× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Mama

Bagi saya dan hidup ini, Mama saya adalah pejuang.

Jurnalis Mahasiswa
Mama
Sumber: www.goodnewsfromindonesia.id (Istimewa)

26/12/2020 · 3 Menit Baca

MAMA adalah segala-galanya bagi saya. Termasuk nenek. Kedua perempuan ini cukup saya hormati di dunia. Nomor wahid dalam hati dan jiwa saya. Selain mereka, cukup sekadar menghargai.

Dari ujung kaki sampai ujung rambut, hingga saya seusia ini, kasih sayang keduanya tak bisa sekadar terukir dengan tiga kata: Selamat Hari Ibu.

Kadang air mata menetes kalau ingat nenek yang lebih dulu meninggalkan saya sejak akhir 2017 silam. Namun, nasihat-nasihatnya terpatri betul dalam benak saya hingga kini. "Sekolah itu jadi manusia. Jangan jadi babu."

Dan, Mama, yang alhamdulillah masih berusia panjang. Semesta meridhoi. Senyum manisnya masih saya nikmati. Sampai sekarang. Tetaplah sehat mama.

Sebelum wafat, Nenek sering menjelaskan banyak hal kala duduk bersenggama di depan televisi. Mulai dari prinsip hidup, hingga sedikit yang ia tahu tentang ketegangan politik Indonesia saat-saat kejatuhan Soekarno.

Nenek sosok inspiratif. Mama menjadi nafas hidup. Saya tidak bisa menghitung seberapa besar kasih dan sayang mereka curahkan. Lebih. Lebih. Lebih dari cukup.

Saya sedang tidak berefuoria di hari Ibu. Percuma. Kenapa? Mama saya tidak tahu apa-apa tentang perkara ini. Dia, laiknya Ibu di pedesaan pada umumnya sekarang yang tengah terkungkung budaya patriarkis, tak menyerap ilmu-ilmu sosial.

Secara kultural, di daerah pedesaan, terutama di desa saya yang tepencil di pulau Halmahera sana, tidak pernah sekali pun (seingat saya) merayakan serimonial ini. Atau mengingat-ingat apa yang diprakarsai oleh tiga perempuan: Nyi Hajar Dewantara, Ni Suyantin, dan Nyonya Sukonto dalam kongres Perempuan Indonesia di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928 silam.

Saya sendiri baru tahu ada “Hari Ibu” setelah menyerap berbagai bacaan dan terlibat dalam gerakan sosial di Ternate. Mama saya mungkin tidak seberuntung saya sekarang. Dia mungkin tidak tahu pokok apa yang dibahas saat kongres berlangsung yang turut hadir perempuan-perempuan lintas politik, suku, dan agama ketika itu.

Juga tidak faham persoalan-persoalan perempuan yang dibahas. Mulai dari soal pendidikan, hak-hak perempuan, perkawinan, poligami hingga menentang institusi Pengadilan Agama dan memberikan mosi kepada pemerintah Belanda.

Atau perkara yang paling politis ketika Soeharto mengubah Hari Kebangkitan Perempuan yang ditetapkan Soekarno pada tahun 1959 menjadi Hari Ibu. Satu kehendak pemerintahan Orde Baru yang otoritarian mendistori peran perempuan sekadar: Kasus, Sumur dan Dapur.

Saya tidak membanding-bandingkan Mama saya dan perempuan-perempuan yang terlibat dalam sejarah perjuangan mendirikan republik ini. Bagi saya dan hidup ini, Mama saya adalah pejuang. Perempuan tangguh yang juga mati-matian menghadapi ganasnya sistem sosial dan kultrul yang menindas. Bersusah-payah melahirkan kehidupan, membesarkan saya dan adik-adik hingga sebesar sekarang.

Saya melihat keteguhan dan kepercayaan dalam dirinya. Sebagai seorang Ibu yang mengemban peran ganda dalam masyarakat, Mama juga cukup kuat mengais hidup di lahan perkebunan kami. Dia tidak lelah berkebun untuk kebutuhan pangan keluarga. Kadang, pergi pagi pulang sampai malam. Di punggung belakangnya selalu ada Saloi yang berisi beragam rempah-rempah dapur dan dari kebun. 

Sejak masuk kuliah, mama tidak pernah bertanya apapun tentang perkuliahan saya. Apa yang saya lakukan di kampus. Kegiatan apa saja yang saya ikut. Profesi apa yang saya geluti sekarang. Tidak pernah sama sekali. Apalagi pertanyaan klise macam begini: kapan wisuda?

Jangankan itu, pacar (kalau ada, haha) pun tak pernah dia tanyakan 'siapakah gerangan': makhluk ghoib yang tiap hari jadi misteri ini.

Apakah mama saya acuh? Tidak sama sekali. Lantas? Dia memberi saya nafas baru di bumi ini. Membiarkan saya memilih jalan sendiri. Menentukan hidup sendiri. Masa depan sendiri. Termasuk pasangan hidup sendiri. Agar apa? Agar anak-anaknya tidak ketergantungan hidup pada orang tua dan orang lain.

“Kami boleh miskin secara ekonomi dan kecil dalam strata sosial, tapi tidak dengan harga diri. Jangan malu hidup sederhana.” Kalimat bijak ini pernah mama utarakan dengan logat Makean khas suku Gane.

Apa yang saya lakukan selalu dianggap baik. Tentu kalau salah tetap ditegur. Dari keduanya saya belajar adab dan mencintai manusia lain. Menghormati yang lebih tua dan memperlakukan seadil-adilnya yang kecil.

Saya memang tidak pernah merasakan kasih sayang dari bapak sejak berusia tujuh hari. Lantas, karena itu pula–tidak dibesarkan di tangan seorang lelaki, yang dalam masyarakat dianggap superior dan kerap tidak adil–saya tumbuh dengan percaya diri dan bertabur cinta.

Namun jangan kira saya hidup dengan bapak tiri dan merasa susah. Dia pelengkap hidup mama yang pemarah namun juga penyayang. Sama halnya dengan Mama, membela bila saya benar dan tak segan-segan marah bila saya salah.

Saya tidak akan melihat dunia tanpa kedua perempuan ini: Mama dan Nenek. Titik darah dan adanya suatu bangsa, kata Pramoedya Ananta Toer, lahir dari "keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan."

Sekali lagi, mereka berdua memberikan segalanya: hidup, keyakinan, keteguhan, kesederhanaan, dan harga diri. Tidak ada yang memberi lebih kecuali perempuan. Selamat Hari Perempuan.[]

 


Share Tulisan Ajun Thanjer


Tulisan Lainnya

Cerita

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca

Cameo

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca