× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Sejarah Perlawanan Orang Banemo

Sejarah panjang yang bertalian dengan situasi ekonomi-politik monopoli.

Pecinta Sastra
Sejarah Perlawanan Orang Banemo
Galeri Firman

28/10/2020 · 15 Menit Baca

Sudah banyak orang membaca sejarah perlawanan rakyat diberbagai daerah di Indonesia, mulai dari perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonial, perlawanan rakyat Surabaya terhadap kolonial, perlawanan rakyat Sulawesi, dan berbagai perlawanan rakyat di pulau Jawa, yang semua perlawanan itu tercatat sebagai sejarah perlawanan untuk kemerdekaan Indonesia.

Namun dalam semua catatan Sejarah kemerdekaan Indonesia, Desa Banemo (yang berada di wilayah pesisir Halmahera Tengah, Patani Barat, Maluku Utara) menjadi wilayah yang terlupakan dalam sejarah.

Perlawanan orang Banemo di Jazirah Fagogoru sesungguhnya memiliki sejarah panjang yang bertalian dengan situasi ekonomi-politik monopoli mulai dari masa kerajaan, kolonial hingga di fase kapitalisme-imperialisme saat ini.

Masa Ketika Kerajaan Jailolo Runtuh

Di tahun 1551 ketika kerajaan Jailolo diruntuhkan oleh Kerajaan Ternate, Halmahera Tengah terutama wilayah Patani yang memiliki hubungan dekat bahkan menjadi bagian dari kerajaan Jailolo, menjadi wilayah terra incognita atau tanah tak bertuan. Hal ini dijelaskan dalam buku yang berjudul "Orang-Orang Kalah" yang ditulis oleh Roem Topitimasang.

Bangsawan-bangsawan Jailolo pada waktu itu dikejar oleh kerajaan Ternate. Mereka kemudian bersembunyi di hutan belantara Tiga Negeri; Weda, Patani, Maba. Dan menjadikan wilayah tersebut sebagai basis pertahanan dan perlawanan. Tokoh Jailolo yang berpengaruh pada masa itu adalah Baba Hasan.

Konon menurut cerita turun temurun orang tatua kampung Banemo, bahwa Raja Jailolo suatu ketika pernah dilindungi oleh orang Patani dan orang Banemo di suatu tempat di tanjung Ngolopopo yang bernama Sumu dari kejaran pihak kerajaan Utara. Mereka bahu membahu melindungi raja dan rela mengorbankan nyawa.

Akhirnya Weda, Patani, Maba yang menjadi wilayah terra incognita atau tanah tak bertuan, dan menjadi wilayah perebutan dua kerajaan besar Ternate-Tidore itu, jatuh juga di tangan kerajaan Tidore, seluruh perekonomian rakyat yang berupa pala dan penghasilan laut terkonsentrasi pada kerajaan.

Hingga hari ini hubungan Jailolo dengan Weda, Patani, Maba masih sering diceritakan oleh para tetua di Patani, terkhusus di Banemo. Bahkan beberapa tempat telah mengabadikan nama Jailolo, seperti selat Jailolo di perairan Patani, Keramat Raja Jailolo di dasar laut Tanjung Ngolopopo dan juga sering di ceritakan secara mistik bahwa Mesjid Jailolo di pulau Sayafi sering terlihat.

Berjuang Bersama Sultan Nuku

Dalam masa pemberontakan, Sultan Nuku memiliki banyak tempat persembunyian terutama di dataran Patani, khususnya di belantara hutan Desa Banemo. Menurut cerita Tete Haji Salahuddin Sahadun, Sultan Nuku memiliki banyak tempat persembuyian untuk menghindari kejaran Belanda dan pasukan Kerjaan Tidore.

Awalnya Sultan Nuku bersembunyi di wilayah Weda, tapi karena merasa tidak nyaman, Nuku berpindah ke wilayah Patani Banemo melewati hutan hingga di suatu tempat yang dikenal dengan nama "Mitet Were" (Gunung Weda), di kaki gunung itu mengalir deras air kali Moreala. Sultan Nuku kemudian mendiami wilayah situ yang tak jauh dari kali Moreala yang di namakan "Sibua Uleng" (Gubuk Bulu).

Tak lama di situ Nuku berpindah ke sebuah tempat yang bernama "Yei" (Jahe), yang tak jauh dari tempat awal. Juga tak begitu lama Nuku berpindah lagi masih di wilayah hutan Banemo tempat itu bernama "Yo" (pagar). 

Kemudian berpindah lagi di sebelah timur kali Midolof yakni "Gane Si Nuri Funun Cebe" (orang gane punya anjing jatuh). Nuku berpindah lagi ke sebuah tempat yang bernama "Kawin Cebe" (cincin jatuh) dan berpindah lagi di berbatasan hutan Banemo-Peniti tempat itu bernama "Lon Gul" (tangga pohon gul).

Lalu Nuku berdiam di suatu tempat masih di wilayah hutan Banemo untuk waktu yang agak lama, tempat itu bernama "Nuku Now Gemen" (Nuku punya kebun). Tapi nama umum diketahui warga adalah "Moko Now Gemen" (Teripang punya kebun).

Untuk waktu yang lama Nuku membangun kebun di tempat itu (Nuku Now Gemen) juga membangun kekuatan politik dari berbagai wilayah tiga negeri, Weda, Patani, Maba dan dari wilayah Seram, Raja Ampat, Pulau Gebe, serta dari orang Mindanao.

Nuku kemudian turun di pesisir pantai dan menetap serta membangun kekuatan di sana, tempat di pesisir pantai itu menurut Tete Haji Salahuddin Sahadun bernama Pnubono (kampung pertama, atau kampung Banemo awal).

Selain di Pnubono Nuku juga menginjakan kaki di suatu tempat yang saat ini merupakan perbatasan antara desa Banemo dan desa Moreala wilayah Patani Barat, yakni "Lola."

Terkait dengan "Moko Now Gemen," menurut, Tete Haji Salahuddin Sahadun bahwa nama Moko adalah nama samaran Nuku untuk menghindar dari kejaran Belanda dan Kerajaan Tidore. Sambungnya, bahwa semua orang di Banemo tak mengetahui tempat itu adalah tempat persembunyian Sultan Nuku. Saya mengetahui hal ini karena cerita dari orang tua saya, dari tete (kakek) saya, dari tete buyut saya.

Dalam buku "Dunia Maluku" yang ditulis oleh Leonard Andaya juga dalam buku "Pemberontakan Nuku" yang ditulis oleh Muridan bahwa Sultan Nuku dalam masa pemberontakannya melawan kerajaan Tidore yang begitu setia pada Belanda, banyak memiliki tempat persembunyian yakni di Seram, Raja Ampat, Maba, Patani, Gebe - Pulau Fao, Weda, dan sekaligus menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai basis pertahanan dan perlawanan. Kelak wilayah-wilayah persembunyian di atas menjadi wilayah yang berkoalisi dalam mendukung pemberontakan Sultan Nuku hingga mengantarnya menduduki kursi kebesaran Kesultanan Tidore.

Sedang dalam buku “Nuku, Riwayat Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Maluku Utara 1780-1805” yang ditulis oleh E. Katoppo, juga sempat suatu waktu diulas oleh Akademisi Herman Oesman, bahwa beliau secara singkat menceritakan; Sultan Nuku Membuat beberapa rancangan yang amat cerdas, dan menjadikan Patani sebagai tempat pertahanan yang kuat dan Pulau Fao dijadikan tempat untuk berkumpul para sangadji dan raja-raja serta berpuluh-puluh kora-kora pada masa itu.

Itu berarti bahwa Nuku Now Gemen (kebun Nuku) yang menjadi cerita turun temurun Tete Haji Salahuddin Sahadun adalah merupakan tempat bersejarah Sultan Nuku dalam bertahan hidup dari kejaran hingga menghimpun kekuatan politik yang kelak melawan kekuatan Kerajaan Tidore yang didukung penuh oleh kekuatan kolonial.

 

Masa Jepang

Di masa penjajahan Jepang, wilayah Banemo pernah menjadi wilayah yang di kontrol penuh oleh Tentara Jepang. Tak tanggung-tanggung pesawat-pesawat tempur mereka pernah dua kali membom sebuah Mesjid Tua Banemo namun hanya meluluhlantakan sebuah rumah di samping mesjid dan satu bomnya lagi jatuh jauh di tanah kosong yang disebut Soli.

Orang-orang Banemo pada waktu itu tak mau hanya menerima nasib sebagai bangsa yang dijajah, mereka pun membunuh seorang Tentara Jepang dengan cara membakarnya hidup-hidup di belakang kampung desa Banemo yang sekarang ini menjadi lapangan bola. Dan dua Tentara Jepang lagi di bunuh dengan cara menengelamkannya di laut.

Masa Pemberontakan Haji Salahuddin di Patani

Perlawanan Orang Banemo terhadap Kolonial pun dibuktikan juga dengan terlibat mendukung perjuangan Haji Salahuddin, seorang pejuang kelahiran desa Gemia, Patani Utara. Sebelum berjuang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia di wilayah Patani Induk, ia adalah tahanan Tentara Belanda di Nusakambangan dan kemudian dijebloskan lagi ke Boven Digoel, hal itu karena aktivitas politiknya di Serikat Islam Merah serta dekat dengan berbagai tokoh berpengaruh termasuk Soekarno.

Dalam buku "Kepulauan Rempah-Rempah" yang ditulis oleh M. Adnan Amal bahwa pemberontakan Haji Salahuddin di Patani mendapat dukungan besar dari berbagai desa-desa di wilayah yang sekarang di sebut Halmahera Tengah. Diceritakan, dukungan politik mengalir dari Pulau Gebe tempat awal Haji Salahuddin mendirikan organisasi gerakan politiknya yang kemudian lebih dikenal oleh pengikutnya sebagai Serikat Islam jilid 2.

Kemudian gerakan politiknya berpindah ke wilayah Patani Induk dan juga mendapat dukungan besar dari desa-desa terdekat, termasuk desa Banemo dan desa Sibenpopo.

Di Masa Orde Baru

Selama berkuasa 32 tahun, Soeharto dikenal sebagai seorang presiden yang otoriter, kekuatan oposisi dan gerakan politik yang mencoba melawannya akan berakhir di penjara atau dihilangkan.

Seluruh pembangunan ekonomi Indonesia di masa itu, di bawah kendali kepentingan modal asing. Tak tanggung-tanggung, dalam film dokumenter yang berjudul KBRI (Kado Buat Rakyat Indonesia) yang dibuat oleh Danial Indrakusuma. Memperlihatkan setelah Soeharto berkuasa, lahirlah UU Penanaman Modal Asing, sehingga PT. Freeport (tambang emas) Papua di serahkan ke Amerika, tambang emas di NTB pun demikian, termasuk tambang emas NHM di Halmahera Maluku Utara yang waktu itu dikelola oleh Australia, ini belum termasuk tambang-tambang lainnya.

Tak hanya kekayaan alam berupa emas dan nikel Halmahera yang membuat rezim Orde Baru terapung bersama pundi-pundi kekayaan, melainkan bisnis ilegal logging pun juga mendapat keuntungan yang besar. George Yunus Adijondro seorang peneliti sekaligus sosiolog mengungkapkan bahwa di Halmahera di masa kekuasaan Orde Baru, sebuah perusahaan kayu beroperasi secara ilegal, perusahaan itu bernama Delta Force dan tak memiliki kantor.

Orang Banemo di masa kekuasaan otoriter Soeharto juga memiliki sejarah panjang perlawanan. 

Sekitar tahun 1980 - an, beroperasi perusahaan loging pertama di hutan Desa Banemo, yaitu PT. Barito. Perusahaan tersebut disenyalir milik keluarga Soeharto. Namun perusahaan itu hanya beroperasi hingga tahun 1987. 

Pasca beroperasinya perusahaan tersebut warga pun menyadari adanya ancaman dan resiko akan kehilangan tanaman pala di hutan. masyarakat Banemo menyepakati untuk membagi areal hutan kepada 36 kelompok yang beranggotakan masyarakat Banemo itu sendiri. Demi menjaga dan merawat pala hutan dan memberikan pengamanan atas wilayah hutan.

Di tahun 1996 masuk lagi PT. Henrison. Perusahaan logging di wilayah Banemo, sebelum beroperasi perusahaan itu sudah membuat kesepakatan bersama warga untuk tidak menebang atau merusak tanaman pala. Akan tetapi, di awal tahun PT. Henrison melanggar kesepakatan itu dan membuat warga marah. Akhirnya seluruh warga Banemo masuk kedalam hutan dan mengusir para pekerja perusahan beserta alat-alat beratnya. 

Beberapa tahun seperginya PT. Henrison, masuk satu perusahaan loging lagi, yaitu PT. Trisetya dengan kontrak tiga tahun. Masyarakat Banemo tetap tak menginginkan hutan serta tanaman palanya rusak.

Pasca Orde Baru

Menggunakan analisa Jeffrey A. Winters Pengamat Politik Indonesia, menurutnya pasca Orde Baru, justru yang berkuasa adalah Oligarki. Indonesia memang berubah tapi justru perubahan ke arah yang menguntung elit (Oligarki), rakyat justru hanya mendapatkan ceceran kesejahteraan berupa bantuan. Selebihnya keuntungan mengalir ke asing dan ke para Oligarki.

Masyarakat Banemo hampir tidak ada perubahan, justru semakin hari hasil kekayaan alam berupa pala, kelapa, dan laut tak membawa kesejahteraan. Di tengah kondisi demikian masyarakat selalu waswas dengan masuknya kepentingan luar yang bisa saja menghilangkan hak-hak Ulayat dan tanaman pala mereka.

Di tahun 2014, warga Banemo melakukan perlawanan terhadap PT. Manggala Rimba Sejahtera yang akan menyulap hutan Ulayat mereka seluas 11.870 ha untuk di jadikan perkebunan Sawit. Secara otomatis masyarakat Banemo yang memiliki banyak tanaman pala terancam digusur.

Kurang lebih lima tahun setelah masyarakat merasa nyaman, kembali PT. Manggala Rimba Sejahtera membuat gusar masyarakat Banemo. Masyarakat tetap dengan prinsip yang sama tak menerima keberadaan Perusahaan Sawit tersebut.

Selain, PT. Manggala Rimba Sejahtera, kembali masyarakat Banemo diresahkan lagi oleh akan rencana masuknya Perusahaan Batu Bara, yang mengancam hutan serta tanaman pala dan cengkeh milik masyarakat Patani, termasuk Patani Barat.

Mahasiswa pun tak tinggal diam mereka pun bersuara keras atas rencana masuknya tambang yang bisa mengacam kehidupan masyarakat luas.

Rupanya tak hanya perbukitan wilayah Banemo yang menjadi incaran investasi demi meraup keuntungan, wilayah Laut Patani Induk hingga Patani Barat (Banemo) menjadi sumber kekayaan perusahaan-perusahaan ikan serta keuntungan bagi segelintir orang.

Perusahaan ini konon katanya diberi izin untuk beroperasi di wilayah laut Patani Induk dan Patani Barat (Banemo). Ikan-ikan yang diangkut menggunakan kapal-kapal penjaring tak mengenal jenis ikan seperti apa. Hasil tangkapan yang paling di cari adalah ikan tuna. Sebab tuna adalah ikan mahal dan itu dikonsumsi oleh negara-negara pemakan ikan seperti Vietnam, Filipina, Malyasia. 

Kurang lebih tahun 2000-an masyarakat Banemo melakukan operasi laut dan menangkap beberapa nelayan Filipin dan membawa kapal induk penampung ikan itu ke pesisir pantai Banemo.

Di tahun 2020 ini beredar isu yang tak mengenakkan masyarakat Banemo, bahwa akan masuk lagi satu Perusahaan loging yaitu PT. Putra-putri Atamari.

Selain itu muncul juga teror terhadap warga Banemo dengan cara mencegat di dalam hutan saat hendak pergi berkebun. Bukan hanya sekali teror yang dilakukan kelompok bersenjatakan panah, tombak, parang melainkan sudah yang ketiga kali di tahun 2020 dan itu hanya berselang bulan.

Masyarakat Banemo tak tinggal diam mereka memasuki lengkap pula dengan senjata tajam, menyisir beberapa tempat yang menjadi titik teror sekelompok orang tak dikenal itu.

Tak hanya teror, melainkan warga Banemo menemukan ranjau yang sengaja di pasang di dalam hutan, tepat di jalan kebun bahkan di dalam kebun warga. Ranjau itu berupa kayu yang ujungnya ditajamkan, ada juga kayu yang ujungnya bermata pisau dari besi yang sudah digerinda hingga tajam, dan ranjau itu di tanam di tancapkan kedalam tanah dalam posisi miring mengarah ke perut orang dewasa.

Teror dan pemasangan ranjau adalah hal yang baru muncul setahun terakhir ini, sebelumnya tak pernah demikian. Justru teror dan pemasangan ranjau ini muncul setelah warga menolak kehadiran PT. Manggala Rimba Sejahtera, menolak Rencana masuknya Pertambangan Batu Bara, Sertifikasi lahan dan Hutan Warga, serta isu akan masuknya Perusahaan Kayu PT. Putra-putri Atamari.

Dalam buku "Kekerasan dan Kapitalisme," yang ditulis oleh Jamil Salmi mengungkapkan bahwa Akumulasi Modal berbanding lurus dengan akumulasi kekerasan, perbudakan, rasisme, perang, kelaparan dan kejahatan yang tak terungkap.

Banemo, 2 Oktober 2020


Share Tulisan FirmanSyah Usman


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca