× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Kopi Akhir Tahun Kopi Awal Tahun

Sajak Sabtu
Kopi Akhir Tahun Kopi Awal Tahun
ilustrasi: Pixabay.

02/01/2021 · 1 Menit Baca

pahit itu anak kandung kopi
tapi manis adalah rindu 
yang menggoda
sepanjang tahun

di ujung kembang api
yang membakar angin
kopi menuang pagi terakhir
ke dalam cangkir rasa
bertemu serumpun nikmat
dalam deru hidup
sampai pahit manis
meniada

kopi awal tahun tetaplah 
mula cerita tentang tarung rasa
dalam semesta cangkir 
yang akan mengantar kita
terus berdamai dengan pahit manis

Ibrahim Gibra
31 Desember 2020

 

aku embun engkau daun

aku lelaki embun
engkau perempuan daun

mungkin besok ada lelaki daun 
dan ada perempuan embun 
mungkin ada yang bilang
sebaiknya lelaki itu daun 
dan perempuan itu embun 

tapi sekarang aku sudah embun 
dan engkau pun sudah daun

aku lelaki embun
engkau perempuan daun

embun bertemu daun
daun merawat embun
dan anak-anak bermain riang 
di taman seperti burung-burung 
berkicau menguapkan embun pagi

Ibrahim Gibra
31 Agustus 2019 

 

aku lelaki kelana
:Este GF

apa yang kau pikirkan bila
pintu rumah itu tertutup
saat aku berkelana?

sawitri pucuk merah yang
kau tanam di teras depan
puluhan tahun lalu
tetapkah rindunya?

gelombang cinta 
di sisi tiang teras yang 
sudah lama kita larung ke samudra
teruskah meriak? 

kursi rotan di teras belakang
tak lapukkah bulan yang 
selalu berganti rupa?

bila pagar pintu depan berderit
masihkah getar itu fasih mengeja  
kelana dari deru kota?

Ibrahim Gibra
20 Juli 2019

 

aku lelaki haru

keharuan turun 
dari cinta purba
yang bersemat daun-daun firdaus

di sana, sudah lama 
rindu ditinggal sendiri 
di tanah cinta

tersebab itu
kusemai kata terbaik 
supaya ladang-ladang makna
menumbuh rindu sampai
akhirnya

Ibrahim Gibra
30 Agustus 2019

 


desember memang musim ombak

itukah ombak terakhir
yang datang tahun ini
sebelum pantai  
bertukar rupa?

ombak di pantai
ombak yang menderu
di dada ini
di manakah teluk
tempat ombak desember
pecah rindunya?
    
Ibrahim Gibra
31 Desember 2020


 

menderas hujan

menderas hujan
di balik kaca jendela
gugur satusatu

menderas di dada
tak ada lagi embun
tersisa di punggung daun

Ibrahim Gibra
31 Desember 2020


Ibrahim Gibra, nama pena dari Gufran A. Ibrahim, punya kegemaran menulis artikel ihwal bahasa, masalah sosial budaya, demokrasi, pendidikan, dan literasi di Kompas dan di sejumlah koran lainnya. Ia juga menulis sajak dan cerpen yang diterbitkan dalam bentuk buku maupun diterbitkan di koran cetak dan daring. Gufran A. Ibrahim adalah Guru Besar Antropolinguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Ibrahim Gibra telah menerbitkan antologi sajak pertamanya, Karang Menghimpun Bayi Kerapu (Penerbit Jual Buku Sastra, 2019). Kini Ibrahim Gibra telah merampungkan antologi sajak kedua, Nikah Daun-Daun, Resepsi Pohon-Pohon (sedang dalam proses penerbitan) dan antologi ketiga, Makrifat Laut (sedang dalam penyuntingan). Ia juga telah merampungkan buku kumpulan artikelnya yang pernah dimuat di Kompas dan koran lainnya, Bertutur di Ujung Jempol: Esai Bahasa, Agama, Pendidikan, dan Demokrasi (kini sedang dalam proses penerbitan). Ibrahim Gibra dapat dihubungi via ibrahim.kakalu@gmail.com


Share Tulisan Ibrahim Gibra


Tulisan Lainnya

Cerita

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca

Cameo

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca