× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#INTERMESO

Kilas Balik: Abdul Gafur Mendapat Kartu Kuning di Kongres Bahasa Indonesia


Content Creator
Kilas Balik: Abdul Gafur Mendapat Kartu Kuning di Kongres Bahasa Indonesia
Abdul Gafur saat peluncuran buku Zamrud Halmahera. Foto: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan/Twitter.

25/11/2019 · 1 Menit Baca

Prof DR Emil salim Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, tetap menjadi bintang Kongres Bahasa Indonesia IV (KBI IV) yang hingga hari Rabu berlangsung tiga hari. Primadonanya jatuh pada Sariamin Ismail alias Salasih atau Selaguri, tokoh Pujangga Baru.

Julukan bintang bagi Emil Salim bukannya tak beralasan. Berbagai pertanyaan dijawab cepat dan memuaskan hadirin. "Apakah bahasa prokem dan bahasa Jakarta akan merusak Bahasa Indonesia," tanya Yus Badudu. "Tidak, karena presentasenya yang kecil. Ia akan hilang dengan sendirinya. Anggap saja bahasa prokem itu nyamuk," jawabnya.

Ketika sampai pada penjelasan mengenai harapan hidup (life expevtensy), Emil Salim menyatakan, usia rata-rata Bangsa Indonesia hanya 54 tahun. Dibanding negara lain, usia ini terasa singkat. Muangthai dan Filipina mencapai 63 tahun, bahkan di Swedia mencapai 77 tahun.

"Kepada yang sudah melampaui batas, hendaknya bersyukur. Bagi yang belum, banyaklah bersolat," tambah Emil Salim disambut tawa.

Takut menghadapi usia yang terbatas ini, rekan wartawan nyeletuk. "Lebih baik kita pindah ke Filipina saja, supaya bisa tambah umur."

Walau demikian, Emil Salim pun kadang-kadang bisa "sombong". Ketika seorang peserta bertanya apakah masyarakat Sumatera Barat sudah dianggap bisa berbahasa Indonesia, Emil Salim kontan menjawab. "Tentu saja ya, karena bahasa Indonesia berasal dari sana," tambahnya.

Mubazir

Sebutan primadona bagi Sariamin pun banyak dasar kuat. Tokoh Pujangga Baru dengan bukunya Kalau Tak Untung dan Pengaruh Keadaan ini hampir tak pernah absen bertanya. Tiap kali makalah selesai dibacakan, tangan diacungkan dan minta kesempatan untuk berbicara. Kepada Menpora dr. Abdul Gafur, Sariamin "berontak".

"Tadi pak Menteri mengatakan dimengerti. Bagaimana ini. Sudah aktif masih dipasifkan. Saya memang orang desa. Tapi sudah sedemikian kacaukah bahasa Indonesia kita ini?" tanyanya.

Gafur pun sempat menambahkan, bahwa hal itu belumlah seberapa. Percampuran kata asing dengan Indonesia sudah merasuk dalam. "Bahkan sekarang ini ada yang berani mengatakan 'di-break-down-kan' apa tidak hebat," ujarnya tertawa.

Iuran TV

Menteri Penerangan, Harmoko pun tak mau ketinggalan. Lewat makalahnya ia menerangkan peran media massa dalam menanamkan usaha menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sampai pada keterangan mengenai TVRI, dijelaskan bahwa satu pesawat TV rata-rata dinikmati 200 orang. Namun yang penting, biaya siarannya sangat mahal. Tiap seper-empat jam menghabiskan biaya Rp 2,5 juta. "Karenanya..." kata Harmoko yang langsung disambut peserta "Jangan lupa membayar iuran TV," hadiirin pun tertawa.

Tak ada ahli

Dalam KBI IV ini, tidak semua makalah "pesanan" dibawakan oleh menteri. Tiba giliran Depdagri, diwakili oleh Kapuslitbangnya, Pamudji Rahardjo. Sebelum membacakan, ia mengingatkan bahwa tugasnya hanya sekedar membacakan makalah materi. Kenyataannya, dalam acara tanya-jawab masih ada peserta yang bertanya. Khususnya berhubungan dengan pembuatan makalah yang dibacakan. 

"Apakah Depdagri tidak punya ahli yang bertugas meluruskan penggunaan bahasa Indonesia?" tanya peserta. Pamudji Rahardjo pun kontan menjawab, "tidak ada!"

Gafur kartu kuning

Pemrasaran yang paling berapi-api dalam KBI IV ini ialah Menpora dr Abdul Gafur. Namun Gafur pula yang pertama kali mendapat "kartu kuning". Kartu kuning ini hanya sebagai tanda peringatan waktu penyajian yang tersedia tinggal lima menit.

Dengan penuh semangat, Gafur menyorot tajam penggunaan nama-nama asing untuk badan usaha dan tempat-tempat tertentu. Terpesona ungkapan Gafur, Ny. Manoppo mengusulkan agar pembatasan nama-nama asing juga diberlakukan pada manusia. Masalahnya kini menyangkut hak asasi.

Kontan Prof Dr Amran Halim ketua panitia pelaksana berkomentar. "Saya harus lari kemana? Sebab nama yang saya pakai ini berasal dari Arab," ujarnya. *** 


*Artikel ini ditulis oleh wartawan Kompas Ton DN yang diterbitkan pada Jumat, 25 November 1983.


Lefo Iktisar adalah profil yang mengumpulkan dan menganalisis beragam konten dari berbagai medium yang bertebaran sebagai data untuk diolah dan diceritakan kembali. Lefo Ikhtisar akan terus melakukan verifikasi dan melengkapinya dari sumber-sumber lain yang kredibel dan berstatus data publik.


Share Tulisan Lefo Ikhtisar


Tulisan Lainnya

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

#SOSOK - 28/11/2020 · 15 Menit Baca

Sedang Tuhan Terus Merenangkan Ikan

#SASTRA - 28/11/2020 · 3 Menit Baca