang paruh baya yang yang tidak seperti lelaki biasanya, ia tak suka mencium bau tembakau. Suatu hari di bulan lalu saya mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan beliau. Saat dingin malam sedang menyengat kira-kira pukul 21.30 WIT kami bicara diruang tunggu penumpang pelabuhan laut Maidi. Tanpa ada kopi atau asap rokok, saya mendengarkan cita-cita besar beliau yang belum sempat terwujud. Tak ada yang baru di bawah matahari, kata orang Belanda. Tapi tidak untuk beliau.

Pesona gaya Jainal Ali memang tak gampang ditangkal oleh aspiran saya dan tentu saja juga oleh pembaca umum. Ia memadukan dengan amat mengesankan keterampilan menciptakan ruang pendidikan dan kecanggihan sikap dalam mengembangkan minat orang bersekolah. Wajar jika jiwanya bergetar saat melihat ada yang tidak baik dari bangku sekolah. Sorotan itu beliau sampaikan kepada saya saat kami duduk bicara dibulan lalu.

Ia menyesali, jumlah tenaga pengajar di Desa Maidi yang semakin berkurang, meski ia adalah Kepala SMA Negeri 14 Tidore Kepulauan ia meminta saya bersama beberapa rekan yang tergabung dalam Forum Peduli Kelangsungan Maidi (FOLILA MAIDI) mencari jalan keluarnya, apalagi kekosongan tenaga pengajar tersebut adalah sebagian guru-guru dari mata pelajaran ujian nasioanal di Sekolah Menengah Pertama yang dulu pernah ia kepalai.

Baginya pendidikan adalah soal yang harus di jawab dengan serius, itu tergambar dalam raut wajahnya saat kami berdiskusi. Diusiannya yang sudah semakin tua, ia tak seperti orang-orang di gedung parlemen sana. Yang mungkin sibuk mengurusi proyek. Jainal begitu tajam sorotannya terhadap kondisi pendidikan. “Bulan depan saya sudah akan pensiun dari jabatan,” uangkapnya dengan wajah yang sedikit berseri.

Tidak ada yang berbeda sebagaaimana orang lain, namum sang guru sejati ini telah memutuskan mata rantai putus sekolah di usia muda, ia adalah pendiri satu-satunya Sekolah Menengah Atas di Desa Maidi di tahun 2011 silam. Ia datang di saat anak-anak kehilangan harapan. Tentu diusia selulus SMP kita akan membutuhkan mental lebih untuk merantau melanjutkan pendidikan di SMA, inilah yang menjadi sebab anak-anak di Maidi banyak yang putus sekolah. Disana hanya ada Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Jainal datang dan revolusi pendidikan itu terjadi.

Ditahun 2011, ia bersama beberapa orang mendirikan yayasan di Desa Maidi, yayasan ini kemudia membahawahi berdirinya SMA LPM Desa Maidi, lalu kemudian berubah nama menjadi SMA Perkasa Maidi. Ada yang manirik dari cara Jainal mendapatkan izin operasional dari dinas terkait. Waktu Sekolah ini beroperasi, tercatan hampir 40 siswa yang mendaaftarkan diri. Jainal tak langsung menemui Kepala Dinas, ia menunggu tiga bulan kemudian, lalu datang melapor ke Dinas, bahwa ia dan masyarakat telah mendirikan SMA di Desa Maidi dengan jumlah siswa hampi 40 orang.

“Tak ada alasan anda untuk tidak mengeluarkan izin untuk sekolah ini, sebab ada kurang lebih 40 anak muda yang sedang meramu masa depannya di bangku sekolah yang kami bangun, anda tidak mungkin mengorbankan masa depan anak-anak itu bukan?” ucap Jainal, dan benar izin itu dikeluarkan tanpa ada negosiasi yang lama. Jainal sangat cerdas, ia datang ke Dinas di saat semua Sekolah telah menutup pendaftaran untuk siswa baru dan tentu jika tidak di ijikan untu tetap beroperasi, anak-anak itu tidak akan bisa mendaftar di sekolah lain.

Mendirikan Sekolah Menengah Atas di Desa Maidi adalah sebuah langkah yang membuka cahaya pendidikan di Desa Maidi, saya masuk di SMA Perkasa di tahun 2013, waktu itu jumlah tenaga pengajar masih sangat sedikit. Jainal tak pernah mengharapkan diberikan guru PNS, ia mendatangi orang tua setiap mahasiswa yang baru wisuda dibidang keguruan, dan meminta izin agar anak-anak mereka agar bersedia mengajar di SMA Perkasa. dengan jumlah siswa yang sangat sedikit dan biaya SPP yang murah membuat Jainal harus putar otak untuk membayar guru-guru honor yang ia datangkan. Setiap tahunnya Jainal pasti bisa mendatangkan satu atau dua guru baru.

Langkahnya tak ada yang sia-sia, sekarang jumlah anak-anak yang melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi semakin banyak, tepat di tahun 2014 saat lulusan perdana SMA Perkasa menggengam Ijazah. Angka putus sekolah di Desa Maidi kini tidak ada lagi, Jainal membuka keran itu, keran yang menghalangi anak-anak dari Maidi untu bercita-cita tinggi. Setelah beralih status menjadi Sekolah Negeri dau tahun lalu, dengan di isi berbagai fasilitas belajar dan guru-guru yang ramah. SMA Negeri 14 Tidore Kepualau kini kehilangan sesosok panutan yang berjuang untuk pendidikan di Desa Maidi. Dua hari lalu saya mendapatkan kabar bahwa Jainal telah pensiun tugas.

Uraian niat yang ia buktikan adalah cahaya untuk pendidikan di Desa Maidi, sekarang tidak adalagi anak-anak yang putus sekolah di sana, terimakasih guru sejati, semoga engkau beruntung di masa mendatang.   


Share Tulisan Abubakar Ismail


Tulisan Lainnya

Yusuf Abdulrahman di Mata Ngofa ma Jojo

#SOSOK - 21/10/2020 · 15 Menit Baca

Kami Ingin Orgasme Kalian Mau Apa?

#SASTRA - 21/10/2020 · 1 Menit Baca

Sebelas Martir

#ESAI - 12/10/2020 · 5 Menit Baca