× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Merokok, Cara Melawan Stigma dan Kekuasaan

Merokok adalah satu kebiasaam yang oleh Che Guevara disebut pengisi senggang dan jadi kawan sejati bagi pejuang yang kesepian.

Jurnalis Mahasiswa
Merokok, Cara Melawan Stigma dan Kekuasaan
Ngopibareng.id

19/12/2020 · 3 Menit Baca

BEBERAPA waktu lalu saya membaca tulisan Kristoforus Sri Ratulayn Kino Nara judulnya “Rokok dan Kebebasan”. Saya kira akan menemukan gairah baru setelah membaca tulisan itu, ternyata tidak. Dengan berlandaskan pada ajaran Plato tentang tubuh dan jiwa, dia justru menyimpulkan bahwa merokok adalah satu kebiasaan yang menindas. Dengan kata lain: “memilih untuk ‘dijajah’ oleh rokok.”

Pernyataan ini cukup bikin saya terusik. Sebagai seorang perokok, saya tidak merasa terjajah. Justru sebaliknya, membuat imajinasi lebih leluasa, termasuk--meminjam istilah Tan Malaka--"merdeka 100%".

Seorang teman dekat saya barangkali satu dari sekian banyak orang yang “gila” merokok. Anda tidak akan percaya, dia bakal menggadaikan apa saja yang punya nilai jual atau nilai guna di warung terdekat dengan tembakau seg atau sebungkus rokok. STNK motor, helm, handphone, laptop, ransel hingga flasdisk sudah jadi korban berulang sekadar untuk hal ini.

Tentu tidak sepragmatis apa yang disebut Kristoforus. Dia terbiasa merokok, namun juga terbiasa memimpin aksi, diskusi hingga bakar-bakaran ban di tengah jalan. Hingga digebub polisi berulang kali. Bila dia diberi pilihan: merokok atau makan, dia lebih memilih merokok.

Merokok bukan soal perkara "dijajah" dan tidak dijajah. Tapi konteksnya apa dulu. Tan Malaka dalam pamflet fenomenal tentang politik menyatakan "kemerdekaan yang 100% adalah kemerdekaan yang tidak merampas hak orang lain". 

Perokok ada di posisi itu. Termasuk orang bisa melaksanakan tanggung jawab sosialnya sebagai manusia dalam pengertian yang lebih luas. Pramoedya Ananta Toer saat hendak menulis, pasca makan, dan aktivitas lain, ia harus punya selinting kretek terjepit ditangannya. Merokok menjadi salah satu kawannya yang cukup solid melawan kesewenang-wenangan dan otoritarianisme Orde Baru Soeharto.

Koesalah Soebagyo Toer dalam "Pramoedya Dari Dekat Sekali" bahkan mengisahkan sosok Pramoedya Anta Toer sebagai orang yang tidak bisa dilepaspisahkan dengan merokok. "Sudah menjadi kebutuhan vital Mas Pram. Agaknya dengan merokok jalan pikirannya menjadi lancar," lanjutnya, "kadang-kadang saya melihat dia mondar mandir dalam kamar mandi sambil merokok."
 
Setiap kritik atas sistem politik Orba yang menindas tidak saja lahir dari mesin tik ketiknya, tapi juga aroma rempah yang mengempul dari mulut Pram untuk menuntaskan tugas nasional.

Kretek adalah kawan senasibnya yang juga menemani setiap karya-karya besar macam Tetralogi Buru. Di penjara sekalipun, aroma kretek tak bisa terceraikan dari Pram. Pram bahkan sesempat-sempatnya meminta sebatang kretek kesukaannya disulutkan saat sedetik lagi nyawanya direnggut.

Saya jadi ingat banyak tokoh pergerakan, macam Soekarno, Gusdur hingga Agus Salim yang juga perokok dengan cara sendiri. Soekarno membangun diplomasi dengan Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khruchev dengan menyulut rokok saat usai jamuan makan. Bahkan di istana negara Soekarno lebih ramah dengan pekorok ketimbang para perongrong "persatuan nasional".

Agus Salim lain lagi. Lelaki yang dijuluki "The Grand Old Man" atau Orang Tua Besar ini menanggapi protes suami ratu Elizabheth II yang marah-marah saat mencium aroma asap kretek yang mengepul di seisi ruangan saat perjamuan di Westminister Abbey, London, Inggris. Agus Salim lantas mengatakan bau itu terbuat dari tembakau dan cengkeh, "boleh Yang Mulia tidak menyukainya. Tapi justru bau inilah yang menarik minat pelaut-pelaut Eropa datang ke negeri kami tiga abad yang lalu."

Dari sekian tokoh di Indonesia diatas, barangkali salah satu tokoh revolusioner nan jauh di Amerika Latin, Che Guevara--selain Fidel Castro--adalah yang juga sangat saya kagumi. Dia punya cara sendiri saat merokok. Seorang dokter kharismatik bernama lengkap Ernesto Guevara de la Serna juga dikenal sebagai seorang pimpinan revolusioner Cuba yang identik dengan cerutunya.

Saat memimpin perlawanan meruntuhkan pemerintahan fasis Fulgencio Batista di Cuba, dia bahkan mengajurkan prajuritnya agar selalu membawa tembakau dalam ransel saat bergerliya. Cerutu dan Che tak bisa dilepaspisahkan, ada tempat tersendiri. Bagi Che, merokok bukanlah keistimewaan, tapi merupakan kebutuhan revolusi, pelengkap spritual untuk mengurangi kesulitan dan bahaya.

Kebiasaan mengisap cerutu dilakoni pula oleh banyak pembesar dunia, termasuk Fidel Castro (favoritnya merek Cohiba) dan lawannya John F. Kennedy (memborong seribu lebih cerutu Kuba sebelum menerapkan embargo), hingga orang hebat macam Winston Churchill (8 hingga 10 batang per hari).

Saya bisa bilang bahwa Kristoforus lagi-lagi keliru, memandang secara subjektif dan serampangan  orang yang merokok. Justru tokoh-tokoh yang saya sebut diatas menurut hemat saya paling "arif dan bijaksana". Tidak merasa terjajahkan. 

Stigmatisasi macam itu khas rezim Orde Baru. Memproduksi satu keyakinan semu yang seolah-olah absyah, tanpa memahami konteks dan manfaat bagi orang yang merokok. Kita boleh tidak bersepakat dalam hal ini, tapi di negara +62 ini tak ada tempat yang ramah bagi perokok, terkecuali istana presiden masa Soekarno.

Sekali lagi, merokok bukan soal "dijajah" bung. Ini tentang tradisi merokok dan kepekaan sosial terhadap satu sistem yang timpang. Tidak semua orang memilih jalan ini. Pram memilih jalan yang arif dan bijaksana saat melawan sistem menindas sejak kolonial Belanda hingga Orde Baru. Begitupun Soekarno, Agus Salim dan sederet nama lain yang tak sempat saya sebut.

Merokok adalah satu kebiasaan yang oleh Che Guevara disebut pengisi senggang dan jadi kawan sejati bagi pejuang yang kesepian. Sisanya, kita yang masih setia di jalanan, mengambil satu pelajaran penting melawan stigmatisasi terhadap perokok dengan belajar, berorganisasi, melawan, menulis hingga merumuskan, membangun dan mendirikan satu tatanan sosial yang adil.[]


Share Tulisan Ajun Thanjer


Tulisan Lainnya

Cerita

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca

Cameo

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca