× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Politisi, Hutan dan Kehidupan Fiksi

Sebuah satire untuk perusak hutan.

Mahasiswa
Politisi, Hutan dan Kehidupan Fiksi
PNG.Download.id

26/12/2020 · 5 Menit Baca

"Menjadi politisi adalah sebuah pilihan, tapi menjadi politisi jangan menjadi tujuan. Jadikan profesi politisi sebagai means. Sebagai alat untuk mewujudkan idealisme," ujar Wamendag, Jerry.

Pertanyaannya, idealisme seorang sarjana kehutanan dan ekonomi yang mengarahkan bulldozer dan watak kapitalisme pada 5 batang pohon, itukah yang disebut idealisme dan mengakar di atas selangkangan setelah kelamin? Jawabannya tanyakan pada Politisi!

Hutan adalah rumah seluruh makhluk. Termasuk jin dan iblis. Jika keseimbangan dikhianati oleh manusia maka iblis akan menguasai segala lini. Bahkan Iblis pun bisa menandatangani kontrak kerja dengan Negara. Iblis tidaklah jahat, karena iblis hanya ingin mempertahankan hidupnya hingga ia harus berpolitik atau menjadi politisi, di luar pernyataan Wakil Menteri Perdagangan Indonesia.
Selain menjadi rumah besar untuk segala suku di dunia, hutan juga merupakan donasi terbesar untuk urusan hidup, menyembah Tuhan misalnya. Sebab yang bersetubuh pun membutuhkan sari pati dari hutan untuk proses sembahan (perkenalan) manusia dengan Tuhan. Lantas bagaimana dengan atraksi politisi perusak hutan?

Korupsi sumber daya alam lewat sertifikasi lahan memang sudah ada jauh tempo. Hal ini yang memisahkan manusia dengan lahannya, dengan kebunnya, dengan kehidupannya, tapi tidak dengan "partai Politiknya" (khusus politisi). Sehingga berangsur-angsur menciptakan keruntuhan dimensi sosial. Mengajak manusia untuk berfantasi dengan kekayaan. Padahal uang sekalipun tak dapat membeli keutuhan hutan. Atau ke tempat ibadah dan membeli doa umur panjang bumi dengan segala isinya.

Kita tidak mesti membawa kehidupan nyata dalam film fiksi beranimasi robot dan simsalabim abrakadabra, tetew... jadilah rumah, tetew... jadilah oksigen permanen, tetew.... manusia menjadi pengekor kebijakan, tetew.... manusia mulai kehilangan fitrahnya sebagai makhluk yang berakal.
Jangan dipandang perlu atau ditinjau kembali apabila ada kekeliruan di dalamnya, lihat kerusakan alam akibat kemauan industri dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Tiba-tiba Nikel, tiba-tiba emas, tiba-tiba kerusakan ekologi dan kebijakan pelanggaran HAM. Lalu politisi hadir menawarkan solusi, ke pesantrenlah, belajar ilmu agama sebab dunia telah tua. Kita adalah gerbong terakhirnya Sang Nabi penyelamat. Ketika semua ke Mesjid, petani kehilangan lahan, nelayan kehilangan umpan dan mata kail pancingan, pengangguran yang tak sempat membaca syukur dan niat, mati bergelimang darah di pabrik.

Sempat dipikir-pikir, ternyata kiamat bukanlah dari Tuhan (menurut riwayat, ditandai dengan peringatan dari tiupan trompetnya malaikat Tuhan) melainkan Industri perusak alam dan politisi. 
Amanat konstitusi negara ketika melambai ke kamera IMF/Word Bank tanda berkeinginan memperbaiki situasi negara adalah membangun pertumbuhan ekonomi politik yang berkelanjutan dan melihat pada sisi lingkungan (tapi bohong), lalu memasang target “Keadilan sosial”  pada ekspansi Partai Politik dengan kesatria bodoh yang dijamin kelangsungan hidupnya lewat pajak dan utang negara.

Lebih anehnya, politisi yang gagal kompetisi harus mengembalikan wajah dan wibawanya lewat kejahatan manipulasi dokumen. Lalu mengajak orang-orang yang resah, juga korban kekerasan negara dengan menjatuhkan ekonomi serta kreativitasnya sedalam palung Mariana. Lantas ikut dan mau menjadi bahan bully-an seluruh sumpah serapah alam. 

Kita hidup dalam dunia fiksinya para Corporat, kita diatur menggunakan jari tengah kekuasaan. Mengapa demikian? Tanyakan pada Politisi!

Hal inilah yang mengharuskan kita meninggalkan hutan sebagai pelayan yang tak dihargai jasanya. Kita mesti banyak berbicara pada tiap lakon panggung teater sabunnya para elite politik. Yang sasaran mainnya selalu ke hutan. Tidak menjadi Tarzan, tidak menjadi Harimau, tidak menjadi Petani, tapi menjadi politisi berkepala Babi. Politisi, jika boleh dianalogikan, ibarat air kencing terakhir yang bikin gigil. Nikmat sesaat yang kerjanya mengkhayal ada perbaikan kondisi sosial setelah mengubah kebiasaan ratusan tahun petani dari menanam ke meneaterkan kondisi kota yang penuh beton pabrik borjuis. 

Kita kaya akan sumber kehidupan, kaya akan oksigen, kaya akan keinginan hidup layak, tapi negara punya keinginan bodoh menyingkirkan desa lewat ekspansi perusahaan dan militer. Dalam tulisan kali ini, saya ingin selipkan pernyataan seseorang yang selalu marah pada keadaan, namanya sama dengan Organisasi PBB “ILO” ia berkata: Hutan itu bukan hanya milik petani (melepaskan Tuhan dalam pembicaraan ini) tapi juga milik Burung Aceros Cassidix (adalah spesies burung rangkong dalam famili Bucerotidae) seraya mengilustrasikan aktivitas burung ini. Yang memakan buah lalu memberaki hutan dengan biji dari buah lalu tumbuh menjadi pohon.

Jadi politisi dan negara tidak mempunyai hutan apalagi pohon. Semuanya hanya klaim. Katanya. Dan saya kalah dalam hujatan pada negara dan kaki tangannya kali itu.

Hal ini menggambarkan, kekuasaan dan penguasaan lahan sekalipun bersertifikat semuanya hanya klaim. Dan negara hadir untuk membawa kita pada kehidupan fiksi berjudul “BANTUAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA”.

 Ini terjadi di seluruh Indonesia yang daerahnya dijadikan saham dan panggung investasi. CSR (Cuma sedikit Rupiah) dianggap mampu menyejahterakan masyarakat lingkar tambang selama dan sesudah berakhir masa kontrak perusahaan. Reboisasi, reklamasi, selamat datang di dunia tipu-tipu. Lihat Gebe setelah adanya pertambangan, lihat Papua yang krisis ekologi searah dengan krisis HAM. Semua berawal dari aturan yang berat sebelah seperti TRIKORA untuk Papua.

Kapan politisi menanam pohon?
Pertanyaan yang paling kurang ajar!

Yang lampau, ekosistem hutan didominasi oleh pohon, setelahnya, politisi dan akumulasi kekuatan dengan pemuka agama non ulama dan sufi. Atau satu istilah klasik antara Haji Mabrur dan Haji Makmur. 

Jika benar, hutan merupakan alat vital kelangsungan hidup, maka di isi dalaman hutan Halmahera Tengah tidak hanya nikel, bauksit, emas, IUP, IPK, melainkan perut seluruh manusia Halmahera Tengah bersumber dari hutan. Kita tidak makan emas dan biji-biji nikel. Jika ada yang makan, maka dialah The Power Man alias golojoh. 

Kabupaten Halmahera Tengah, satu kabupaten paling kecil setelah pulau Morotai di Provinsi Maluku Utara. Ada hal yang menarik untuk dipikirkan lewat data tentang luas hutan belukar Halmahera Tengah dan yang dikonversi ke industri menurut laporan RPIJM CK Kabupaten Halmahera Tengah. 

Halmahera Tengah, luas hutan belukar mencapai 233.140,73 Hektar atau 91,82 secara keseluruhan. Sedangkan yang telah dikonversi ke industri adalah 27.280,92 Hektar. Saya ulangi lagi pernyataan di atas bahwa di dalamnya tidak hanya mengandung sumber daya alam melainkan Izin Usaha Pertambangan dan perkebunan sawit. Dan tiba waktu tiba akal lahirlah anak-anak (industri) yang bandelnya minta ampun. Mulai dari yang tua sampai yang baru 4-5 tahun. Dan luas lahan tersisa 205.859,81 Ha. 

Nah, akhirnya, lahan yang tersisa 205.859,81 Ha itu Sebagian untuk politisi, sebagian untuk para pemuda pencipta minuman keras, sebagian untuk kaum tua. Lantas berapakah milik generasi selanjutnya? Tidak ada. Saya tegaskan, TIDAK ADA. Sebab Perusahaan ekstraktif masih butuh lahan eksploitasi dan diskriminasi pada petani, lewat kekuasaan partai politik dan dukungan politisi. Juga ilegal loging yang terus masif untuk meringankan eksploitasi kepala Perusaknya. Maka jelaslah, kita adalah  imigran di atas tanah dan daerah sendiri.

Dan Patani Barat ada di dalam sisa lahan itu. Yang juga sama parahnya (jika ingin tertawa maka tertawalah. Tapi setelahnya, ingat, ini tanah air).  Patani Barat, dengan luas wilayah 136,19 Km itu pun tak segan-segan ditumpahi IUP dan alih fungsi HGU, IPK, padahal Hutan Halmahera dan Patani Barat secara khususnya menyediakan ukiran seni tangan tuhan soal investasi jangka panjang mengenai kehidupan. Tapi politisi buta akan itu. Saling mendorong satu sama lain demi kepentingan partai! Opss.... memang iya kerja politisi itu ke partai pengusungnya, bukan rakyat! 

Akhirnya bertemulah kita dengan kenyataan bahwa kelak, lahan yang dikonversikan ke Industri akan menyingkirkan identitas masyarakatnya. Ke depan, maksudnya, untuk puluhan tahun nanti, kita tidak lagi bertanya desa apa ini? Sebab yang kita kenal adalah pabrik A, pabrik B, Pabrik C dan seterusnya. 

Sebuah catatan belasungkawa untuk kepergian Hutan : 


Terima kasih sudah menjadi donatur bagi kehidupan kami. Sudah menjadi taman bermain kami. Sudah menjadi safari terindah mengalahkan parlemen di Batavia. Terima kasih negara atas ekspansi politisi reaksioner perusak alam di daerah kami. Jika tulisan ini terbaca lirih dan benci, mohon dimaklumi karena yang terpelajar bukan lagi harus adil sejak dalam pikiran, melainkan masa bodoh dengan lahan tetangga.

“Kita adalah Imigran untuk TANAH AIR kita sendiri”


Share Tulisan Sofyan Umar


Tulisan Lainnya

Cerita

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca

Cameo

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca