× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Vaksin

Mempertanyakan bukan semata-mata berkonotasi menolak.

Direktur LSM RORANO
Vaksin
Foto Edward Jenner: Wikimedia Commons.

06/01/2021 · 3 Menit Baca

“Jangan berpikir,.. coba!”, begitu tegas Jhon Hunter, ahli bedah asal Skotlandia yang gokil karena keberaniannya bereksperimen. Saat bekerja, ia selalu mencoba segala sesuatu yang belum ada, terlintas atau bahkan tak terbayang sebelumnya. Hunter adalah sosok yang menginspirasi Edward Jenner, seorang dokter kelahiran Berkeley. Bisa jadi kalimat di atas yang berkelindan menghasut pikiran Jenner, saat  Gloucestershire – tempat tinggalnya, sebuah distrik warisan Romawi yang tak ramai di timur Inggris terancam wabah cacar di tahun 1773. Wabah yang dalam skala besar juga meluruhkan dunia.

Jenner yang bertugas di daerah itu menemukan fakta kecil jika peternak sapi tidak pernah tertular cacar. Justru pemerah sapi yang terpapar cacar sapi. 14 Mei 1796, Jenner bereksperimen memindahkan cairan lepuh dari salah satu pasiennya yang terinfeksi cacar sapi ke tubuh bocah delapan tahun, James Phipps. Lebih dari sebulan kemudian, Phipps, putra tukang kebunnya itu secara sengaja diinfeksi dengan virus cacar oleh Jenner. Ajaib, si bocah ternyata sehat dan tak terinfeksi cacar. Hidup normal dan berumur panjang.

Dua tahun setelah eksperimen cacar sapi itu, temuan Jenner mulai diterbitkan. Detail penemuan itu terangkum dalam bukunya, An inqury the cause and effects of the variolae vaccinae. Seturut itu, kata vaksin yang berasal dari bahasa latin - vacca - yang berarti sapi mulai resmi digunakan. Vaksin adalah suspense berisi mikroorganisme yang telah dilemahkan. Fungsinya menimbulkan kekebalan dan mencegah manusia terinfeksi dari suatu jenis penyakit berbahaya.

Berabad sebelum vaksin ditemukan sebagai lompatan besar dunia kedokteran, kemanusiaan menghadapi serangan wabah dengan jampi-jampi dan mistikrasi. Agama samar-samar hadir menolak bala dengan doa. Namun kemanusiaan tak pernah menang dalam perang melawan wabah. Lalu peradaban China mulai memperkenalkan inokulasi saat cacar menyerang. Caranya dengan menggoreskan bahan yang diambil dari koreng cacar yang lebih ringan lalu “dimasukkan” ke dalam kulit untuk meningkatkan kekebalan. Awal abad 17, cara ini jamak dipakai di daratan Asia.

Nusantara yang masih dikuasai Belanda juga tak luput dari serangan cacar. Meski vaksin sudah ditemukan dan dikirim dari Eropa namun luasnya wilayah yang terpapar membuat Kompeni kelabakan. Mereka akhirnya mencari martir untuk melawan wabah.

“Kita terpaksa mencari cara kuno. Menggunakan tubuh anak-anak sebagai pembawa vaksin aktif. Sepuluh anak kecil berusia sembilan hingga lima belas tahun,” kata dokter Jan Veldhart.

“Sulit membujuk orang tua bumiputera dari keluarga baik baik melepas anak mereka pergi seorang diri ke luar Jawa”. Aku menggeleng.

Percakapan ini saya kutip dari cerita pendek “variola” yang terselip dalam buku Teh dan Penghianat punya Iksaka Banu. Fiksi ini berlatar sejarah wabah yang mengoyak Ternate, Ambon hingga Bali. Variola - gelembung kecil bernanah di sekujur tubuh disertai demam tinggi yang berujung kematian itu - konon membunuh tak kurang dari delapan belas ribu jiwa di Bali.

Dalam bukunya Sejarah Kedokteran Di Bumi Indonesia, A.A Loedin menyebut vaksin cacar pertama datang ke Indonesia tahun 1804. Dalam jumlah terbatas, vaksin-vaksin itu diprioritaskan untuk pekerja dan warga yang sakit. Baru pada tahun 1884, Schucknik Kool, seorang dokter Belanda mengembangkan pembuatan vaksin dari sapi di kawasan Jatinegara. Jejak produksi vaksin terus meningkat. Belakangan pemerintah Indonesia melalui BUMN Biofarma getol memproduksi vaksin cacar secara massal dan diakui organisasi kesehatan dunia sebagai salah satu produk terbaik. WHO menyebut, vaksinasi untuk berbagai penyakit telah mencegah kematian dua sampai tiga juta orang di seluruh dunia setiap tahun.

Nama Biofarma tengah viral karena kerjasamanya dengan Sinovac - perusahaan biotekhnologi dari China, yang telah memproduksi jutaan CoronaVac. Vaksin yang “diklaim” jadi obat melawan coronavirus ini tengah diujicobakan di beberapa negara. Di China, tempat muasal CoronaVac, ujicoba diklaim sukses besar. Prosentase sukses ujicoba di Brazil mencapai lebih dari 50%. Di Turki bahkan mendekati sempurna. Indonesia yang menjadi salah satu negara untuk ujicoba CoronaVac belum memiliki laporan karena sejauh ini vaksin belum digunakan meski sudah disebar ke seluruh daerah.

Otoritas pengujian obat dan makanan secara resmi telah meminta agar penggunaan vaksin tidak dilakukan sepanjang ijin kedaruratan belum dikeluarkan. Pandemi coronavirus memang “memaksa” semua individu dan lembaga berlomba mencari vaksin untuk melawannya. Namun sejarah juga mencatat berbagai penolakan penggunaan vaksin dengan alasan keagamaan atau politik kerap terjadi. Butuh kehati-hatian. Semaju apapun kecanggihan tekhnologi termasuk dalam upaya melawan coronavirus, jangan sampai merekrut paksa prakarsa kemanusiaan.

Max Horkheimer memberi pengingat, di era kapitalisme monopolis, rasionalitas tekhnologi tiba tiba menjadi “berhala” modern. Menjadi utama bagi semua sistem dan menggeser nilai nilai kultural. Masyarakat mulai mengingkari relasi sosial. Menolak “keindividuan yang menyeluruh”. Tak ada gerak bersama untuk mengkaji seberapa pantas atau tak pantas sesuatu yang baru diterima. Kita secara sadar menjadi terpojok secara kolektif sebagai sebuah fungsi untuk mendukung sistim yang ada. Tak ada kritisisme yang jadi nadi peradaban.

Ponten “Keindividuan yang menyeluruh” inilah yang coba dipertautkan kembali oleh Sultan Tidore, Husain Sjah saat “mempertanyakan” legitimasi dan keakuratan CoronaVac yang hendak “disuntikkan” ke ratusan ribu orang di Maluku Utara. Mempertanyakan bukan semata-mata berkonotasi menolak. “Mempertanyakan” lebih pada upaya untuk “mendukung”. Karena itu, butuh jawaban yang representatif. Biar terang benderang duduk perkaranya. Prosedur dan tahapan vaksinasi sebaiknya dilakukan secara transparan. Harus ada jeda sosialisasi agar warga paham. Proses dan hasilnya bisa  dipertanggungjawabkan.

Sebagai Sultan, Husain sangat sadar dirinya adalah pelindung utama warga. Ia tentu tak ingin warganya jadi korban “ujicoba”. Jika akurasi dan keampuhan CoronaVac terbukti sakti madraguna membunuh coronavirus maka ini akan jadi kado penting bagi kemanusiaan. Di sisi lain, “keindividuan yang menyeluruh” sungguh tak ingin perdebatan bercampur penolakan vaksin Rubella beberapa waktu lalu terulang. Dalam landskap inilah, tutur kata Heinz Hilpert, seorang aktor dan sutradara asal Jerman sebaiknya jadi momentum perenungan massal; Pengalaman adalah vaksinasi terbaik melawan purbasyangka.


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Cerita

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca

Cameo

#ESAI - 18/01/2021 · 3 Menit Baca