× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Kupu-Kupu Terbang Kian Kemari

Sajak Sabtu
Kupu-Kupu Terbang Kian Kemari
Ilustrasi: Pixabay/Roverhate.

07/11/2020 · 3 Menit Baca

putik bunga
putik bunga 
harum menggoda 
tak sanggup kupu-kupu terbang jauh 
tak bisa berlama-lama 
di ujung sehelai angin

karena kupu-kupu ada 
dalam bunga dan putik 
karena bunga dan putik 
ada dalam kupu-kupu

sama-sama 
merayu warna-warni 
sama-sama 
merindu wangi

bunga-bunga bergetar 
putik-putik berpendar
dahan ranting ikut bergetar 
dan kupu-kupu pun mendenyar 

getar bunga
getar putik
getar sayap kupu-kupu
warna-warni melukis alam
:di manakah kau yang 
tak rindu warna-warni

Ibrahim Gibra
Ternate, 5 November 2020

 


beri aku sebutir air

[1]
beri aku sebutir air
akan kupinjam dahan 
dan kutulis kisah tentang hutan
yang dahaga karena matahari 
belum jua henti berkemarau 

[2]
beri aku setangkai air
akan kuhijaukan ranting-ranting
karena kemarau belum jua henti
mendera hutan-hutanku

[3]
beri aku sehelai air
akan kubasahi tubuh talang
karena matahari belum jua henti
meranggas kota-kotaku

Ibrahim Gibra
Ternate, 29 Oktober 2020

 

ada hujan di atap rumbia [1]
:hujan di waktu kecil

hujan di kampungku
hujan pulakah di kampungmu

hujan di kampungku
basah atap rumbia 
dan talang menyalin butir air 

hujan di kebunku
angin mendesut-desut dahan
maka gugurlah ranum kenari
berserak di antara daun-daun kering

keranjang ibu   
keranjang bibi 
keranjang kakak perempuanku
penuh ranum kenari

aku girang bukan main:
sabtu besok 
ada pasar pekan 
di kecamatan

aku makin girang:
senin aku punya sepatu baru 
ke sekolah aku 
berlari seperti kijang 
teman-temanku juga riang 
sebab kaki-kaki kami 
tak lagi berbungkus debu 
di kelas berubin tanah

Ibrahim Gibra
Ternate, 15 Oktober 2020

 

ada hujan di atap rumbia [2]
:hujan yang mengingatkan
 
angin diam
di ujung awan
hujan turun di teras belakang rumahku

air yang jatuh dari talang 
di kampungku 
terdengar suara atap rumbia 

hujan bertemu tandan
kudengar gugur ranum kenari 
lepas dari tangkai 
lalu penuh-penuh keranjang ibu 

hujan dan 
gugur ranum kenari 
seperti tetangga yang 
saling menolong

Ibrahim Gibra
Ternate, 16 Oktober 2020

 


ada hujan di atap rumbia [3]
:hujan jangan berbeda

hujan di kampungku
hujan di atas atap rumbia
itu musim gugur ranum kenari 
dan aku girang gembira
sebab ke sekolah dengan sepatu baru
seragam baru
    
kuharap hujan di kampungmu 
hujan yang menggembirakan
bukan banjir memilin lumpur
bukan tanah menimbun dangau
bukan batang dan daun 
menyumbat sungai
bukan bandang menyapu ladang

hujan di kampungku
hujan di kampungmu
kuharap tanah kita 
tetaplah tanah harapan

Ibrahim Gibra
Ternate, 17 Oktober 2020

 


Ibrahim Gibra, nama pena dari Gufran A. Ibrahim, punya kegemaran menulis artikel ihwal bahasa, masalah sosial budaya, demokrasi, pendidikan, dan literasi di Kompas dan di sejumlah koran lainnya. Ia juga menulis sajak dan cerpen yang diterbitkan dalam bentuk buku maupun diterbitkan di koran cetak dan daring. Gufran A. Ibrahim adalah Guru Besar Antropolinguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Ibrahim Gibra telah menerbitkan antologi sajak pertamanya, Karang Menghimpun Bayi Kerapu (Penerbit Jual Buku Sastra, 2019). Kini Ibrahim Gibra telah merampungkan antologi sajak kedua, Nikah Daun-Daun, Resepsi Pohon-Pohon (sedang dalam proses penerbitan) dan antologi ketiga, Makrifat Laut (sedang dalam penyuntingan). Ia juga telah merampungkan buku kumpulan artikelnya yang pernah dimuat di Kompas dan koran lainnya, Bertutur di Ujung Jempol: Esai Bahasa, Agama, Pendidikan, dan Demokrasi (kini sedang dalam proses penerbitan). Ibrahim Gibra dapat dihubungi via ibrahim.kakalu@gmail.com 


Share Tulisan Ibrahim Gibra


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca