× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SEJARAH

Panglima Perang Soya-Soya

Serial Hari Pahlawan Nasional
Panglima Perang Soya-Soya
Ilustrasi Sultan Babbullah.

10/11/2020 · 5 Menit Baca

Delapan belas kapal berbendera Portugis mengangkut 1.200 serdadu lengkap dengan meriam raksasa berlayar menuju Selat Malaka setelah melewati sungai Tagus yang bermuara di Samudera Atlantik pada April 1511. Tiga tahun berlayar mereka berhasil melewati tanjung harapan di Afrika. Tiba di Malaka, pasukan Alfonso de Albuquerque mengatur siasat sambil mengisi peluru meriam di atas anjungan dan tepi kiri-kanan kapal.

Hanya dengan beberapa komando, penduduk di semenanjung pulau itu langsung bermandikan darah, penaklukan terjadi secara masif. Di daerah operasi militer Portugis ada sepetak tanah penuh dengan kubangan mayat. Kemudian pada petang harinya setelah invasi dijalankan, pasukan ini terus mencium aromah cengkih di gugusan pulau vulkanik yang bebejer rapi menghadap lautan lepas.

Muridan Satrio Widjojo, seorang peneliti dan pakar bidang kajian Papua jebolan Universitas Leiden Belanda mengungkapkan, orang Eropa pertama yang memaksakan perubahan radikal di Maluku selama abad ke-16 adalah orang Portugis dan Spanyol. Setelah penaklukkan Bandar perdagangan Malaka pada desember 1511, Alfonso de Albuquerque mengirim tiga kapal kecil di bawah komando Kapten Antonio de Abreu dan Wakil Komandan Fancisco Serrao ke Pulau Buru, Ambon dan Seram. [Pemberontakan Nuku – Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua sekita 1780-1820, hlm. 13-14]

Muridan mengisahkan, dalam satu misi mengunjungi Banda, kapal utusan Alfonso bermuatan cengkih, buah pala dan bunga pala dihantam ombak besar hingga tenggelam. Hanya Fransisco Serrao dan tujuh awak kapalnya yang berhasil selamat. Tapi periode pelayaran terus berlanjut ke Ternate dan Tidore. Ekspansi kolonialisme dan imperialisme terus berjalan, Portugis tegas memastikan dominasi mereka di Kepulauan Maluku.

Tak lama waktu berlalu, Sultan Tidore Al Mansyur menyambut hangat dua kapal Spanyol yang tersisa dari ekspedisi Ferdinand Maggellan mengililingi dunia setelah membuktikan teori orbit dan rotasi bumi.  Dalam waktu berdekatan Maluku langsung terlibat dalam percaturan politik global. Imbasnya, Ambon, Banda, Ternate, Bacan, Tidore, Jailolo dan gugusan pulau-pulau vulkanik penghasil rempah-rempah lainya menjadi sangat ramai dari pergaulang bangsa-bangsa dunia yang ingin menjarah kekayaan alamnya.

Dalam catatan sejarah paling kelam menyebutkan. Invasi militer bangsa-bangsa dunia ini terintegrasi dengan peristiwa perang salib ke empat pada fase 1204 . Puncaknya saat Sultan Muhammad Alfatih, Penguasa Ustmani ke tujuh berhasil mengakhiri riwayat Kekaisaran Romawi Timur dengan menaklukkan Konstantinopel pada 1453. Daulah ini berhasil memutus akses maritim di rute-rute utama Laut Tengah. Tetapi sebelum darah mengering, sebuah perjanjian internasional (traktat) dibuat dan ditandatangani di Tordesillah, Spanyol pada 7 juni 1494 di Eropa kala itu. Isi perjanjiannya adalah membagi dunia di luar Eropa menjadi duopoli eksklusif antara Spanyol dan Portugis yang dikemudian hari bertemu di batas Ternate dan Tidore.

Empat tahun setelah perjanjian dibuat, peperangan hebat meledak di Laut Maluku. Serdadu-serdadu Portugis yang melintasi Ambon, Buru, Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo hingga Seram selalu menyanyikan requiem. Bahkan di dalam diri mereka bersemayam dua jiwa sekaligus, mereka bisa saja menjadi algojo juga bisa menjadi gladiator. Pertempuran dengan mengutip ayat suci kembali meleleh sebab misi peperangan adalah Gold, Glory and Gospel. Mereka mencari kekayaan, kejayaan dan menyebarkan Agama.

Mendengar kabar serdadu-serdadu Portugis dan Spanyol telah tiba di laut Maluku. Dengan segera Ternate dan Tidore membentuk aliansi. Ternate membentuk aliansi Uli Lima yang beranggotakan Kesultanan Ternate, Obi, Seram dan Ambon. Sedang Tidore membentuk aliansi Uli Siwa yang beranggotakan Kesultanan Tidore, Jailolo, dan Makian. Namun di tahun 1520, aliansi-aliansi itu disusupi oleh Portugis dan Spanyol, Ternate didekati Portugis dan Tidore didekati Spanyol. Kedua Kesultanan di adu-domba, kampanye perang digelorakan hingga urusan roda Pemerintahan Kesultanan pun dicampuri. Kecepatan kedua bangsa Eropa itu bukan tanpa hasil apalagi tujuan mereka adalah menguasai rute komersil internasional.  Tapi peperangan dan permusuhan masih berlanjut hingga periode 1570.

M. Adnan Amal, seorang hakim yang diusia senja menulis banyak buku sejarah menegaskan, di fase ini menjadi tahun-tahun yang menentukan nasib bangsa Postugis di Ternate. Pada 28 Februari 1570 Sultan Ternate, Khairun Jamil datang ke Benteng Nuestra Senora Del Rosario tanpa pengawalan ketat demi menghadiri undangan Gubernur Portugis Lopes de Mesquita. Tapi ia dikhianati, Antonio Pimental yang tak lain adalah orang suruhan Mesquita tiba-tiba mendekat dari belakang lalu menusukkan kerisnya dengan cepat saat Sultan berhati mulia itu tengah berbincang dengan Mesquita.

Malam itu juga tubuh Sultan yang bersimbah darah langsung dibuang ke laut. Tapi diluar ekspektasi, pembunuhan ini justru membawa petaka bagi orang-orang Portugis di Ternate. Pejabat tinggi Kesultanan dan para pemuka masyarakat yang mengetahui Sultan telah tewas langsung membuat rapat akbar. Mereka bersepakat menobatkan Babbullah Datu Syah menggantikan posisi ayahnya. Perang soya-soya dikobarkan. Layaknya Muhammad Al Fatih, Babbullah tak segan-segan membantai orang-orang Portugis di Ternate.

Selama lima tahun pengepungan, Pangeran Ternate yang dijuluki penguasa 72 Negeri bersama bala tentaranya berhasil memporak-porandakan pos-pos dan benteng penjajah Portigis. Satu per satu pusat militer seperti Fort Tolocce, Santo Lucuia Forress, Santo Pedro hingga Sao Paulo jadi jantung serangannya. Bambang Budi Utomo dalam buku Warisan Bahahri Indonesia [2016, Hal. 157] menegaskan, Sultan Babbullah menerapkan strategi pengepungan di Fort Sao Paulo dengan menutup semua akses, baik jalan maupun distribusi bahan makanan yang dibatasi dalam jumlah tertentu. Kala itu, orang-orang Portugis yang mengurung di dalam dalam Fort Sao Paulo merasakan penderitaan yang teramat sangat dengan segala keterbatasan karena tidak bisa menjalin hubungan dengan dunia luar.

Sebuah buku yang di tulis M. Adnan Amal berjudul: Tahun-Tahun Yang Menentukan – Babbullah Datu Syah Menamatkan Kehadiran Portugis di Maluku mengisahkan, selama peperangan menuntut balas kematian mendiang ayahnya berlangsung. Baabullah memerintahkan Kalakinka, seorang Kapita Sanana pemberani yang dipercaya memiliki kekuatan ilmu hitam (black magic) untuk mencegah infiltrasi musuh di perbatasan antara Pulau Obi, Banda dan Buru. Sebanyak 5 juanga (kapal perang kesultanan Ternate) bermuatan ratusan terntara dikerahkan untuk berpatroli selama 24 jam sehari.

Sebuah mitologi di Kepulauan Sanana mengisahkan, setelah bosan berpatroli di antara Pulau Obi dan Buano, di malam harinya Kalakinka memanggil Saihu semua juanga untuk naik ke atas juanganya. Kemudian ia perintahkan tiga juanga malam itu mengikutinya tapi tak diberitahukan tujuan pelayaranya. Setelah lewat tengah malam, ia perintahkan semua juangan menuju ke Seram. Ketika ayam mulai berkokok, ketiga juanga sudah mendarat tidak jauh dari kamp Portugis di Lisabata. Dalam waktu sekejab setelah pembataian, seluruh anggota garnisum Portugis di situ selesai dibabat. Pembantaian ini membuat Salahakan Sula memuji kepahlawanan Kalakinka sebab aksinya membuat tentara Portugis dan misionarisnya tidak pernah datang lagi ke Ternate. [Tahun-Tahun Yang Menentukan, hlm. 17].

Peperangan masih terus berjalan hingga puncaknya Sultan Baab memberi ultimatum kepada Lopes de Mesquita dan pasukanya ada tersisa di Benteng Sao Paolo untuk menyerah. Jika tidak mereka akan dihancurkan. Dalam cerita rakyat Ternate, dengan perasaan malu dan kepala tertunduk, mereka (orang-orang Portugis) memilih mengangkat bendera putih. Mereka menyerah dan berjalan keluar dari benteng dengan suasana hina. Tapi tak ada satupun dari mereka yang dilukai, sangka penguasa emperium abad pertengahan itu mengampuni pembunuh ayahnya. Menurut Buya Hamka, kemenangan rakyat Ternate merupakan satu peristiwa yang sangat penting. Karena menunda penjajahan barat atas Nusantara selama 100 tahun lagi.

Kini, untuk mengenang jasa Sultan yang berkuasa di paruh 1570 – 1583 itu, Pemerintah Republik Indonesia akan memberikan pengakuan dan sekaligus mendaulat Sultan Babbullah Datu Syah menjadi Pahlawan Nasional di Istana Negara pada 10 November 2020 nanti. Menurut Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara (Malut), Muhamad Hi. Ismail, keabsahan penobatan Sultan Babbullah menjadi nasional akan ditandai dengan lahirnya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117/TK/Tahun 2020 tertanggal 6 November 2020 di Jakarta dan akan diumumkan di Istana Negara pukul 12.00 Waktu Ternate. [**]


Share Tulisan Nasarudin Amin


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Kupu-Kupu Terbang Kian Kemari

#SASTRA - 07/11/2020 · 3 Menit Baca