× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Pameran

Ruang dalam diri ...

Direktur LSM RORANO
Pameran
Pameran lukisan. Foto: Ist.

23/10/2020 · 3 Menit Baca

Sebuah undangan berkedip manja di layar ponsel. Saya menyangka itu undangan kampanye yang lagi bergulir di Ternate. Begitu dibuka, sebuah kata pendek asing menyembul. Berhuruf tebal mencolok. Kangalma. Isinya ajakan untuk menikmati sebuah pameran seni lukis karya seorang perempuan muda bertalenta. Pameran merujuk pada pengertian kamus bahasa Indonesia yang besar itu adalah pertunjukan hasil karya seni, barang hasil produksi dan sebagainya. Untuk apa dipamerkan?

Saat gerimis basah menggigil di kegelapan Benteng Oranje yang pucat diterangi lampion, saya menemukan makna pameran yang lebih cair. Pajangan berbagai lukisan bergaya abstrak ekspresionis pada medium kanvas dengan menggunakan teknik garap mural itu, sejatinya ditampilkan untuk berkomunikasi. Mengajak orang ramai berselancar menikmati karya seni lukis lalu memberi apresiasi. Entah isinya adalah romantisme, keindahan atau bahkan pemberontakan.

Jurgen Habermas menyebut selalu ada tempat di mana manusia dapat mengalami ide-ide kebebasan, yang jadi tempat berpijak untuk menentang penindasan. Tempat berpijak itu adalah komunikasi.

Dengan itu, seorang Fadriah Syuaib “memberontak”. Pelukis kelahiran Ternate ini menggunakan pameran sebagai subyek untuk berkomunikasi tentang diri. Menemukan ruang yang meretas kegelisahan, putus asa, amarah yang berkelindan dengan hasrat untuk membuktikan, melawan dan menang. Enambelas tahun ia bergulat, sendirian mendaki, terhempas, merayap, berdiri di antara ketidakpedulian. Berteriak dan tak didengar. Berusaha meyakinkan bahwa seni lukis adalah masa depan. Namun tak ada yang mendekat dan mendukung. Mungkin juga karena ia perempuan. Bisa dan luka kubawa berlari, meminjam Khairil Anwar.

Kangalma memadukan kata dalam bahasa Ternate “kangela” dan “alma” dari Spanyol. Artinya kurang lebih; ruang dalam diri. Sebuah perenungan. Semacam penyintas batas antara masa lalu dan besok nanti. Ternate dan Spanyol pada masa lalu adalah epik perlawanan dua kutub yang tak usai. Berperang untuk menang dan kalah namun saling bertukar kata. Ada renjana yang diwariskan. Fadriah meresurjensikan lewat kuas, cat dan kanvas. Dari pameran ke pameran. Sendirian. Membangunkan masa depan.

Di masa tertentu, Ia kadang terjebak bosan dan muak. Lari dari aroma cat minyak yang membius. Namun selalu kembali. Ada pergulatan bathin yang berusaha menjauhi ego. Melawan narsisme sebagai obyek. Immanuel Kant menyebut obyek pada diri sendiri tak bisa diketahui. “Sesuatu” yang das Ding an sich. Kant lebih fokus pada subyek. Menurutnya, sesuatu itu hanya kita pahami melalui akal budi yang subyektif. Menggunakan kategori-kategori apriori yang menentukan pegetahuan kita akan sesuatu - bukan isi obyek dari sesuatu tersebut.

Meski seni lukis masih jadi sepi dan pelukis selalu tersisih - Edgar Degas, pelukis beraliran realis kelahiran Paris selalu menyebut; melukis itu mudah ketika kamu tidak tahu caranya, tetapi jadi sulit ketika akan melakukannya - namun jejak Fadriah tak kusut masai. Kangalma adalah pameran ketiga Fadriah. Sebuah capaian luar biasa untuk “pentas” yang tak terlalu diminati orang ramai.

Ia memulainya dengan pameran tunggal “Bayangan Kita Satu” pada 2006. Sepuluh tahun kemudian, ia berkolaborasi dengan dua seniman Amerika,  Elizabeth Traina dan Imani Sanklin dalam program Art Envoy, Women to Women. Bersama relawan serta praktisi seni, mereka mengadakan mural di halaman skateboard Falajawa Ternate. Dari program tersebut, ia mendapat kehormatan untuk mengikuti program pertukaran IVLP (International Visitors Leadership Program) ke Amerika Serikat.

Setahun setelah itu, ia menggelar pameran kedua: “Perempuan Bicara Perempuan”. Selama berproses, banyak turbulensi sosial yang dialami. Ia merasa dikerdilkan secara estetis. Namun langkahnya tak surut. Lewat literasi dan edukasi, kampanye berkesenian selalu dirambahi. Militansinya terjaga. Tak jarang ia berswadaya untuk mendukung penuh banyak aksi seni demi menjaga eksistensi berkesenian di kota ini. Bagi Fadriah, keberanian (berkesenian) adalah satu-satunya cara untuk bisa bertahan.

Melalui gagasan dan ekspresi berkesenian, Fadriah mewakili suara para seniman yang menganggap respon pemerintah selama ini sangat lamban. Berkesenian belum menjadi perhatian serius. Sikap itu akan jadi ancaman jika dibiarkan terus. Baginya, perhatian di bidang seni bukan hal serupa harapan saja, tetapi bagaimana menjaga dan memelihara agar tetap berkembang dan terawat.

Pada lanskap yang sama, kita akan sependapat bahwa kota ini dan orang ramai di dalamnya butuh seni. Biar kita tidak terjebak pada narsisme yang sempit dan mengadili. Kota ini akan terus berkembang seturut banyaknya orang yang hilir-mudik, masuk-keluar, pulang-pergi, bersaing dan bersedekap. Di sela kota yang sibuk itu, ingatan kadang diperbudak lupa. Lalu kebencian mengintai di antara keduanya. Kekerasan sosial dalam banyak wajah akibat ketidakadilan dan ketidakpedulian jadi semacam utopia.

Kota ini butuh sesuatu yang meredakan amarah dan mengusir purbasangka. Berkesenian entah pada kanvas, pada tifa, pada lagu, pada tari, pada puisi, pada drama, pada komedi hendak membasuh gersangnya hati. Jangan sampai kita terjebak pada lakon yang menghasratkan diri sendiri. Mirip berselfie ria lalu menyebarkannya dengan maklumat bahwa kitalah yang cantik dan tampan itu, meski banyak editannya. Saling memaksa kebenaran. Narsisme mengalahkan akal sehat.

Malam itu, saat hujan menderas dengan lembut, satu dua anak muda menari di atas rumput yang basah. Bercengkrama dalam bisu. Di pelataran kantor kebudayaan yang tertutup, puisi-puisi perlawanan didentamkan. Mengaum di antara tiang-tiang warisan kolonial. Di sini, langkah tak boleh berhenti. Lalu sebuah monolog menghujam tanya. Apa itu seni? Seni dalam banyak literatur dipahami sebagai semua laku dan karya manusia yang berkelindan dengan keindahan. Sesuatu yang menyucikan.

Pablo Picasso menyebut tujuan seni adalah mencuci debu kehidupan sehari hari dari jiwa kita. Karena itu, seni tak boleh diterabas kepentingan lain. Ia bebas berdiri dalam ruang antara hati dan ide sebagaimana tema pameran Fadriah; akan selalu ada mereka yang termarjinalkan, namun selalu ada yang melawan.


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca