× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Perempuan di Hari-Hari yang Sarat

Puisi
Perempuan di Hari-Hari yang Sarat
Ilustrasi: Laut. Sumber: Geogle.

26/12/2020 · 3 Menit Baca

I/

Aku rasa kota terlalu berisik
dan janin yang aku kandung ini
sepertinya tidak suka dengan bising.

Bagaimana
kalau kita pulang saja ke tanah ibu
menghabiskan hari-hari sarat ini
di pantai, di teluk, di tanjung, atau di kebun?

Aku ingin mandi di sungai
tidur di bawah pohon pala
atau di bawah pohon cengkeh
beralaskan karung dan daun pisang.

....?

II/

Atau aku saja yang pulang
tapi bagaimana mungkin
aku sendiri di tengah badai
saat ombak tak kunjung landai?

....?

III/

Semakin bergelombang ini laut
semakin sulit aku berdaulat.

Aku rasa pantai semakin jauh
dan bumi semakin dekat,
ke mana aku harus mendekap?

Apakah ke dadamu?
Sedang kita masih di kota
di dalam mulut katak
aku tak mungkin tenang
menidurkan gelombang ini
aku tak mungkin khusyuk
membayangkan hari-hari ibu
saat mengandung kita dahulu.

2020.



Kepada Tangga-Tangga Kelapa

Papa yang tangguh
mengibarkan bendera nasib
di ujung kelapa
saat angin bertiup kencang
dan sibilo berjatuhan di mana-mana
akhir-akhir ini kehilangan nyanyi dan nyali.

Kepada tangga-tangga kelapa yang makin banyak
papa hanya bisa meraba-raba jejaknya
lalu pergi ke bukit yang lebih tinggi
menggali lubang yang entah untuk siapa.

Di atas tanah merah
yang rimbun dan hijau itu
papa masih melihat buah-buah cengkeh
seperti orang-orang yang dipaksa melompat
dan papa tak punya kuasa-- menyelamatkannya.

Morotai, 2019.
*sibilo: daun kelapa.


Bila Nanti Aku Pergi

Bila nanti aku pergi
aku berjalan sampai ke batas
aku berlayar sampai ke pulau

di padang
aku menjadi belalang

di air
aku menjadi ikan

di darat
aku berburu
di laut
aku berguru

di mana
waktu habis
di sana
aku menyala.

Morotai, 2020.



Ketika November Ketika Desember

"Gohoru imas tepa-tepa, nohoru ton kalapeta"
kata ombak ketika November, ketika Desember
tapi pelaut siapa yang takut kepada maut
ketika di darat nasib sedang sekarat?

“Ikan make ikan tude toni make toni tudu”
kata ombak ketika November, ketika Desember
tapi pelaut siapa yang tegah mengeringkan dayung
ketika di darat nasib tak berpayung?

Morotai, 2020.



Bila Suara Kebenaran

Bila suara
kebenaran singgah di jantung ini
siapa pun tak dapat mengubahnya
Halmahera adalah alam terkecil diciptakan Tuhan
bagi ia yang menalar tata nilai kehidupan.

Jangan hempaskan
Halmahera ke dalam geram egomu
menjadikan Gamkonora bertambah geram
Dukono bertambah murka
Kali Aru bertambah marah.

Tutup mulutmu!
Halmahera tanah ibuku,
bukan tanah ibumu!

2015-2020.



Orang-Orang Pelupa

Kita bergantung kepada pohon
pohon menggeser tangan kita ke cabang.

Kita bergantung kepada cabang
cabang menggeser tangan kita ke ranting.

Kita bergantung kepada ranting
ranting menggeser tangan kita ke daun.

Kita bergantung kepada daun
daun menjatuhkan kita ke tanah.

Orang-orang besar itu lupa
sejak dahulu kita sudah menjadi benih dan akar
menumbuhkan dan menguatkan republik ini diam-diam.

2020.



Lelaki Tua Itu

Sudah ia serahkan
semuanya kepada laut
sebagaimana ia serahkan
cinta dan rindunya kepada langit.

Sudah ia serahkan
semuanya kepada kebun
sebagaimana ia serahkan
cinta dan rindunya kepada hening.

Sudah ia serahkan semuanya
yang tersisa hanya hatinya:
bumi yang lapang
laut yang dalam

tempat anak-anaknya
tumbuh, melata, berlayar
dan pergi.

Sudah ia serahkan
semuanya
kepada jatuh
kepada patuh
kepada bumi:
kepada tanah
yang melahirkannya.

Morotai, 2020.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Cerita

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca

Cameo

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca