× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#IPTEK

Menuju Kedaulatan Netizen, Berkaca dari Kasus Ruben Onsu

Netizen harus memiliki kedaulatan sejak dari persepsi.

Metafisikawan
Menuju Kedaulatan Netizen, Berkaca dari Kasus Ruben Onsu
Foto: IG @ruben_onsu

21/12/2019 · 1 Menit Baca

"Maha Benar Netizen dengan Segala Kegoblokannya".

Mungkin ungkapan itu sering kita dengar di media sosial. Biasanya, ungkapan itu muncul akibat netizen yang menyerang, mem-bully ataupun mengungkap hal-hal yang tak wajar dari seseorang, dalam hal ini sebuah akun baik itu akun kalangan biasa atau kalangan publik figur. Netizen membabi buta menyerang akun tersebut akibat unggahan-unggahan yang dianggap tak wajar atau keluar dari batas-batas normal dalam persepsi netizen.

Belakangan kasus Betrand, putra artis Ruben Onsu yang memiliki follower puluhan juta di Instagram menjadi viral. Netizen dianggap menyerang sosok publik figur tersebut karena sejumlah unggahan medsos. Keintiman yang diperlihatkan istri Ruben dengan anak angkatnya tersebut membuat netizen gerah.

Dalam video yang beredar di media sosial, Betrand yang kini duduk di bangaku SMP terlihat mencium ibu angkatnya. Istri Ruben Onsu itu pun lalu membalasnya.

Tak sampai di situ, Betrand terus menerus meminta dicium. Bahkan Wendah terlihat risih. warganet menilai hubungan ibu dan anak angkat tersebut tidak wajar. Tak sampai di situ, sejumlah video di Twitter pun bermunculan yang memperlihatkan keduanya hingga Betrand tak sengaja menyetuh dada Wenda.

Dalam tulisan sebelumnya "Krisis Literasi, Efek Kreatif Sebelum Bernalar (2)" penulis memaparkan implikasi fenomena media sosial yang telah menggeser kebenaran objektif dalam artian meletakkan persesuaian antara pengetahuan (konsep) dengan realitas eksternal yang ada di luar diri manusia, kepada kebenaran subjektif yang mana hanya melibatkan persepsi individu. Yang mana dalam media sosial, hal itu yang memunculkan fenomena buzzer, influencer, atau sebutan apa pun bagi mereka yang memiliki banyak follower dan mampu mempengaruhi sisi objektifitas.

Hal itu pula yang kemudian sebagai causa prima krisis literasi yang saat ini tengah terjadi di dunia digital di Indonesia. Kebenaran ada di tangan mereka yang memiliki banyak follower, liker dan semacamnya dengan segala kedangkalan pengetahuannya.

Implikasinya, saat sejumlah akun media sosial memiliki banyak follower dapat mempengaruhi kebenaran objektif, netizen sebagai follower sekaligus liker tak mampu berbuat banyak karena kebenaran objek yang selayaknya sesuai realitas eksternal lenyap.

Buzzer atapun influencer bahkan publik figur yang secara masif menyebarkan perilakunya, perkataan dan perbuatannya akan menjadi sebuah kebenaran. Lihat saja akun Instagram @Uusbiasaaja yang dalam sebuah unggahannya melontarkan kata-kata di luar batas kewajaran. Sementara tanggapan netizen, justru memandang itu sebuah kelucuan dengan beragam emoticon yang ditampilkan.

Atau, beragam ulah public figur di media sosial yang hanya mencari eksposure tanpa mempedulikan nilai.

Di tangan mereka yang memiliki follower dan liker yang membludak, semua kebenaran seolah relatif, sehingga apapun bisa dilakukan. Sementara bagi para liker, hal itu dipandang sebagai persepsi tersendiri yang layak untuk diikuti. Di situ kedunguan sedang merasuki.

Sudah sepatutnya, kebenaran objektif kembali dipegang oleh netizen. Jika mereka para pemilik akun dengan jutaan follower dan liker punya kebenaran subjektif, netizen budiman yang kerap dianggap menyerang dan mem-bully punya kebenaran objektif yang sesuai dengan realitas eksternal. Netizen yang dianggap sebagai penyerang, harus punya kebebasan berkehendak tanpa kerancuan persepsi dari manapun. Dia harus perpijak pada objektifitas.

Netizen, harus memiliki kedaulatan atas sebuah persepsi tanpa dipengaruhi oleh banyaknya follower atau liker atas pengaruh dari buzzer, public figur, ataupun influencer. Netizen, harus merdeka sejak dari pikiran.


Share Tulisan Achmad Kirin


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca