× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#INTERMESO

'Sihir' Anyer 10 Maret

Lagu ternyata seperti foto kenangan, ia menyimpan momen dan pikiran yang membuat kita bisa tetap hangat di dalamnya.

Multimedia Editor
'Sihir' Anyer 10 Maret
Psychedelic art. Foto: pxhere.

25/12/2019 · 3 Menit Baca

“Beberapa lagu dapat membuat Anda melakukan perjalanan sejuta mil di dalam kepala Anda”--Pradeepa Pandiyan.

Saya sepakat dengan itu. Salah satu dari sekian banyak lagu yang mampu membuat saya melanglang buana adalah Anyer 10 Maret. Tentu, masih banyak lagi. Ini gara-gara Aline yang membuat rasa itu kembali terpicu sejak sekian lama hilang.

Iya, Aline namanya. Entah bagaimana cara kerja algoritma YouTube hingga video ini muncul di ponsel saya pada 20 Desember 2019 kemarin, saat membuka aplikasi tersebut. Aline terlihat tampil dalam sebuah ajang pencarian bakat "The Voice Indonesia" yang nyatanya konten tersebut sudah terunggah sejak 3 tahun lalu. Lho, kemana saja saya saat itu?

Dalam video itu, Aline sepertinya masuk dalam tim yang diasuh Coach Kaka. Aline sungguh aduhai mengeksekusi lagu Anyer 10 Maret ini dengan gaya yang sangat berbeda. Tak menunggu lama, Aline pun saya cemplungin masuk playlist

Selain Terbunuh Sepi dan Lorong Hitam, lagu Slank yang satu ini memang  bereaksi serupa kutipan Pradeepa Pandiyan di kepala saya. Tentu tidak semua orang begitu. Prosesnya berbeda dari orang ke orang soal merespon sebuah lagu. Bagi beberapa orang, musik membuat mereka merasa terbang atau tenggelam. Beberapa lainnya menjadikan lagu sebuah penanda waktu dalam kenangan. Sementara beberapa lainnya, biasa-biasa saja.

Seperti tercatat di berbagai literatur: Anyer 10 Maret adalah lagu ciptaan Kaka dan Bimbim di tahun 1991. Ini bukan lagu cinta yang lazim. Lagu cinta seorang anak bengal kepada sang bunda, Hiruna yang meninggal pada 1980, saat Kaka masih bocah. Ia merindukan kasih sayang seorang ibu. Rindu dan amarah anak bengal itu menghasilkan lagu ini dan masuk daftar rekaman album Piss yang dirilis 1993.

 

Kaka menuliskan sebagian lirik lirih untuk sang bunda saat berada di kereta waktu menyusul Bimbim yang lebih dulu berada di Anyer. Pengakuannya, Anyer 10 Maret, adalah salah satu lagu yang dibuat tanpa kord musik. Liriknya jadi lebih dulu.

Sebagai sebuah kesatuan nada dan lirik, Anyer 10 Maret bereaksi kepada saya. Mungkin menurunkan atau menaikan asupan sejumlah komposisi kimia dalam otak. Semua respon itu menurut para ahli, diatur dopamin, semacam obat bius alami yang dihasilkan kelenjar otak saat kita mendengar sebuah lagu atau musik.

Mungkin saja, reaksi dan respon model begitu yang membuat Albert Einstein mengatakan: “Jika saya bukan seorang fisikawan, saya mungkin akan menjadi seorang musisi. Saya sering berpikir dalam musik. Saya menjalani lamunan dalam musik. Saya melihat hidup saya dari segi musik.”

Komposisi musik Anyer 10 Maret didominasi suara keyboard dari Indra Q yang ditimpa sayatan melodi gitar Pay Siburian. Nada harmonik yang dihasilkan Indra Q belakangan ia sadari bahwa itu adalah nada-nada yang unik, sederhana, namun power full dan mampu mengobati penyakit.

Konon, nada harmoni serupa itu, mampu men-triger tubuh manusia untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Ada frekwensi getaran nada di 3 Hertz yang menurut Indra Q, mampu menarik oksigen dan itu pulalah yang sedang ia dalami. Salah satu nada harmonik yang dimaksud itu ada pada lagu Anyer 10 Maret. Nada-nada harmonik itu kembali digali Indra dalam proyek solonya bertajuk "Musik Metafakta Oxytron". 

Sama sepeti suara lainnya. Sebuah lagu atau juga musik yang diterima oleh telinga akan diproses oleh bagian otak secara gotong royong dan menghasilkan persepsi tertentu. Otak bekerja dan merespon stimulus, baik dari luar maupun dalam tubuh. Dan itu, bisa menjadikan penikmat tak bosan.

Kita mengalami bahwa menonton film yang sama dua atau tiga kali diulang pasti membosankan. Novel juga demikian, meski ada juga yang membaca ulang tapi biasanya bukan lagi untuk dinikmati. Berbeda dengan musik. Produk artistik yang satu ini paling sering kita gunakan berkali-kali--terus menerus--tak membosankan. Musik adalah bentuk seni yang mengandung paling banyak kenikmat berulang.

Dan kini, saat Ngopi di saat sendiri sambil menikmati daftar putar yang menyertakan lagu-lagu pengingat pada berbagai momen emosional sepertinya perlu diulang. Persis pada kutipan Pradeepa Pandiyan di awal tulisan ini, saya seperti berjalan sejuta mil di dalam kepala--mundur ke masa lalu yang jauh di sudut Lenteng Agung hingga ke Potlot dalam imagery. Menyenangkan.

Lagu, ternyata juga seperti foto kenangan, ia menyimpan momen dan pikiran yang membuat kita bisa tetap hangat di dalamnya. Bahkan si pembunuh tuhan, Friedrich Nietzsche pernah menulis, “tanpa musik, hidup akan menjadi suatu kesalahan.”

Jika Nietzsche sudah berkata begitu. Einstein juga setali tiga uang. Lalu saya bisa apa? Nyanyi? Okeh!

"tanpa dirimu ada di dekatku, aku bagai ombak tanpa lautan..."


Share Tulisan Ghazali Hasan


Tulisan Lainnya

Daun-Daun Batu

#SASTRA - 13/11/2020 · 1 Menit Baca

Panglima Perang Soya-Soya

#SEJARAH - 10/11/2020 · 5 Menit Baca